로그인Julia Hernandez mendadak dilamar oleh dua bocah kembar untuk jadi ibu tiri mereka. Keduanya memang menggemaskan, namun polah ayah mereka, yang walau tajir tapi minim etika, bikin Julia tak bersedia. Kehadiran masa lalunya yang kejam dalam wujud pria kasar bernama Jose Ramirez, yang mengejar seperti mimpi buruk, membuat Julia berubah pikiran. Dalam pikirannya, lebih baik menghadapi Westwood yang berperilaku buruk ketimbang berakhir di tangan sang mantan yang psikopat. Sayangnya, pernikahan tidak membuat masalah berakhir begitu saja. Sebab mantan istri Jhon selalu muncul jadi orang ketiga. Belum lagi, Ramirez yang berhati kejam, juga tak mau melepas Julia begitu saja. Bersama komplotan mafianya, dia bersumpah akan membuat hidup Julia seperti neraka. Akankah Julia berhasil melewati rintangan hidupnya? Atau peristiwa kelam yang pernah menghancurkan hidupnya akan kembali terulang?
더 보기"Hukum mati wanita jahat itu!"
"Hukum mati wanita iblis itu!""Demi Saintess, bunuh dia!"Teriakan penuh amarah memenuhi udara. Seorang gadis berpakaian lusuh dan tubuh penuh memar diseret paksa menaiki panggung di alun-alun kota. Telur busuk bahkan batu dilempar ke arahnya.Bruk!Tubuh ringkih mengempas lantai kayu. Darah mengalir dari kening si gadis, mengotori rambut peraknya. Pria bertubuh kekar yang menyeret gadis malang itu tak sedikit pun iba. Dia malah tersenyum mengejek, lalu meludahi wajah jelita yang kini penuh luka."Hari ini, kau akan menerima hukumanmu, Wanita Iblis! Aku tak akan memaafkan siapa pun yang berani melukai Lady Cherrie," desis pria berwajah dingin itu tajam.Dia tiba-tiba menghunus pedang. Cahaya matahari menerpa senjata yang dibuat dari logam terbaik itu. Kilauannya membuat si gadis pesakitan memejamkan mata. Seruan untuk mempercepat eksekusi bercampur makian semakin membahana."Matilah kau, Wanita Iblis!" seru pria berwajah dingin. Pedang dengan ukuran tulisan kuno itu diangkat tinggi-tinggi, siap memenggal kepala gadis tak berdaya di hadapannya.Alun-alun mendadak terjebak dalam keheningan. Seluruh mata terpusat ke panggung, menunggu adegan eksekusi. Ketegangan berpadu dengan euforia. Seluruh rakyat tampak tak sabar hendak menyaksikan hukuman mati terdakwa."Tunggu!" Jeritan panik memecahkan keheningan.Gerakan pedang tertahan di udara. Semua orang mengalihkan pandangan ke asal suara. Gadis berambut keemasan tergopoh-gopoh menuju alun-alun."Hentikan ini, Tuan Duke!" seru si gadis berambut keemasan. Mata sendunya tampak berkaca-kaca.Tatapan dingin pria pengeksekusi berubah hangat. Dia menghampiri gadis berambut keemasan."Lady, Anda belum sehat benar, kenapa Anda malah ke sini?" tanyanya dengan nada cemas.Gadis berambut keemasan menggeleng pelan, lalu berkata dengan suara bergetar, "Saya tak bisa membiarkan Lady Neenash dihukum dengan kejam. Dia memang bersalah, tapi saya sudah memaafkan."Pria berwajah dingin menghela napas berat."Inilah yang selalu membuat kami mengkhawatirkan Anda, Lady. Anda terlalu baik hati–""Ppptt ha ha ha, ini lucu sekali. Pertunjukan yang sangat lucu ha ha ha." Tawa gadis terdakwa memotong ucapan pria berwajah dingin."Apa yang kau tertawakan, hah?" bentak pria berwajah dingin.Matanya mendelik tajam. Gadis terdakwa malah menyeringai. Dia mendongak dan menatap nyalang."Saya hanya merasa sandiwara Lady Cherrie untuk berpura-pura baik sangatlah lucu. Saya tidak perlu dimaafkan oleh wanita licik," sahutnya.Pria berwajah dingin menggeram. "Dimaafkan pun tetap tak tahu diri! Kau benar-benar iblis!" serunya dengan pedang teracung.Namun, si terdakwa tampak tak gentar sedikit pun. Mata dengan tatapan hampanya malah seperti menantang. Bibirnya menyunggingkan senyuman sinis."Kumohon, Tuan Duke. Tak apa jika Lady Neenash menyakiti saya. Saya tak ingin ada kekejaman di sini," sergah gadis berambut keemasan tiba-tiba.Gadis terdakwa tertawa sinis. "Tak perlu berpura-pura baik, Nona Saintess. Bukankah Anda sedang merayakan detik-detik kematian saya?" ejeknya.Gadis berambut keemasan seketika terisak. Tubuhnya yang terlihat rapuh berguncang hebat. Dia tampak begitu syok sebelum akhirnya tak sadarkan diri.Alun-alun menjadi ricuh. Makian kepada terdakwa bersahutan. Pria berwajah dingin hendak menggendong sang saintess. Namun, pria berambut merah dan bermata emas tiba-tiba datang dan mendahuluinya."Lanjutkan eksekusi Lady Esbuach! Biar aku yang mengurus Lady Cherrie!" titah pria bermata emas."Baiklah, Yang Mulia Putra Mahkota," sahut pria berwajah dingin dengan takzim.Setelah sang putra mahkota membawa pergi sang saintess, eksekusi dilanjutkan. Pria berwajah dingin kembali mengangkat pedang. Sementara itu, gadis terdakwa memejamkan mata dalam kepasrahan. Peristiwa demi peristiwa penting dalam hidupnya melintas dalam benak, ingatan-ingatan buruk yang memicu eksekusi hari ini.***Lima tahun kemudianJulia duduk santai di tepi danau. Matanya tak luput memandang suami dan kedua anaknya yang sedang naik perahu di tengah sana. Cahaya mentari memantul indah, membuat permukaan air seperti permata yang berkilauan. "Mom, lihat! Aku bisa mengayuh."Seruan si bungsu Jill membuat senyum lebar terbit di wajahnya. Ya, beberapa tahun terakhir, si kembar memutuskan untuk memanggilnya Mommy, sementara Vivienne mereka panggil Mother. Hal ini bikin hidup Julia terasa lengkap. Dia bisa saja kehilangan dua anak, tetapi dia mendapat dua anak juga sebagai gantinya. "Mom, aku jauh lebih kuat dari pada Jim." Seruan si bungsu terdengar lagi.Julia balas melambai sembari meneriakkan kata-kata penyemangat. Saat perahu makin jauh berlayar, barulah dia melirik pesan yang sudah sejak tadi singgah di gawainya. Pengirim pesan ini adalah Luke. [Dear July, aku bangga dengan pencapaianmu. Kulihat beberapa bukumu mas
Besok paginya, setelah memutuskan dengan penuh pertimbangan, Julia berangkat bersama Jhon. Saat akan naik ke mobil, Olivia tak hentinya menangis seraya berpesan. "Kalau suatu saat nanti hidupmu tak baik-baik saja, kembalilah kemari. Bibi akan selalu menerima."Tak ada yang bisa diucapkannya selain memeluk Olivia lebih erat. Setelah keduanya selesai melepas haru, Jhon pun pamit pada Olivia. "Kami pergi dulu. Di masa mendatang, kami akan berkunjung lagi."Usai berpamitan, mobil pun menderu, meninggalkan rumah pertanian semakin jauh. Julia terus menoleh ke belakang, hingga rumah tempatnya lahir dan menghabiskan masa muda, lenyap dari pandangan. "Kau sedih, Sayang?" tukas Jhon. "Sedikit. Bagaimana pun, aku sudah sebulan tinggal di sana.""Kapan-kapan kita kemari lagi."Jauh dalam hatinya, Julia tahu bahwa janji ini sulit ditepati. Begitu kembali ke Manhattan, sudah pasti Jhon akan kembali jadi robot gila kerja.
