แชร์

Kritis

ผู้เขียน: Miss Wang
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-12 15:50:52

Raymond menatap tangan itu cukup lama.

Lalu perlahan menerimanya.

Mereka kembali ke lantai VIP beberapa menit kemudian.

Suasana rumah sakit jauh lebih dingin dibanding sebelumnya.

Lampu-lampu putih koridor memantulkan bayangan panjang di lantai mengilap.

Seorang perawat yang melihat kondisi Raymond langsung berlari mengambil handuk besar.

"Tuan..."

Perawat itu menyerahkan handuk dengan gugup.

Ken menerimanya lebih dulu.

Lalu menyampirkannya ke bahu Raymond.

"Keringkan diri Anda."

Ray
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Lauw Samuel
happy ending yah kak
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tempat yang Tidak Dikenal

    "Clara?" Suara Raymond terdengar rendah dari balik telepon. Dari seberang, suara Clara terdengar lirih. "Ray..." "Aku masih di rumah sakit." "Aku tahu." Clara menarik napas panjang. "Bagaimana?" Raymond terdiam beberapa detik. Ia tidak ingin mengatakan bahwa sampai saat ini mereka belum menemukan jejak Ken. Namun Clara pasti akan tahu jika ia berbohong. "Aku masih mencarinya." Keheningan terdengar di antara mereka. Kemudian suara Clara terdengar lebih lembut. "Jangan berhenti." "Aku tidak akan berhenti." Jawaban Raymond terdengar tegas. "Aku akan menemukan Ken." Ia menatap layar CCTV di hadapannya. "Dan aku akan membawanya pulang." Clara mengembuskan napas panjang. "Semoga Tuhan menjaganya." Raymond memejamkan mata sesaat. "Amin." Sambungan berakhir. Raymond memasukkan ponselnya kembali ke saku. Wajahnya kembali dingin. "John." "Ya, Tuan?" "Temukan ke mana ambulans itu pergi." John langsung berdiri tegak. "Kalau perlu, periksa setiap kamera jalan dari ru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keamanan

    Malam mulai turun perlahan di atas kota. Langit yang sejak sore berwarna kelabu kini berubah menjadi biru gelap. Sisa cahaya matahari menghilang di balik gedung-gedung tinggi, sementara lampu jalan menyala satu demi satu, membentuk garis cahaya panjang di sepanjang jalan raya. Namun di Rumah Sakit Pusat, tidak ada seorang pun dari tim Antonio yang berniat pulang. Lantai khusus yang menjadi pusat pencarian Ken masih dipenuhi aktivitas. Langkah kaki berlari terdengar di sepanjang koridor. Radio komunikasi bersahutan. Pintu-pintu dibuka dan ditutup. Para petugas keamanan memeriksa identitas setiap orang yang hendak keluar. Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah sakit tanpa pemeriksaan. Di dalam ruang keamanan utama, puluhan layar CCTV memenuhi hampir seluruh dinding. Raymond berdiri tepat di depan monitor terbesar. Jasnya masih sama seperti ketika ia meninggalkan mansion. Kemejanya sedikit kusut. Wajahnya terlihat lelah. Namun sorot matanya tetap tajam. Ia menatap layar dem

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   CCTV

    John masih terpaku di depan dinding monitor. Pantulan cahaya kebiruan dari puluhan layar membuat wajahnya tampak semakin pucat. Rekaman CCTV itu terus diputar berulang-ulang. Detik demi detik. Frame demi frame. Namun perhatian John kini bukan lagi tertuju pada wajah kedua dokter palsu itu. Melainkan... Cara pria bertubuh tinggi tersebut berjalan. Langkahnya mantap. Tenang. Nyaris tanpa suara. Namun kaki kanannya selalu sedikit terlambat setengah langkah dibanding kaki kirinya. Bahu kirinya juga tampak lebih rendah. Sangat tipis. Hampir mustahil disadari orang lain. Tetapi... John pernah melihatnya. Berkali-kali. "Pak..." Suara teknisi membuyarkan lamunannya. "Apakah rekamannya diulang lagi?" John tidak menjawab. Tatapannya masih melekat pada layar. Di dalam kepalanya, berbagai wajah mulai bermunculan. Para mantan petinggi Antonio Group. Direktur perusahaan. Mantan pengawal. Rekan bisnis lama. Semuanya muncul silih berganti. Namun... Tak satu pun terasa be

