Share

Ellen Cemburu

Penulis: Miss Wang
last update Tanggal publikasi: 2026-02-10 17:29:29

Di kampus, sore itu matahari menggantung rendah, menyisakan cahaya keemasan di antara gedung-gedung tua. Clara berjalan pelan di koridor fakultas ketika langkah seseorang menyamainya.

“Clara.”

Ia menoleh. Hans berdiri di sana, wajahnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu, dengan bekas memar samar di sudut rahangnya.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Hans langsung, nadanya tulus dan cemas.

Clara tersenyum kecil, berusaha menenangkan. “Aku baik, Hans. Raymond datang tepat waktu.”

H
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Suasana Berbeda

    Pagi pertama setelah pernikahan mereka membawa suasana yang terasa asing bagi seluruh penghuni mansion. Namun, keasingan itu bukan sesuatu yang buruk. Justru hangat. Hidup. Seolah rumah besar yang selama bertahun-tahun dipenuhi dingin dan ketegangan akhirnya kembali bernapas. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi berbingkai emas, memantul lembut di lantai marmer putih yang mengilap. Tirai tipis berwarna krem bergerak perlahan tertiup angin pagi, sementara aroma kopi hitam hangat bercampur roti panggang dan mentega memenuhi udara. Dari arah dapur terdengar suara para pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan. Namun berbeda dari biasanya, pagi itu mereka tidak lagi berjalan dengan wajah tegang dan langkah hati-hati. Sesekali bahkan terdengar tawa kecil. Para pelayan diam-diam saling bertukar pandang dengan ekspresi tak percaya. Karena untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun… Mansion itu terasa seperti rumah. Di ruang makan utama yang luas, Noah duduk di kursin

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Malam Pertama

    Raymond masih menahan tubuh Clara di bawahnya ketika keheningan malam perlahan memenuhi kamar pengantin itu. Cahaya lilin berpendar lembut di seluruh ruangan, memantulkan bayangan hangat di dinding kamar yang luas. Tirai putih tipis di dekat balkon bergerak perlahan tertiup angin malam, sementara aroma mawar dan vanilla masih memenuhi udara. Napas mereka belum benar-benar tenang setelah ciuman panjang tadi. Clara bisa merasakan dada Raymond naik turun pelan di atas tubuhnya. Detak jantung pria itu berdetak kuat dan stabil, begitu dekat sampai terasa jelas di ujung jemarinya. Raymond menatap Clara lumayan lama. Tatapannya perlahan turun menyusuri wajah wanita yang kini menjadi istrinya itu—mata beningnya yang masih sedikit basah, pipinya yang memerah malu, hingga bibirnya yang masih bergetar kecil karena gugup. Dan untuk pertama kalinya sejak Clara mengenalnya… Tatapan seorang mafia dingin itu benar-benar terlihat sangat lembut. “Aku membuatmu gugup?” bisiknya rendah. Suara b

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pesta

    Ciuman mereka semakin dalam. Semua orang bersorak sambil tepuk tangan. Kue di tangan Noah jatuh ke lantai, matanya terbelalak lebar, Bu Eli refleks menutup mata Noah dengan kedua tangannya. Tak lama kemudian, MC kembali mengambil alih acara dengan semangat. "Wah, pengantin kita ternyata tak sabaran." Sontak semua orang tertawa. “Baik! Sekarang waktunya lempar buket!” lanjut MC. Beberapa tamu wanita langsung bersorak antusias. Clara tertawa kecil saat buket bunga putih diberikan padanya. “Awas jangan curang!” teriak salah satu tamu sambil bercanda. Clara berdiri membelakangi kerumunan wanita-wanita yang sudah siap menangkap buket. Veil panjangnya jatuh anggun menyentuh lantai marmer putih. “Satu…” Ia tersenyum sambil menggenggam bunga lebih erat. “Dua…” Para tamu mulai bersiap heboh. “Tiga!” Clara melempar buket itu ke belakang. Dan seketika aula langsung dipenuhi jeritan serta tawa riuh. Salah satu wanita muda berhasil menangkap bunga itu sambil mel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ancaman Halus

