Share

Titik Lemah

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-23 12:52:17

“Clark membangun seluruh kekuasaannya untuk Thomas,” lanjut Ken. “Dan sekarang dia kehilangan satu-satunya pewaris.”

Tatapan Raymond mengeras sedikit.

“Orang yang kehilangan segalanya biasanya jadi paling berbahaya.”

Sore harinya, Raymond akhirnya tiba di sebuah hotel mewah di pusat kota.

Gedung tinggi itu menjulang megah di tengah langit mendung yang mulai gelap.

Lantai lobby pribadi dipenuhi marmer hitam mengilap, sementara lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang elegan na
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tempat yang Tidak Dikenal

    "Clara?" Suara Raymond terdengar rendah dari balik telepon. Dari seberang, suara Clara terdengar lirih. "Ray..." "Aku masih di rumah sakit." "Aku tahu." Clara menarik napas panjang. "Bagaimana?" Raymond terdiam beberapa detik. Ia tidak ingin mengatakan bahwa sampai saat ini mereka belum menemukan jejak Ken. Namun Clara pasti akan tahu jika ia berbohong. "Aku masih mencarinya." Keheningan terdengar di antara mereka. Kemudian suara Clara terdengar lebih lembut. "Jangan berhenti." "Aku tidak akan berhenti." Jawaban Raymond terdengar tegas. "Aku akan menemukan Ken." Ia menatap layar CCTV di hadapannya. "Dan aku akan membawanya pulang." Clara mengembuskan napas panjang. "Semoga Tuhan menjaganya." Raymond memejamkan mata sesaat. "Amin." Sambungan berakhir. Raymond memasukkan ponselnya kembali ke saku. Wajahnya kembali dingin. "John." "Ya, Tuan?" "Temukan ke mana ambulans itu pergi." John langsung berdiri tegak. "Kalau perlu, periksa setiap kamera jalan dari ru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keamanan

    Malam mulai turun perlahan di atas kota. Langit yang sejak sore berwarna kelabu kini berubah menjadi biru gelap. Sisa cahaya matahari menghilang di balik gedung-gedung tinggi, sementara lampu jalan menyala satu demi satu, membentuk garis cahaya panjang di sepanjang jalan raya. Namun di Rumah Sakit Pusat, tidak ada seorang pun dari tim Antonio yang berniat pulang. Lantai khusus yang menjadi pusat pencarian Ken masih dipenuhi aktivitas. Langkah kaki berlari terdengar di sepanjang koridor. Radio komunikasi bersahutan. Pintu-pintu dibuka dan ditutup. Para petugas keamanan memeriksa identitas setiap orang yang hendak keluar. Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah sakit tanpa pemeriksaan. Di dalam ruang keamanan utama, puluhan layar CCTV memenuhi hampir seluruh dinding. Raymond berdiri tepat di depan monitor terbesar. Jasnya masih sama seperti ketika ia meninggalkan mansion. Kemejanya sedikit kusut. Wajahnya terlihat lelah. Namun sorot matanya tetap tajam. Ia menatap layar dem

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   CCTV

    John masih terpaku di depan dinding monitor. Pantulan cahaya kebiruan dari puluhan layar membuat wajahnya tampak semakin pucat. Rekaman CCTV itu terus diputar berulang-ulang. Detik demi detik. Frame demi frame. Namun perhatian John kini bukan lagi tertuju pada wajah kedua dokter palsu itu. Melainkan... Cara pria bertubuh tinggi tersebut berjalan. Langkahnya mantap. Tenang. Nyaris tanpa suara. Namun kaki kanannya selalu sedikit terlambat setengah langkah dibanding kaki kirinya. Bahu kirinya juga tampak lebih rendah. Sangat tipis. Hampir mustahil disadari orang lain. Tetapi... John pernah melihatnya. Berkali-kali. "Pak..." Suara teknisi membuyarkan lamunannya. "Apakah rekamannya diulang lagi?" John tidak menjawab. Tatapannya masih melekat pada layar. Di dalam kepalanya, berbagai wajah mulai bermunculan. Para mantan petinggi Antonio Group. Direktur perusahaan. Mantan pengawal. Rekan bisnis lama. Semuanya muncul silih berganti. Namun... Tak satu pun terasa be

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian Ken

    Raungan mesin SUV hitam milik Antonio Group memecah suasana siang yang semula lengang di halaman depan Rumah Sakit Pusat Sentosa. Lima kendaraan berhenti hampir bersamaan. Ban-ban tebalnya berdecit keras di atas paving block. CIIIIIITTT...! Belasan pintu langsung terbuka serempak. Para pengawal berbadan tegap turun lebih dulu. Jas hitam mereka berkibar diterpa angin, sementara alat komunikasi yang menempel di telinga masing-masing terus mengeluarkan suara laporan yang saling bersahutan. Tak lama kemudian... Sebuah SUV lain berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat. Dari sanalah John turun. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tegang dibanding biasanya. Dasi hitamnya sedikit miring akibat terburu-buru mengenakannya di perjalanan. Tatapannya langsung menyapu seluruh area rumah sakit. Beberapa petugas keamanan rumah sakit tampak kebingungan. Perawat berlalu-lalang dengan wajah pucat. Keluarga pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu mulai berbisik-bisik karena

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian

    Clara membeku di tempatnya.Jemari yang sejak tadi menggenggam lengan Raymond perlahan mengendur, seolah seluruh tenaganya menguap dalam sekejap. Wajahnya yang semula masih dipenuhi harapan perlahan kehilangan warna. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar."Apa...?"Bisikan itu begitu pelan hingga nyaris lenyap diterpa embusan angin sore yang melintasi taman belakang mansion.Beberapa langkah di belakang mereka, Bu Eli spontan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Rosario kayu berwarna cokelat tua yang hampir tak pernah lepas dari genggamannya bergetar pelan."Ya Tuhan..."Doa itu meluncur begitu saja dari bibir wanita tua tersebut.Noah, yang berdiri di samping neneknya, mendongak bergantian ke arah wajah semua orang dewasa di hadapannya. Bocah itu belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Namun dari raut wajah mereka, ia tahu sesuatu yang buruk baru saja terjadi.Sementara itu...Raymond masih mematung.Ponsel hitam di tangannya masih menemp

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ken Menghilang

    Barulah Raymond menoleh perlahan. Pandangan mereka bertemu. Di balik ketegasan yang selama ini selalu ditunjukkannya... Clara melihat sesuatu yang sangat jarang muncul. Ketakutan. "Aku tahu..." "...Ken sangat berarti bagimu." Raymond mengembuskan napas panjang. "Dia bukan sekadar bawahanku." Suara itu terdengar berat. Serak. "Hampir separuh hidupku..." "...dia selalu berdiri di belakangku." Tatapannya perlahan menerawang. "Waktu ibuku meninggal..." "...Ken yang berdiri di sampingku." "Saat Antonio Group hampir diambil alih..." "...dia berjaga tiga hari tiga malam tanpa tidur." "Ketika aku ditembak dalam penyergapan beberapa tahun lalu..." Raymond berhenti. Rahangnya mengeras. "Dia yang mendorongku." "Kalau dia terlambat satu detik saja..." "...peluru itu menembus dadaku." Clara merasakan jemari suaminya semakin dingin. "Aku berutang terlalu banyak padanya." bisik Raymond. "Aku bahkan belum sempat membalas semuanya." Air mata perlahan memenuhi pelupuk mata C

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sang Mafia Kehilangan Arah

    Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hening dan Tegang

    Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status