LOGINJulian melepaskan bekapan tangannya dari bibirku tepat saat suara dentuman keras kembali mengguncang seluruh koridor bawah tanah. Aku terengah-engah mencari oksigen di sela kegelapan lorong darurat yang sempit ini."Kita harus lebih cepat, Alana," ucap Julian sambil menyeret tubuh lemasku menuruni anak tangga batu. "Mereka sudah berhasil menjebol dinding pertahanan sayap barat.""Tapi Xavier... bagaimana dengan dia, Julian?" tanyaku dengan suara serak yang bergetar hebat. "Dia terluka parah di bawah sana akibat pertarungan itu.""Ayah adalah seorang Alpha Tertinggi, dia tidak akan mati semudah itu," balas Julian dengan nada suara yang sangat dingin. "Tugas utamaku sekarang adalah mengamankanmu di brankas baja."Tiba-tiba, suara parau yang sangat menggelegar terdengar menembus celah ventilasi udara di atas kami. Itu adalah suara Valerius yang berteriak dari arah ruang tahta utama."Xavier! Serahkan klon Elena-ku sekarang, atau aku akan menguliti seluruh putramu di depan matamu!" teriak
Aku masih mencengkeram pagar balkon dengan jari-jariku yang memutih pekat. Di bawah halaman sana, Valerius tertawa melihat keguncangan mental yang menyerang Xavier."Kau pikir bisa menghapus keberadaanku dari sejarah kawanan ini, Xavier?" tanya Valerius dengan nada mengejek. Dia menarik lengan jubah kirinya yang robek hingga menampilkan kulit lengannya yang kokoh.Di bawah siraman cahaya bulan, sebuah tato perak berbentuk serigala melolong terlihat jelas di sana. Namun, di atas tato lambang keluarga Bloodmoon itu, terdapat bekas luka bakar hitam berbentuk tanda silang yang sangat besar."Tato pewaris utama..." bisik Xavier dengan suara yang mendadak kehilangan kekuatannya. "Bagaimana mungkin tato itu masih ada di tubuhmu?" tanya sang Alpha Tertinggi dengan napas tertahan."Tanda ini tidak akan pernah hilang, Xavier!" teriak Valerius dengan mata merahnya yang berkilat penuh dendam. "Kau dan dewan kawanan kotor itu menyiksaku dan mencoret lambang ini dengan besi membara!" lanjutnya deng
Kepingan-kepingan topeng perak yang hancur masih berjatuhan di atas lantai marmer halaman utama istana dengan suara dentingan logam yang sunyi. Aku mencengkeram pagar balkon sangat kuat hingga kuku-kukuku memutih pekat, menatap wajah pria di bawah sana yang kini terekspos sepenuhnya di bawah sinar rembulan."Tidak mungkin..." bisikku dengan mata amber keemasanku yang terbelalak lebar didera syok yang luar biasa besar. "Dia... dia memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Xavier," gumamku dengan tubuh yang bergetar hebat di dalam dekapan Julian yang sedingin es. "Kenapa mereka sangat identik bagai kembaran takdir?"Di bawah halaman sana, Xavier melangkah mundur beberapa langkah dengan napas yang memburu kasar. Luka di dadanya yang terus menyemburkan darah seolah terlupakan begitu saja oleh guncangan mental yang dahsyat."Valerius..." desis Xavier dengan suara parau yang berbau besi darah pekat. "Bagaimana bisa kau masih hidup setelah delapan belas tahun?!""Apakah kau begitu terkej
Julian masih membekap mulutku dengan sangat erat di balik pilar marmer yang gelap. Aroma peppermint dari tubuhnya mencoba menekan kepanikan gila yang terus meledak dari rahimku."Lepaskan Alana, Julian!" bisik Bastian dengan geraman rendah yang sangat berbahaya. Mata emasnya berkilat menatap tangan saudaranya yang masih berada di sela paha bagian dalamku."Tutup mulutmu dan lihat ke bawah," balas Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman istana. "Ayah sudah tiba di garis depan."Suara raungan serigala yang sangat dahsyat mendadak mengguncang seluruh koridor lantai dua. Sesosok serigala hitam raksasa melompat dari atap sayap barat, mendarat dengan keras di tengah halaman marmer yang licin oleh darah."Xavier..." bisikku dalam hati dengan dada yang mendadak terasa sangat sesak dan nyeri. Aku bisa merasakan rasa sakit dari ikatan batin kami yang robek kini kembali berdenyut sangat hebat.Pria bertopeng tengkorak perak di bawah sana tertawa lebar melihat kedatangan musuhnya. "Akh
Bastian menghentikan langkah besarnya tepat di tengah koridor lantai dua yang menghadap langsung ke arah halaman utama istana.Goncangan hebat kembali menghantam dinding batu di sekeliling kami, menjatuhkan debu-debu tebal dari langit-langit ke atas lantai kayu."Sial, gerbang utama bagian dalam sudah jebol sepenuhnya!" bentak Bastian dengan napas yang memburu kasar.Dia menurunkan tubuh polosku dengan terburu-buru di balik dinding marmer yang tebal, lalu mencengkeram pagar balkon besi dengan sangat kuat."Aku sudah memperingatkanmu untuk segera bergerak ke sayap bawah tanah, Bastian," sahut sebuah suara datar dari arah belakang kami.Julian berjalan mendekat dengan seragam militer Bloodmoon yang masih rapi, meskipun matanya berkilat penuh ketegangan taktis yang sangat tajam."Tutup mulutmu yang sok pintar itu, Julian!" teriakampb Bastian tanpa menoleh sedikit pun ke arah saudaranya."Pintu masuk sudah dijebol, ke mana lagi kita harus membawa Omega ini?" tanyaku dengan geraman marah y
Pintu kamarku hancur didera sekali hantaman keras hingga serpihan kayunya berserakan di atas lantai kayu yang dingin.Aku tersentak di atas tempat tidur, mendekap bantal milik Xavier untuk menutupi dadaku yang polos tanpa sehelai kain pun.Bastian berdiri di ambang pintu dengan napas memburu yang terdengar sangat kasar.Tubuhnya yang tegap dipenuhi oleh jelaga hitam dan noda darah segar musuh yang mengering.Mata emasnya yang biasanya berkilau kini menggelap sepenuhnya bagai lautan malam tanpa bintang."Bastian..." bisikku dengan suara serak yang bergetar hebat menahan sisa rasa sakit sebelumnya.Dia tidak menjawab, melainkan melangkah masuk ke dalam kamar yang gelap dengan langkah kaki yang sengaja ditekankan berat.Hidungnya kembang kempis, menghirup udara dingin kamar yang dipenuhi aroma vanila manis milikku yang mendadak meledak ekstrem."Kau basah saat istanaku diserang, Alana?" tanya Bastian dengan suara berat yang serak dan dipenuhi gairah gelap."Tubuhmu merindukan sentuhan Al
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







