共有

Benih Cinta

作者: Miss Wang
last update 公開日: 2026-02-27 18:02:13

Di dalam kamar VIP Hotel Gerald, lampu kristal redup memantulkan cahaya keemasan di dinding marmer. Tirai tebal menutup rapat di jendela, meredam semua hiruk-pikuk di luar ruangan.

Beberapa saat sebelumnya, ruangan itu dipenuhi desahan tertahan dan bisikan-bisikan penuh nafsu yang kini telah mereda. Yang tersisa hanya suara napas yang masih terengah, dan perlahan kembali normal.

Di bawah selimut putih yang sama, dua sosok duduk santai, punggung mereka bersandar ke dipan ranjang—Adrian dan Sof
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kehangatan

    Raymond melirik sekilas ke arah lengannya seolah baru sadar luka itu ada. Kau berkelahi lagi?” tanya Clara pelan. “Hanya sedikit masalah," jawab Raymond nyaris berbisik. “Sedikit?” Clara langsung berdiri dan mendekat. “Raymond, tanganmu lebam begini.” Raymond justru terkekeh kecil. “Kau mulai cerewet.” “Aku serius.” Clara memegang pergelangan tangannya hati-hati, seolah takut menambah rasa sakit di sana. Dan cara wanita itu menyentuhnya membuat tatapan Raymond perlahan berubah lebih lembut. Pria itu tiba-tiba menarik pinggang Clara mendekat sampai tubuh mereka nyaris tidak berjarak. “Dan aku suka saat kau khawatir,” gumamnya rendah. Pipi Clara langsung memanas. “Dasar aneh…” Raymond tersenyum tipis, lalu menyandarkan dahinya pelan ke dahi Clara. “Aku tidak pernah punya orang yang mengkhawatirkanku sebelumnya.” Kalimat itu membuat hati Clara langsung terasa sesak. Tidak ada nada dramatis dalam suara Raymond. Justru karena diucapkan begitu tenang, kata-kata itu terasa j

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tempat Pulang

    Dan di bawah sana, di tengah hujan malam yang turun semakin rapat, lampu mobil hitam panjang milik Raymond akhirnya memasuki halaman mansion perlahan. Sorot lampunya membelah gelap halaman yang basah oleh air hujan, memantulkan kilau pucat di jalan batu menuju tangga utama mansion. Suara mesin mobil terdengar berat sebelum akhirnya mati tepat di depan pintu besar rumah itu. Clara yang sejak tadi berdiri gelisah di balkon langsung mengembuskan napas panjang. Dadanya yang sedari tadi terasa sesak perlahan mengendur. Lega. Begitu lega sampai lututnya hampir kehilangan tenaga. Tanpa sempat mengenakan alas kaki, Clara langsung berbalik dan berlari keluar kamar. Langkahnya terdengar cepat menuruni tangga marmer mansion yang sunyi. Gaun tidur satin putih yang dikenakannya bergerak mengikuti langkah tergesa itu, sementara rambut panjangnya yang tadi sudah setengah kering kini sedikit berantakan menempel di pundaknya. Di bawah, pintu mobil akhirnya terbuka. Raymond turun perlahan dari k

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Titik Lemah

    “Clark membangun seluruh kekuasaannya untuk Thomas,” lanjut Ken. “Dan sekarang dia kehilangan satu-satunya pewaris.” Tatapan Raymond mengeras sedikit. “Orang yang kehilangan segalanya biasanya jadi paling berbahaya.” Sore harinya, Raymond akhirnya tiba di sebuah hotel mewah di pusat kota. Gedung tinggi itu menjulang megah di tengah langit mendung yang mulai gelap. Lantai lobby pribadi dipenuhi marmer hitam mengilap, sementara lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang elegan namun dingin. Raymond baru berjalan beberapa langkah ketika langkahnya tiba-tiba berhenti. Karena di ujung lorong— Tuan Clark sudah berdiri di sana. Sendirian. Pria tua itu mengenakan setelan hitam elegan dengan tongkat kayu gelap di tangannya. Rambut putihnya tersisir rapi ke belakang, membuat wajah kerasnya terlihat semakin tajam. Tatapannya tenang. Namun dingin menusuk. Ken langsung refleks menegang. “Biarkan,” ucap Raymond rendah. Para pengawal segera mundur. Kini lorong panjang itu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Serangan Bisnis

