로그인"Tepatnya... tiga tahun yang lalu aku membangun tempat ini untuknya," lanjut Dominic pelan.Deg.Jantung Catriona seolah berhenti berdetak sesaat.Jadi... Dominic sudah memiliki wanita yang dicintainya?Entah mengapa, dadanya justru terasa sesak. Ada nyeri tipis yang menjalar perlahan, semakin lama semakin mengikat.Padahal, bukankah ini seharusnya menjadi kabar baik?Jika Dominic memiliki seseorang yang benar-benar ia cintai, maka ketika kontrak pernikahan mereka berakhir dan semua utangnya lunas, ia akan benar-benar bebas.Lalu... mengapa kenyataan itu justru membuatnya merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah ia miliki?Catriona memaksakan sebuah senyum kecil."Dia wanita yang sangat beruntung," ucapnya lirih. "Kalau begitu... mengapa kalian berpisah?"Dominic menggeleng pelan."Aku tidak pernah memutuskannya." Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Catriona. "Karena sebenarnya... aku baru saja memulai hubungan dengannya."Ucapan itu membuat dada Catriona semakin menyesak
Rambut panjang Catriona berkibar lembut tertiup angin ketika Oz berlari menyusuri jalan setapak. Dari belakang, Dominic semakin mengeratkan sebelah lengannya di pinggang sang istri, memastikan tubuh Catriona tetap aman dalam dekapannya. Ia menyandarkan dagunya di bahu Catriona, lalu diam-diam mengecup pipi wanita itu dengan lembut."Apa kau senang, Honey?" bisiknya rendah di dekat telinga Catriona.Catriona mengangguk antusias. Senyumnya mengembang begitu tulus."Ya... ini menyenangkan sekali."Dominic tersenyum tipis melihat binar mata itu akhirnya kembali muncul."Kita akan menuju air terjun.""Benarkah?"Nada suara Catriona dipenuhi antusiasme yang sulit disembunyikan.Oz terus membawa mereka membelah hutan yang begitu asri. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan tinggi, menciptakan semburat keemasan yang menari di atas jalan setapak. Hutan itu sama sekali tidak menyeramkan. Sebaliknya, setiap sudutnya tampak terawat sempurna, seolah alam dan manusia hidup berdampingan menjag
"Kita akan ke sana."Dominic mulai menurunkan ketinggian helikopternya. Setelah memutar arah, ia mengarahkan pesawat itu menuju sebuah helipad yang tersembunyi di tengah hamparan padang rumput. Baling-baling masih berputar kencang ketika helikopter perlahan melayang rendah, lalu mendarat dengan mulus hingga kedua skid-nya menapak sempurna di permukaan helipad.Bahkan sebelum mesin benar-benar mati, Catriona sudah tak sabar. Ia melepas headset, kemudian membuka sabuk pengamannya dengan tergesa."Sabar, Honey," tegur Dominic sambil meliriknya sekilas.Namun, antusiasme Catriona sudah tidak bisa dibendung. Ia sudah bersiap membuka pintu, seolah takut kehilangan sesuatu yang telah lama dinantikannya.Dominic hanya menggeleng pelan. Setelah memastikan baling-baling berhenti berputar dan mesin benar-benar dimatikan, ia membuka pengunci pintu.Begitu pintu terbuka, Catriona langsung melompat turun."Benar-benar tidak sabaran," gumam Dominic sembari tersenyum tipis.Tatapannya mengikuti sosok
Dominic dan Catriona tiba di sebuah tanah lapang yang membentang luas. Di tengah hamparan rumput hijau itu telah terparkir sebuah helikopter berwarna hitam legam dengan lambang Black Jack terukir anggun di badan pesawat. Dua pria berpakaian serba hitam berdiri tegak di sisinya, menyambut kedatangan sang tuan.Sudah jelas, perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah perjalanan biasa.Dominic merangkul pundak Catriona dengan gerakan yang begitu alami, seolah wanita itu memang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak lama. Tanpa memberi kesempatan untuk bertanya, ia menuntun Catriona melangkah menuju helikopter.Kedua pria itu segera menundukkan kepala penuh hormat.Mereka lalu berbicara menggunakan bahasa asing yang sama sekali tidak dipahami Catriona. Bukan bahasa yang digunakan masyarakat umum, melainkan bahasa rahasia yang hanya dipahami oleh para anggota Black Jack."Kami sudah mensterilkan Secret Landmark, Tuan. Seluruh petugas telah meninggalkan area. Sistem keamanan juga sudah ka
