แชร์

7. Sama-sama ular

ผู้เขียน: Rossy Dildara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-10 14:42:01

Aku menarik napas pendek.

“Masuk!”

Ceklek~

Pintu terbuka perlahan. Zahra melangkah masuk dengan hati-hati, menutup pintu di belakangnya. Langkahnya pelan dan terlihat ragu.

“Pak ... aku mau pulang ke kosan. Tadi aku sempat bicara dengan Pak Tio, tapi dia memintaku untuk meminta izin dulu kepada Bapak.”

“Tidak aku izinkan!” Jawabanku tegas, tanpa jeda. Dadaku langsung terasa panas.

Dasar gila.

Bisa-bisanya dia berpikir boleh pergi begitu saja.

Untuk apa aku menculik dan menikahinya, kalau pada akhirnya dia ingin keluar seenaknya?

“Tapi aku perlu pulang, Pak.”

“Kamu sudah menjadi istriku, dan mulai sekarang ini adalah tempatmu. Jadi kamu nggak boleh pulang ke mana-mana!” tegasku tanpa bantahan.

“Tapi maksudku, aku ingin pulang karena ingin mengambil baju ganti, Pak. Aku juga mau mandi."

"Soal bajumu nanti aku yang siapkan. Tapi kamu nggak perlu ganti baju dulu, karena aku akan mengajakmu keluar untuk makan malam."

"Makan malam??" Zahra mengerutkan dahi, wajahnya tampak bingung.

"Iya. Udah sana mandi dan keluar dari kamarku!" usirku tak sabar.

"Kalau tasku ke mana ya, Pak? Ada hapeku di dalamnya. Aku ingat sekali ... saat diculik aku sedang membawa tas.”

“Aku nggak tau." Aku menggeleng cepat, berbohong.

Aku perlu memeriksa isi ponselnya, jadi tak akan kuserahkan padanya.

"Masa Bapak nggak tau? Pak Tio bilang—"

"Kamu denger aku apa nggak, sih?? Aku bilang keluar ya, keluar!!" bentakku penuh amarah. Mata melotot tajam, jemariku menunjuk ke arah pintu. Memberi isyarat agar dia segera pergi.

Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, Zahra buru-buru keluar dan menutup pintu.

Aku menghela napas berat. Tanganku mengusap dada, mencoba meredakan gelombang emosi yang kembali bergolak.

*

*

Sesuai rencana, malam hari sehabis Magrib, aku datang bersama Zahra ke sebuah restoran bintang lima—salah satu restoran favorit Mama dan Papa.

Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan cahaya hangat yang kontras dengan dinginnya dadaku.

Aku sengaja tidak mengganti pakaian. Begitu pun dengan permintaanku kepada Zahra.

“Pak ... apa aku sudah boleh membuka maskerku sekarang?” tanya Zahra seraya menyentuh masker putih yang menutupi setengah wajahnya. Sejak di perjalanan, aku memang memintanya untuk mengenakannya.

“Jangan sekarang, belum waktunya.”

“Memangnya kenapa, Pak? Bukannya Bapak bilang sendiri kita pergi ke restoran untuk makan malam? Kalau aku pakai masker begini ... bagaimana cara aku makan?”

“Udah nggak usah banyak ngomong. Kita datang ke sini bukan sekedar makan saja, tapi ada hal lain.”

Zahra terdiam, tapi jelas rasa penasaran menguasai wajahnya.

“Hal lain ap— Om Dendi ... Om Dendi ada di sini??”

Aku langsung mengalihkan pandangan saat melihat mata Zahra berbinar ke satu arah. Di sana, Papa berjalan masuk dengan langkah tegap, mengenakan stelan jas maroon yang pas di tubuhnya.

Tanganku refleks mengerat, mengurung bahu Zahra dalam rangkulanku. Langkah Papa semakin mendekat. Jantungku berdegup kencang, bukan karena gugup—melainkan karena puas.

Ini saatnya.

Saat di mana aku akan membuat hidup Papa menderita.

Sebentar lagi dia akan tahu. Tentang pernikahanku. Tentang Zahra.

“Selamat malam, Veer. E-eh ... tapi kamu sama siapa?” Papa menatapku heran, dahinya berkerut. Sorot matanya lalu beralih ke arah Zahra, meneliti dari ujung kepala hingga kaki. “Pakaian kalian kok ....”

