تسجيل الدخولBeberapa hari setelah pernikahan, acara televisi masih menayangkan berita pernikahan kedua keluarga kondang—Raespati dan Adiningrat. Konferensi pers sudah diadakan kemarin, di acara tersebut dijelaskan kalau hubungan antara Namira dan Elang sudah terjalin cukup lama. Mengenai hubungan dengan Zahra, itu hanya kesalahan pahaman semata.
Setelah konferensi pers itu, Elang tidak mengizinkan Namira pergi keluar rumah selama beberapa hari untuk mengindari pertanyaan wartawan yang siap siaga di depan pagar rumah. Kendati demikian, Namira tidak bisa menerima kekangan tersebut lantaran ia harus pergi bekerja dengan brand yang memang belum putus kontrak kerja sama. "Kamu baik-baik saja, Ra?" tanya Laura pelan, sengaja. Namira mengangguk samar. Ia tampak lesu. Maskernya masih belum dilepas, ia memakai kacamata hitam untuk penyamaran. Namun melihat kondisi restoran yang bisa dibilang sepi, Namira melepaskan penyamarannya. "Aku baik-baik aja, Lau." "Aku sudah menghubungi pihak media untuk menarik semua berita tentang kamu, itu sudah berhasil. Video yang beredar di media sosial sudah dihapus kecuali yang ada di situs-situs ilegal. Kamu nggak punya cara gitu supaya di sana videomu ikut hilang juga?" tanya Laura. Namira menggeleng. "Biarin aja, Lau. Aku sekarang lagi nggak tahu mau dibawa ke mana arah hidupku, karir aku kayak di ambang kehancuran. Banyak yang mencaci, banyak komentar kebencian, atau bahkan banyak yang menyerukan boikot brand yang menjalin kerjasama dengan aku." "Mungkin lama-lama semua akan membaik, untuk saat ini lebih baik aku hiatus dulu," lanjutnya. "ini kayak bukan Namira yang aku kenal, kamu sudah berubah. Masih ada suami kamu, Ra. Dia punya kuasa untuk melakukan itu. Dia pasti nggak akan tinggal diam melihat kamu seperti ini." Namira tertawa renyah. Pria itu? Mana peduli. Di pikiran Elang hanya hubungan intim semata. "Jangan berharap sama orang itu. Dia bukan suami yang baik," kata Namira. "Kalau dia bukan suami yang baik, kenapa dia harus repot-repot mendatangi stasiun televisi untuk mentake down berita skandal kamu? Dia juga loh yang hapus semua video kamu di sosial media." Namira terdiam, ia menatap Laura dengan tatapan tak percaya. "Saat aku mencoba menghubungi pihak media, mereka bilang Elang sudah lebih dulu mengurus itu semua. Termasuk video kamu yang beredar di sosial media. Untuk yang ada di situs ilegal memang agak sulit, mungkin harus menunggu beberapa waktu." Laura menjelaskan, namun Namira masih terdiam. " Jujur aja ya, suami kamu cukup tanggung jawab sama kehidupan kamu. Masalah kamu diselesaikan secepat kilat, hidup kamu meski tanpa jadi artis pun sudah pasti terjamin. Kurang apa lagi coba?" Cinta. Dalam hati Namira menyerukan kata itu. Ia dan Elang tidak saling mencintai. Mereka menikah karena kesalahan. Ia tidak mungkin bertahan dengan pernikahan yang tak ada cinta di dalamnya. Semua yang terjadi saat ini rasanya sangat-sangat hambar dan terlalu mengejutkan untuk Namira. "Dia bukannya Namira ya? Artis yang punya skandal video syur? Kok masih muncul sih di sini?" "Iya, gak tau malu banget. Dengar-dengar sih ya, itu calon suami kakaknya. Mungkin dia diam-diam naksir tuh cowok ya, terus bikin rencana tidur bareng makanya bisa dinikahin." "Kalau bener kayak gitu gak nyangka banget sih ya. Dia padahal idola banget, sikapnya di depan kamera baik banget, tapi di real life nya kok bobrok banget. Calon suami kakaknya aja diembat, apalagi pacar temennya." Namira berusaha tak mengambil pusing tentang bisikan-bisikan itu. Walaupun hatinya terasa panas dan ingin menjelaskan kalau itu semua bukan rencananya, itu kecelakaan. Namun rasanya percuma saja. "Jangan diambil pusing. Itu cuma hatters aja." Laura berkata pelan. "Aku tau. Mereka cuma lihat dari satu sisi, tapi nggak lihat sisi lain. Dan aku juga nggak berniat untuk klarifikasi atas apa yang dituduhkan ke aku." Namira memilih memakan