Sudah lewat waktunya makan siang saat mereka sampai di sana. Suasana agak gelap karena tempat yang mereka datangi tertutup pepohonan besar. "Jadi, tempat ini yang kau maksud?" tanya Jhon seraya memandang sekelilingnya takjub. "Tentu saja. Waktu kecil, aku sering bersembunyi di sini agar tak disuruh mencuci piring."Dengan gesit, Julia masuk ke dalam celah bebatuan tersembunyi, lalu duduk pada ceruk yang dalam. Tak butuh waktu lama bagi Jhon menyusul sang istri. Pria itu langsung duduk di sisi Julia dan melanjutkan asmara yang sempat terjeda. Api kerinduan membuat keduanya terbakar gairah. Beberapa saat berselang, ketika mereka terbaring bersimbah peluh, barulah hasrat yang menggelora itu padam. "Terima kasih, Sayang." Jhon berbisik lembut seraya mengecup kening istrinya. Perlakuan yang begitu manis membuat Julia makin larut dalam dekapan Jhon. Hari ini, dia mempertaruhkan segenap keyakinan demi bisa mereg
Kata-kata bibinya tempo hari masih terngiang di benak Julia. Meski demikian, hatinya masih dilema, antara kembali ke Manhattan atau menetap di tanah kelahiran. Saat ini, dia sedang serius menekuni laptopnya, namun jumlah kata yang diketik pada jendela aplikasi, tak bertambah satu huruf pun. Alih-alih berpikir, dia malah sibuk berandai-andai, bagaimana jadinya jika dia tak bersama Jhon lagi untuk selamanya. Dia menarik nafas kesekian kali, dalam upaya sia-sia untuk mengumpulkan niat menulis. Tetapi, belum sempat terlaksana, deru halus mobil terdengar di pekarangan rumah, diikuti Ketukan pada daun pintu sejurus kemudian. "Siapa?!" serunya seraya beranjak dari duduknya. Orang asing yang berdiri di balik sana tidak menyahut. Hal ini bikin Julia was-was, sebab bukan cuma sekali dia nyaris mati dalam percobaan pembunuhan. "Siapa di sana?" ujarnya lagi. Kali ini lebih keras dari yang tadi. Ketika tamu tak diundang ini bu
Jhon membuang nafas berkali-kali. Sudah seminggu Julia tak mau bicara. Setiap kali dia datang, istrinya cuma diam lalu memalingkan wajah. Sebagai pria, Jhon tak keberatan jika istrinya marah atau bahkan memukulnya. Tetapi sikap diam adalah sesuatu yang tak bisa dia pahami. "Ka
Sementara itu, Jhon tak kalah panik di mansion. Dia lalu-lalang seperti cacing kepanasan. Tiap sebentar, ponselnya berdering menyampaikan info terbaru pelacakan Julia. Apa yang membuat kepalanya hampir pecah adalah kenyataan bahwa si kembar juga nyaris diculik dari sekolah. Kalau saja p
Seisi ruangan hening, sebelum akhirnya kasak-kusuk pecah lagi, bahkan lebih riuh dari sebelumnya. a Ketika suasana makin tak terkendali, anggota yang paling senior akhirnya buka mulut. "Sebaiknya kita tunggu saja sepuluh menit lagi. Kalau sampai saat itu Mr David tak muncul juga,
Belum sempat George beranjak, pintu ruangan sudah terbuka lebar. Julia berdiri disana dengan pesona tak tertandingi. Biasanya, dia suka memakai outfit berwarna pastel, tetapi dalam kesempatan ini, wrap dress merah membungkus tubuhnya dengan sempurna. Dan meski perutnya membunc






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 보기