    Keheningan langsung jatuh di seluruh aula. Noah yang berdiri bersama Bu Eli mengernyit bingung membaca tulisan itu, sementara Clara langsung menahan napas. Clark tersenyum tipis. “Gigi dibalas gigi,” ucapnya pelan sambil menatap Raymond lurus. “Bukankah itu aturan dunia kita?” Tak ada yang menjawab. Hanya suara napas tegang memenuhi ruangan besar itu. Lalu perlahan, Clark mengalihkan pandangannya pada Clara. Tatapan pria tua itu membuat bulu kuduk Clara meremang. Bukan tatapan marah. Melainkan tatapan dingin seseorang yang sedang mengingat wajah orang-orang yang terlibat dalam kematian anaknya. Dan justru karena itulah… rasanya jauh lebih mengerikan. Namun beberapa detik kemudian, Clark malah tersenyum kecil. “Menarik,” gumamnya lirih. Setelah itu, tanpa mengatakan apa pun lagi, ia langsung berbalik. Tongkatnya kembali mengetuk lantai marmer. Tok. Tok. Tok. Dan perlahan pria tua itu berjalan keluar aula bersama para pengawalnya. Tidak ada bentak

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ayah Thomas

    Suasana aula langsung berubah sunyi mencekam begitu sosok pria tua itu melangkah masuk melewati pintu utama mansion. Musik biola yang sejak tadi mengalun lembut perlahan terdengar semakin jauh, tenggelam oleh suara ketukan tongkat yang menggema pelan di lantai marmer mengilap. Tok. Tok. Tok. Langkahnya tidak terburu-buru. Namun justru ketenangan itu terasa jauh lebih menakutkan. Lampu chandelier raksasa memantulkan cahaya ke setelan hitam mahal yang dikenakannya. Potongan jas itu begitu rapi dan elegan, membungkus tubuh tinggi besarnya dengan sempurna. Rambutnya yang mulai dipenuhi uban disisir licin ke belakang, memperlihatkan wajah tegas penuh garis usia dan sepasang mata dingin yang tajam seperti pisau. Tatapan pria itu menyapu seluruh aula perlahan. Dan hanya dengan itu saja, udara di ruangan terasa berubah berat. Beberapa tamu langsung menunduk gelisah. Ada yang tanpa sadar mundur satu langkah. Bahkan suara bisik-bisik kecil mendadak lenyap seketika. Semua o

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Janji Suci

    Langkah Clara akhirnya berhenti tepat di depan altar. Raymond langsung menggenggam tangannya perlahan. Hangat. Kuat. Dan sedikit gemetar. Pria itu menatap Clara cukup lama sampai penghulu berdehem kecil sambil tersenyum geli. “Tuan Raymond…” Beberapa tamu langsung tertawa kecil. Raymond seperti baru tersadar. Ia menarik napas pelan, tetapi tatapannya tetap tidak lepas dari Clara. “Kau cantik sekali…” bisiknya lirih. Clara tersenyum sambil menahan air mata. “Kau juga… tampan.” Raymond terkekeh pelan. “Aku babak belur begini masih dibilang tampan?” Clara ikut tertawa kecil di sela tangisnya. Luka lebam di rahang Raymond masih terlihat jelas meski sudah ditutupi tipis oleh makeup. Perban kecil di pelipisnya membuat penampilannya sedikit berantakan. Namun entah kenapa… Bagi Clara, Raymond belum pernah terlihat setampan ini sebelumnya. Prosesi pernikahan akhirnya dimulai. Suasana aula kembali hening dan sakral. Raymond berdiri tegak di depan pendeta

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Salah Tingkah

    Tiba-tiba, pintu di belakang mereka terbuka—Raymond keluar dari dalam ruangan dengan langkah yang tenang. Tidak ada tanda panik. Tidak ada emosi berlebihan. Namun justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam.Tatapannya dingin seperti biasa… tapi hari ini, ada sesuatu yang lebih tajam di sa

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Apakah ini Raymond?

    Clara menatap mereka bergantian dengan bingung. Alisnya berkerut, jantungnya masih berdetak tidak teratur sejak Raymond turun dari mobil.“Kalian… saling kenal?” tanyanya pelan.Thomas menoleh sekilas ke arah Clara, lalu kembali menatap Raymond dengan sorot mata yang tidak kalah tajam.“Ya,” jawab

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tamu Penting

    Di belakangnya, Ken berdiri tegak. “Baik, Tuan,” jawabnya tanpa ragu.Raymond meneguk sisa wine di gelasnya dalam satu tarikan panjang. Cairan itu terasa pahit di tenggorokannya, namun ia tetap menelannya tanpa ekspresi.Gelas itu kemudian ia letakkan di atas meja kaca dengan sedikit lebih keras. S

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dilema

    Malam terasa lebih dingin ketika Clara keluar dari hotel.Langkahnya cepat, hampir seperti seseorang yang sedang melarikan diri dari sesuatu yang tak terlihat. Sepatu datarnya mengetuk trotoar dengan ritme tergesa, sementara lampu-lampu jalan memantulkan bayangannya yang tampak rapuh di atas aspal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status