LOGIN"Argh! Dadaku... kenapa dadaku terasa sangat sakit bagai dihantam palu godam membara?" teriakku sambil memegang dada kiriku yang berdenyut kencang.Rasa sakit itu terasa sangat nyata, seolah-olah ikatan batin kami sedang dipaksa robek dari kejauhan."Rasa perih ini... kenapa perihnya menjalar begitu cepat hingga ke tulang punggungku?!" lanjutku sambil merintih menahan rasa sakit yang luar biasa."Aku tidak bisa bernapas... udara di kamar ini rasanya sangat menyesakkan!" gumamku sambil tersungkur di atas lantai kayu yang dingin."Pintu ini... kenapa pintu ini harus terkunci rapat di saat seperti ini?!" teriakku sambil menatap pintu kayu kamarku dengan pandangan kabur."Buka pintunya!" teriakku sekuat tenaga sambil memukul pintu dengan kedua tanganku yang gemetar hebat."Buka sekarang juga! Xavier terluka parah di perbatasan sana!" lanjutku dengan suara melengking panik."Diam di dalam, Omega!" sahut suara berat pengawal pribadi Freya dari balik pintu besi koridor luar."Jangan mencoba
Kuku panjang Freya mencengkeram rahangku dengan sangat kuat. Dia memaksaku menatap dokumen medis di tangannya."Lihat ini, pelacur sialan!" Freya mendesis tepat di depan wajahku.Napasnya yang berat terasa panas di kulitku. Dia mengayunkan lembaran kertas itu tepat di depan mataku."Kau pikir bisa menyembunyikan kehamilan ini dariku?" Freya menatapku dengan mata yang menyala penuh kebencian.Aku mencoba memalingkan wajah, namun cengkeraman jarinya semakin menekan pipiku. Rasa sakit menjalar ke seluruh kepalaku."Lepaskan aku, Freya!" desisku dingin sembari berusaha menyentak tangannya."Lepaskan?" Freya tertawa sinis, suara tawanya melengking di kamar mandi yang sempit ini.Dia mengangkat sebuah alat tes kehamilan berwarna perak di tangan lainnya. "Dua garis merah yang sangat jelas," ucap Freya mengejek."Ini bukan urusanmu, kembalikan itu!" sahutku dingin sembari meraba saku gaun tidurku."Bukan urusanku?" Freya mendekatkan wajahnya lagi."Kau hamil di istana tunanganku, dan kau bila
Rasa mual yang masif mendadak menghantam otot lambungku. Aku membungkuk di depan wastafel marmer kamar mandi istana sayap barat. Cairan asam pahit meluncur keluar, membakar dinding tenggorokanku sejak fajar menyingsing.Tubuhku bergetar lemas. Aku bertumpu sepenuhnya pada tepian wastafel dengan napas tersengal pendek. Satu minggu telah berlalu sejak kami kembali dari isolasi kabin, namun fisiologi tubuhku kian memburuk.Suara ketukan buku jari di pintu kamar mandi mendadak terdengar teratur dari arah kamar tidur luar."Asam lambungmu kembali naik pagi ini, Alana?" tanya Julian dari balik pintu yang kukunci rapat."Menyingkir dari sana, Julian. Aku menuntut ruang privat di dalam sini," sahutku dengan suara serak yang sengaja kubuat sedingin es."Siklus muntahmu sudah memasuki hari ketiga tanpa indikasi patologis yang jelas," balas Julian dengan nada suara klinis yang menekan."Aku mengalami intoleransi akibat hidangan daging istana yang terlalu berlemak kemarin malam," jawabku menyalak
Sore yang membekukan menyelimuti kabin kayu. Kabut salju tebal di luar jendela seolah menembus hingga ke tulang belikatku. Aku duduk menekuk lutut di atas lantai kayu, menatap nyala api perapian yang menari redup di sudut ruangan.Suara langkah kaki yang presisi terdengar mendekat dari arah belakang. Pelakunya tidak memiliki intensi menyembunyikan kehadirannya. Aroma antiseptik medis dan feromon peppermint dingin memastikan bahwa itu adalah Julian.Julian duduk bersila di sebelahku di atas lantai kayu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya yang keemasan menatap bara api merah yang menyala-nyala di dalam tumpukan pinus."Bastian menduduki hierarki putra kesayangan Ayah karena kekuatan otot dan amarahnya yang identik dengan serigala liar," ucap Julian membelah kesunyian.Nada suaranya terdengar sangat datar dan analitis. Namun, ada getaran tipis yang meretakkan ketenangannya. Aku tidak memutar wajah untuk menatapnya. Aku memaku pandanganku pada jilatan api dengan ekspresi sedingin
Lantai kayu dapur kabin terasa membekukan telapak kakiku yang tidak beralas. Setiap langkah yang kuambil mengirimkan rasa nyeri tumpul dari paha bagian dalam hingga ke otot pinggul.Suasana kabin pagi ini sangat sunyi. Xavier dan Bastian pergi ke perbatasan hutan untuk memeriksa keamanan jalur luar. Aku menyelinap ke dapur kecil di sudut ruangan dengan dada yang bergemuruh.Atensiku langsung terkunci pada sebilah pisau dapur perak yang tergeletak di atas meja kayu pinus. Gagang kayunya terlihat usang, namun mata pisaunya berkilat tajam memantulkan cahaya pagi dari jendela.Aku melangkah mendekat. Jemariku bergetar hebat didera perpaduan rasa takut dan putus asa yang menindas akal sehat. Aku meraih gagang pisau itu dan mengangkatnya perlahan ke depan wajah.Logam dingin itu memantulkan sepasang mata amberku yang tampak redup tanpa harapan. Fisikku hancur dijajah oleh kekuatan mereka. Rahimku kini menjadi inkubator paksa bagi benih monster kawanan Bloodmoon.Aku menolak menjadi wadah pe
Suara palang besi baja yang digeser kasar dari luar kabin memecah kesunyian fajar. Udara beku pegunungan menyusup masuk melalui celah pintu kayu yang terbuka sedikit.Aku membuka mata perlahan. Seluruh persendian tulangku terasa seperti dikunci dengan paku besi. Tujuh hari siklus masa subur murni telah berakhir, menyisakan rasa kebas yang luar biasa di setiap lapisan kulit.Di atas ranjang kulit beruang, Xavier dan Bastian tertidur sangat lelap. Dada raksasa mereka bergerak konstan. Mereka tampak kelelahan setelah menguras seluruh energi biologis tanpa henti.Aku mencoba menegakkan punggung, bertumpu pada siku lengan yang gemetar. Telapak kakiku terasa sangat lemas saat menyentuh lantai kayu kabin yang membekukan darah.Dengan langkah kaku dan terseok, aku berjalan mendekati cermin rias kayu tua di sudut ruangan. Aku mengambil gaun tidur putih longgar yang terlipat di tepi meja dan mengenakannya asal.Aku menatap pantulan diriku di depan cermin. Napasku tertahan di rongga dada. Kulit
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin







