Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / CHAPTER 144: TARING YANG SALING MENODONG

Share

CHAPTER 144: TARING YANG SALING MENODONG

Author: Surjelly
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-21 09:04:38

Raungan liar Bastian mengguncang fondasi aula pertemuan malam ini. Suara itu memantul di antara pilar-pilar batu tinggi, menciptakan gema yang memekakkan telinga.

Di bawah tatapan dingin patung serigala perak raksasa di altar utama, Bastian menerjang maju tanpa ragu. Cakar emasnya yang tajam mengarah lurus ke dada bidang Xavier yang tidak terlindungi jubah.

"Mundur, Bastian!" teriak Xavier dengan suara berat yang bergemuruh penuh dominasi. Alpha Tertinggi paruh baya itu tidak bergeser satu inci
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 145: TENDANGAN YANG KUAT

    Suara deburan keras marmer yang hancur kembali memekakkan telingaku malam ini. Tubuh raksasa Xavier menghantam pilar batu altar dengan kekuatan murni Supreme Alpha."Kau sudah tua, Ayah! Sadarlah bahwa taring perakmu tidak bisa menahanku lagi!" teriak Bastian dengan taring emas yang memanjang sepenuhnya. Bastian menerjang maju kembali, mengabaikan rahang kirinya yang baru saja robek dan mengucurkan darah segar."Tutup mulutmu yang lancang itu, Bastian! Supreme Alpha paruh baya ini masih bisa mematahkan lehermu dalam sekali ayunan!" balas Xavier dengan geraman berat. Supreme Alpha itu memutar tubuhnya menghindari terkaman liar putranya dengan gerakan lincah."Jangan lupakan keberadaanku di sini, saudaraku. Sains membuktikan gen kita yang paling siap untuk Alana!" teriak Julian dari kegelapan sisi pilar. Julian melompat dengan belati perak tajam di bawah temaram obor aula pertemuan yang redup.Aku mencengkeram perut bawahku yang rata saat rasa nyeri tiba-tiba meremas rahimku dengan sang

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 144: TARING YANG SALING MENODONG

    Raungan liar Bastian mengguncang fondasi aula pertemuan malam ini. Suara itu memantul di antara pilar-pilar batu tinggi, menciptakan gema yang memekakkan telinga.Di bawah tatapan dingin patung serigala perak raksasa di altar utama, Bastian menerjang maju tanpa ragu. Cakar emasnya yang tajam mengarah lurus ke dada bidang Xavier yang tidak terlindungi jubah."Mundur, Bastian!" teriak Xavier dengan suara berat yang bergemuruh penuh dominasi. Alpha Tertinggi paruh baya itu tidak bergeser satu inci pun dari posisinya berdiri.Dengan kecepatan monster yang luar biasa, Xavier mengayunkan lengan besarnya untuk menangkis terkaman putranya. Benturan keras antara dua kekuatan fisik murni itu memercikkan suara debukan yang sangat mengerikan.Xavier menghindari cakar Bastian, lalu mendaratkan satu pukulan mentah tepat di rahang kiri Bastian. Suara retakan tulang terdengar sangat renyah bersamaan dengan tubuh Bastian yang terlempar menghantam lantai marmer."Akh!" geram Bastian sembari memuntahkan

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 143: PAKTA YANG HANCUR

    Gigi sisir kayu yang tajam menggaruk kulit kepalaku dengan ritme yang lambat. Di depan cermin rias perunggu yang buram, aku menatap pantulan wajahku yang pucat.Mataku bergerak turun ke arah bahu kanan yang masih menyisakan keropeng samar bekas gigitan Xavier tempo hari. Namun, leherku masih terlihat sangat polos dan mulus tanpa ada tanda permanen dari siapa pun.Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian dewan dan kematian Valerius di perbatasan utara. Pagi hari ini, batas waktu masa damai satu bulan yang kami sepakati resmi berakhir sepenuhnya.Aku mengembuskan napas panjang, merasakan ketegangan yang mendadak merayap ke dalam seluruh isi kamar tidur utama. Aroma udara di sekelilingku terasa sangat sesak dan panas secara tidak wajar sejak fajar menyingsing."Kau menyisir rambutmu terlalu lama, Alana," suara berat Bastian memecah keheningan dari arah belakang. Bastian melangkah mendekat, membiarkan dadanya yang bidang hampir menyentuh punggung jubah sutra abu-abu yang kukenakan.Aku

