Share

BAB 8

Penulis: Jw Hasya
last update Tanggal publikasi: 2026-03-18 11:23:54
Sejak kejadian tiga malam lalu, hingga saat ini Satta memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi Allard. Di samping dia takut, di sini lain gadis itu malu karena tubuhnya tidak sedikit pun menolak segala permainan yang Allard suguhkan.

“Lusa pagi akan diadakan upacara mahkota untuk Tuan Putri Zehewa. Jadi … hari ini tidak ada kata istirahat untuk kita semua.” Dora berujar di dalam ruang dapur khusus.

Mendengar kata-kata tersebut, Satta teringat dengan sosok yang terkurung di dalam ruang bawah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (16)
goodnovel comment avatar
Marimar
Kasian Allard diasingkan sama keluarga nya sendiri karena jadi manusia rubah
goodnovel comment avatar
Masruroh Masruroh
kasian bgt jadi allard, harus di asingkan oleh keluarga sendiri
goodnovel comment avatar
mita78081
penasaran bgt ini knp allard jdi manusia rubah yaaa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 105

    Angin malam berembus perlahan, membawa aroma kelopak bunga mawar dan melati yang tumbuh di taman bawah. Di dalam kamar yang tenang itu, Allard tidak langsung memejamkan mata. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah Satta yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu minyak. Waktu seolah melambat. Allard teringat hari-hari ketika ia hanya mengenal logam pedang dan derap kaki kuda. Ia ingat betapa dingin hatinya dulu, hingga wanita di depannya ini datang dan mencairkan segala kebekuan itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Satta bertanya dengan suara lirih, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Allard mengulurkan tangannya, membelai pipi Satta yang masih terasa selembut sutra. "Aku hanya sedang menghitung keberuntunganku, Elena. Jika dulu aku tidak memilih untuk membawamu bersamaku, mungkin hari ini aku hanyalah seorang raja tua yang kesepian di atas takhta berdarah." Satta membuka matanya, m

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 104

    Sepuluh tahun telah berlalu sejak ekspedisi terakhir Allard ke perbatasan utara. Kini, Alderaan tidak lagi membutuhkan pedang yang terhunus untuk menjaga kedaulatannya. "Sang Gagak" yang dulu menjadi ancaman terakhir, akhirnya luruh bukan karena kekuatan zirah, melainkan karena pengikutnya yang satu demi satu meletakkan senjata, memilih untuk pulang ke rumah-rumah kayu yang hangat dan ladang gandum yang kuning keemasan yang disediakan oleh Sang Singa.Kedamaian di Alderaan bukan lagi sebuah jeda di antara dua perang, melainkan sebuah cara hidup yang mengakar.Cahaya matahari pagi yang lembut membasuh bukit di pinggiran ibu kota. Di sana, sebuah vila kayu yang sederhana namun elegan berdiri, jauh dari hiruk-pikuk urusan birokrasi istana yang kini telah diserahkan sebagian besar kepada Abraham.Allard berdiri di depan jendela besar, tangannya yang kini memiliki beberapa garis kerutan tambahan tetap terasa kuat saat ia menggenggam cangkir keramik berisi teh melati. Di hadapannya, hampara

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   Bab 103

    Tujuh tahun telah berlalu sejak malam di mana api melahap menara tinggi Alderaan dan darah Zehewa meresap ke bumi. Alderaan yang sekarang bukan lagi sekadar kerajaan yang pulih, melainkan sebuah simfoni kemakmuran yang dibangun dari abu. Istana baru telah berdiri—tidak lagi angkuh dan terisolasi seperti benteng lama, melainkan lebih terbuka, dengan taman-taman yang menghubungkan kediaman raja langsung dengan alun-alun rakyat, melambangkan filosofi Allard: raja adalah akar, dan rakyat adalah daunnya.Di tengah taman istana, pohon *Ginkgo* yang legendaris itu masih berdiri. Meskipun separuh batangnya memiliki bekas luka bakar permanen, daun-daunnya tumbuh lebih rimbun dan lebih kuning keemasan daripada sebelumnya. Pohon itu menjadi saksi bisu dari dua pangeran yang kini sedang berlatih tanding di bawah naungannya.Abraham, yang kini berusia dua belas tahun, telah tumbuh menjadi pemuda yang ramping namun berotot, dengan ketenangan seorang jenderal. Sementara itu, Ares, si "anak api" yang

