Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 27: Racun di Telinga

Share

Chapter 27: Racun di Telinga

Author: Surjelly
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-25 09:00:05

Pintu kayu ek tebal di hadapanku terbuka dengan derit pelan yang bergetar rendah di udara.

Seorang pengawal bertubuh kekar mendorong bahuku tanpa belas kasihan, memaksaku melangkah ke dalam ruangan.

"Masuk. Lady Freya dan Beta Gideon tidak suka membuang waktu mereka," desis pengawal itu sebelum membanting pintu kayu di belakangku.

Klik.

Suara kunci kuningan yang berputar membuat darahku terasa membeku seketika.

Ruang rapat kecil ini terasa sangat sunyi, dingin, dan dikuasai oleh aroma dominasi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 30: Senyum yang Berbeda

    Aku membuka mata saat cahaya fajar menembus celah gorden kamar sayap barat.Rasa pegal dan nyeri yang menusuk langsung menguasai seluruh persendian tubuhku yang letih.Aku menyibak selimut sutra abu-abu yang menutupi tubuh polosku di atas ranjang yang luas ini.Di paha bagian dalamku, sisa gairah liar dari kejadian gila di bawah meja perjamuan semalam telah mengering sepenuhnya.Bercak cairan hangat yang mengeras itu menempel di kulit paha, menjadi bukti nyata atas kepasrahan fisikku semalam.Aku menatap noda tersebut dengan sepasang mata yang kini perlahan menggelap tanpa ada air mata yang tersisa.Biasanya, siksaan fisik dan seksual dari Xavier, Julian, dan Bastian akan membuatku menangis tersedu-sedu hingga tenggorokanku tercekik.Namun pagi ini, tidak ada satu pun tetes air mata yang jatuh membasahi pipiku yang masih terasa panas.Aku bangkit berdiri dengan tenang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama yang bernuansa marmer hitam.Kran pancuran kuputar, membiarkan air hang

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 29: Di Bawah Meja Panjang

    Aku meringkuk di atas lantai marmer yang dingin.Kain beludru penutup meja perjamuan yang sangat tebal, kaku, dan menjuntai menyentuh lantai marmer sepenuhnya menyembunyikan tubuhku dari dunia luar, menciptakan sebuah lorong kedap suara dan kedap cahaya di bawah meja perjamuan dewan.Di luar kolong meja yang sempit ini, suara langkah kaki para pelayan dan dewan tetua mulai berdatangan.Denting alat makan perak dan aroma hidangan daging panggang yang mewah memenuhi udara tepat di atas kepalaku."Pastikan semua cangkir anggur terisi penuh," terdengar suara kepala pelayan memberi perintah di luar sana.Aku menahan napas saat sepasang sepatu bot kulit hitam besar melangkah mendekat ke arah meja perjamuan.Itu adalah Bastian.Dia menarik kursi kayunya, lalu duduk tepat di depanku.Aroma hangat kulitnya yang maskulin seketika memenuhi kolong meja yang terbatas ini.Tidak lama kemudian, sepasang sepatu bot lain yang lebih ramping ikut duduk di sebelahnya.Julian.Aroma peppermint miliknya ya

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 28: Dendam yang Diam

    Asap cerutu yang pekat menggantung di udara aula utama, membuat mataku perih.Aku berdiri merapatkan tubuhku di sudut pilar marmer yang gelap, berusaha keras agar kehadiranku tidak disadari siapa pun di ruangan ini.Di tengah aula, para tetua dewan duduk mengelilingi meja panjang dengan ekspresi wajah yang sangat tegang."Laporan dari perbatasan menunjukkan peningkatan aktivitas rogue yang mencurigakan, Alpha Tertinggi," ujar Tetua Caleb dengan suara serak.Dia mengetukkan abu cerutunya ke dalam wadah perak di atas meja kayu ek yang kokoh."Kita membutuhkan pengawasan yang lebih ketat sebelum para penyusup itu berani melintasi sungai pembatas wilayah," tambahnya lagi.Di sebelah takhta besar Xavier, Freya duduk dengan anggun di atas kursi berlapis emas.Kursi berlapis emas itu adalah takhta suci yang hanya diperuntukkan bagi Luna sejati dari kawanan ini, sedangkan Freya di sini hanyalah seorang tamu politik.Dia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang sangat mewah, memancarkan ke

