Mag-log inMichael akhirnya membuka suara lebih dulu, memecah keheningan di antara para pria.“Jadi…” Michael menjeda kalimatnya, menatap Arbi dari ujung kepala hingga ujung kaki. “...datang juga akhirnya.”Arbi menelan ludahnya pelan, berusaha menguasai suaranya agar tidak bergetar. “Iya, Mas.”Samuel menyipitkan mata sedikit, menimpali dengan suara beratnya. “Empat tahun.”“Iya.”“Lumayan lama," katanya dengan tersenyum tipis.“Iya…” jawab Arbi pendek.Tatapan Samuel masih belum berubah, tajam dan menyelidik. Dan entah kenapa, Arbi merasa dirinya seperti sedang diinterogasi oleh komplotan mafia kelas atas.Darren tiba-tiba ikut bicara dengan nada suara yang terkesan santai namun dingin. “Masih hidup ternyata.”Mendengar itu, Arbi refleks menjawab jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, “Aku juga heran.”Suasana hening selama dua detik.Lalu, di luar dugaan, sudut bibir Darren bergerak naik, membentuk garis tipis yang menyerupai senyuman. Bahkan Michael sampai harus menundukkan kepalanya se
"Ya iyalah! Ketemu kalian itu rasanya seperti sedang reuni keluarga paling ribut seantero jagat raya!" seru Aruna bersemangat.Belum juga kehebohan itu mereda, Kiara ikut menyusul datang dari arah belakang rombongan sambil membuka kedua tangan lebar-lebar. "Heii! Peluk aku juga, dong!""KIARAAA!"Dan dalam hitungan beberapa detik saja, empat wanita matang itu benar-benar berkumpul membentuk lingkaran. Mereka saling peluk, saling mencubit gemas, tertawa lepas, dan menembakkan rentetan pertanyaan secara bersamaan sampai tidak jelas lagi siapa yang sedang berbicara dan siapa yang sedang mendengarkan."Kamu sehat, kan?""Lusi, astaga, kulitmu sekarang kenapa makin glowing begini?""Eliza, serius, kamu ini tidak capek ya punya cucu yang super aktif semua?""Aku capek, tapi aku bahagia sekali!"Tawa mereka kembali pecah berderai. Sementara itu, Mawar yang memilih duduk tenang di kursi tunggu bandara bersama Hermawan, hanya bisa tersenyum simpul menatap pemandangan penuh kebahagiaan
Alicia menatap dada bidang di hadapannya selama beberapa detik, menimbang-nimbang. Ia kemudian mengambil satu langkah maju. Namun, alih-alih menenggelamkan diri ke dalam pelukan hangat itu, gadis itu justru mengerem langkahnya tepat di depan dada Arbi.Arbi langsung mengerutkan keningnya heran, kedua tangannya masih menggantung di udara. "Kenapa nggak jadi peluk?"Alicia menggigit bibir bawahnya, menatap Arbi dengan binar mata malu-malu yang menggemaskan. "Mau, sih...""Terus?""Tapi jangan di sini...""Kenapa?"Alicia melirik gelisah ke sekeliling aula kedatangan bandara yang masih padat oleh lalu lalang manusia. "Maluuu..."Tawa Arbi langsung pecah mendengarnya. Suara tawa yang berat, rendah, dan penuh kehangatan—suara yang selama ini hanya bisa Alicia dengar lewat speaker ponselnya yang cempreng."Loh?" goda Arbi pelan, sengaja menurunkan wajahnya sedikit agar sejajar dengan Alicia. "Katanya dulu kamu yang paling barbar? Nggak punya urat malu, hm?""Itu kan dulu..." cicit
Pandangan mata Arbi langsung terkunci pada satu titik.Pada Alicia.Dan tepat pada detik itu juga, jantungnya berdentum begitu keras hingga rongga dadanya terasa sesak. Empat tahun ia dipaksa menelan bulat-bulat rasa rindu yang menyiksa, menatap bayangan semu di balik layar kaca. Namun sekarang, gadis itu benar-benar berdiri di depan matanya.Nyata. Hidup. Dan bernapas di ruang yang sama.Arbi mendadak lupa cara menggerakkan kakinya selama beberapa detik. Seluruh persendian tubuhnya terasa kaku, seolah semen cor baru saja mengeras di sekeliling kakinya. Padahal, sepanjang belasan jam berada di dalam kabin pesawat tadi, otaknya sudah merancang ribuan skenario gila. Tentang bagaimana ia akan langsung merengkuh tubuh Alicia, tentang bagaimana ia akan membisikkan kata rindu, atau tentang bagaimana Alicia mungkin akan berlari kencang lalu melompat ke pelukannya seperti dulu.Namun realitas menamparnya telak. Arbi justru tidak mampu bergeser satu inci pun.Sebab, Alicia yang berada d
