ログインPria itu menelan ludah. Matanya liar, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat seolah setiap detik adalah batas terakhir hidupnya. “S-Sella…” Nama itu akhirnya keluar. Rahang Raymond langsung mengeras. Otot di wajahnya menegang, dan urat di pelipisnya terlihat jelas. Nama itu seperti percikan api yang jatuh ke dalam bahan bakar. "Sella," ucapnya pelan sambil mengepalkan tangan. “Lanjutkan,” suara Raymond rendah. Berbahaya. Pria itu tersedak napasnya sendiri. “D-dan… satu lagi... Dia... Dia—" DOR! Suara tembakan pecah di dalam ruangan—keras dan menggelegar. Kepala pria itu tersentak ke belakang. Tubuhnya kaku—lalu lunglai. Seketika darah segar mengalir dari dahinya. Pria itu mati saat itu juga. Selama beberapa detik—tidak ada yang bergerak. Raymond membeku sepersekian detik, lalu matanya langsung menyipit tajam. “Ada penembak!” salah satu anak buah berteriak. Raymond langsung menoleh ke atas—ke arah ventilasi besar di sudut ruangan. Dan di sana—ia menangkap sesosok bayang
Ken tidak membuang waktu. Dengan gerakan kasar, ia dan dua orang petugas keamanan menyeret pria pelaku itu ke arah mobil. Tangan pria itu sudah terikat ke belakang, wajahnya penuh keringat, matanya liar dipenuhi ketakutan. Sepatu pria itu terseret di lantai, meninggalkan bunyi gesekan yang parau dan putus asa. Petugas keamanan membantu, memegang bahunya dengan cengkeraman kuat. “Lepaskan aku! Aku mohon! Aku hanya disuruh—aku tidak tahu apa-apa!” teriaknya panik, suaranya pecah. Ken bahkan tidak menoleh, ia membuka pintu mobil dengan kasar. Brak! Tubuh pria itu dilempar ke kursi belakang tanpa belas kasihan. Kepalanya hampir membentur pintu, napasnya tersengal hebat. “Aku mohon! Jangan bawa aku ke sana! Aku tahu siapa kalian—aku tahu!” suaranya semakin histeris. Ken duduk di kursi kemudi dengan rahang yang mengeras. Tangannya menyalakan mesin dengan gerakan tegas. Tanpa emosi. Tanpa ragu. Ia mengangkat ponsel, lalu menekan satu nomor. “Siapkan tempat eksekusi,” ucapnya singk
Semua terjadi begitu cepat. Cairan itu melesat di udara—berkilat singkat di bawah cahaya siang—menuju wajahnya, menuju tubuhnya… menuju sesuatu yang tak akan bisa ia hindari. Namun—di antara detik yang terlalu sempit untuk berpikir—sebuah bayangan bergerak dengan cepat, pasti dan tanpa keraguan—Raymond. Pria itu baru saja turun dari mobilnya ketika instingnya menangkap sesuatu yang salah. Gerakan motor itu, cara pengendara itu mengangkat tangan, kilatan botol kecil di udara. Ia tidak banyak berpikir, ia langsung bertindak. Dalam satu langkah panjang, ia meraih Clara—menariknya kuat ke dalam pelukannya. Tubuhnya berputar membalikkan posisi mereka, menempatkan dirinya sebagai tameng. Dan—cairan itu mendarat di punggungnya. Ssssss—suara mendesis terdengar jelas. Seperti sesuatu yang hidup sedang terbakar. Asap tipis langsung mengepul dari jas hitam mahal yang ia kenakan. Kain itu seolah meleleh perlahan, berubah bentuk, rusak dalam hitungan detik. Raymond mengepalkan rahangnya.
Jantung Clara berdegup kencang, ia merasa seolah ada sepasang mata yang menempel di punggungnya, mengikuti setiap langkahnya… tanpa suara. Perlahan Clara menoleh lagi. Di belakang kosong, tidak ada siapa-siapa—namun justru itulah yang membuat rasa takut itu tumbuh lebih besar dan lebih nyata Napasnya memburu. “Tenang… tenang…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, meski jari-jarinya mulai bergetar. Namun langkahnya—tanpa ia sadari—semakin cepat. Tap… tap… tap… Sepatunya beradu dengan lantai lorong yang panjang dan sepi. Lalu—tap… tap… suara itu datang lagi mengikuti. Clara membeku sejenak, darahnya seperti mengalir lebih dingin. Tanpa berpikir panjang—ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Pintu keluar terlihat di depan. Cahaya dari luar memanggil seperti satu-satunya jalan selamat. “Aku harus segera keluar…” gumamnya dengan suara bergetar. Dan begitu ia melewati pintu—udara luar langsung menyentuh wajahnya. Namun ia
Srrreeeettttt—!!! Suara decitan ban memekakkan telinga, seperti jeritan yang merobek udara siang itu—mobil hitam itu berhenti mendadak. Tubuh Raymond terdorong ke depan, bahunya hampir menghantam kursi depan. Namun refleksnya cepat—tangannya menahan, rahangnya mengeras, napasnya tertahan dalam satu detik. "Maafkan saya, Tuan," ucap Ken cepat. Sementara itu di depan mobil—Noah berdiri membeku. Tubuh mungil itu kaku, kakinya terpaku di aspal dan matanya terbelalak lebar, memantulkan ketakutan yang masih belum sempat ia pahami sepenuhnya. Mulutnya sedikit terbuka, ia ta bersuara dan tak bergerak sedikitpun. “Noah!!” Teriak Bibi Janeta. Wanita itu berlari dengan napas tersengal, ia hampir jatuh karena terburu-buru. Tangannya gemetar saat meraih tubuh kecil Noah, ia memeluknya erat. “Kamu tidak apa-apa, nak? Kamu tidak apa-apa?!” suaranya pecah, penuh kepanikan yang tak bisa disembunyikan. Noah tetap diam dengan tatapannya yang polos. Ia masih terpaku pada mobil di depannya.
Napas Clara tercekat. Dalam satu gerakan refleks, ia berbalik cepat. Tubuhnya menegang, mulutnya sudah hampir terbuka untuk berteriak— Namun—sebuah tangan besar langsung menutup mulutnya. Hangat, kuat, dan tak memberi ruang untuk suara keluar. “Jangan berteriak.” Suara itu rendah namun dalam. Clara membeku, kedua mata indahnya terbelalak lebar. Raymond—pria itu berdiri tepat di depannya—begitu dekat hingga Clara bisa merasakan hangat napasnya menyentuh kulit wajahnya. Hampir tidak ada jarak di antara mereka. Deg. Jantung Clara berdetak liar dan tak beraturan. Setiap detak terasa keras di telinganya sendiri. Ia mengangguk cepat dengan panik. Raymond menatapnya sejenak—lalu perlahan menurunkan tangannya. Namun tatapan Raymond justru refleks turun ke arah buah dada Clara di balik bra hitam. Clara tersentak—wajahnya langsung memerah. Dengan gerakan cepat dan canggung, ia mengambil seragamnya, menutup tubuh bagian depannya dengan tangan gemetar. “Kenapa Anda ke sini, Tuan?”