Aku tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak ramah.

“Kenapa nggak diteruskan, Pa? Apa Papa penasaran?” Tatapanku meneliti wajah Papa. Mirisnya, wajah keriput itu sama sekali tak menunjukkan kesedihan. Tidak ada mata sembap. Tidak ada duka. Padahal pagi tadi Mama dimakamkan.

Papa benar-benar tega.

Pria tanpa hati. Pria yang tak pantas hidup.

Jika boleh ditukar, aku jauh lebih ikhlas dia yang mati daripada Mama.

“Pakaian kalian senada, seperti pengantin baru. Tapi ngomong-ngomong dia siapa?”

Papa perlahan duduk di kursi yang ada tepat di depan Zahra. Matanya tak lepas menatap wanita itu, seolah ada sesuatu yang mengusik ingatannya—atau mungkin, sesuatu yang sama sekali tidak dia duga akan dia temui malam ini.

Dan aku tahu, dalam hitungan detik…

dunia Papa akan runtuh.

“Perkenalkan, Pa. Namanya Zahra ....” Aku berucap sambil perlahan melepaskan masker di wajah Zahra. Gerakanku sengaja diperlambat, memberi waktu bagi Papa untuk menyiapkan diri—meski aku tahu, tak ada satu pun persiapan yang cukup untuk kejutan ini. “Dia adalah menantu Papa.”

“Menantu?!”

Papa terbelalak. Matanya membesar seketika, napasnya tertahan, dan warna wajahnya langsung memucat. Sorot matanya terpaku pada wajah Zahra. Syoknya begitu nyata, sampai-sampai tubuhnya tampak kaku.

“Kenapa Papa kaget? Apakah Papa mengenal Zahra??”

Aku memperhatikan mereka berdua yang kini saling beradu pandang.

Aku justru bingung melihat reaksi Zahra. Bukankah seharusnya dia senang bertemu kembali dengan pria yang dia cintai? Kenapa ekpresi wajahnya tampak menahan emosi? Atau… jangan-jangan ada sesuatu yang tak kuketahui?

“Pa ... kenapa Papa nggak jawab? Apakah Papa begitu syok?!” Aku menyentuh lengan Papa yang bergetar. Sentuhan kecil itu membuatnya tersentak.

“E-eh!” Papa menggelengkan kepala, lalu buru-buru mengusap keringat di dahinya yang mulai bercucuran. Wajahnya menegang, tapi dia berusaha memaksakan diri untuk tetap tenang. “Tentu saja Papa ....”

Aku menahan napas, menunggu pengakuan yang ingin kudengar.

“Eemm ... tidak mengenalnya, Veer.”

Aku terdiam.

Jawaban itu… benar-benar di luar dugaanku.

Tapi aku tahu Papa berbohong. Terlalu jelas. Tangannya gemetar, senyumnya kaku, dan sorot matanya tak berani menatap Zahra terlalu lama. Tapi pertanyaannya—untuk apa dia berbohong?

Apakah demi menjaga harga diri di depanku? Atau demi menyelamatkan dirinya sendiri?

Menarik. Sangat menarik.

“Kamu mengenal Zahra di mana, Veer? Dan sejak kapan? Kenapa kamu tidak memberitahu Papa dari dulu?” tanya Papa lagi. Kali ini pandangannya beralih kepadaku, lengkap dengan senyum yang dipaksakan—senyum seorang pria yang sedang mencari pijakan di tanah yang runtuh.

Namun sebelum aku sempat menjawab....

“Om ini bicara apa? Bagaimana mungkin Om tidak mengenalku?” Zahra tiba-tiba angkat bicara. Suaranya tajam, penuh emosi yang tak lagi disembunyikan. “Kita 'kan pacaran, Om. Dan kenapa juga Om tidak memberitahu dari awal kalau Om masih memiliki istri?”

Aku hampir tertawa.

Waahh… ini semakin seru.

Yang satu ingin diakui sebagai pacar.

Yang satunya berpura-pura tidak pernah mengenal.

Kalian berdua memang cocok.

Sama-sama ular.

Bersambung....

