Share

Bab 6

Author: Lailiela
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-16 18:55:44

Begitu tiba di depan kamar khusus pelayan, Doni segera menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.

“Hah … hah …!”

Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat akibat berlari terburu-buru. Bahkan, telapak tangannya terasa dingin ketika mengingat betapa dekatnya ia dengan Adrian beberapa saat lalu.

Sial!

Sedikit saja ia terlambat bersembunyi, mungkin sekarang dirinya sudah ketahuan berkeliaran di luar kamar pada malam hari.

Doni mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia lalu mengintip melalui celah pintu untuk memastikan keadaan di luar benar-benar aman.

Lorong itu sudah kembali sepi.

Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bayangan seseorang yang mendekat, dan tidak ada tanda-tanda Adrian kembali ke tempat tadi.

Barulah Doni mengembuskan napas panjang.

“Untung saja aku berhasil lolos. Kalau sampai Tuan Adrian memergokiku, bisa berabe urusannya.”

Ia menggeleng pelan, kemudian mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, Doni berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap langit-langit kamar sambil berusaha mengatur napas.

Malam ini benar-benar nyaris menjadi bencana.

Padahal, ia baru saja mulai bekerja di rumah tersebut. Jika sampai ketahuan melanggar aturan pada hari pertamanya, bukan tidak mungkin Adrian akan langsung mengusirnya.

Dan jika itu terjadi, seluruh rencana yang sudah disusunnya bisa berantakan.

Doni mengepalkan tangan, lalu perlahan melepaskannya kembali.

“Aku tidak boleh ceroboh. Aku datang ke sini bukan untuk mencari masalah yang tidak perlu.”

Tatapannya berubah serius.

Tujuan utamanya adalah mencari bukti yang bisa membongkar keterlibatan Adrian dalam kasus yang membuatnya dipenjara. Untuk melakukan itu, ia harus mendapatkan kepercayaan penghuni rumah ini terlebih dahulu.

Ia tidak boleh bertindak gegabah, apalagi sampai menimbulkan kecurigaan.

Doni bangkit, mengambil segelas air, lalu meminumnya hingga habis. Setelah memastikan dirinya sudah lebih tenang, ia kembali duduk di tepi ranjang.

“Huh … setidaknya malam ini aku masih selamat.”

Ia menyeka wajahnya, kemudian merebahkan tubuh dan menarik selimut hingga menutupi sebagian badannya.

Namun, meski tubuhnya mulai terasa lelah, pikirannya masih sibuk memikirkan kejadian tadi.

Rumah itu menyimpan terlalu banyak hal yang belum ia ketahui. Dan selama Adrian masih menjadi orang yang mengendalikan semuanya, Doni harus terus berhati-hati.

Ia memejamkan mata, mencoba beristirahat agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik keesokan hari.

Besok, ia harus kembali menjadi pekerja biasa yang patuh pada aturan.

Setidaknya, itulah yang harus dilihat oleh semua orang di rumah ini.

Sementara itu, di balik sikap tenangnya, Doni tetap menyimpan satu tujuan yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Membongkar rahasia Adrian dan mendapatkan bukti untuk membalas ketidakadilan yang pernah menghancurkan hidupnya.

---

Sejak subuh, Doni sudah terbangun. Ia mengikuti arahan Dewo yang membimbingnya mengenai pekerjaan apa saja yang harus dilakukan.

Setelah itu, Doni pergi ke kamar Aurel saat wanita itu sudah bangun. Namun, di sela-sela pekerjaannya, ia juga diam-diam mengamati pergerakan Adrian.

Doni terus menunggu kesempatan yang tepat untuk memasuki ruang kerja Adrian. Sebisa mungkin, ia harus mendapatkan bukti terkait kasus yang pernah dituduhkan kepadanya.

Ketika kedua pelayan wanita selesai menyiapkan air hangat, barulah Aurel masuk ke kamar mandi.

Sementara itu, Doni yang bertugas sebagai pelayan laki-laki turut merapikan kamar tersebut.

Sesekali, ia melirik ke luar jendela dan melihat Adrian yang baru saja berangkat bekerja.

Dalam hati, Doni mulai memikirkan kekayaan yang dimiliki oleh pria itu.

Adrian memiliki kekayaan yang begitu melimpah, dengan berbagai bisnis dan aset saham di mana-mana. Bagaimana bisa pria itu memperoleh semua kekayaan tersebut?

Kecurigaan itu kembali disimpannya rapat-rapat dalam benaknya. Namun, saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, Doni segera menghampiri Aurel.

“Nyonya, mulai sekarang saya yang akan melayani Anda.”

Doni sedikit membungkuk dengan sopan.

“Nama saya Doni. Tuan berpesan agar saya selalu berada di sisi Nyonya ke mana pun Anda pergi.”

Aurel melirik Doni yang berdiri di dekatnya. Mengingat pria itu berasal dari desa, ia sempat berpikir bahwa tidak banyak hal yang bisa dilakukan oleh pelayan barunya tersebut.

“Euhm … Doni, ya? Kalau begitu, apa kamu bisa menyetir?”

“Bisa, Nyonya. Apa Anda ingin pergi keluar hari ini?” tanya Doni.

Aurel masih menatap wajah Doni. Dahinya langsung berkerut, seolah tidak menyangka bahwa pria yang semula ia anggap sebagai orang udik dari desa ternyata tidak sebodoh yang dibayangkannya.

“Ya, aku ingin berbelanja sangat banyak hari ini. Jadi, ayo antar aku!”

Aurel berpikir jika Doni hanya berpura-pura bisa menyetir, pria itu pasti akan mencari alasan. Namun, ternyata Doni langsung mengangguk.

“Kalau begitu, saya akan memberi tahu Pak Dewo bahwa Nyonya ingin pergi keluar, agar beliau bisa menyuruh seseorang menyiapkan mobil.”

Doni tahu bahwa rumah sebesar itu pasti memiliki sopir pribadi yang siap mengantar Aurel ke mana pun wanita itu ingin pergi.

“Tidak!”

Suara lantang Aurel membuat Doni sedikit tersentak.

“Aku tidak mau sopir lain yang menyetir. Kali ini, aku ingin kamu yang mengemudi!”

“Kalau begitu, saya akan segera turun untuk menyiapkan mobil yang ingin Nyonya gunakan,” jawab Doni dengan tenang.

“Huh! Kalau kamu hanya berpura-pura bisa menyetir, sebaiknya hentikan sandiwaramu sekarang juga. Kalau tidak, suamiku pasti akan memecatmu!”

Mendengar perkataan itu, Doni yang semula hendak berbalik untuk pergi langsung menghentikan langkahnya. Ia kembali menoleh ke arah Aurel.

Kali ini, Doni menatap wajah Aurel dengan percaya diri. Ia terlihat sigap dan segera melaksanakan perintah tersebut.

Melihat kesigapan Doni, Aurel pun segera bersiap dan berdandan untuk pergi keluar rumah setelah Doni meninggalkan kamarnya.

Di tempat parkir, Doni sempat berbincang dengan Roni, salah satu pekerja di rumah itu yang juga memiliki tugas seperti dirinya.

“Jadi, kamu pekerja baru? Pasti keponakannya Pak Dewo?” tebak Roni karena mengira Doni benar-benar merupakan keponakan Dewo.

“Iya, aku keponakannya. Baru mulai kerja hari ini.”

Doni menerima kunci mobil yang diberikan Roni kepadanya.

Sebelum Doni datang ke rumah itu, Dewo memang sudah mengatakan kepada Adrian bahwa keponakannya akan ikut bekerja di sana. Dewo bahkan sudah terlanjur menyampaikan hal tersebut kepada Adrian.

Karena tidak mungkin menarik kembali ucapannya, Dewo dan Doni akhirnya sepakat untuk berpura-pura menjadi paman dan keponakan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 6

    Begitu tiba di depan kamar khusus pelayan, Doni segera menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.“Hah … hah …!”Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat akibat berlari terburu-buru. Bahkan, telapak tangannya terasa dingin ketika mengingat betapa dekatnya ia dengan Adrian beberapa saat lalu.Sial!Sedikit saja ia terlambat bersembunyi, mungkin sekarang dirinya sudah ketahuan berkeliaran di luar kamar pada malam hari.Doni mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia lalu mengintip melalui celah pintu untuk memastikan keadaan di luar benar-benar aman.Lorong itu sudah kembali sepi.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bayangan seseorang yang mendekat, dan tidak ada tanda-tanda Adrian kembali ke tempat tadi.Barulah Doni mengembuskan napas panjang.“Untung saja aku berhasil lolos. Kalau sampai Tuan Adrian memergokiku, bisa berabe urusannya.”Ia menggeleng pelan, kemudian mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, Doni berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 5

    Setelah memastikan semua pekerja telah kembali ke kamar masing-masing, Dewo menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang masih berkeliaran.Barulah setelah semuanya dipastikan aman, Dewo kembali masuk ke kamarnya sendiri.Tepat di tengah malam saat semua orang di rumah sepi, Adrian membawa Aurel jalan menuruni tangga dari lantai dua. Mereka berjalan menuju ruang makan.Sementara itu, Doni terbangun karena merasa lapar. Sejak tadi, ia sama sekali belum sempat makan.Suara perutnya yang terus keroncongan membuatnya mau tak mau harus mengendap-endap keluar dari kamar.“Seingatku, tadi tidak ada larangan untuk pergi ke dapur, kan? Jadi, seharusnya tidak masalah.”Sesampainya di dapur yang sepi, Doni memeriksa makanan yang masih tersisa. Setelah menemukan beberapa hidangan yang bisa dimakan, ia segera mengambilnya dan duduk di lantai untuk menyantap makanan tersebut.Namun, baru saja selesai makan dan meletakkan piring kotornya di wastafel, tiba-tiba terdengar suara an