pancake yang sudah ia pesan, meski rasa manis dari kue itu cukup menyengat di lidah namun di masa-masa krisis karirnya—rasa manis itu entah kenapa berubah menjadi hambar. Semua yang masuk ke dalam tubuhnya terasa hilang entah ke mana. "Bentar deh, Ra." Laura berkata sembari melihat ke arah tab yang selalu ia bawa. Ia menunjukkan layar tab kepada Namira, di sana ada pesan masuk dari rumah produksi film yang dibintangi Namira dan akan tayang dalam waktu dekat. Sejujurnya, setelah skandal besar itu terkuak, film tersebut terancam gagal tayang karena takut tak mendapat respon baik dari penonton, semua itu sudah disetujui oleh pihak terkait. Namun entah kenapa sekarang semuanya terbalik. "Aku nggak salah baca, kan?" tanyanya tak percaya. Namira mengucek matanya untuk memastikan agar tak salah baca. "Kayaknya enggak deh, Lau. Ini serius film nya akan tetap ditayangkan dalam waktu dekat?" "Iya, Ra. Syukur deh, mungkin mereka melihat bakat aktingmu yang semakin bagus makanya mereka berubah pikiran. Apalagi di sana ada aktor senior," ujar Laura. "Enggak, aku rasa bukan itu deh, Lau. Ada alasan lain tapi aku nggak tahu alasan apa itu." "Elang, suami kamu?" tanya Laura penuh ragu. "Kamu tadi bilang, Elang dengan mudahnya menghapus video skandal itu di sosial media, membungkam awak media, dan nggak menutup kemungkinan kalau semua ini sudah dia atur. Dia punya kuasa yang memang bener-bener besar. Selain itu ... " "Apa?" tanya Laura menuntut. "Dia pernah bilang kalau menikah dengan dia adalah solusi agar karirku tetap aman di dunia hiburan, dia juga pernah bilang kalau dia bisa menyelamatkan karir aku setelah diterjang skandal berengsek ini." Laura terdiam. "Dia ... beneran nggak cinta sama kamu 'kan, Ra?" Namira terdiam, ia bingung. Elang mencintainya?Namira merasa dunianya runtuh, meski ia bingung kenapa ia harus sesakit ini. Rasanya tidak nyaman mengetahui Elang dan Rengganis keluar bersama, bahkan ada Arjuna bersama mereka. Entah kenapa firasatnya buruk. Apa mungkin mereka memiliki perasaan yang sudah lama terpendam? Namira mematikan ponselnya, ia memilih menenangkan pikiran dengan cara meminum whiski. Tanpa sadar air matanya turun, ia tidak tahu kenapa ia secengeng ini padahal ia tak punya perasaan apapun pada Elang. Ia tidak mungkin jatuh cinta pada pria itu, kan? Namira tidak menyalahkan Rengganis, tidak menyalahkan siapapun. Namira hanya berpikir bahwa dirinya hanya penghalang hubungan mereka. Terlepas dari hubungan Elang dan Zahra, mungkin saja sebelum itu Rengganis lebih dulu yang mengisi hati Elang.Matanya berkunang-kunang, Namira tak punya daya akhirnya ia jatuh pingsan di bar mini rumahnya. Esoknya, Namira bangun dan merasa pusing. Kepalanya terasa dihantam oleh benda tumpul, rasanya sakit sekali. Ia mengecek keadaa
Namira menatap samping ranjangnya yang kosong. Elang sudah pergi karena ada masalah kerjaan di luar negeri bersama Arjuna. Dalam kesendirian itu, Namira mencoba abai dan bersikap seperti biasa. Karena pekerjaannya sedang kosong, Namira punya waktu luang lebih banyak hari ini, sedangkan Laura pergi berlibur ke kampung halaman. Bel rumah berbunyi, Namira membuka pintu dan menemukan Zahra tengah berdiri sambil membawa beberapa camilan. Namira senang karena ada teman dan tidak merasa sendiri lagi. "Aku dengar Elang ke luar negeri, jadi aku memutuskan main ke sini." Zahra meletakkan camilan yang masih di dalam paperbag ke atas meja. "Aku beli banyak camilan buat stok kamu, sekalian kita makan sama-sama di sini." "Kemarin kakak ngobrol sama siapa waktu di pameran?" tanya Namira tanpa membalas ucapan Zahra beberapa detik lalu. "Oh, dia yang punya galeri itu. Namanya Hans," ujar Zahra penuh semangat. "Dia baik banget, Ra. Dia ngasih kontaknya ke aku," lanjutnya berarti. "Kakak jatuh cint
