Share

Clara Diculik

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-06 18:04:05

“Ya,” jawab Veronika tanpa ragu. Senyumnya tipis, dingin, seperti pisau yang baru diasah. “Ini tentang Clara.”

Paman Bobi menegang. Tatapannya menelusuri wajah Veronika lebih lama dari yang seharusnya, seolah menarik sesuatu dari masa lalu. “Kita… sepertinya pernah bertemu,” katanya pelan. “Dulu. Lama sekali.”

Veronika menyipitkan mata. Ada kilatan asing di sana. “Aku jarang lupa wajah,” balasnya. “Tapi aku tak ingat—”

“Aku adik Viona,” potong Bobi tiba-tiba. Suaranya serak. “Ibu dari Clara.”

H
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Darah yang Disembunyikan

    Gabriel berdiri beberapa langkah dari makam nomor tujuh belas. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya membuat Raymond langsung waspada. Maria memandang kakaknya dengan mata berkaca-kaca.“Gabriel...” suaranya nyaris berbisik.Pria itu tersenyum tipis. “Sudah lama, Maria.”Raymond maju setengah langkah, menempatkan tubuhnya di depan Clara.“Kau bilang aku harus tahu siapa sebenarnya ayahku.”Gabriel mengangguk. “Dan sebelum kau mendengar jawabannya, kau harus memahami satu hal. Charles bukan pembohong dalam segala hal. Dia hanya menyembunyikan bagian yang paling berbahaya.”Clara menggenggam lengan Raymond. “Maksudnya?”Gabriel menatapnya lama. “Charles adalah ayah yang membesarkan Raymond. Itu tidak pernah berubah. Tetapi darah yang mengalir dalam tubuhnya berasal dari seseorang yang telah lama diburu Ordo Vesper.”Suara tembakan tiba-tiba memecah udara.John menarik Maria ke balik batu nisan, semen

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Makam 17

    Hujan turun tipis ketika Raymond, Clara, Maria, John, Rafael, dan Adrian tiba di pemakaman keluarga Rose. Tempat itu jauh dari pusat kota, dikelilingi pohon-pohon tua dan pagar besi tinggi.Raymond turun dari mobil lebih dulu.“Semua tetap waspada.”John memeriksa sekeliling.“Tidak ada kendaraan mencurigakan.”Rafael menatap gerbang.“Justru itu yang membuatku curiga.”Raymond menggenggam tangan Clara.“Kau tetap di sampingku.”Clara mengangguk.Mereka berjalan melewati deretan batu nisan. Maria berada beberapa langkah di belakang mereka, wajahnya terlihat semakin pucat setiap kali mendekati bagian terdalam pemakaman.Clara memperhatikan ibunya.“Ma, kau yakin makam itu ada?”Maria mengangguk.“Nomor tujuh belas.”Mereka akhirnya menemukan sebuah batu nisan tua.Nomornya hampir tertutup lumut.17.Clara berdiri di dep

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Orang yang Membesarkan Clara

    Ruangan itu mendadak sunyi. Clara menatap Maria dengan wajah pucat. “Orang yang membesarkanku?” Maria mengangguk perlahan. Raymond berdiri di samping Clara. “Siapa?” Maria menatap pria yang masih ditahan John. “Namanya Victor.” Pria itu tersenyum. “Sudah lama sekali nama itu tidak disebut.” Raymond menekan bahunya. “Jelaskan.” Victor tertawa kecil. “Kalian benar-benar tidak tahu apa-apa.” “Bicara.” “Victor bukan nama asli.” Maria mendekat. “Namanya Adrian Victor Hale.” Adrian yang berdiri di dekat jendela langsung menegang. Raymond menoleh. “Kau mengenalnya?” Adrian mengangguk. “Dia kakakku.” Clara membeku. Raymond mem

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Nama di Balik Nama

    Raymond memegang dokumen lama yang mencantumkan nama John. Tatapannya berpindah dari kertas kepada pria yang berdiri di hadapannya.John tidak bergerak.“Tuan,” katanya akhirnya, “saya tidak pernah melihat dokumen itu.”Raymond mengangkat tangan.“Aku tahu.”Clara menatap Raymond.“Kau percaya padanya?”“Kalau John ingin mengkhianatiku, dia sudah melakukannya sejak lama.”Adrian mengambil dokumen itu.“Nama ini bukan bukti bahwa John pengkhianat.”“Lalu apa?”Adrian menunjuk tanda kecil di samping nama tersebut.“Lihat simbolnya.”Ada lambang berbentuk tiga garis yang saling bertemu.Rafael langsung mengenalinya.“Itu tanda jaringan lama.”“Jaringan apa?”“Ordo Vesper.”Maria menutup mata.“Kukira mereka sudah hilang.”Adrian menggeleng.“Mereka tidak pernah hilang. Mereka hanya mengganti nama.”John bertanya, “Apa hubungannya dengan saya?”“Nama John digunakan sebagai identitas sandi.”Raymond mengerutkan kening.“Jadi bukan nama orang?”“Bukan.”Adrian mengambil lembar kedua.“John

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Nama yang Dihapus

    Mobil berhenti di sebuah rumah kecil yang tersembunyi di balik deretan pepohonan. Adrian memastikan tidak ada kendaraan mengikuti mereka sebelum membuka pintu.Raymond turun lebih dulu."Masuk."Clara mengikuti Maria, sementara John membantu Rafael yang masih menahan sakit di bahunya. Adrian menjadi orang terakhir yang masuk.Begitu pintu terkunci, Raymond langsung berbalik."Mulai sekarang tidak ada lagi rahasia."Maria menatap anaknya."Aku tahu.""Adrian bilang kau menyembunyikan identitas Clara sejak delapan belas tahun lalu."Maria menghela napas."Karena saat itu Clara masih kecil.""Kenapa Charles terlibat?"Maria terdiam cukup lama."Karena ayahmu menemukan dokumen yang membuktikan seseorang sedang menghapus nama Clara dari catatan keluarga."Clara mengerutkan kening."Menghapus namaku?"Maria mengangguk."Namamu pernah terc

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Orang di Balik Pintu

    Gagang pintu bergerak perlahan.Klik.Raymond langsung berdiri di depan Clara dan Maria, sementara John mengangkat senjata ke arah pintu. Rafael, meski bahunya masih dibalut kain darurat, mengambil posisi di sisi jendela.Pintu terbuka sedikit.Sosok seorang pria muncul dari balik kegelapan.Raymond langsung mengenal wajah itu.Pria itu tersenyum tipis."Sudah lama, Raymond.""Adrian."Maria menutup mulutnya.Nama itu membuat wajahnya kehilangan warna.Raymond menoleh cepat."Kau mengenalnya?"Maria tidak menjawab.Adrian masuk sambil mengangkat kedua tangan."Aku tidak datang untuk menembak siapa pun.""Berhenti di sana."Raymond mengarahkan pistol tepat ke dadanya.Adrian berhenti."Kalau kau ingin membunuhku, lakukan setelah mendengar penjelasanku.""Aku tidak punya alasan untuk mendengarkan.""Kau punya."Adrian menatap Maria."Karena ibumu tahu siapa yang sebenarnya memulai semua ini."Maria menatapnya tajam."Jangan sebut dia."Adrian tersenyum pahit."Masih sama. Bahkan setelah

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijual Paman, Dibeli Tuan Mafia

    Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status