Share

Harapan

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-06 13:41:36

Cahaya lampu rumah sakit memantul di kacamata sang dokter, membuat wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya.

Raymond berdiri tepat di depan dokter itu. Tubuhnya tegak, tetapi di balik ketegangan yang tampak di wajahnya, ada sesuatu yang nyaris retak.

“Dan?” suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang tertahan.

Dokter itu menatap Raymond beberapa detik sebelum akhirnya berkata perlahan.

“Wanita itu… bukan Nona Clara.”

Ruangan itu seketika sunyi.

Raymond tidak langsung bereaksi. Matanya hany
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Surat Terakhir Maria

    Raymond masih berdiri di tengah gudang.Foto yang baru saja ditemukan berada di tangannya. Hujan di luar terdengar semakin jelas, menghantam atap seng dengan suara berulang yang membuat suasana terasa semakin menekan.Di dalam foto itu, Maria berdiri di depan sebuah bangunan tua.Wajahnya tampak lebih kurus dibandingkan foto-foto yang selama ini disimpan Raymond. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada perhiasan mewah. Tidak ada senyum yang biasa ia tunjukkan ketika berada di depan keluarga.Di belakangnya berdiri Charles.Ayahnya.Pria yang selama bertahun-tahun diyakini telah meninggal.Raymond mengangkat foto itu lebih dekat ke arah cahaya senter.Charles terlihat berbeda.Bukan karena usia.Melainkan karena ekspresinya.Ia tidak sedang tersenyum kepada Maria. Tatapannya justru mengarah ke sisi lain, seolah-olah sedang mengawasi seseorang yang berada di luar jangkauan kamera.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gudang No 17

    Hujan turun ketika mobil Raymond memasuki kawasan pelabuhan lama.Bukan hujan deras, tetapi cukup untuk membuat kaca depan kendaraan dipenuhi titik-titik air yang terus mengalir ke bawah. Lampu kota semakin jarang terlihat. Gudang-gudang tua berdiri berjajar di sepanjang jalan, sebagian besar sudah tidak digunakan.Cat pada dindingnya mengelupas.Pintu-pintu besi berkarat.Beberapa lampu penerangan bahkan sudah mati bertahun-tahun.Raymond duduk diam di kursi belakang.Di telapak tangannya, kunci kecil pemberian Elena masih tergenggam erat.Gudang nomor tujuh belas.Tempat itu disebutkan oleh Elena sebagai lokasi terakhir yang berkaitan dengan Maria.Namun Raymond tidak mempercayai Elena sepenuhnya.Tidak setelah mengetahui wanita bernama Adriana telah menjalani operasi untuk menyerupai ibunya.Tidak setelah menemukan dokumen yang menunjukkan Maria sendiri pernah membiayai operasi tersebut.Dan yang paling mengganggunya...Adriana mengaku pernah melihat Maria setelah wanita itu dinyat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Di Balik Layar

    Pintu itu terbuka lebar.Cahaya dari lorong masuk ke dalam ruangan yang selama beberapa jam hanya diterangi lampu kecil di atas meja.Ken menyipitkan mata.Tubuhnya masih lemah.Namun wajahnya berubah ketika melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.Ia mengenalnya.Tidak mungkin salah.Wajah itu pernah muncul dalam dokumen lama keluarga Antonio.Pernah ia lihat dalam foto.Pernah ia dengar namanya disebut oleh Raymond.Dan yang paling mengerikan...pria itu seharusnya sudah meninggal."Mustahil..."Ken berbisik.Maria berdiri di samping ranjang dengan wajah pucat.Pria itu masuk perlahan.Tidak membawa senjata.Tidak pula menunjukkan kemarahan.Justru ketenangannya membuat suasana terasa semakin mengerikan."Sudah lama, Ken."Ken menatapnya tajam."Bagaimana mungkin kau masih hidup?"Pr

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Jejak Terakhir Maria

    Kartu hitam itu masih berada di tangan Raymond.Satu kalimat sederhana tercetak di atas permukaannya.Kalau ingin menemukan Ken, datanglah sendirian.Raymond membacanya sekali lagi.Kemudian tertawa pendek.Bukan tawa karena lucu.Melainkan tawa seseorang yang baru saja kehilangan kesabarannya."Mereka pikir aku akan datang sendirian?"John segera menggeleng."Jangan lakukan itu, Tuan."Raymond menatapnya."Aku tidak berniat mengikuti aturan mereka."Ia menyerahkan kartu tersebut."Periksa semuanya."John menerima kartu itu."Sidik jari?""DNA, serat kain, tinta, apa pun yang bisa ditemukan.""Baik."Raymond kemudian menoleh kepada Adriana.Wanita itu masih berdiri di sudut ruangan.Wajah yang menyerupai Maria membuat Raymond kembali merasa tidak nyaman."Adriana."Wanita itu mengangkat w

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wajah yang Bukan Miliknya

    Ruangan bawah tanah itu mendadak terasa sesak.Raymond menatap John."Di mana wanita itu?""Ruang sebelah, Tuan.""Antarkan aku."John mengangguk.Namun sebelum Raymond bergerak, Charles tiba-tiba bersuara."Raymond."Raymond berhenti."Apa?"Charles menatap putranya dengan wajah penuh keraguan."Jangan percaya semua yang akan kau lihat."Raymond tersenyum dingin."Seharusnya Ayah mengatakan itu kepada dirimu sendiri sejak awal."Ia berbalik.John membuka pintu besi di ujung lorong.Kreeek...Ruangan di baliknya jauh lebih terang.Seorang wanita duduk di atas kursi.Rambut hitam panjang terurai di bahunya.Wajahnya...wajah Maria.Raymond berhenti beberapa langkah dari pintu.Jantungnya berdegup keras.Walaupun ia sudah mengetahui kemungkinan wanita itu bukan ibunya, mel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Anak yang Disembunyikan

    Ruang bawah tanah itu mendadak terasa jauh lebih dingin.Raymond masih berdiri di tengah ruangan dengan tatapan terpaku kepada Charles.Kalimat pria itu terus berputar di kepalanya.Adriana adalah anak yang selama ini diyakini semua orang sudah mati.Raymond menelan ludah."Ulangi."Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan.Charles mengangkat wajah."Adriana.""Siapa dia?"Charles menarik napas panjang."Anak Maria."Raymond membeku."Anak... ibu?""Ya."Untuk beberapa detik, Raymond tidak mampu berkata apa-apa.Selama bertahun-tahun ia hanya mengetahui dirinya sebagai anak tunggal.Tidak pernah ada nama Adriana dalam keluarganya.Tidak pernah ada foto.Tidak pernah ada dokumen.Tidak pernah ada makam.Tidak pernah ada cerita.Namun sekarang seseorang berdiri di hadapannya dan mengatakan ba

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijual Paman, Dibeli Tuan Mafia

    Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Kejam

    Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status