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   52. END

    Duuggg… Duuggg … Duuggg. Suara ketukan palu hakim bergema keras di seluruh ruang sidang, memecah keheningan yang menegangkan. Saat itulah, vonis hukuman pun dijatuhkan dengan tegas, terdengar jelas dan berat memenuhi ruangan: "Berdasarkan segala pembuktian, keterangan saksi, serta barang bukti yang sah di mata hukum, Majelis Hakim memutuskan dan menjatuhkan vonis kepada terdakwa, Dendo, atas kesalahan yang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pencurian identitas, penyekapan, penganiayaan berat, penyanderaan, serta tindakan yang mengakibatkan kematian orang lain. Maka dari itu, terdakwa dihukum dengan pidana penjara seumur hidup, dikurangi masa tahanan yang telah dijalani, serta wajib membayar denda sebesar lima miliar rupiah kepada negara dan ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah kepada korban atas segala kerugian materiil maupun moril yang telah ditimbulkan. Putusan ini adalah sah dan berkekuatan hukum tetap." Seharusnya, mendengar keputusan itu, hatiku

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   51. Cincin nikah

    Ada jeda panjang. Papa menunduk dalam, rasa bersalah tampak jelas terpancar dari wajah tuanya yang penuh luka itu. "Itu mungkin adalah kesalahan Papa, Veer ...." suaranya terdengar parau dan lemah, masih disertai isak tangis yang sesekali kembali pecah. "Papa nggak pernah bercerita padamu, juga kepada Mama. Papa menyimpannya sendirian selama puluhan tahun." "Kenapa, Pa?" tanyaku, rasa heran bercampur kecewa tak bisa kututupi sepenuhnya. "Kita ini keluarga. Harusnya di antara kita nggak ada hal yang perlu ditutup-tutupi, kan? Hal sebesar ini... seharusnya kita saling tau." Papa menghela napas panjang, napas yang terdengar berat dan penuh penyesalan. "Bukan karena Papa bermaksud ingin menutupi atau menyembunyikan sesuatu dari kalian, Nak. Tapi... itu adalah pesan dan permintaan dari mendiang Papa dan Mama-nya Papa, opa dan omamu. Dulu mereka berpesan keras agar hal ini tidak boleh diketahui siapa pun. Dan jujur saja... sampai detik ini pun, Papa sendiri nggak pernah tau apa alasan s

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   50. Satu bulan

    Satu bulan kemudian… Waktu berlalu begitu cepat. Sudah sebulan lamanya Papa berjuang melawan maut dan menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Dan hari ini, kabar gembira itu akhirnya datang juga. Kondisi kesehatan Papa perlahan namun membaik, hingga dokter memutuskan beliau sudah cukup kuat untuk dipindahkan ke kamar rawat inap biasa. Rasa bahagia dan lega begitu besar memenuhi dadaku, seolah beban berat yang selama ini menindihku perlahan terangkat. Harapanku kini hanya satu: melihat Papa pulih sepenuhnya, agar kami bisa kembali berkumpul dan hidup bersama seperti dulu. Karena bagiku, di dunia ini sekarang, hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku duduk di samping ranjang rumah sakit, sesekali membaca buku untuk mengisi waktu, sambil terus mengawasi setiap pergerakan kecil pada diri Papa yang masih berbaring lemah. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara detak jantung dari alat pemantau di s

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   49. Ini yang dia inginkan

    "Halo, Tio, tolong kamu ambilkan semua pakaian dan barang-barang milik Zahra di rumahku besok, bawa dan antarkan padanya ke rumah sakit. Sekalian dengan tas miliknya, yang dari awal aku simpan. Minta Bi Leha ambilkan, ada di dalam laci lemariku yang paling besar," ucapku berbicara dengan Tio dari sambungan telepon. Hening sejenak terdengar dari seberang sana, sebelum suara Tio terdengar. "Kok diambil semua? Kenapa memangnya, Pak?" Aku menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak. "Aku akan menyudahi hubunganku dengan Zahra." "Menyudahi??" Suara Tio meninggi tak percaya, kaget yang dirasakannya begitu jelas terdengar. "Maksudnya, Bapak dan Nona Zahra ingin bercerai?" "Iya." Jawabku singkat dan tegas, tak ada keraguan sedikit pun. "Kenapa??" tanyanya lagi, seolah belum bisa menerima keputusan itu. Aku diam sejenak, menatap kosong ke arah dinding di hadapanku, pikiranku melayang kembali pada semua fakta

