LOGINLangkah kaki berat Valerius akhirnya menghilang di lorong gua yang gelap. Keheningan mencekam kembali membungkus sel batu yang lembap ini.Aku mencoba meredakan detak jantungku yang bergoyang hebat. Aroma feromon membusuk milik raja Serigala Liar itu masih tertinggal pekat di udara.Julian berdiri mematung di depanku, menatap pintu sel yang kosong. Cahaya obor di dinding gua bergetar, memantulkan bayangannya di atas dinding batu basah.Dia tidak lagi menunjukkan senyuman sosiopat dingin yang tadi ditunjukkannya pada pamannya. Wajah tampannya kini tampak sangat suram, retak oleh kepedihan.Secara perlahan, Julian berlutut di depanku di atas tanah gua yang dingin. He menyentuh pergelangan tanganku yang lecet akibat lilitan tali kulit rusa kasar.Sentuhannya tidak lagi kasar seperti sebelumnya. Jemari dinginnya bergerak sangat pelan, mengusap noda darah segar yang mengering di kulitku."Sakit?" tanya Julian dengan nada suara rendah yang terdengar sangat parau.Aku mendengus pelan, menola
Dada bidangku naik-turun dengan sangat cepat di bawah lilitan tali kulit rusa yang kencang. Aku menatap mata emas Julian yang berkilau dingin tanpa riak rasa bersalah sedikit pun.Rasa perih di pergelangan tanganku yang mengucurkan darah tidak lagi terasa penting sekarang. Hatiku jauh lebih sakit, remuk oleh kenyataan bahwa pria di depanku adalah sutradara dari seluruh neraka hidupku.Aku mengumpulkan seluruh sisa napasku untuk berteriak langsung ke wajah tampannya yang membeku. "Kau menyuruh Sienna mendekatiku sejak awal, bukan?"Julian tidak menjawab, dia hanya berdiri tegak dengan keanggunan sosiopat yang sangat tenang. Sikap diamnya justru membuat darahku semakin mendidih di dalam dada."Kau membiarkan Freya mencuri denah pertahanan sayap barat itu agar rencana ini berjalan mulus!" teriakku lagi dengan suara parau yang bergetar hebat.Aku menyentakkan tanganku hingga tali kulit itu semakin mengikis kulit pergelangan tanganku dengan kasar. "Kau yang merancang seluruh penderitaanku
Udara dingin berbau besi berkarat menusuk paru-paruku dengan sangat kejam. Bau feromon Serigala Liar yang membusuk membuatku mual seketika.Aku mencoba membuka mataku yang terasa sangat lengket dan berat. Kepalaku berdenyut kencang. Rasa pening yang tajam menusuk saraf pelipisku.Di mana aku sekarang? Mengapa sekelilingku terasa begitu gelap, pengap, dan membeku?Aku berusaha menggerakkan pergelangan tanganku yang mati rasa. Rasa perih yang tajam langsung menyengat kulitku dengan kasar.Kedua tanganku ternyata telah terikat erat ke dinding batu yang basah. Tali kulit rusa menggores pergelangan tanganku hingga terasa panas menyiksa.Feromon vanilaku meledak tipis di udara gua yang lembap dan dingin. Lututku lemas seketika, tubuhku gemetar hebat di atas tanah yang dingin.Aku diculik dari istana Bloodmoon malam ini. Bagaimana mungkin mereka bisa menembus pertahanan kamar tidurku di sayap barat?Xavier telah berjanji bahwa aku akan selalu aman di bawah perlindungannya. Namun, di mana dia
Kesunyian malam selalu menjadi sekutu terbaik bagi rencana yang disusun di dalam kegelapan.Kepatuhan emosional Xavier yang baru saja kukunci sore tadi memberikan celah kebebasan yang kubutuhkan malam ini.Aku melangkah tanpa suara menyusuri koridor menara utama yang hanya diterangi oleh obor dinding.Langkah kakiku yang polos tanpa alas terasa dingin saat bersentuhan dengan lantai marmer yang sunyi.Xavier sedang tertahan dalam rapat darurat bersama para tetua dewan di aula luar istana.Ini adalah waktu terbaik untuk menembus ruang kerja pribadinya yang selama ini dijaga sangat ketat.Aku mendorong pintu kayu jati besar ruang kerja Sang Raja secara perlahan hingga celahnya terbuka cukup lebar.Ruangan luas itu tampak kosong, hanya diterangi oleh lampu minyak di atas meja belajar mahoni yang menyala redup.Bau sisa kertas tua, tinta hitam, dan aroma kayu bakar khas tubuh Xavier menggantung tipis di udara malam.Aku melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang dikelilingi oleh pilar-pilar
Lembayung senja yang memerah pekat menerobos dari balik tirai kamar tidur utama menara.Cahaya kemerahan itu menyinari separuh ruangan, menyapu ranjang beludru hitam yang kini tampak rapi.Aku duduk tenang di tepi ranjang, memperhatikan matahari sore yang mulai tenggelam di balik perbatasan hutan kawanan Bloodmoon.Suara ketukan pelan di pintu kayu jati menghentikan keheningan kamar ini sebelum akhirnya daun pintu berderit terbuka.Xavier melangkah masuk dengan perlahan tanpa ada sisa keangkuhan teritorial yang biasa dia tunjukkan di ruang dewan.Jubah beludru tebalnya yang megah tampak sedikit longgar, memperlihatkan bahunya yang tidak lagi tegang kaku menantang dunia.Dia melangkah mendekatiku tanpa suara, lalu mendudukkan dirinya di atas kursi marmer tepat di samping ranjang riasku.Tatapan mata merah menyalanya kini terlihat sangat suram, meredup dengan lapisan air yang berkaca-kaca menahan luapan emosi.Sinar matahari sore memperlihatkan dengan jelas garis-garis luka cakar kemera
Langkah kakiku terdengar bergesekan pelan dengan kerikil putih taman mawar istana.Di belakangku, siluet raksasa Bastian terus mengikuti dengan jarak tepat dua jengkal.Dia melangkah dengan kepala yang menunduk dalam, seolah mengunci pandangannya hanya pada ujung gaun sutra putihku.Rahang tegasnya masih tertutup oleh balutan perban putih bersih setelah pertarungan brutalnya tempo hari."Apakah luka-luka di tubuhmu sudah membaik, Bastian?" tanyaku tanpa menghentikan langkah kaki."Luka ini tidak ada artinya sama sekali, Alana," jawab Bastian cepat dengan nada suara yang terdengar sangat patuh."Rasa sakit akibat cambukan ayah kemarin malam bahkan langsung lenyap setiap kali aku berada di dekat aromamu," lanjutnya.Aku berhenti melangkah di dekat rumpun mawar putih yang mekar sempurna siang ini.Bastian langsung menghentikan gerakan kakinya secara instan tanpa perlu kuperingatkan lagi."Mengapa kau terus mengikutiku seperti bayangan yang menyedihkan, Bastian?" tanyaku dingin tanpa berb
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







