MasukSuara raungan Xavier menggelegar, membuat pilar-pilar pinus di seluruh hutan utara bergetar hebat. Pepohonan seolah merunduk di bawah tekanan kemarahan Supreme Alpha yang kembali bangkit dengan kekuatan penuh."Bagaimana mungkin lukamu bisa sembuh seketika?" teriak Valerius dengan wajah pucat karena terkejut. Dia mundur selangkah, mencengkeram kapak perak besarnya dengan kedua tangan yang mulai gemetar."Darahmu akan membasahi salju ini, Valerius!" balas Xavier dengan suara berat yang bergemuruh. Tubuh raksasanya menerjang maju bagai kilat, meninggalkan pusaran salju dingin di belakang langkahnya.Valerius mencoba mengayunkan kapak perak besarnya secara vertikal untuk membelah kepala Xavier. Namun, Xavier bergerak dengan kecepatan monster yang jauh melampaui gerakan sebelumnya.Dia menghindari tebasan maut itu dengan gesit, membiarkan mata kapak hanya memotong angin kosong. Sebelum Valerius sempat menarik senjatanya kembali, cakar besar Xavier sudah menghantam pergelangan tangannya.K
Aku berlari terengah-engah keluar dari mulut gua yang mulai runtuh akibat guncangan ledakan. Langkah kakiku terasa sangat lemas dan terseok-seok di atas timbunan salju utara yang dingin."Bawa Alana pergi dari sini sekarang juga, Bastian!" teriak Xavier dengan suara menggelegar. Tubuh raksasanya langsung melompat menerobos badai salju untuk menghadang puluhan musuh."Aku akan melindungimu dengan nyawaku, Alana!" balas Bastian dengan taring emas yang mulai memanjang. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat, menarikku ke balik pohon pinus raksasa."Tetap di belakangku, Alana, jangan pernah menunjukkan dirimu!" perintah Bastian dengan napas memburu. Matanya yang menyala emas terus mengawasi sekeliling dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi."Tapi mereka membawa terlalu banyak senjata perak, Bastian!" seru ku dengan suara yang bergetar hebat. Aku meremas perut bawahku yang mendadak kembali berdenyut sangat kencang dan menyiksa."Jangan cemas, Omega, kami tidak akan membia
Aku mencengkeram pinggiran batu gua yang kasar, menahan gelombang mual yang mendadak naik ke tenggorokanku. Cairan pahit bercampur air liur keluar dari mulutku, menetes ke lantai tanah yang dingin."Alana, kau tidak apa-apa?" suara Bastian terdengar panik dari belakangku. Sepasang tangan kekar Bastian langsung memegang kedua bahu ku, menopang tubuhku yang gemetar.Aku menghirup napas dengan susah payah, merasakan perut bawahku berdenyut kencang secara tidak wajar. Denyutan hangat itu mendadak menyedot seluruh energi fisikku dengan sangat cepat."Jangan sentuh aku, Bastian," bisikku dengan suara serak seraya menepis tangannya perlahan. Aku berusaha berdiri tegak, tetapi lututku terasa lemas seolah kehilangan semua kekuatan penopangnya.Bastian mengerutkan kening, lalu mengendus udara di sekitar leherku dengan cemas. "Aromamu berubah, Alana, aromamu menjadi jauh lebih manis dari biasanya," gumam Bastian dengan mata emas yang berkilat khawatir."Aku hanya kelelahan, tidak ada yang perlu
Xavier mengulurkan tangan besarnya yang masih gemetar, menyangga sikutku dengan sangat hati-hati pagi ini. Kehangatan feromon kayu bakarnya menyelimuti tubuhku, tidak lagi menindas melainkan memohon perlindungan biologis dariku seutuhnya.Bastian dan Julian berdiri tegak di belakang kami bagai dua prajurit setia yang telah kehilangan seluruh taring pembangkangan mereka. Aroma peppermint dingin Julian yang tipis kini berbaur harmonis dengan aroma kayu bakar hangat Bastian di udara gua yang lembap."Melangkah perlahan, Alana, jalan di depan cukup licin karena salju fajar ini," bisik Xavier dengan nada suara yang sangat lembut. Dia menatapku dengan sepasang mata merah darah yang kini sepenuhnya meredup patuh di bawah otoritas mutlakku pagi ini.Aku mengangguk pelan, mencoba menapakkan kaki polosku di atas lantai tanah gua yang kotor dan dingin pagi ini. "Aku bisa berjalan sendiri, Xavier, kalian tidak perlu bersikap seberlebihan ini," jawabku dengan nada datar yang menguji kesetiaan mere
Suara isakan Julian yang lirih masih memecah keheningan gua maut ini fajar ini. Aku berdiri tegak di dekat tangga altar maut, mengawasi bagaimana Xavier mendekap erat tubuh putra keduanya yang hancur itu.Kabut keemasan beraroma vanila pekat sisa feromon penundukku masih tertinggal tipis di udara gua yang lembap. Bastian yang berlutut di tanah kotor gua mencoba menegakkan dada bidangnya yang berotot dengan susah payah fajar ini."Julian," panggil Bastian dengan nada suara yang teramat parau dan bergetar hebat menahan perih. Dia merangkak perlahan mendekati tangga altar, mengabaikan sisa rasa sakit akibat luka cakar maut ayahnya tadi.Julian tidak menyahut sama sekali, wajah tampannya masih tersembunyi di balik pundak kokoh Xavier yang gemetar lemas pagi ini. Isakan kecil yang tersedu-sedu masih terdengar lirih dari tenggorokan pria yang biasanya memancarkan keanggunan sosiopat itu."Aku tahu kau sangat membenciku, Julian," ucap Bastian sembari menghentikan langkah merangkaknya tepat d
Suhu di dalam gua batu hitam berangsur-angsur turun setelah ledakan feromon penundukku perlahan mereda pagi ini. Kabut keemasan beraroma vanila pekat sisa feromon penundukku masih tertinggal tipis di udara gua yang lembap dan dingin fajar ini.Aku perlahan menarik jubah sutra tipis gaun tidurku untuk menutupi bagian dadaku sepihak. Rambut hitam panjangku berkibar pelan ditiup angin perbatasan utara yang mulai menyapu keheningan gua maut ini.Aku berdiri tegak di atas altar batu hitam, menatap dingin ke arah tiga Alpha sedarah di depanku. Julian terkapar lemas di lantai marmer gua dengan napas yang terengah-engah menahan sisa gairah paksa.Sepasang mata emasnya yang biasanya memancarkan keanggunan sosiopat kini berkabut oleh air mata hangat yang mengalir deras. Pria itu meringkuk lemas, tampak sangat rapuh setelah seluruh topeng pertahanan taktisnya dihancurkan seutuhnya fajar ini."Alana... aromamu... ini terlalu pekat menyerang sistem saraf kepalaku," rintih Julian dengan suara terse
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