Suaranya terdengar begitu mantap dan berwibawa saat menjelaskan strategi bisnis di depan ratusan pasang mata pengusaha senior. Alicia menatap layar tanpa berkedip."Ganteng banget..." bisiknya, jemarinya perlahan bergerak menyentuh permukaan layar, mengusap rahang tegas Arbi di sana.Dulu, laki-laki itu hanyalah seorang Arbi yang hobi terlihat sangat malu-malu dan salah tingkah jika sudah berhadapan dengan Alicia. Sekarang? Arbi telah menjelma menjadi sosok mandiri yang dikagumi banyak orang. Dan yang membuat dada Alicia bergemuruh adalah kenyataan bahwa semua kerajaan bisnis itu dibangun Arbi dari nol. Tanpa menyentuh bantuan keluarga Hermawan, tanpa memanfaatkan relasi siapa pun. Arbi memeras darah dan keringatnya sendiri hanya demi satu tujuan: datang ke Paris dengan kepala tegak dan membuktikan pada ketiga kakak laki-lakinya bahwa ia layak.Mata Alicia mulai berkaca-kaca. "Kenapa kamu sejauh ini sih berjuangnya, bodoh..." bisiknya lirih, air mata kebanggaan mulai menggenang."Aku
Begitu kelas ekonomi makro dinyatakan selesai, Alicia nyaris menjadi manusia pertama yang melesat keluar pintu. Langkah kakinya yang dibalut heels berketukan cepat di sepanjang koridor, mengabaikan beberapa mahasiswa yang mencoba mengejarnya."Miss Alicia! Tugas kelompok untuk minggu depan—""Nanti upload saja di portal kampus!" jawab Alicia tanpa menoleh, terus berjalan cepat."Miss, soal pembagian tema presentasi—""Kelompok bebas!""Miss, bukannya biasanya Miss yang pilihkan sendiri supaya adil?""Iya, tapi khusus hari ini... demokrasi!"Mahasiswa-mahasiswanya langsung saling berpandangan heran di depan pintu kelas. Untuk pertama kalinya, Miss Alicia yang terkenal anggun, tenang, dan sangat perfeksionis, terlihat seperti orang yang jiwanya tertinggal di tempat lain. Dan tebakan mereka tidak salah. Jiwa Alicia memang sudah terbang ke bandara sejak fajar menyingsing.Begitu sampai di apartemennya—BRAK!Pintu kayu itu tertutup keras. Alicia melempar tas tangannya ke sofa,
Udara pagi di Zürich terasa jernih dan menggigit. Dari balik jendela laboratorium yang tinggi, pemandangan Pegunungan Alpen tampak seperti lukisan, tenang, putih, dan sangat indah. Sudah lama Eliza bermimpi bisa datang ke Swiss untuk melihat keindahan penggunungan Alpa seperti ini. Namun di balik k
Anisa masih belum bisa percaya bahwa dirinya benar-benar berada di tengah pesta pertunangan semewah ini. Namun kebahagiaan yang semula memenuhi dadanya mendadak menguap begitu saja saat sosok gadis remaja datang. Semua mata seolah langsung tertuju pada gadis remaja itu. Tubuhnya tinggi untuk seusi
Pagi itu, udara terasa segar. Angin sepoi-sepoi meniup rambut Yura yang dibiarkan tergerai, membuat helaian halusnya menari lembut di bawah sinar matahari. Michael duduk santai di kursi rotan halaman belakang, secangkir kopi di tangannya, sementara matanya tak beranjak sedikit pun dari wajah Yura.
Bandara Aéroport de Paris–Charles de Gaulle sore itu ramai luar biasa. Suara koper bergulir, panggilan dari pengeras suara, dan langkah-langkah terburu-buru bercampur menjadi satu. Di antara keramaian itu, Samuel berdiri tegak di dekat area kedatangan internasional, kedua tangannya dimasukkan ke sa