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 102

    Asap hitam membumbung tinggi, mencabik langit malam Alderaan yang kini berwarna merah kesumat. Di tengah taman yang biasanya menjadi tempat ketenangan, kini berubah menjadi teater maut. Allard berdiri kokoh, kakinya berpijak pada bumi yang bergetar akibat rentetan ledakan di menara mesiu. Darah pengkhianat mengalir di sepanjang bilah pedang peraknya, menetes pelan ke atas rumput yang menghitam karena abu.Di belakangnya, perjuangan hidup dan mati yang berbeda sedang berlangsung. Satta terbaring di atas hamparan kain darurat di bawah perlindungan akar pohon Ginkgo yang agung. Erangannya memecah suara denting senjata. Para bidan bekerja dengan tangan gemetar, mencoba membawa sebuah nyawa ke dunia di saat kematian sedang menari-nari di sekeliling mereka."Satu dorongan lagi, Yang Mulia! Bertahanlah!" suara bidan itu tenggelam dalam dentuman reruntuhan istana.Allard tidak menoleh. Ia tidak boleh menoleh. Di depannya, dari balik kabut asap, sosok yang seharusnya sudah habis ditelan api mu

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 101

    Ketegangan di Alderaan merambat seperti kabut beracun yang tak terlihat. Bulan ketujuh kehamilan Satta ditandai dengan perubahan atmosfer yang drastis. Langit yang biasanya cerah kini sering tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seolah alam pun merasakan ada sesuatu yang busuk sedang merayap di bawah kaki mereka.Di dalam kamar utama, Satta terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi lehernya. Ia menoleh ke samping, melihat Allard yang masih terlelap, namun tangan pria itu tetap menggenggam jemari Satta, bahkan dalam tidurnya. Firasat Satta semakin kuat; bukan lagi sekadar rasa mual, melainkan perasaan diawasi yang amat nyata."Allard..." bisiknya lirih.Sang Singa terjaga seketika. Mata birunya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan yang remang. Insting perangnya, yang selama lima tahun ini sempat tumpul oleh kedamaian, mendadak bangkit kembali. "Ada apa, Elena? Apa perutmu sakit?""Bukan... tapi rasanya ada sesuatu di sini. Di bawah kita," Satta men

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 100

    Berita tentang kehamilan Sang Ratu mengalir seperti air bah yang menjebol bendungan, tak terbendung meski Allard telah mencoba menutup rapat pintu-pintu rahasia istana. Dari bisik-bisik para pelayan di dapur, hingga obrolan para pedagang di pasar utama Alderaan, kabar itu menjadi simbol harapan baru. Namun, getaran kegembiraan itu merambat jauh ke bawah, menembus lapisan lantai marmer istana, melewati dinding-dinding batu yang lembap, hingga mencapai kegelapan yang paling pekat: penjara bawah tanah terdalam yang dikenal sebagai Lubang Penyesalan.Di sana, di dalam sel yang hanya diterangi oleh remang lampu minyak yang hampir padam, Zehewa duduk bersandar pada dinding yang berlumut. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini kusut masai, menutupi wajahnya yang pucat dan tirus. Rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya berdenting setiap kali ia bergerak, menciptakan suara parau yang menjadi satu-satunya musik di dunianya.Sudah lima tahun ia membusuk di sini. Lima tahun ia men

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 6

    Sudah memasuki hari kesepuluh sejak Satta mengenal sosok Allard. Hampir tiap hari dia datang berkunjung, dan seperti malam ini, gadis itu kembali membawakan makanan berupa kentang rebus dan satu botol minuman penghangat tubuh. “Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Satta saat duduk berhadapan dengan

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 5

    Dan jangan panggil aku tuan!” Kata-katanya terdengar berat. Sejurus kemudian, Allard menggenggam jemari Satta, merenggangkan kedua tangannya di atas lantai, lalu tanpa aba-aba pria itu mencium bibir Satta. Sontak Satta terkejut dibuatnya, kedua bola mata gadis itu terbuka perlahan, ia menemukan s

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 4

    Sore ini, Satta bertugas memasak untuk Kaisar serta Permaisuri. Di saat kedua tangannya begitu piawai memainkan gagang pisau, tiba-tiba pikirannya melambung pada sosok Allard. Sejurus kemudian, gadis itu melihat ke segala penjuru ruangan. Tidak ada orang selain dirinya. Gadis itu kemudian d

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 3

    Saat sosok bergaun ungu tua melangkah turun tangga, Allard segera meniup cahaya dari korek api yang masih menyala, hingga kegelapan kembali menerpa ruangan yang begitu lembab dan beraroma besi karat.“Besok kaisar akan menemuimu. Jangan banyak tingkah!” sergahnya. Betul sekali—dia adalah Viona—Perm

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status