MasukKalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tangisan. Lelah. Bukan karena mengurus perusahaan. Bukan karena menghadapi musuh. Bukan karena memimpin organisasi sebesar keluarga Antonio. Melainkan karena rasa takut yang terus menggerogoti hatinya sejak Clara jatuh pingsan. Tatapannya masih lurus ke depan. Kosong. "Aku selalu berpikir..." "...selama aku cukup kuat..." "...aku bisa melindungi semua orang yang kusayangi." Ia tertawa pelan. Tawa yang terdengar pahit. Hampa. "Ternyata aku tidak sekuat itu." Ken menggigit bagian dalam pipinya. Ia ingin mengatakan bahwa semua ini bukan kesalahan Raymond. Bahwa tidak ada seorang pun yang mampu melawan penyakit seperti ini. Namun kalimat-kalimat itu terasa terlalu kecil. Tidak akan mampu mengurangi rasa sakit yang sedang dialami pria di sampingnya. Di balik pintu ICU... Suasana semakin menegangkan. "Kadar trombosit?" "Masih terus menurun!" "Bagaimana fungsi hati?" "Enzim hati men
BIPPPPPPPPPPP...Suara panjang dari monitor jantung memecah keheningan koridor rumah sakit.Nadanya melengking tajam.Dingin.Menusuk.Menggema sepanjang lorong ICU yang diterangi cahaya lampu putih kebiruan.Setiap orang yang berada di sana spontan menghentikan langkahnya.Beberapa perawat saling berpandangan.Seorang dokter muda mempercepat langkah memasuki ruang ICU.Sementara di luar...Raymond Antonio masih berdiri membelakangi pintu ruang perawatan intensif.Tubuhnya tegak.Namun ketegangan yang sejak tadi menopang dirinya perlahan mulai runtuh.Kedua tangannya yang semula terkepal erat di sisi tubuh mulai mengendur sedikit demi sedikit.Buku-buku jarinya yang memutih perlahan kembali berwarna.Bukan karena ia mulai tenang.Melainkan karena seluruh tenaga di tubuhnya seakan habis terkuras.Ia tidak lagi mencoba mengejar dokter.Tidak lagi bertanya.Tidak lagi memaksa siapa pun menjelaskan keadaan Clara.Tatapannya kosong menembus lantai granit mengilap di bawah kakinya.Seolah s
Sementara, itu di Mansion Antonio... Malam semakin larut. Hujan turun tipis membasahi taman belakang. Butiran air memantulkan cahaya lampu taman hingga terlihat seperti kristal-kristal kecil yang berjatuhan dari langit. Namun suasana hangat yang biasanya memenuhi rumah besar itu telah menghilang. Ruang keluarga terasa sunyi. Jam antik di dinding berdetak pelan. Noah duduk meringkuk di sofa dengan kedua lutut dipeluk erat. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Sesekali ia mengusap hidungnya menggunakan lengan piyama dinosaurus kesayangannya. Di meja depan mereka, Bu Eli menyalakan sebuah lilin kecil. Nyala apinya bergoyang pelan tertiup embusan angin dari jendela. "Nenek..." Suara Noah terdengar lirih. "Mama pasti sembuh, kan?" Bu Eli menoleh. Senyumnya berusaha terlihat setenang mungkin. Padahal dadanya sendiri dipenuhi kecemasan. Wanita itu menggenggam kedua tangan kecil Noah. "Iya." Jawaban itu keluar dengan suara yang sedikit bergetar. "Mari kita berdoa.
"Kondisi Nyonya Clara memburuk." Kalimat singkat itu meluncur pelan dari bibir dokter senior, tetapi dampaknya menghantam Raymond jauh lebih keras daripada ledakan peluru yang pernah ia hadapi sepanjang hidupnya. Untuk beberapa detik, dunia di sekelilingnya seakan kehilangan suara. Koridor VIP yang sejak tadi dipenuhi langkah kaki perawat mendadak terasa begitu jauh. Cahaya lampu putih di langit-langit terlihat menyilaukan. Bahkan suara pendingin ruangan yang terus berdengung perlahan menghilang dari pendengarannya. Yang tersisa hanyalah wajah dokter di hadapannya. Dan kalimat itu. Kondisi Nyonya Clara memburuk. Raymond berdiri membeku. Rahangnya mengeras, tetapi sorot matanya kehilangan fokus. "Apa..." Suaranya terdengar parau, nyaris tidak keluar. "Apa maksudmu, Dokter?" Dokter senior itu menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia sudah bertahun-tahun menangani pasien dalam kondisi kritis, tetapi menyampaikan kabar buruk kepada keluarga tidak pernah menjadi hal yang mudah.
