เข้าสู่ระบบRantai besi bergemerincing keras, menyeret kakiku di atas lantai koridor yang beralih dari marmer halus menjadi batu kasar yang membekukan.Two guards grabbed my shoulders without any mercy.Mereka mendorongku hingga aku terjerembap di atas sebuah kursi besi dingin di tengah ruangan bawah tanah yang luas.Sebelum aku sempat menegakkan tubuh, rantai perak langsung melilit pergelangan tanganku dengan sangat kencang.Aku mendongak dengan napas terengah-engah dan tatapan yang mulai kabur akibat rasa takut yang luar biasa.Di depanku, di atas panggung batu yang lebih tinggi, duduk para tetua dewan istana dengan jubah hitam mereka.Elder Kael berdiri di tengah panggung, menatapku dengan mata hazel yang dipenuhi kebencian ideologis yang sangat pekat.Kehadirannya memancarkan aura penindasan yang begitu kuat hingga membuat dadaku terasa sangat sesak."Berdirilah dengan tegak, penyusup!" bentak salah satu pengawal sambil menjambak rambutku agar aku mendongak menatap para tetua.Aku meringis ke
Aku percaya kehangatan tangan Sienna yang mengusap pundakku adalah ketulusan.Aku tidak menyadari bahwa jemarinya sedang menghitung seberapa didera pisau pengkhianatan ini bisa menusuk rahimku.Pagi itu terasa begitu tenang di didera kamar tidurku di sayap barat istana.Sienna berdiri di belakangku, menyisir rambut hitam panjangku dengan sangat lembut."Rambutmu sangat indah, Alana," kata Sienna dengan suara pelan."Sayang sekali jika rambut seindah ini harus terlihat kusut."Aku tersenyum tipis menatap pantulan wajah kami di cermin besar.Kehadiran Sienna di kamar ini adalah satu-satunya hiburan bagiku setelah badai penyerangan Valerius berlalu."Terima kasih, Sienna," jawabku sambil memegang tangannya yang hangat."Hanya kau yang peduli padaku di istana yang dingin ini."Sienna menghentikan gerakan sisirnya sejenak, lalu mengusap bahuku dengan lembut.Matanya yang bulat menatapku dengan tatapan cemas."Aku selalu mencemaskan keselamatanmu, Alana," bisik Sienna di dekat telingaku."T
Langkah kakiku terasa sangat kaku saat aku mencoba turun dari ranjang beludru hitam. Rasa perih di punggung dan paha bagian dalamku masih tersisa, membuatku harus berpegangan pada tiang ranjang kayu agar tidak terjatuh.Aku melirik ke arah pintu kamar tidurku yang kini sudah tidak terkunci lagi. Keheningan siang ini terasa sangat asing setelah badai perang dan kepulan asap peppermint yang menyesakkan malam kemarin.Xavier dan kedua putranya pasti sedang sibuk mengurus sisa-sisa kerusakan istana di halaman luar. Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bergerak mencari tahu apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh keluarga kotor ini dariku.Aku melangkah kaku melewati koridor sayap barat istana yang tampak sangat berantakan akibat guncangan ledakan sebelumnya. Tujuanku adalah ruang perpustakaan pribadi sayap barat yang sudah lama terbengkalai dan jarang dilewati oleh para pengawal.Pintu kayu perpustakaan yang berdebu itu berderit perlahan saat aku mendorongnya didera sisa tenag
Bau peppermint yang sangat tajam menyengat hidungku, menembus celah-celah pintu brankas besi sebelum kesadaranku pulih sepenuhnya. Aku bisa mendengar suara batuk parau yang tertahan dari balik dinding baja tebal di luar sana."Gas pertahanan kita sudah bekerja, Julian," bisik Xavier didera suara yang terdengar sangat berat dan kelelahan. "Berapa sisa waktu kita sebelum racun itu menguap sepenuhnya?"Julian berdiri tegak di dekat pintu kontrol, melirik indikator tekanan udara yang mulai berkedip hijau. "Dua puluh menit, Ayah," jawab Julian didera nada suaranya yang tetap tenang tanpa emosi. "Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat paman Valerius dan sisa pasukannya mundur ke arah luar gua."Mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru menjauh dari luar pintu besi, aku mengembuskan napas panjang yang terasa sangat bergetar. Tubuhku masih terbaring kaku di atas meja besi yang terasa sedingin es.Cairan hangat sisa penyatuan paksa mereka masih terasa merembes perlahan di sepanjang paha
Cairan hangat yang melimpah masih merembes perlahan di sepanjang paha bagian dalamku yang gemetar hebat. Aku terbaring kaku di atas meja besi yang sedingin es, tidak mampu menggerakkan satu pun otot tubuhku yang lemas sepenuhnya.Tiba-tiba, sebuah getaran hebat mengguncang dinding-dinding baja di sekeliling kami didera kekuatan yang sangat mengerikan. Debu-debu halus dari sela langit-langit beton brankas runtuh tipis, mengotori tubuh polosku yang basah kuyup oleh keringat dan sisa sperma mereka."Julian, bantu aku berdiri," rintihku didera suara serak yang hampir habis akibat jeritan panjang sebelumnya. "Perutku... perutku masih terasa sangat kencang dan melilit perih."Julian tidak langsung bergerak membantuku, melainkan bersandar lemah pada dinding besi didera napas yang memburu kasar. Wajah tampannya yang biasanya sangat tenang kini terlihat pucat pekat, didera pelipis yang terus mengalirkan keringat dingin.Di sampingnya, Xavier mendadak meremas kepalanya sendiri didera sangat kua
Bunyi debuk keras terdengar saat tubuh polosku diangkat secara paksa dari lantai yang kotor. Punggung polosku langsung bersentuhan dengan permukaan meja besi brankas yang sedingin balok es yang membakar kulit punggungku."Julian, aku mohon hentikan mereka!" jeritku dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipiku. "Jangan biarkan mereka memperlakukanku seperti binatang di tempat sempit yang kotor ini!"Julian tidak menjawab jeritan keputusasaanku, melainkan melangkah maju dan berlutut di dekat kepalaku. Kedua tangan besarnya yang sedingin es langsung mencengkeram kedua bahuku erat-erat ke permukaan meja besi."Ini demi keselamatan anakmu sendiri, Alana, jadi berhentilah memberontak," bisik Julian dingin tepat di depan wajahku. "Setiap detik sisa feromon paman Valerius menempel di kelenjar lehermu, kestabilan hormon kehamilanmu akan terus rusak."Bastian meluncurkan tawa rendah dalam kegelapan murni, sebuah tawa penuh kemenangan teritorial yang sangat kejam. Dia mencengkeram
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