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 142: PUTRA YANG DIAMPUNI

    Bau tajam herbal antiseptik menusuk hidungku begitu kelopak mataku terbuka perlahan. Cahaya temaram dari lampu minyak yang tergantung di tiang tenda medis membuat kepalaku terasa sedikit pening.Aku berusaha menyandarkan tubuhku pada tumpukan bantal tebal di ranjang darurat ini. Gerakan kecil itu langsung mengirimkan rasa perih dari pergelangan tanganku yang terluka.Luka lecet merah keunguan bekas gesekan rantai brankas baja kemarin tampak sangat jelas. Kulitku yang pucat kini dihiasi bekas memar yang masih terasa berdenyut nyeri.Sesosok pria berambut hitam legam tampak berlutut dengan lutut langsung menyentuh lantai tanah yang dingin. Julian menundukkan wajahnya sangat dalam, menempelkan keningnya tepat di atas lutut gaun abu-abu yang kukenakan.Bahu kokohnya bergetar hebat tanpa suara, memancarkan aura keputusasaan yang sangat pekat. Sepasang tangannya yang biasanya dingin kini terasa hangat saat meraba perlahan bekas luka rantai di pergelangan tanganku.Aku merasakan beberapa tet

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 141: PAMAN YANG DIBANTAI

    Suara raungan Xavier menggelegar, membuat pilar-pilar pinus di seluruh hutan utara bergetar hebat. Pepohonan seolah merunduk di bawah tekanan kemarahan Supreme Alpha yang kembali bangkit dengan kekuatan penuh."Bagaimana mungkin lukamu bisa sembuh seketika?" teriak Valerius dengan wajah pucat karena terkejut. Dia mundur selangkah, mencengkeram kapak perak besarnya dengan kedua tangan yang mulai gemetar."Darahmu akan membasahi salju ini, Valerius!" balas Xavier dengan suara berat yang bergemuruh. Tubuh raksasanya menerjang maju bagai kilat, meninggalkan pusaran salju dingin di belakang langkahnya.Valerius mencoba mengayunkan kapak perak besarnya secara vertikal untuk membelah kepala Xavier. Namun, Xavier bergerak dengan kecepatan monster yang jauh melampaui gerakan sebelumnya.Dia menghindari tebasan maut itu dengan gesit, membiarkan mata kapak hanya memotong angin kosong. Sebelum Valerius sempat menarik senjatanya kembali, cakar besar Xavier sudah menghantam pergelangan tangannya.K

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 140: MEDAN PERANG YANG BERDARAH

    Aku berlari terengah-engah keluar dari mulut gua yang mulai runtuh akibat guncangan ledakan. Langkah kakiku terasa sangat lemas dan terseok-seok di atas timbunan salju utara yang dingin."Bawa Alana pergi dari sini sekarang juga, Bastian!" teriak Xavier dengan suara menggelegar. Tubuh raksasanya langsung melompat menerobos badai salju untuk menghadang puluhan musuh."Aku akan melindungimu dengan nyawaku, Alana!" balas Bastian dengan taring emas yang mulai memanjang. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat, menarikku ke balik pohon pinus raksasa."Tetap di belakangku, Alana, jangan pernah menunjukkan dirimu!" perintah Bastian dengan napas memburu. Matanya yang menyala emas terus mengawasi sekeliling dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi."Tapi mereka membawa terlalu banyak senjata perak, Bastian!" seru ku dengan suara yang bergetar hebat. Aku meremas perut bawahku yang mendadak kembali berdenyut sangat kencang dan menyiksa."Jangan cemas, Omega, kami tidak akan membia

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status