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian Ken

    Raungan mesin SUV hitam milik Antonio Group memecah suasana siang yang semula lengang di halaman depan Rumah Sakit Pusat Sentosa. Lima kendaraan berhenti hampir bersamaan. Ban-ban tebalnya berdecit keras di atas paving block. CIIIIIITTT...! Belasan pintu langsung terbuka serempak. Para pengawal berbadan tegap turun lebih dulu. Jas hitam mereka berkibar diterpa angin, sementara alat komunikasi yang menempel di telinga masing-masing terus mengeluarkan suara laporan yang saling bersahutan. Tak lama kemudian... Sebuah SUV lain berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat. Dari sanalah John turun. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tegang dibanding biasanya. Dasi hitamnya sedikit miring akibat terburu-buru mengenakannya di perjalanan. Tatapannya langsung menyapu seluruh area rumah sakit. Beberapa petugas keamanan rumah sakit tampak kebingungan. Perawat berlalu-lalang dengan wajah pucat. Keluarga pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu mulai berbisik-bisik karena

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian

    Clara membeku di tempatnya.Jemari yang sejak tadi menggenggam lengan Raymond perlahan mengendur, seolah seluruh tenaganya menguap dalam sekejap. Wajahnya yang semula masih dipenuhi harapan perlahan kehilangan warna. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar."Apa...?"Bisikan itu begitu pelan hingga nyaris lenyap diterpa embusan angin sore yang melintasi taman belakang mansion.Beberapa langkah di belakang mereka, Bu Eli spontan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Rosario kayu berwarna cokelat tua yang hampir tak pernah lepas dari genggamannya bergetar pelan."Ya Tuhan..."Doa itu meluncur begitu saja dari bibir wanita tua tersebut.Noah, yang berdiri di samping neneknya, mendongak bergantian ke arah wajah semua orang dewasa di hadapannya. Bocah itu belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Namun dari raut wajah mereka, ia tahu sesuatu yang buruk baru saja terjadi.Sementara itu...Raymond masih mematung.Ponsel hitam di tangannya masih menemp

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ken Menghilang

    Barulah Raymond menoleh perlahan. Pandangan mereka bertemu. Di balik ketegasan yang selama ini selalu ditunjukkannya... Clara melihat sesuatu yang sangat jarang muncul. Ketakutan. "Aku tahu..." "...Ken sangat berarti bagimu." Raymond mengembuskan napas panjang. "Dia bukan sekadar bawahanku." Suara itu terdengar berat. Serak. "Hampir separuh hidupku..." "...dia selalu berdiri di belakangku." Tatapannya perlahan menerawang. "Waktu ibuku meninggal..." "...Ken yang berdiri di sampingku." "Saat Antonio Group hampir diambil alih..." "...dia berjaga tiga hari tiga malam tanpa tidur." "Ketika aku ditembak dalam penyergapan beberapa tahun lalu..." Raymond berhenti. Rahangnya mengeras. "Dia yang mendorongku." "Kalau dia terlambat satu detik saja..." "...peluru itu menembus dadaku." Clara merasakan jemari suaminya semakin dingin. "Aku berutang terlalu banyak padanya." bisik Raymond. "Aku bahkan belum sempat membalas semuanya." Air mata perlahan memenuhi pelupuk mata C

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijual Paman, Dibeli Tuan Mafia

    Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Kejam

    Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status