แชร์

Titik Lemah

ผู้เขียน: Miss Wang
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-23 12:52:17

“Clark membangun seluruh kekuasaannya untuk Thomas,” lanjut Ken. “Dan sekarang dia kehilangan satu-satunya pewaris.”

Tatapan Raymond mengeras sedikit.

“Orang yang kehilangan segalanya biasanya jadi paling berbahaya.”

Sore harinya, Raymond akhirnya tiba di sebuah hotel mewah di pusat kota.

Gedung tinggi itu menjulang megah di tengah langit mendung yang mulai gelap.

Lantai lobby pribadi dipenuhi marmer hitam mengilap, sementara lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang elegan na
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Titik Lemah

    “Clark membangun seluruh kekuasaannya untuk Thomas,” lanjut Ken. “Dan sekarang dia kehilangan satu-satunya pewaris.” Tatapan Raymond mengeras sedikit. “Orang yang kehilangan segalanya biasanya jadi paling berbahaya.” Sore harinya, Raymond akhirnya tiba di sebuah hotel mewah di pusat kota. Gedung tinggi itu menjulang megah di tengah langit mendung yang mulai gelap. Lantai lobby pribadi dipenuhi marmer hitam mengilap, sementara lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang elegan namun dingin. Raymond baru berjalan beberapa langkah ketika langkahnya tiba-tiba berhenti. Karena di ujung lorong— Tuan Clark sudah berdiri di sana. Sendirian. Pria tua itu mengenakan setelan hitam elegan dengan tongkat kayu gelap di tangannya. Rambut putihnya tersisir rapi ke belakang, membuat wajah kerasnya terlihat semakin tajam. Tatapannya tenang. Namun dingin menusuk. Ken langsung refleks menegang. “Biarkan,” ucap Raymond rendah. Para pengawal segera mundur. Kini lorong panjang itu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Serangan Bisnis

    Tatapan Raymond langsung berubah dingin begitu melihat ekspresi Ken di depan pintu kamar. Seketika, suasana hangat yang sejak tadi memenuhi ruangan terasa menghilang begitu saja. Cahaya matahari pagi masih masuk lembut melalui jendela besar kamar mereka. Aroma parfum Clara dan kopi hangat masih samar terasa di udara. Namun dalam satu detik, semuanya berubah menegangkan. Raymond perlahan melepaskan tangan Clara sebelum menatap Ken tajam. “Ada apa?” tanyanya rendah. Nada suaranya tenang. Dan Ken tahu persis—itu pertanda buruk. Pria itu sempat melirik sekilas ke arah Clara sebelum kembali memusatkan perhatian pada Raymond. “Anak buah kita menemukan sesuatu,” jawabnya serius. “Sepertinya ini ulah Tuan Clark.” Nama itu langsung membuat tubuh Clara menegang tanpa sadar. Jantungnya terasa turun sesaat. Bayangan pria tua dengan rambut memutih dan tatapan dingin yang datang ke pesta pernikahan mereka kemarin langsung muncul di kepalanya. Ayah Thomas. Pria yang bahkan tidak menunjuk

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keluarga Kecil

    Menjelang siang, suasana mansion berubah jauh lebih santai dibanding biasanya. Para pengawal Raymond tetap berjaga di luar dengan pakaian hitam dan alat komunikasi di telinga mereka, tetapi aura mencekam yang dulu selalu menyelimuti rumah itu perlahan memudar. Kini vas bunga segar menghiasi meja-meja sudut. Musik piano instrumental mengalun pelan dari ruang tengah. Bahkan beberapa pelayan mulai berani bercanda kecil satu sama lain saat bekerja. Di balkon lantai dua, Clara berdiri sambil menikmati teh hangat ketika sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. Ia tersenyum kecil tanpa perlu menoleh. “Kau diam-diam sekarang?” “Aku di rumah sendiri,” jawab Raymond santai sambil menyandarkan dagunya di bahu Clara. “Kau tetap mengejutkanku.” Raymond menarik Clara sedikit lebih dekat ke tubuhnya. “Sedang memikirkan apa?” “Bulan madu.” Pria itu mengangkat sebelah alis. “Oh?” Clara menoleh sedikit sambil menyipitkan mata curiga. “Kau serius mau membawaku per

