Mag-log inSetelah memastikan semua pekerja telah kembali ke kamar masing-masing, Dewo menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang masih berkeliaran.
Barulah setelah semuanya dipastikan aman, Dewo kembali masuk ke kamarnya sendiri. Tepat di tengah malam saat semua orang di rumah sepi, Adrian membawa Aurel jalan menuruni tangga dari lantai dua. Mereka berjalan menuju ruang makan. Sementara itu, Doni terbangun karena merasa lapar. Sejak tadi, ia sama sekali belum sempat makan. Suara perutnya yang terus keroncongan membuatnya mau tak mau harus mengendap-endap keluar dari kamar. “Seingatku, tadi tidak ada larangan untuk pergi ke dapur, kan? Jadi, seharusnya tidak masalah.” Sesampainya di dapur yang sepi, Doni memeriksa makanan yang masih tersisa. Setelah menemukan beberapa hidangan yang bisa dimakan, ia segera mengambilnya dan duduk di lantai untuk menyantap makanan tersebut. Namun, baru saja selesai makan dan meletakkan piring kotornya di wastafel, tiba-tiba terdengar suara aneh dari arah ruang makan. Doni terdiam. Tangannya masih menggantung di atas wastafel, sementara tetes air dari piring jatuh satu per satu dengan bunyi kecil yang terasa terlalu keras di tengah kesunyian. Sayup-sayup, ia mendengar suara seorang wanita dari ruangan tersebut. Doni bergumam, “Malam-malam begini siapa yang masih berada di ruang makan?” “Apa mungkin masih ada pekerja lain yang sedang bekerja?” Doni mencoba menebak-nebak. Ruang makan dan dapur hanya dipisahkan oleh sekat kayu yang bisa dibuka dan ditutup. Karena itu, suara apa pun dari ruang makan akan terdengar cukup jelas dari dapur. Dengan langkah perlahan, Doni mendekati sekat tersebut. Telapak kakinya ia letakkan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia mengintip melalui celah yang ada, berusaha mencari tahu siapa yang masih berada di ruang makan dan apa yang sedang terjadi. Namun, begitu melihat pemandangan di balik sekat itu, mata Doni langsung terbelalak karena terkejut. Di sana, ia melihat Aurel bersama Adrian. Doni langsung membeku di tempat. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan jemarinya mencengkeram sisi sekat hingga terasa kaku. Ia baru menyadari bahwa pasangan suami istri itu sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Karena posisinya berada cukup dekat, Doni tanpa sengaja bisa melihat sebagian dari apa yang sedang terjadi. “Ini … apa-apaan?” gumamnya nyaris tanpa suara. Doni ingin segera pergi, tetapi tubuhnya justru terasa kaku. Lututnya melemas, sementara detak jantungnya berdentam begitu keras hingga ia takut satu gerakan bisa menimbulkan suara hingga terdengar sampai ke ruang makan. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, tetapi rasa penasaran membuat matanya kembali melirik melalui celah sekat. Suara Aurel yang terdengar samar membuat jantung Doni semakin berdebar. Sementara itu, Adrian terlihat begitu menikmati keadaan tersebut tanpa menyadari ada orang lain yang berada tidak jauh dari mereka. Doni menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. Ia mulai merasa tidak nyaman karena telah berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. “Seharusnya aku tidak datang ke sini,” pikirnya. Doni berusaha mundur perlahan. Ia hanya ingin kembali ke kamarnya dan melupakan apa yang baru saja dilihatnya. Namun, sebelum sempat menjauh, suara dari ruang makan kembali membuat langkahnya terhenti. Doni tanpa sadar melirik sekali lagi. Saat itulah Aurel tiba-tiba mengangkat wajahnya. Tatapan wanita itu bergerak ke arah sekat dapur. Doni langsung terkejut. Darahnya seakan berhenti mengalir. Mata mereka hampir bertemu. “Celaka …!” Doni refleks mundur selangkah. Ia tidak sempat berpikir panjang karena takut Aurel benar-benar menyadari keberadaannya. Namun, gerakannya justru membuat kakinya menyenggol sesuatu di dekat dinding. “Tak!” Sebuah hiasan kecil jatuh ke lantai dan menimbulkan suara cukup keras. Bunyi itu memantul di antara dinding dapur dan ruang makan, membuat Doni merasa seluruh rumah pasti mendengarnya. Doni langsung menahan napas. Tubuhnya menegang, dan tangannya buru-buru menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara. Aurel tampak terkejut dan segera mengalihkan pandangannya ke arah sekat. “Siapa di sana?” seru Adrian dengan suara meninggi. Doni semakin panik. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia buru-buru mencari tempat untuk bersembunyi, tetapi pikirannya terasa kosong. Suara langkah Adrian terdengar semakin mendekat ke arah sekat yang memisahkan ruang makan dan dapur. Setiap hentakan kaki itu membuat dada Doni terasa semakin sesak. Doni menahan napas sambil merapatkan tubuhnya ke sisi dinding. Ia bahkan tidak berani menggeser telapak kakinya yang mulai kesemutan. Namun, sebelum Adrian sempat membuka sekat tersebut, Aurel tiba-tiba berkata, “Tunggu.” Adrian berhenti dan menoleh. “Ada apa?” Aurel masih menatap ke arah dapur. Tatapannya terlihat curiga, seolah baru saja melihat sesuatu. “Aku seperti melihat seseorang di sana.” Jantung Doni seakan berhenti berdetak. “Jangan-jangan dia benar-benar melihatku …” Adrian segera menggeser sekat tersebut hingga area dapur terlihat jelas. Kayu sekat itu berderit pelan, dan suara tersebut membuat tubuh Doni semakin kaku. Namun, tidak ada seorang pun di sana. Doni sudah berhasil bersembunyi di balik sisi dinding yang tidak langsung terlihat dari ruang makan. Ia menekan punggungnya kuat-kuat ke dinding, berusaha mengecilkan tubuh sambil menahan napas yang mulai bergetar. Adrian mengamati sekeliling. “Tidak ada siapa-siapa.” Aurel masih terlihat ragu. “Tapi tadi aku yakin melihat seseorang.” “Mungkin hanya bayangan.” Doni yang mendengar percakapan tersebut tetap diam. Bahkan ia tidak berani bergerak sedikit pun. Setetes keringat mengalir dari pelipis ke rahangnya, tetapi ia tidak berani mengusapnya. Setelah beberapa saat, Adrian akhirnya kembali menutup sekat tersebut. Doni baru berani mengembuskan napas. Udara keluar dari paru-parunya dengan gemetar, seolah baru saja lolos dari cekikan. Ia menundukkan kepala sambil mengusap dadanya yang masih berdebar. “Gila … hampir saja ketahuan.” Doni tidak ingin mengambil risiko lagi. Begitu suasana kembali tenang, ia segera bergerak meninggalkan dapur dan kembali menuju kamarnya. Langkahnya masih goyah, dan beberapa kali ia menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya. Doni sadar bahwa kejadian tersebut bisa menjadi masalah besar jika sampai diketahui Adrian. Apalagi, Aurel sudah sempat melihat ke arahnya. Ia hanya berharap wanita itu tidak benar-benar mengenalinya sebagai orang yang tadi mengintip dari balik sekat.Begitu tiba di depan kamar khusus pelayan, Doni segera menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.“Hah … hah …!”Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat akibat berlari terburu-buru. Bahkan, telapak tangannya terasa dingin ketika mengingat betapa dekatnya ia dengan Adrian beberapa saat lalu.Sial!Sedikit saja ia terlambat bersembunyi, mungkin sekarang dirinya sudah ketahuan berkeliaran di luar kamar pada malam hari.Doni mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia lalu mengintip melalui celah pintu untuk memastikan keadaan di luar benar-benar aman.Lorong itu sudah kembali sepi.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bayangan seseorang yang mendekat, dan tidak ada tanda-tanda Adrian kembali ke tempat tadi.Barulah Doni mengembuskan napas panjang.“Untung saja aku berhasil lolos. Kalau sampai Tuan Adrian memergokiku, bisa berabe urusannya.”Ia menggeleng pelan, kemudian mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, Doni berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan
Setelah memastikan semua pekerja telah kembali ke kamar masing-masing, Dewo menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang masih berkeliaran.Barulah setelah semuanya dipastikan aman, Dewo kembali masuk ke kamarnya sendiri.Tepat di tengah malam saat semua orang di rumah sepi, Adrian membawa Aurel jalan menuruni tangga dari lantai dua. Mereka berjalan menuju ruang makan.Sementara itu, Doni terbangun karena merasa lapar. Sejak tadi, ia sama sekali belum sempat makan.Suara perutnya yang terus keroncongan membuatnya mau tak mau harus mengendap-endap keluar dari kamar.“Seingatku, tadi tidak ada larangan untuk pergi ke dapur, kan? Jadi, seharusnya tidak masalah.”Sesampainya di dapur yang sepi, Doni memeriksa makanan yang masih tersisa. Setelah menemukan beberapa hidangan yang bisa dimakan, ia segera mengambilnya dan duduk di lantai untuk menyantap makanan tersebut.Namun, baru saja selesai makan dan meletakkan piring kotornya di wastafel, tiba-tiba terdengar suara an
Bukan sekarang, ia belum memiliki bukti. Doni juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi secara menyeluruh meskipun Adrian salah satu dari orang yang menjebaknya. Dan yang paling penting, Adrian sama sekali belum boleh mengetahui bahwa tahanan yang pernah ia kenal kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Doni memaksa otot wajahnya tetap tenang, meskipun tengkuknya mulai berkeringat. Ia menarik napas perlahan, menelan amarah yang terasa pahit, lalu memasang ekspresi seorang pekerja yang baru pertama kali bertemu majikannya. “Perkenalkan, nama saya Doni, Tuan,” ucapnya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Adrian masih menatapnya. Tatapan itu membuat punggung Doni menegang. Ia tidak tahu apakah pria tersebut hanya sedang menilai pekerja baru atau mulai mencurigai sesuatu. Setiap detik terasa seperti ujian. Satu kesalahan kecil dalam nada bicara, satu tatapan yang terlalu lama, atau satu reaksi yang tidak terkendali bisa menghancurkan penyamarannya. Doni m
Doni sebenarnya masih belum memahami seluruh cerita yang sedang terjadi. Sejak awal, ia hanya diberitahu bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesempatan untuk membantu Bagas untuk sementara waktu. Bagas juga sudah mengatakan bahwa pamannya akan mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Namun, ada satu hal yang cukup membuat Doni waspada, yaitu identitas yang harus digunakannya. Ia tidak boleh mengatakan bahwa dirinya bukan keponakan Dewo. Jika sampai ada orang yang mengetahui keadaan sebenarnya, masalah besar bisa saja terjadi. “Jadi, selama bekerja di sana, aku harus mengaku sebagai keponakan Pak Dewo,” gumam Doni dalam hati. Ia tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Dewo sampai harus mencari pengganti Bagas. Namun, Doni tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Justru, keadaan itu bisa menjadi keuntungan baginya. Dengan identitas palsu tersebut, tidak akan ada orang yang mencari tahu terlalu jauh mengenai masa lalunya. Doni hanya perlu bersikap seperti seorang pemuda desa yan
Doni mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, secercah harapan muncul di dalam dirinya. Harapan itu sangat kecil, ia berusaha bertaruh pada nasibnya kali ini jadi cukup untuk membuatnya kembali berani melangkah.“Aku punya kenalan yang sesekali membawa hasil laut ke kota. Kalau kamu memang ingin pergi, mungkin kamu bisa ikut bersama mereka.”Doni tidak langsung menjawab.Ia menundukkan kepala sambil memikirkan kemungkinan tersebut. Perjalanan itu mungkin berbahaya. Ia bisa saja dikenali di kota, atau bahkan ditolak oleh orang-orang yang membawanya. Namun, kesempatan seperti itu tidak boleh dilewatkan.“Bisa membawaku sampai kota?”“Bisa. Tapi setelah itu kamu harus mencari jalan sendiri.”“Itu sudah cukup.”Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri, Doni merasa memiliki arah. Ketakutan masih membayangi setiap langkahnya, tetapi kini ia memiliki alasan untuk terus maju.Ia tidak membutuhkan banyak hal.Yang ia perlukan hanyalah kesempatan untuk kembali ke kota dan m
Hubungan terlarang antara seorang majikan dan pekerjanya baru saja dimulai. Keduanya berada dalam situasi yang mendebarkan, berusaha menahan diri agar tidak sampai ketahuan. Dengan napas tersengal, pemuda itu perlahan melepaskan ciumannya dari Aurel. Namun, wanita itu justru masih enggan melepaskan pelukannya. “Uhm … jangan terburu-buru, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Adrian sampai mendengar?” bisik Doni. “Aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi,” balas Aurel dengan suara pelan. Aurel kemudian menarik tangan pemuda itu dan membawanya masuk ke ruang ganti yang masih berada di dalam kamar besarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Doni. Sementara itu, di atas ranjang yang hanya beberapa langkah dari mereka, seorang pria masih tertidur lelap. Dia tidak lain adalah Adrian, suami Aurel. Menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya, Doni hanya bisa menahan napas. Sedikit saja suara mereka terdengar, rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbo