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 27: Racun di Telinga

    Pintu kayu ek tebal di hadapanku terbuka dengan derit pelan yang bergetar rendah di udara.Seorang pengawal bertubuh kekar mendorong bahuku tanpa belas kasihan, memaksaku melangkah ke dalam ruangan."Masuk. Lady Freya dan Beta Gideon tidak suka membuang waktu mereka," desis pengawal itu sebelum membanting pintu kayu di belakangku.Klik.Suara kunci kuningan yang berputar membuat darahku terasa membeku seketika.Ruang rapat kecil ini terasa sangat sunyi, dingin, dan dikuasai oleh aroma dominasi yang menyesakkan.Di tengah ruangan, Freya duduk dengan anggun di atas kursi beludru merah yang tampak mewah.Dia sedang menyesap teh hangat dari cangkir porselen berhias emas dengan gerakan yang sangat tenang.Sementara itu, Beta Gideon berdiri bersandar di dekat jendela kayu besar, menatap ke luar dengan kedua tangan di belakang punggung.Aroma manis bunga lily milik Freya bercampur dengan aroma pinus kering milik Gideon, menciptakan kombinasi pekat yang membuat perutku bergejolak mual."Lihat

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 26: Ratu Berambut Pirang

    Rantai besi tebal yang melilit pergelangan kakiku sengaja dilonggarkan atas perintah Julian.Para pengawal membiarkanku berjalan tanpa hambatan di sekitar sayap barat istana—sebuah kelonggaran kejam yang kuduga merupakan bagian dari eksperimen barunya untuk menguji batasan fisikku.Aku berdiri membeku, menatap pantulan diriku pada cermin besar di koridor sayap barat.Bekas cengkeraman merah kehitaman yang bengkak dan terasa panas memenuhi sepanjang leher hingga bahu kiriku.Bekas taring Xavier dan sisa gigitan Julian dari malam kemarin meninggalkan pola luka kasar yang berdenyut hebat.Paru-paruku seolah menolak menyerap udara setiap kali rasa ngilu itu menusuk ujung sarafku.Aku menyentuh luka gigitan di bahu kiriku dengan ujung jari yang gemetar, meraba tekstur kulit yang mengeras dan meradang."Sampai kapan tubuhku harus menanggung siksaan ini?" bisikku lirih pada bayanganku yang pucat.Tiba-tiba, suara riuh derap kaki kuda terdengar dari arah gerbang utama istana.Gemuruh roda ker

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 25: SURAT YANG MENGUBAH SEGALANYA

    Cahaya pagi yang redup menerobos masuk melalui celah ventilasi kamar bawah tanah. Tubuhku terasa sangat kaku dan perih saat mencoba bergerak di atas kasur beludru hitam.Rasa nyeri akibat hukuman cambuk telapak tangan Xavier semalam masih membakar kulit pantatku. Setiap kali bergeser, perut bagian bawahku mengejang hebat didera sisa efek pakta darah campuran mereka.Cairan intim yang mengering ketat di selangkangan membuatku merasa sangat kotor. Kehancuran harga diriku terasa lengkap pagi ini.Klek. Suara engsel pintu besi tebal berdering pelan, memecah keheningan kamar pengekapan.Martha melangkah masuk dengan kepala tertunduk, membawa nampan berisi sarapan dan sebuah handuk bersih. Langkah kakinya terdengar sangat pelan dan gemetar."Nona Alana, tolong jangan takut," bisik Martha lirih. Dia meletakkan nampan di atas meja kayu, lalu berjalan mendekati ujung ranjang tempatku meringkuk.Martha mengeluarkan sebuah kunci perak kecil dari saku celemeknya. Dia membungkuk di depan kaki kiri

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 24: HUKUMAN YANG DINIKMATI

    Langkah kakiku bergema cepat di sepanjang lorong pengawal yang gelap dan dingin. Jantungku berhantam liar di dalam rongga dada didera kepanikan maut yang mencekik.Di belakangku, jeritan kesakitan pelayan wanita yang baru saja kutusuk dengan garpu perak masih terdengar riuh. Aku terus berlari tanpa

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 12: Cicipan Pertama Sang Raja

    Aku tidak akan membiarkan takdir sialan ini melahapku tanpa perlawanan.Tangan kananku yang gemetar meraba kolong bantal sutra hitam, mencengkeram gagang besi pisau buah kecil yang berhasil kuselamatkan siang tadi.Malam ini, aku telah membuat keputusan: jika Xavier melangkah masuk untuk mengklaim

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 2: Luka yang Disentuh

    Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 1: Kedatangan di Tengah Hujan

    Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status