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Suasana Berbeda

    Pagi pertama setelah pernikahan mereka membawa suasana yang terasa asing bagi seluruh penghuni mansion. Namun, keasingan itu bukan sesuatu yang buruk. Justru hangat. Hidup. Seolah rumah besar yang selama bertahun-tahun dipenuhi dingin dan ketegangan akhirnya kembali bernapas. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi berbingkai emas, memantul lembut di lantai marmer putih yang mengilap. Tirai tipis berwarna krem bergerak perlahan tertiup angin pagi, sementara aroma kopi hitam hangat bercampur roti panggang dan mentega memenuhi udara. Dari arah dapur terdengar suara para pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan. Namun berbeda dari biasanya, pagi itu mereka tidak lagi berjalan dengan wajah tegang dan langkah hati-hati. Sesekali bahkan terdengar tawa kecil. Para pelayan diam-diam saling bertukar pandang dengan ekspresi tak percaya. Karena untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun… Mansion itu terasa seperti rumah. Di ruang makan utama yang luas, Noah duduk di kursin

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Malam Pertama

    Raymond masih menahan tubuh Clara di bawahnya ketika keheningan malam perlahan memenuhi kamar pengantin itu. Cahaya lilin berpendar lembut di seluruh ruangan, memantulkan bayangan hangat di dinding kamar yang luas. Tirai putih tipis di dekat balkon bergerak perlahan tertiup angin malam, sementara aroma mawar dan vanilla masih memenuhi udara. Napas mereka belum benar-benar tenang setelah ciuman panjang tadi. Clara bisa merasakan dada Raymond naik turun pelan di atas tubuhnya. Detak jantung pria itu berdetak kuat dan stabil, begitu dekat sampai terasa jelas di ujung jemarinya. Raymond menatap Clara lumayan lama. Tatapannya perlahan turun menyusuri wajah wanita yang kini menjadi istrinya itu—mata beningnya yang masih sedikit basah, pipinya yang memerah malu, hingga bibirnya yang masih bergetar kecil karena gugup. Dan untuk pertama kalinya sejak Clara mengenalnya… Tatapan seorang mafia dingin itu benar-benar terlihat sangat lembut. “Aku membuatmu gugup?” bisiknya rendah. Suara b

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pesta

    Ciuman mereka semakin dalam. Semua orang bersorak sambil tepuk tangan. Kue di tangan Noah jatuh ke lantai, matanya terbelalak lebar, Bu Eli refleks menutup mata Noah dengan kedua tangannya. Tak lama kemudian, MC kembali mengambil alih acara dengan semangat. "Wah, pengantin kita ternyata tak sabaran." Sontak semua orang tertawa. “Baik! Sekarang waktunya lempar buket!” lanjut MC. Beberapa tamu wanita langsung bersorak antusias. Clara tertawa kecil saat buket bunga putih diberikan padanya. “Awas jangan curang!” teriak salah satu tamu sambil bercanda. Clara berdiri membelakangi kerumunan wanita-wanita yang sudah siap menangkap buket. Veil panjangnya jatuh anggun menyentuh lantai marmer putih. “Satu…” Ia tersenyum sambil menggenggam bunga lebih erat. “Dua…” Para tamu mulai bersiap heboh. “Tiga!” Clara melempar buket itu ke belakang. Dan seketika aula langsung dipenuhi jeritan serta tawa riuh. Salah satu wanita muda berhasil menangkap bunga itu sambil mel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tanda Merah

    Raymond berbalik perlahan.Asap rokok masih menggantung di udara ketika matanya bertemu Ken. Tatapan itu dingin, terkontrol—tatapan pria yang baru saja mengambil keputusan besar dan tak berniat menyesalinya.“Apa yang kau temukan?” tanyanya.Ken menelan ludah. “Madam Veronika bekerja sama dengan Al

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ranjang Tuan Mafia

    Raymond menatap Clara lebih lama dari yang seharusnya. Tatapan itu bukan sekadar menilai—ia membaca, menguliti, mencari celah. “Kau menginginkan sesuatu,” ucapnya pelan, tapi tajam.Kata-kata itu membuat bahu Clara menegang. Napasnya tertahan sesaat, lalu ia melangkah lebih dekat. Tangannya terangk

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Merayu Raymond

    Keesokan harinya, sedikit lebih sibuk. Di ruang bawah tanah yang tak tercatat di denah mansion, Raymond berdiri di depan meja panjang berlapis kaca hitam. Peta bisnis terpampang di layar besar—alur uang, nama perusahaan cangkang, jalur distribusi, dan rekening luar negeri. Ken berdiri di sampingn

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Masa Lalu Veronika dan Orang Tua Clara

    Raymond menurunkan ponselnya perlahan. Udara di kamar terasa lebih berat dari sebelumnya. 30 menit kemudian, pintu diketuk singkat. Tok. Tok. Ken masuk membawa map tebal dan sebuah tablet. Ia meletakkannya di atas meja, lalu berdiri sedikit ke samping. “Ini semua yang kami temukan, Tuan,” ujar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status