    Tatapan Raymond langsung berubah dingin begitu melihat ekspresi Ken di depan pintu kamar. Seketika, suasana hangat yang sejak tadi memenuhi ruangan terasa menghilang begitu saja. Cahaya matahari pagi masih masuk lembut melalui jendela besar kamar mereka. Aroma parfum Clara dan kopi hangat masih samar terasa di udara. Namun dalam satu detik, semuanya berubah menegangkan. Raymond perlahan melepaskan tangan Clara sebelum menatap Ken tajam. “Ada apa?” tanyanya rendah. Nada suaranya tenang. Dan Ken tahu persis—itu pertanda buruk. Pria itu sempat melirik sekilas ke arah Clara sebelum kembali memusatkan perhatian pada Raymond. “Anak buah kita menemukan sesuatu,” jawabnya serius. “Sepertinya ini ulah Tuan Clark.” Nama itu langsung membuat tubuh Clara menegang tanpa sadar. Jantungnya terasa turun sesaat. Bayangan pria tua dengan rambut memutih dan tatapan dingin yang datang ke pesta pernikahan mereka kemarin langsung muncul di kepalanya. Ayah Thomas. Pria yang bahkan tidak menunjuk

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keluarga Kecil

    Menjelang siang, suasana mansion berubah jauh lebih santai dibanding biasanya. Para pengawal Raymond tetap berjaga di luar dengan pakaian hitam dan alat komunikasi di telinga mereka, tetapi aura mencekam yang dulu selalu menyelimuti rumah itu perlahan memudar. Kini vas bunga segar menghiasi meja-meja sudut. Musik piano instrumental mengalun pelan dari ruang tengah. Bahkan beberapa pelayan mulai berani bercanda kecil satu sama lain saat bekerja. Di balkon lantai dua, Clara berdiri sambil menikmati teh hangat ketika sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. Ia tersenyum kecil tanpa perlu menoleh. “Kau diam-diam sekarang?” “Aku di rumah sendiri,” jawab Raymond santai sambil menyandarkan dagunya di bahu Clara. “Kau tetap mengejutkanku.” Raymond menarik Clara sedikit lebih dekat ke tubuhnya. “Sedang memikirkan apa?” “Bulan madu.” Pria itu mengangkat sebelah alis. “Oh?” Clara menoleh sedikit sambil menyipitkan mata curiga. “Kau serius mau membawaku per

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Suasana Berbeda

    Pagi pertama setelah pernikahan mereka membawa suasana yang terasa asing bagi seluruh penghuni mansion. Namun, keasingan itu bukan sesuatu yang buruk. Justru hangat. Hidup. Seolah rumah besar yang selama bertahun-tahun dipenuhi dingin dan ketegangan akhirnya kembali bernapas. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi berbingkai emas, memantul lembut di lantai marmer putih yang mengilap. Tirai tipis berwarna krem bergerak perlahan tertiup angin pagi, sementara aroma kopi hitam hangat bercampur roti panggang dan mentega memenuhi udara. Dari arah dapur terdengar suara para pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan. Namun berbeda dari biasanya, pagi itu mereka tidak lagi berjalan dengan wajah tegang dan langkah hati-hati. Sesekali bahkan terdengar tawa kecil. Para pelayan diam-diam saling bertukar pandang dengan ekspresi tak percaya. Karena untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun… Mansion itu terasa seperti rumah. Di ruang makan utama yang luas, Noah duduk di kursin

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Berpura-pura

    Raymond menepati kata-katanya. Sejak saat itu, ia mulai memainkan perannya—ia mulai bersikap manis pada Ellen di depan orang-orang, menggenggam tangannya sedikit lebih lama dari yang perlu, mencondongkan tubuhnya ketika berbicara, menyematkan perhatian kecil yang tampak tulus. Namun di balik semua

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Permainan di Mulai

    Raymond mengepalkan tangan. Urat-urat di punggung telapak tangannya terlihat menegang. Ia menoleh sejenak ke arah Clara—sekilas saja, namun cukup untuk membuat dada Clara terhenyak. Tidak ada kata ataupun isyarat lembut. Hanya tatapan singkat yang dingin, lalu Raymond berbalik dan melangkah cepat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ciuman Lembut

    Di dalam kamar, Raymond melepaskan genggaman Clara dan melangkah ke jendela. Tirai tipis berkibar pelan ketika ia membukanya. Lampu-lampu kota berkelip jauh di bawah.Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya dengan gerakan tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang hatinya sedang bergejolak. A

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ellen Cemburu

    Di kampus, sore itu matahari menggantung rendah, menyisakan cahaya keemasan di antara gedung-gedung tua. Clara berjalan pelan di koridor fakultas ketika langkah seseorang menyamainya.“Clara.”Ia menoleh. Hans berdiri di sana, wajahnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu, dengan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status