"Elang sangat sulit dipahami, Namira. Dia terlihat sayang sama kamu, tapi di balik itu dia juga keras. Dia tidak suka kalau miliknya diganggu, dan kamu sudah menembus batas itu," jelas Elena. "Maksud mama?" tanya Namira tidak mengerti. "Suatu saat nanti kamu akan mengetahui sisi gelap Elang yang dia sembunyikan," ujarnya. Kata-kata itu sangat membingungkan untuk Namira, namun saat ia ingin bertanya lebih lanjut, Elena keluar kamar lebih dulu. Beberapa hari kemudian keadaan Namira sudah membaik, ia rutin meminum obat dan sekarang ia bisa beraktivitas secara normal. Tubuhnya masih lemas, untuk itu Elang melarangnya untuk pergi bekerja. Beberapa hari setelah bertemu Elena, ia baru mengetahui kalau wanita itu sangat lembut. Meski terkesan mengintimidasi, tapi saat mengenalnya lebih jauh, Namira merasa nyaman dan seperti pulang ke rumah. "Saya pergi bekerja dulu, kamu baik-baik di rumah. Kalau bosan, kamu bisa pergi berbelanja," pamit Elang lalu mencium kening Namira seperti biasa. "H
"Kamu gila? Kamu serius dengan ucapan kamu? Namira masih hidup!" Ranum sedikit membentak Jonathan. Raut mukanya mulai tampak marah, karena bagaimanapun kesalahan Namira terhadap Zahra, hukuman seperti ini terlalu jahat. "Apa kamu nggak ada sedikit rasa sayang kepada Namira? Apa kamu seegois ini?" "Cukup, berhenti berdebat karena keputusanku sudah bulat, Ranum. Dia memang pantas dikeluarkan dari hak waris keluarga ini, dia adalah aib yang mencoreng nama baik Adiningrat." "Apa kamu tetap mengagungkan nama Adiningrat? Kamu bahkan tahu bagaimana bobobroknya keluarga ini." Jonathan diam, ia tak menatap Ranum. Baginya keputusan yang ia ambil bersifat mutlak dan tak bisa diganggu gugat. Tak peduli pada raut wajah Ranum yang tampak frustrasi, Jonathan memilih pergi. "Mau ke mana kamu?!" teriak Ranum kala melihat Jonathan keluar rumah. Ranum menangis, ia sangat sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa. Ia adalah seorang ibu yang gagal menjaga anak-anaknya, terutama Namira. Zahra datang da
Elang membantu Namira mengompres dahi, lalu membantunya menyiapkan obat. Wanita itu hanya diam sepulang dari rumah sakit, ketika diajak bicara, sedikit tidak fokus. Sedangkan Namira hanya menikmati perhatian dari Elang. Namira bimbang akan ucapannya tadi, sanggupkah ia melepaskan pria seperti Elang? Meskipun dari keluarga kaya dan memiliki segalanya termasuk pelayan rumah, Elang memilih merawat sendiri istrinya yang sedang sakit tanpa memerlukan bantuan orang lain. "Kamu nggak bekerja? Aku bisa sendiri, Elang." Namira berusaha payah bicara meski suaranya terdengar amat pelan. "Kamu sakit, Sayang. Saya akan merawat kamu," jawabnya. Ia segera mengganti pakaian kerjanya dengan kaus dan celana pendek. "Kamu tanggung jawab saya," lanjutnya. "Kamu sudah tahu kalau kakakku tadi udah mulai kerja di rumah sakit?" tanya Namira. Elang diam sebelum akhirnya menjawab singkat. "Tahu." "Terus?" tanya Namira penasaran.Elang menghela napas panjang. "Ya nggak bagaimana-bagaimana, Sayang. Dia sud
"Aku..." Suara Elang tersendat di kerongkongan, ia menatap dalam-dalam mata Namira yang memancarkan sorot penasaran. "Kenapa kamu tanya itu? Kejadian apapun antara aku dan Rengganis, itu 'kan hanya masa lalu." Namira berdecih dalam hati, pria itu sangat menjengkelkan. Ia memilih berbalik dan tidur. Namira tidak peduli akan Elang yang kini semakin mempererat pelukan mereka. "Bisakah kamu melepaskan milikmu itu? Rasanya geli sekali, aku nggak bisa bebas bergerak," ujar Namira kesal. "Tapi saya suka dengan posisi ini," balas Elang lagi dan lagi terdengar menyebalkan bagi Namira. Setelah mendengar penolakan itu, Namira memilih tidur dan tak menggubris Elang. ****"Zahra, kamu sudah memutuskan untuk kembali bekerja?" Ranum menghampiri Zahra yang sekarang sudah rapi memakai pakaian kerjanya. Ia membantu Zahra duduk dan menyiapkan sarapan di meja makan. "Mama senang kamu memilih untuk bangkit, Sayang." Zahra mencoba tersenyum, ia memakan sarapannya hanya sedikit. Zahra tahu ia tidak bol