Raymond menatap tangan itu cukup lama. Lalu perlahan menerimanya. Mereka kembali ke lantai VIP beberapa menit kemudian. Suasana rumah sakit jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Lampu-lampu putih koridor memantulkan bayangan panjang di lantai mengilap. Seorang perawat yang melihat kondisi Raymond langsung berlari mengambil handuk besar. "Tuan..." Perawat itu menyerahkan handuk dengan gugup. Ken menerimanya lebih dulu. Lalu menyampirkannya ke bahu Raymond. "Keringkan diri Anda." Raymond tidak bergerak. Masih diam. Masih kosong. Ken menghela napas. Kemudian mengambil handuk lain dan mengusap rambut Raymond yang basah. Pemandangan yang mungkin akan membuat seluruh kota tercengang jika melihatnya. Tangan kanan Raymond selama bertahun-tahun. Orang kepercayaannya. Sahabat yang tidak pernah diakuinya secara langsung. "Ken." "Ya, Tuan?" Raymond memejamkan mata. Lalu berkata pelan. "Jangan bilang siapa pun." Ken mengangkat alis. "Tentang apa?" "Aku menangis." Bebe
Ketakutan membuat seseorang berlari. Keputusasaan membuat seseorang berhenti melangkah karena tidak tahu lagi harus menuju ke mana. Dan malam itu, wajah keputusasaan adalah Raymond Antonio. Hujan turun semakin deras di atas gedung rumah sakit. Butiran air menghantam lantai beton atap, menciptakan suara gemuruh yang bersahutan dengan desiran angin malam. Langit tampak pekat tanpa bintang. Awan hitam menggantung rendah, seolah ikut menanggung beban yang menekan dada pria itu. Raymond masih berlutut di tempat yang sama. Celana hitam mahalnya sudah basah kuyup. Kemeja putih yang biasanya selalu rapi kini menempel pada tubuhnya karena diguyur hujan tanpa henti. Rambut hitamnya jatuh berantakan menutupi sebagian dahi. Namun ia tidak peduli. Tidak sedikit pun. Kedua tangannya mengepal kuat di atas lantai beton yang dingin. Urat-urat di punggung tangannya menonjol. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun tidak beraturan seolah setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Selama hidu
Semua terjadi begitu cepat. Cairan itu melesat di udara—berkilat singkat di bawah cahaya siang—menuju wajahnya, menuju tubuhnya… menuju sesuatu yang tak akan bisa ia hindari. Namun—di antara detik yang terlalu sempit untuk berpikir—sebuah bayangan bergerak dengan cepat, pasti dan tanpa keraguan—
Bu Eli menuntun Clara menyusuri koridor panjang yang sunyi. Lampu-lampu dinding menyala temaram, memantulkan bayangan mereka di lantai marmer hitam mengilap. Setiap langkah Clara terasa berat. Mereka berhenti di depan sebuah pintu. Pintu itu berbeda dari yang lain. Lebih besar. Lebih gelap.
Pria itu melangkah sepenuhnya ke dalam kamar. Pintu ditutup perlahan di belakangnya.Klik.Suara kunci diputar. Pria itu berdiri beberapa langkah dari ranjang, menatap Clara yang tertidur meringkuk. Rambutnya tergerai di bantal, wajahnya pucat, bulu mata masih basah oleh sisa air mata. Dadanya nai
Kata-kata itu seperti pisau. Clara tersedak. “Uh—”Melayaninya? Apa pria itu sungguhan…? Batin Clara bergejolak.Clara terbatuk hebat, buru-buru meraih gelas air dan meneguknya. Wajahnya memerah, nafasnya tersengal.Bu Eli yang mendengar kalimat itu langsung menunduk dan beranjak pergi. Kalimat itu