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 4

    Bukan sekarang, ia belum memiliki bukti. Doni juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi secara menyeluruh meskipun Adrian salah satu dari orang yang menjebaknya. Dan yang paling penting, Adrian sama sekali belum boleh mengetahui bahwa tahanan yang pernah ia kenal kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Doni memaksa otot wajahnya tetap tenang, meskipun tengkuknya mulai berkeringat. Ia menarik napas perlahan, menelan amarah yang terasa pahit, lalu memasang ekspresi seorang pekerja yang baru pertama kali bertemu majikannya. “Perkenalkan, nama saya Doni, Tuan,” ucapnya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Adrian masih menatapnya. Tatapan itu membuat punggung Doni menegang. Ia tidak tahu apakah pria tersebut hanya sedang menilai pekerja baru atau mulai mencurigai sesuatu. Setiap detik terasa seperti ujian. Satu kesalahan kecil dalam nada bicara, satu tatapan yang terlalu lama, atau satu reaksi yang tidak terkendali bisa menghancurkan penyamarannya. Doni m

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 3

    Doni sebenarnya masih belum memahami seluruh cerita yang sedang terjadi. Sejak awal, ia hanya diberitahu bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesempatan untuk membantu Bagas untuk sementara waktu. Bagas juga sudah mengatakan bahwa pamannya akan mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Namun, ada satu hal yang cukup membuat Doni waspada, yaitu identitas yang harus digunakannya. Ia tidak boleh mengatakan bahwa dirinya bukan keponakan Dewo. Jika sampai ada orang yang mengetahui keadaan sebenarnya, masalah besar bisa saja terjadi. “Jadi, selama bekerja di sana, aku harus mengaku sebagai keponakan Pak Dewo,” gumam Doni dalam hati. Ia tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Dewo sampai harus mencari pengganti Bagas. Namun, Doni tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Justru, keadaan itu bisa menjadi keuntungan baginya. Dengan identitas palsu tersebut, tidak akan ada orang yang mencari tahu terlalu jauh mengenai masa lalunya. Doni hanya perlu bersikap seperti seorang pemuda desa yan

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 2

    Doni mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, secercah harapan muncul di dalam dirinya. Harapan itu sangat kecil, ia berusaha bertaruh pada nasibnya kali ini jadi cukup untuk membuatnya kembali berani melangkah.“Aku punya kenalan yang sesekali membawa hasil laut ke kota. Kalau kamu memang ingin pergi, mungkin kamu bisa ikut bersama mereka.”Doni tidak langsung menjawab.Ia menundukkan kepala sambil memikirkan kemungkinan tersebut. Perjalanan itu mungkin berbahaya. Ia bisa saja dikenali di kota, atau bahkan ditolak oleh orang-orang yang membawanya. Namun, kesempatan seperti itu tidak boleh dilewatkan.“Bisa membawaku sampai kota?”“Bisa. Tapi setelah itu kamu harus mencari jalan sendiri.”“Itu sudah cukup.”Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri, Doni merasa memiliki arah. Ketakutan masih membayangi setiap langkahnya, tetapi kini ia memiliki alasan untuk terus maju.Ia tidak membutuhkan banyak hal.Yang ia perlukan hanyalah kesempatan untuk kembali ke kota dan m

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 1

    Hubungan terlarang antara seorang majikan dan pekerjanya baru saja dimulai. Keduanya berada dalam situasi yang mendebarkan, berusaha menahan diri agar tidak sampai ketahuan. Dengan napas tersengal, pemuda itu perlahan melepaskan ciumannya dari Aurel. Namun, wanita itu justru masih enggan melepaskan pelukannya. “Uhm … jangan terburu-buru, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Adrian sampai mendengar?” bisik Doni. “Aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi,” balas Aurel dengan suara pelan. Aurel kemudian menarik tangan pemuda itu dan membawanya masuk ke ruang ganti yang masih berada di dalam kamar besarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Doni. Sementara itu, di atas ranjang yang hanya beberapa langkah dari mereka, seorang pria masih tertidur lelap. Dia tidak lain adalah Adrian, suami Aurel. Menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya, Doni hanya bisa menahan napas. Sedikit saja suara mereka terdengar, rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status