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   48. Untuk keadilan

    "Apa ... Apa setelah ini kamu akan melaporkanku ke polisi? Kamu ingin memenjarakan aku?" tanyaku dengan suara bergetar. Rasa cemas dan keraguan seketika berkecamuk di dalam dada.Kemungkinan itu memang bisa saja terjadi, apalagi dia sudah menegaskan bahwa kami harus berpisah."Enggak, Mas." Zahra menggeleng pelan, tangannya terangkat untuk mengusap air mata yang masih menetes deras di pipinya. Tatapannya terlihat lemah. "Tenang aja, aku nggak akan melakukan apa pun yang akan membuat Mas Veer semakin tersakiti. Tolong ambil benda-benda ini, lalu pergilah dan tinggalkan aku sekarang. Aku ingin istirahat, Mas. Kepalaku sakit."Dengan rasa ragu, aku perlahan meraih ponsel serta kartu hitam yang disodorkannya itu dari genggaman tangannya. Tanganku terasa berat, seolah sedang mengambil bukan benda biasa, melainkan memutuskan sisa-sisa ikatan yang masih tersisa di antara kami."Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksamu lagi?" tanyaku lagi dengan nada khawatir."Nggak usah, Mas. Aku h

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   47. Tinggalkan aku

    Zahra menoleh kembali ke arahku, matanya berkaca-kaca namun sorotnya penuh dengan kesedihan mendalam yang bercampur dengan api kemarahan yang meluap-luap dan terpendam. "Kenapa harus Bunda yang Mas bunuh? Kenapa nggak aku saja yang Mas bunuh?? Kenapa??" Dia tiba-tiba berteriak histeris.Aku sontak terkejut, tubuhku menegang. Dan seketika aku tersadar akan sesuatu yang menyakitkan. Bundanya Zahra telah meninggal dunia pagi tadi. Bagaimana bisa aku begitu lupa dan tak peka akan hal yang begitu menyakitkan baginya? "Aku sama sekali nggak berniat membunuh Bundamu, Zahra." Aku mencoba menenangkan, suaraku terdengar berat dan penuh penyesalan. "Tapi kenyataannya Bunda sudah meninggal, Mas! Dan Mas pasti seneng, kan?" tuduhnya lagi, air mata mulai menetes membasahi pipi pucatnya. "Enggak!" Aku menggelengkan kepala dengan cepat, menatapnya tajam namun berusaha tetap tenang dan meyakinkan. "Ohhh... jadi Mas belum puas, ya? Kalau begi

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   6. Kejutan spesial

    Tubuh Zahra langsung memegang. Aku bisa merasakan bagaimana dia menelan ludah dengan susah payah. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tak beraturan. Tubuhnya gemetar hebat. Ketakutan di matanya begitu nyata—dan itu memberiku kepuasan.“Pak Veer ... apa yang Bapak lakukan? Bukankah tindakan ini s

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   5. Tidak berhak

    Aku berdiri tegak di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri.Stelan jas putih yang membalut tubuhku membuat penampilanku tampak rupawan—bahkan terlalu sempurna untuk sebuah pernikahan yang lahir dari amarah dan dendam. Rambutku tersisir rapi, wajahku bersih, seolah aku benar-benar akan melan

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   4. Sugar baby

    Aku mendengus keras.Dasar gatal!Aku yakin Zahra bukan mencintai Papa. Tidak mungkin. Yang dia incar pasti harta. Pria tua itu hanya dompet berjalan baginya. Atau jangan-jangan… dia memang sekadar sugar baby?Pikiranku semakin dipenuhi rasa muak.“Pak Veer ... maaf saya ingin bertanya,” kata Tio y

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   3. Zahra Raihana

    “Pak! Tahan, Pak!!” Dua orang satpam datang dengan cepat. Mereka menarik tubuhku sekuat tenaga, memisahkanku dari Papa. Aku meronta, tapi genggaman mereka terlalu kuat. Sedikit lagi… sedikit lagi aku mungkin sudah merenggut nyawa Papa, karena wajahnya sudah hampir membiru saat lehernya kucekik.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status