LOGINMansion Antonio tidak pernah terasa sesunyi malam itu.Raymond berdiri di ruang utama dengan foto yang baru saja dikirim oleh nomor tak dikenal masih berada di tangannya.Foto Maria.Terbaring di ranjang rumah sakit.Masih hidup.Selama bertahun-tahun Raymond percaya ibunya meninggal pada malam kecelakaan itu. Ia bahkan sudah menerima rasa kehilangan tersebut sebagai bagian dari hidupnya.Ternyata semuanya adalah kebohongan.Pintu ruang utama terbuka.Charles masuk seorang diri.Wajah pria itu terlihat jauh lebih tua daripada sebelumnya.Raymond langsung menatapnya."Saint Rose."Langkah Charles terhenti.Wajahnya berubah.Raymond tidak membutuhkan jawaban lagi."Kau tahu."Charles menunduk."Maria tidak mati malam itu."Raymond tertawa kecil. Hambar."Jadi benar."Ia berjalan mendekat."Siapa yan
Malam telah berganti ketika Raymond kembali ke mansion.Namun ia tidak tidur.Foto Maria dan seorang anak perempuan itu masih berada di tangannya.Di atas meja ruang kerja, foto tersebut diletakkan berdampingan dengan gelang bertuliskan A.R., dokumen rumah sakit, serta salinan surat Maria yang ditemukan di Gudang Nomor 17.Semua potongan itu seperti bagian dari sebuah teka-teki.Masalahnya, semakin banyak potongan yang ditemukan, semakin sulit Raymond memahami gambarnya.John berdiri di depan layar besar."Rumahnya sudah ditemukan."Raymond mengangkat kepala."Di mana?""Daerah pegunungan sebelah utara. Sekitar dua jam dari sini."John menampilkan foto satelit.Sebuah rumah tua berdiri sendirian di tengah kawasan yang hampir tidak berpenghuni."Rumah itu tidak pernah terdaftar atas nama Antonio.""Pemiliknya?""Nama di dokumen lama adalah seorang per
Raymond menaiki tangga besi menuju lantai dua dengan langkah cepat.Suara sepatu para pengawal terdengar mengikuti dari belakang. John berjalan paling depan, memastikan tidak ada orang yang masih bersembunyi di antara ruangan-ruangan tua itu.Namun pikiran Raymond tidak lagi berada di gudang.Pikirannya tertahan pada satu kalimat dari rekaman Maria.Mulailah dengan mencari anak yang dinyatakan mati.Dan sekarang John mengatakan ada foto Maria bersama Adriana ketika perempuan itu sudah cukup besar untuk berdiri sendiri.Raymond berhenti di depan sebuah pintu kayu."Di sini."John membukanya.Ruangan itu kecil dan berdebu.Tidak ada jendela.Hanya sebuah meja, lemari tua, dan beberapa kardus yang sudah lapuk.Di atas meja terdapat sebuah foto dalam bingkai kaca.Raymond mendekat.Dadanya langsung terasa berat.Maria berdiri di halaman sebuah rumah.Di sampingnya seorang anak perempuan berusia sekitar enam atau tujuh tahun
Raymond masih berdiri di tengah gudang.Foto yang baru saja ditemukan berada di tangannya. Hujan di luar terdengar semakin jelas, menghantam atap seng dengan suara berulang yang membuat suasana terasa semakin menekan.Di dalam foto itu, Maria berdiri di depan sebuah bangunan tua.Wajahnya tampak lebih kurus dibandingkan foto-foto yang selama ini disimpan Raymond. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada perhiasan mewah. Tidak ada senyum yang biasa ia tunjukkan ketika berada di depan keluarga.Di belakangnya berdiri Charles.Ayahnya.Pria yang selama bertahun-tahun diyakini telah meninggal.Raymond mengangkat foto itu lebih dekat ke arah cahaya senter.Charles terlihat berbeda.Bukan karena usia.Melainkan karena ekspresinya.Ia tidak sedang tersenyum kepada Maria. Tatapannya justru mengarah ke sisi lain, seolah-olah sedang mengawasi seseorang yang berada di luar jangkauan kamera.
Hujan turun ketika mobil Raymond memasuki kawasan pelabuhan lama.Bukan hujan deras, tetapi cukup untuk membuat kaca depan kendaraan dipenuhi titik-titik air yang terus mengalir ke bawah. Lampu kota semakin jarang terlihat. Gudang-gudang tua berdiri berjajar di sepanjang jalan, sebagian besar sudah tidak digunakan.Cat pada dindingnya mengelupas.Pintu-pintu besi berkarat.Beberapa lampu penerangan bahkan sudah mati bertahun-tahun.Raymond duduk diam di kursi belakang.Di telapak tangannya, kunci kecil pemberian Elena masih tergenggam erat.Gudang nomor tujuh belas.Tempat itu disebutkan oleh Elena sebagai lokasi terakhir yang berkaitan dengan Maria.Namun Raymond tidak mempercayai Elena sepenuhnya.Tidak setelah mengetahui wanita bernama Adriana telah menjalani operasi untuk menyerupai ibunya.Tidak setelah menemukan dokumen yang menunjukkan Maria sendiri pernah membiayai operasi tersebut.Dan yang paling mengganggunya...Adriana mengaku pernah melihat Maria setelah wanita itu dinyat
Pintu itu terbuka lebar.Cahaya dari lorong masuk ke dalam ruangan yang selama beberapa jam hanya diterangi lampu kecil di atas meja.Ken menyipitkan mata.Tubuhnya masih lemah.Namun wajahnya berubah ketika melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.Ia mengenalnya.Tidak mungkin salah.Wajah itu pernah muncul dalam dokumen lama keluarga Antonio.Pernah ia lihat dalam foto.Pernah ia dengar namanya disebut oleh Raymond.Dan yang paling mengerikan...pria itu seharusnya sudah meninggal."Mustahil..."Ken berbisik.Maria berdiri di samping ranjang dengan wajah pucat.Pria itu masuk perlahan.Tidak membawa senjata.Tidak pula menunjukkan kemarahan.Justru ketenangannya membuat suasana terasa semakin mengerikan."Sudah lama, Ken."Ken menatapnya tajam."Bagaimana mungkin kau masih hidup?"Pr
Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap
Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d
Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan
Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat







