Se connecter"Selamat Pagi kakek Barcklay!" sapa Derren dengan nada suaranya yang berat. Terlihat kegelisahan dan sedikit takut di wajah Derren."Derren, lama tak berbicara denganmu. Sepertinya kau sangat sibuk akhir-akhir ini. Atau kau sengaja untuk menghindari ku?" satir Barcklay."Maaf kakek, hanya ..." Belum Derren selesai berbicara, Barcklay sudah memotong pembicaraan mereka."Hanya kau gagal mendapatkan yang seharusnya menjadi milikku. Haruskah kakek kecewa padamu Derren? Saudaramu secara terang-terangan mengambilnya darimu. Tapi kau tak bisa berbuat apa pun!" sergah Barcklay seketika membungkam mulut Derren.Tangan Derren sedikit bergetar. Ini bukanlah hal baik. Dari nada bicara Barcklay, menunjukkan sebuah kemarahan yang besar. Tenggorokan Derren rasanya tercekat hebat. Napasnya tiba-tiba tak beraturan."Jika kau tak bisa menyelesaikannya, maka aku sendiri terpaksa turun tangan. Tunggu aku di bandara Barbara, Derren." ucap Barcklay kemudian menutup sambungan teleponnya.Nada sambungan tele
"Bangun Honey! Kau tak ingin melihat matahari terbit di sana!" Dominic mencoba membangunkan Catriona yang masih lelap dalam tidurnya.Selalu saja, Dominic yang pertama kali bangun. Dan Catriona selalu masih tertidur pulas. Alih-alih semalam mereka tidur, nyatanya keduanya melanjutkan pergumulan panasnya kembali.Baik Dominic maupun Catriona sama-sama lepas kendali. Bagaikan sebuah candu bagi mereka, tak ada rasa puas, ingin lagi dan lagi. Hingga keduanya terkulai setelah pelepasan terhebatnya.Dan benar saja. Sekarang Catriona seperti kehilangan daya di tubuhnya. Jangankan bangun, untuk membuka mata saja rasanya tak sanggup, seperti ada lem di kelopak matanya."Hm." Catriona hanya menggeliat dan merubah posisi tidurnya saja."Honey, kau akan terlambat jika tidak segera bangun." ucap Dominic mengingatkan."Hm." Hanya suara itu yang muncul dari bibir Catriona.Dominic juga tak mau terlambat bekerja. Sepertinya terpaksa ia harus membangunkan paksa dan memandikannya segera. Dominic mengan
Langit seperti sedang mendukung mereka. Jika banyak orang bilang tempat paling indah melihat bulan dan bintang adalah di tepi pantai, memang benar jawabnya.Hari ini, Dominic dan Catriona memilih untuk bersantai di luar campervan. Beralaskan karpet tebal, ditemani lilin juga secangkir coklat panas. Beratapkan langit yang sangat cerah. Nampak keduanya sedang saling melemparkan candaan.Setelah pergumulan panas yang cukup lama, mereka berdua mandi bersama. Saling membantu membilas dan menggosok tubuh satu sama lain. Sepanjang malam ini mereka berdua tak henti bersenda gurau.Dunia hanya milik sepasang suami istri yang sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Tak ada lagi beban yang menghantui mereka. Semuanya kesedihan dan kegelisahan telah sirna tergerus oleh kebahagiaan.Keduanya memutuskan berkomitmen untuk saling mempercayai dan mencintai. Tak lagi peduli pada siapa saja yang ingin memisahkan mereka. Keduanya akan sama-sama bertahan.Dominic mendekap erat tubuh Catriona yang berbaring
Dominic menggesekkan kedua hidung mereka. Senyum pun terlukis di bibir Catriona yang sudah kehilangan lipstiknya, namun tetap bewarna pink alami.Bibir keduanya saling bertemu dan kembali memberikan kenikmatan satu sama lain. Kini Dominic melakukannya dengan lembut, tak mau tergesa-gesa dan membuat Catriona cepat sampai ke puncak lebih dulu. Ia ingin mencapainya bersama-sama.Kecupan itu tak lagi berada di bibir, melainkan sudah turun ke leher Catriona. Sudah banyak jejak kepemilikan yang ditinggalkan Dominic di sana. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat, kala Dominic mulai bermain intens di dua bukit favoritnya.Tubuh Catriona mulai bergerak gelisah. Ia benar-benar masih sensitif. Namun, Dominic sudah kembali menjelajahi tubuhnya. Tak mau melewatkan sejengkal pun yang nampak di depan matanya. Gigitan-gigitan lembut menyambut erangan yang lembut, suara Catriona sudah terdengar parau.Dominic melepaskan genggaman tangannya. Tangan kokoh itu tak lagi menganggur. Ia sudah bergerak
"Aku tak mau memaksa!" Dominic ingat betul bagaimana saat Catriona tersiksa karena melakukan hal itu. Itu sebabnya ia tak pernah lagi melakukannya saat bercinta."Aku sendiri yang menginginkannya!" ucap Catriona.Perlahan Dominic pun melepaskan cengkraman-nya, ia tak lagi menghalangi Catriona.Jemari lentik Catriona sudah berhasil meloloskan short pendek yang dikenakan suaminya. Dan hanya menyisakan satu-satunya penutup tubuh suaminya yang kekar nan atletis itu."Honey ..." Dominic mati-matian menahan hasrat yang hampir meledak. Saat Catriona mengusap lembut perut ratanya.Catriona duduk dengan tegap, dan sedikit mendorong tubuh Dominic."Aku tak mau memaksamu untuk melakukannya, Honey!" Dominic kembali mengingatkan. Catriona mendongak lalu mengulas senyumnya."Bagaimana jika aku yang menginginkannya?" timpal Catriona dan berhasil meloloskannya dari penutup terakhir.Catriona memejamkan mata sebentar begitu benda tersebut terpampang nyata di depannya. Dominic benar-benar tak percaya C
Dominic menutup pintu mobil campervan miliknya. Dan menghempaskan tubuh Catriona di atas sofa bed yang dilapisi dengan bulu-bulu lembut.Sejak di atas gendongan Dominic, mata Catriona sudah menatap heran pada campervan yang tiba-tiba sudah terparkir di samping motor Dominic.Entah bagaimana caranya mobil yang sudah dimodifikasi mirip mini camp tersebut ada di sana. Tapi, kembali lagi, Catriona harus sadar siapa lelaki yang kini bersama dengannya. Dia adalah Dominic, lelaki penguasa yang memiliki kekayaan tak berseri. Apa pun bisa dia lakukan dalam sekejap."Bagaimana caranya mobil ini sudah ada di sini?" tanya Catriona.Dominic tak menjawab ia malah menarik pinggang Catriona hingga tubuh keduanya tak lagi memiliki jarak. Tangan Catriona berusaha menahan di depan dada. Tapi, dengan cepat Dominic menyingkirkannya. Tubuh keduanya masih sama-sama basah."Setidaknya biarkan aku membilas tubuh dulu." pinta Catriona tiba-tiba merasa sangat gugup melihat sorot mata Dominic yang berbeda.Mata
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
Hanya ada satu orang. Satu-satunya teman yang pernah menyebutnya "kucing arogan" hanyalah Dominic, si lelaki cupu yang dulu kerap menjadi korban bully di sekolah.“Tidak mungkin…” gumam Catriona pelan. Masih tak percaya. Bagaimana mungkin Dominic, lelaki cupu yang dulu tak berani menatap mata siapa
Anda yakin akan menghabiskan malam di sini, Tuan?" tanya seorang pria tegap dari balik kursi kemudi. Nada suaranya sopan, namun jelas menyiratkan kegelisahan."Hm," jawab lelaki di belakangnya dengan suara berat dan dalam. Sebuah smirk angkuh menyungging di sudut bibirnya. Dingin. Tajam. Membekukan







