Se connecterRaut wajah Adrian yang semula ramah mendadak berubah kaku begitu nama Bara terucap dari bibirku. Garis mukanya mengeras, dan tatapannya mendadak terasa dingin. “Lupakan soal Bara, Silvia,” ujar Adrian dengan suara berat. “Apa maksudmu?” seruku tak terima. “Mas Bara pasti nyariin aku sekarang!” “Dia nggak akan tahu kamu ada di mana, Sil,” balas Adrian datar. “Bara bahkan nggak tahu kalau malam ini kamu hampir jadi korban Aditya, dan dia nggak akan pernah tahu kalau kamu dibawa ke sini.” Aku menggeleng kuat, menolak percaya. “Kamu gila, Adrian! Kamu ini cuma guru tambahan di desa, kenapa kamu nekat begini?! Kamu sebenarnya siapa?!” Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatapku lurus, lalu mengisyaratkan dua pria berjas yang berdiri di dekat pintu kaca mansion untuk mendekat. “Tugasku berpura-pura jadi guru di Desa Mertasari cuma kover. Semua itu selesai begitu aku berhasil membawamu keluar dari sana,” kata Adrian pelan namun penuh penekanan. “Aku cuma menjalankan perintah dari bosk
Aku terbangun mendengar deru mesin mobil. Mataku mengerjap beberapa kali, mencoba melihat ke sekeliling yang gelap. Gemerlap lampu dari jauh terlihat berjalan perlahan. Sepertinya tadi aku pingsan dan kini mungkin aku sedang berada di alam mimpi.Tapi mengapa semua terasa begitu nyata?Saat kesadaranku terkumpul sepenuhnya dan menyadari aku bukan di dalam mobil, melainkan berada di dalam helikopter, aku berteriak ketakutan dengan ketinggian dan gerakan yang begitu terasa.“Aaaaaahhh! Tolong!” teriakku histeris, menyambar sabuk pengaman di dada dengan jemari gemetar. Tubuhku gemetaran hebat melihat hamparan gelap dan pendar kota jauh di bawah sana melalui jendela bening kabin.“Silvia, tenang! Kamu aman sekarang, Sil.”Sebuah suara bernada berat terdengar di sampingku. Sebuah tangan memegang bahuku, menahanku agar tidak panik dan bergerak liar di atas kursi.Aku menoleh cepat ke arah suara itu. Laki-laki yang tadi mendobrak pintu dan memukul Aditya hingga pingsan baru saja menunjuk hea
Kondisiku hari ini, sudah jauh lebih membaik. Setelah beberapa hari hanya berbaring lesu dan tak tersentuh air karena demam tinggi, malam ini tubuhku terasa lebih segar. Aku menyempatkan diri mandi dengan air hangat untuk membuang kotoran yang menempel.Usai mandi, aku melangkah masuk ke dalam kamar. Hanya berbalut handuk putih yang melilit ketat menutupi dada hingga paha, aku berdiri di depan cermin tua, berniat mengambil pakaian bersih di dalam lemari. Rambut basahku yang terurai mengalirkan sisa titik air ke leher dan bahu polosku.Aku bernapas lega, seharian ini Aditya tidak datang. Setelah amukan dan penolakan mentah-mentah yang kulontarkan kemarin malam, aku yakin ia tidak akan berani memunculkan batang hidungnya lagi di rumah ini. Pria itu pasti punya sedikit harga diri untuk tahu diri. Namun, dugaan dan rasa amanku hancur berkeping-keping dalam satu detik.Cklek.Pintu kamar tidurku mendadak terbuka tanpa ada ketukan sedikit pun.Aku terperanjat hebat, refleks berbalik sambil
Aku teringat jelas masa-masa itu. Momen ketika aku masih menjadi mahasiswi yang dibutakan oleh pesona sang mahasiswa kedokteran favorit kampus.Dulu, aku yang selalu membuang gengsiku jauh-jauh demi berada di jarak pandangnya. Aku bela-belain menunggu Dokter Aditya di depan laboratorium anatomy berjam-jam hanya untuk menyodorkan kotak makan siang berhias pita yang kubuat sendiri—yang ujung-ujungnya hanya ia terima dengan senyum formal nan dingin, lalu ia tinggalkan begitu saja di meja piket.Akulah yang selalu rajin reply Story Instagram-nya detik demi detik, menghadiri setiap pertandingan basket kampus tempat ia berlaga sambil berteriak paling kencang, bahkan dengan percaya dirinya menyambar lengannya di depan deretan senior lain agar kami terlihat bak pasangan. Saat itu, seluruh kampus tahu betapa Silvia Gunawan begitu terobsesi dan mengejar-ngejar Aditya.Namun, jangankan membalas perasaanku, memberi kepastian satu kalimat pun Aditya tak pernah sudi. Ia selalu sengaja menggantungku
Beberapa hari berlalu dengan pola yang sama, menguras habis seluruh energi dan ketahanan mentalku. Setiap pagi, aku memaksa diriku bangun sebagai sebuah kewajiban yang tanpa ujung. Dengan bermotor, menyeret langkah menuju luasnya perkebunan Eyang yang tak pernah kubayangkan akan seluas itu. Aku berpura-pura tangguh di hadapan para pekerja, berakting seolah aku memegang kendali penuh atas ribuan pohon, puluhan pekerja, dan tumpukan laporan keuangan yang rumit.Namun, kenyataannya aku hancur. Setiap sore usai memantau pekerjaan, kakiku serasa tak bertulang. Tubuhku remuk redam, telapak tanganku mengelupas, dan kepalaku berdenyut hebat. Dan bagian terburuknya selalu menunggu di penghujung hari.Rumah itu menyambutku dengan kesunyian yang dingin dan kehampaan. Tidak ada aroma kopi pahit, tidak ada derap langkah kaki berat, dan tidak ada sosok tegap yang biasanya menghangatkan tiap malamku.Pria kaku itu benar-benar lenyap tanpa jejak.Kenyataan itu menghantam dadaku dengan rasa sesak yang
Masih ada kebun cokelat, kopi, jagung, pepaya, dan jeruk yang belum kudatangi. Rasanya kalau harus mengelilingi semuanya sendirian, energiku bakal keburu habis duluan sebelum sempat melihat separuh dari total luas perkebunan Eyang Gun.Aku menghela napas panjang, menyapu keringat dingin yang mulai membasahi pelipisku.“Ayo Silvia, jangan malas! Kamu itu pewaris tunggal harta Eyang. Eyang mengandalkanmu!” gumamku menyemangati diri sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipiku pelan.Kalimat afirmasi itu rupanya cukup ampuh membakar semangatku. Aku memaksakan tungkai kakiku yang mulai bergetar untuk melangkah meninjau kebun jeruk yang berbuah lebat, lalu berlanjut melintasi deretan pohon-pohon kopi yang rindang. Namun, begitu dihadapkan pada hamparan kebun cokelat dan ladang jagung yang membentang luas di lereng sebelah utara, aku benar-benar menyerah. Kakiku terasa pegal setengah mati, telapak kakiku serasa terbakar di dalam sepatu boot ini.Akhirnya, dengan menahan rasa gengsi, aku memint
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa







