공유

Bab 7

작가: Lailiela
last update 게시일: 2026-10-17 22:15:03

Doni kemudian mengeluarkan mobil dari garasi dan membawanya hingga berhenti tepat di depan pintu masuk utama rumah.

Layaknya sopir pribadi keluarga kaya, Doni segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Aurel.

“Cepat bawa aku ke mal sekarang juga! Aku mau shopping!”

Sebelum Doni sempat menutup pintu, Aurel sudah lebih dahulu masuk dan menutupnya dari dalam.

“Doni, jangan lupa beri tahu aku apa saja yang Nyonya lakukan di luar,” bisik Dewo yang masih berdiri di dekat mobil.

“Ya. Tenang saja, nanti aku akan langsung kasih tahu,” jawab Doni.

Tak ingin membuat Aurel menunggu terlalu lama, Doni segera masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi kemudi, menyalakan mesin, lalu mulai melajukan mobil menuju mal, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota.

Aurel yang duduk di kursi belakang diam-diam memperhatikan cara Doni mengemudi. Gerakannya begitu lincah dan terampil, seolah-olah ia sudah terbiasa mengendarai mobil mewah seperti itu.

Yang lebih membuat Aurel heran, Doni tampak sangat hafal dengan jalanan kota. Ia bisa memilih rute dengan lancar tanpa terlihat kebingungan sedikit pun, seolah-olah pria itu memang sudah lama tinggal di kota ini.

Aurel terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari bahwa mereka telah tiba di sebuah mal.

“Nyonya, kita sudah sampai,” panggil Doni beberapa kali.

Aurel yang baru tersadar langsung menoleh ke luar jendela.

“Ah, ternyata sudah sampai. Cepat juga.”

Dengan cepat Doni kembali membukakannya pintu mobil sehingga Aurel bisa keluar dengan penampilan anggun.

Aurel berjalan dengan anggun mengenakan sepatu hak tinggi. Pakaian bermerek yang dikenakannya semakin menambah kesan percaya diri pada dirinya.

Sementara itu, Doni dengan setia berjalan beberapa langkah di belakangnya, mengikuti kemanapun Aurel pergi.

Melihat Aurel yang tampak begitu bersemangat ketika melihat deretan toko ternama, langkahnya pun semakin cepat. Doni sampai harus mengingatkannya.

“Jalannya pelan-pelan saja, Nyonya. Nanti Anda bisa jatuh.”

Khawatir Aurel terjatuh karena lantai yang licin dan sepatu hak tinggi yang dikenakannya, Doni segera memperpendek jarak hingga berjalan tepat di belakang wanita itu.

Belum lama Doni memperingatkannya, saat mereka hampir memasuki toko, tiba-tiba kaki Aurel terpeleset. Tubuhnya pun terhuyung ke belakang dan nyaris terjatuh.

Dengan sigap, Doni segera meraih tubuh Aurel dan menahannya dalam dekapannya.

Satu tangannya menopang pinggang Aurel, sementara tangan lainnya menahan bahunya agar wanita itu tidak sampai terjatuh.

Saat mendongak, Aurel langsung berhadapan dengan wajah tampan Doni yang begitu dekat dengannya.

Ia bisa merasakan betapa kokoh tangan yang menopang tubuhnya, serta dada bidang Doni yang terasa keras oleh otot-ototnya yang kencang.

Bahkan, tatapannya tanpa sadar beralih ke leher Doni, tepat ketika pria itu menelan ludah karena gugup.

Berada dalam dekapan Doni membuat Aurel merasakan kenyamanan yang sulit dijelaskan. Bahkan, jantungnya berdebar begitu kencang, layaknya seorang remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.

“Maaf, saya menyentuh Nyonya tanpa izin.”

Doni segera melepaskan pelukannya dan mundur sedikit, menciptakan jarak di antara mereka dengan bergeser satu langkah ke samping.

Mendengar perkataan itu, Aurel yang hampir terlena dalam kenyamanan dekapan Doni langsung membuang wajah ke arah lain.

“Ya, karena kamu sudah menyelamatkanku dari jatuh, jadi tidak masalah!”

Wajahnya terasa panas. Saat tanpa sengaja melihat pantulan dirinya di cermin toko, Aurel menyadari bahwa pipinya tampak memerah. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh dalam hatinya.

Tak lama kemudian, seorang manajer toko yang mengenali Aurel karena wanita itu sering datang berbelanja di sana segera menghampirinya.

“Nona, apakah Anda membutuhkan rekomendasi pakaian? Mungkin saya bisa memberikan beberapa referensi model terbaru.”

“Hmm … kalau begitu, aku akan duduk di dalam. Bawakan saja semua pakaian yang menurutmu bagus,” perintah Aurel.

“Baik, Nona.”

Manajer toko kemudian melirik ke arah Doni yang berdiri di belakang Aurel. Melihat wajah tampannya, ia sempat mengira bahwa Doni adalah kekasih Aurel.

Menyadari tatapan manajer tersebut yang cukup lama tertuju pada Doni, Aurel segera menarik lengan pria itu.

“Dia akan ikut denganku ke dalam. Ada masalah?”

“Tidak, Nona. Silakan menunggu di dalam.”

Manajer toko tampak gelagapan. Ia baru menyadari bahwa dirinya telah terlalu lama memperhatikan Doni. Ia pun segera mengalihkan pandangan, nyaris saja membuat pelanggan setianya merasa tidak nyaman.

Doni sempat melirik label harga pada setiap pakaian yang diperlihatkan. Harganya benar-benar mahal. Bahkan, harga satu potong pakaian saja sudah jauh melebihi gajinya.

Namun, setiap kali melihat Aurel berdiri dan mencoba pakaian-pakaian tersebut, Doni hampir tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia begitu terpesona melihat kecantikan wanita itu serta lekuk tubuhnya yang tampak anggun di balik balutan kain.

Entah apa yang merasuki pikirannya, Doni justru teringat kembali pada kejadian semalam, saat mengintip dan melihat tubuh Aurel tanpa busana.

Seketika, Doni mengalihkan pandangannya. Kedua tangannya mengepal, lalu ia segera berdiri seolah berusaha mengendalikan pikirannya sendiri.

Melihat Doni tiba-tiba berdiri, Aurel langsung bertanya, “Kamu mau ke mana?”

“Ke toilet!”

Doni bertanya pada karyawan toko letak toilet dan ia segera keluar dari ruangan itu.

Doni berusaha menenangkan dirinya. Melihat Aurel memang membuatnya sulit mengendalikan perasaan. Namun, di sisi lain, ia harus tetap bersabar agar bisa terus bekerja sekaligus mencari bukti-bukti yang selama ini dicarinya di rumah itu.

Setelah berhasil menenangkan pikirannya, Doni kembali keluar dari toilet. Namun, saat kembali ke tempat semula, ia mendapati Aurel baru saja selesai membayar seluruh belanjaannya.

“Kamu sudah selesai?” tanya Aurel saat melihat Doni menghampirinya.

“Ya, Nyonya,” jawab Doni dengan pelan saat tidak ada seorangpun yang memperhatikan ucapannya.

“Bawa semua belanjaan ini ke mobil. Hari ini aku mau pulang lebih awal.”

Aurel menunjuk deretan paper bag yang berjajar di dekatnya. Jumlahnya begitu banyak hingga tampaknya tidak akan cukup jika hanya dibawa oleh satu orang.

Sementara itu, Doni sama sekali tidak mengeluh atau mengatakan apa pun. Ia segera mengambil semua tas tersebut dan membawanya.

Meski begitu, masih ada beberapa tas yang tidak sanggup dibawa Doni sekaligus. Karena itu, beberapa karyawan toko membantunya membawa sebagian belanjaan hingga ke luar mal.

Sesampainya di luar, semua belanjaan mulai dimasukkan ke dalam mobil.

Saking banyaknya, Doni bahkan harus meletakkan sebagian tas di kursi depan dan di kursi kosong tepat di samping Aurel.

“Tidak apa-apa kalau diletakkan di sini?” tanya Doni ketika hendak meletakkan beberapa tas di samping Aurel.

Melihat tidak ada tempat lain yang tersedia, Aurel pun menyetujuinya.

“Ya, tidak apa-apa. Daripada harus meninggalkannya.”

Setelah menutup pintu mobil, Doni segera bergegas menuju pintu depan. Namun, saat baru hendak masuk ke dalam mobil, tanpa sengaja ia melihat pantulan dari kaca mobil yang terparkir di sebelah mereka.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 52

    Setidaknya, menanyakan apakah Adrian sudah makan atau menawarkan bantuan setelah perjalanan panjang.Namun, perempuan itu justru kembali memperhatikan susunan bunga di hadapannya."Tapi, Nyonya, bukankah sebaiknya Nyonya menemui Tuan sekarang?" Risa mencoba membujuk. "Beliau sudah lama tidak pulang. Kalau Nyonya menyambutnya dengan baik, mungkin Tuan akan merasa senang."Aurel menghela napas pelan.Dahulu, mungkin dia akan melakukan apa yang disarankan Risa.Dia akan segera bangkit, merapikan pakaian, lalu menghampiri Adrian dengan senyum terbaiknya. Dia akan bertanya tentang pekerjaan suaminya, menyiapkan minuman, dan berusaha membuat pria itu merasa nyaman.Bahkan, ketika Adrian hanya menjawab seadanya, Aurel akan mencari alasan untuk memakluminya.Dia selalu berpikir bahwa jika dirinya cukup sabar, suatu saat Adrian akan kembali menjadi pria yang dahulu dikenalnya. Bahkan sampai membuat Aurel harus m lampias