Catriona semakin tertawa lepas melihat raut wajah Dominic yang kini tampak begitu kesal."Kau mau ke mana, Dominic? Apa kau sedang marah padaku?" godanya sambil bangkit dari duduknya dan hendak mengejar lelaki itu.Sebelum pergi, Catriona menoleh sekali lagi ke arah makam."Ibu, aku pulang dulu. Aku harus mengejar menantu palsumu itu. Ibu yang baik-baik di sini, ya. Nanti aku datang lagi."Setelah itu ia berlari menyusul Dominic."Hei, Dominic! Tunggu!"Namun Dominic sama sekali tidak menggubris. Langkahnya tetap panjang hingga akhirnya ia membuka pintu mobil, lalu masuk lebih dulu. Beberapa detik kemudian Catriona ikut masuk ke kursi penumpang."Ternyata kau juga bisa ngambek seperti anak kecil," ledek Catriona sambil menahan tawa.Dominic tidak menjawab. Ia menyalakan mesin mobil dan hendak menginjak pedal gas. Namun, tiba-tiba gerakannya terhenti.Barcklay...Nama itu terasa begitu familiar."Barcklay?" gumamnya dalam hati."Ada apa, Dominic?" tanya Catriona yang menyadari perubaha
Camelia Barcklay. Nama yang terpahat abadi di sebuah batu marmer hitam, dengan huruf bewarna gold. Di sampingnya terdapat foto mendiang yang sekelilingnya ditumbuhi dengan bunga Camelia yang indah. Seperti namanya.Heaven Rest Garden.Adalah pemakaman bagi orang-orang kaya di Barbara. Setiap makam akan dibangun sebuah taman yang indah. Lengkap dengan bunga-bunga cantik sesuai permintaan, dan juga kursi taman dengan ukiran nama keluarga. Lampu kristal mengelilingi taman tersebut sebagai pembatas.Dominic dan Catriona berdiri di depan makam mendiang ibu kandung Catriona. Setelah meletakkan buket bunga camelia yang besar. Catriona berdoa untuk kebahagiaan ibunya di sana. Juga, berdoa agar keadilan kematian ibunya yang selalu dirahasiakan segera terungkap.Setiap kali mengingat hari kematian ibunya, Catriona tak bisa menahan air matanya. Sekuat apa pun ia menahan. Tetap saja air mata itu akan jatuh dengan sendirinya. Catriona dengan ibunya memang terbilang sangat dekat. Mereka berduaan ba
Mobil yang dikendarai Jemmy melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Bangunan itu menjulang angkuh, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau dingin yang mengintimidasi. Dari luar saja, gedung tersebut sudah menunjukkan satu hal, kekua
"Aaaaaarrgggghhh!" jerit Dominic, meringis kesakitan seketika. Lututnya lemas, tubuhnya berguncang hebat seperti diterjang aliran listrik mematikan.Catriona tak hanya menginjak kakinya, tapi menyikut keras bagian paling vital milik Dominic tanpa ampun, tanpa keraguan. Seketika pelukan erat pria it
Setelah negosiasi panjang, akhirnya Catriona dan ayahnya-Wilson, melangkah ke lorong penghubung rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian orang terpercaya. Dua pengawal mengiringi mereka dalam diam. Lorong itu panjang dan sunyi. Di ujungnya, sebuah lift menanti. Salah satu pengawal menempelkan kar
“Kau sangat keren!” puji Emely penuh kagum, matanya berbinar saat melihat Catriona melangkah keluar dari privat room dengan aura dingin namun memesona, bangga dan tanpa rasa bersalah. Catriona hanya menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar hangat, tapi justru memancarkan el