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 51

    Tetapi tetap terlihat anggun. Rambutnya diikat rapi, memperlihatkan leher jenjangnya. Sesekali, dia memiringkan kepala untuk memperhatikan susunan bunga, kemudian memotong bagian batang yang dianggap terlalu panjang.Di sampingnya, Risa duduk sambil membantu memisahkan beberapa tangkai bunga.Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu.Aurel bahkan tertawa kecil.Langkah Adrian terhenti sepenuhnya.Ada sesuatu yang terasa berbeda pada pemandangan di hadapannya.Awalnya, dia hanya memperhatikan wajah istrinya. Namun, semakin lama memandang, semakin jelas perubahan yang dilihatnya.Aurel terlihat lebih segar.Kulit wajahnya tampak bercahaya, pipinya merona alami, dan sorot matanya tidak lagi menunjukkan kehampaan yang selama ini begitu sering dilihat Adrian. Bahkan, senyuman perempuan itu terlihat begitu ringan, seolah tidak ada beban yang sedang dipikirkannya.Adrian mengerutkan kening.Seja

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 50

    Doni kemudian lanjut lagi, kembali mendekat area intim Aurel dengan sangat dekat. Kali ini tidak menggunakan jari tapi melainkan lidah dan mulutnya menghisap area klitoris.“Tidak, Doni! Aku baru saja keluar jika kamu memasukan lidah.”Sementara Doni tidak menghiraukan ucapan Aurel. Lidahnya mulai masuk lebih dalam sambil menekan bagian dalam perut Aurel yang terasa berkedut-kedut.“Ahh … akhh!” Aurel langsung menggeliat sambil terus mendesah. Sentuhan Doni sampai membuatnya merasakan klimaks beberapa kali.Untuk sesaat, dunia di luar kamar seolah tidak lagi penting.—Saat aktivitas mereka selesai Aurel menyandarkan dahinya pada dada Doni setelah mereka berhenti berciuman.Napasnya sedikit tidak teratur.Doni mengusap rambutnya dengan lembut."Kamu baik-baik saja?" tanyanya.Aurel mengangguk."Ya."Ia mengangkat wajah, menatap Doni dengan senyum kecil.

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 49

    Tidak ada suara para pelayan yang sibuk bekerja, tidak ada percakapan dari ruang keluarga, dan tidak ada langkah kaki yang terdengar di lorong.Hanya ada mereka berdua.Dan semakin dekat mereka menuju kamar Aurel, semakin sulit bagi Doni untuk mengabaikan perasaan aneh yang tumbuh di antara mereka.---Begitu memasuki kamar, Aurel menutup pintu perlahan.Ia berdiri beberapa langkah dari Doni, kemudian berbalik menghadapnya.Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap.Cahaya lampu kamar yang lembut menerangi wajah Aurel. Gaun yang dikenakannya masih terlihat rapi, tetapi ekspresinya kini berbeda dari ketika berada di pesta tadi.Tidak ada lagi kemarahan yang berusaha disembunyikannya.Yang tersisa hanya kelelahan, kesepian, dan sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.Doni berdiri diam, dia mengira mungkin saja kali ini Aurel ingin mencurahkan isi hatinya lagi."Ada yang ingin

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 48

    Aurel terdiam."Tadi aku melihat bagaimana mereka memperlakukanmu," lanjut Doni. "Mereka bahkan tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Jadi, menurutku, kamu sudah cukup sabar menghadapi mereka."Aurel mencengkeram ujung gaunnya."Kalau begitu, kenapa rasanya aku selalu menjadi orang yang salah?"Pertanyaan itu keluar begitu saja.Untuk beberapa saat, Doni tidak langsung menjawab.Ia tahu Aurel bukan sedang meminta penjelasan yang rumit. Perempuan itu hanya lelah menghadapi orang-orang yang terus menyalahkannya, bahkan ketika ia berusaha mempertahankan dirinya sendiri."Karena terkadang," ujar Doni akhirnya, "Orang-orang lebih suka mempercayai cerita yang ingin mereka dengar daripada mencari tahu kebenarannya."Aurel mengangkat wajah.Doni melanjutkan, "Kamu tidak bisa memaksa mereka untuk melihatmu dengan cara yang berbeda. Tapi, kamu juga tidak perlu terus menyalahkan diri sendiri demi membuat mereka senang."Kata-kata itu membuat Aurel terdiam cukup la

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 47

    Wajah Adrian semakin dingin."Jangan mempermalukan dirimu sendiri."Kalimat itu menghantam Aurel lebih keras daripada tamparan.Ia ingin membalas. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan kepada pria yang selama ini menjadi suaminya.Namun, ketika melihat tatapan Adrian yang sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk mendengarkan, Aurel akhirnya menelan semua perkataannya.Ia sudah tahu bagaimana percakapan ini akan berakhir.Adrian tidak akan membelanya.Tidak di hadapan keluarganya, tidak di hadapan para tamu, bahkan ketika ia berada di pihak yang benar.Adrian mengalihkan pandangan kepada Doni."Bawa Aurel pulang."Doni menegakkan tubuh."Baik, Tuan.""Antarkan dia ke rumah dan pastikan dia tidak kembali ke sini malam ini."Doni melirik Aurel sekilas.Perempuan itu berdiri kaku dengan wajah yang berusaha mempertahankan ketenangannya. Namun, ia bisa melihat kemarahan dan kekecewaan yang tertahan di balik tatapan tersebut."Maaf, Tuan," kata Doni dengan hati-hati. "Apakah Nyony

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status