เข้าสู่ระบบhai teman2.. au terpaksa masukkin juga kisah siena dan jacob kerana agak sulit untuk aku edit tampa watak mereka, jadi kalian yang mengikuti kisah siena dan jacob pasti ngerti lah ya jalan ceritanya. aku cuma mau nyambung kisah benny dan wanda hingga selesai, kerna aku peminat kisah benny dan wanda. hehe
Kompromi?Sejak kapan dia pernah mengalah? Bagaimana mungkin pria itu bisa mengucapkan kata-kata itu tanpa sedikit pun perubahan di wajahnya?Zoey mendadak kehabisan kata-kata. Bagaimana caranya berkomunikasi dengan pria seperti ini—diktator, egois, dan sama sekali tak peduli pada perasaannya?Wajahnya seketika pucat. Tapi mengingat Nolan ada di luar, ia tak bisa berteriak sekeras yang ia inginkan. Ia harus menekan emosinya dan mencoba bicara dengan logika… dan hati."Kau bersusah payah membawa Nolan ke sini untuk masuk taman kanak-kanak, dan sekarang kau ingin membawanya kembali? Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaan dia? Atau di dunia Tuan Haskins, hanya perasaanmu saja yang penting?"Bulu mata Fitch menunduk, hampir menyentuh ekspresi dingin di wajah Zoey. Ia tersenyum miris."Apa pun yang kulakukan, kau tetap tak akan pernah menyukaiku."Ia melepaskannya, lalu berbalik kembali ke wajan di atas kompor.Zoey menatap punggungnya. Nada suaranya mulai melembut, tak lagi penuh ama
Namun, dia tak punya pilihan selain menuruti. Zoey takut jika terus melawan, Fitch benar-benar akan mengambil tindakan yang lebih jauh.Menarik napas dalam-dalam, ia membuka halaman secara acak dan mulai membaca lantang. Suaranya dingin, tanpa emosi.Namun, mendengar suara itu, Fitch justru merasakan ketenangan menyelimuti dirinya. Aroma tubuh Zoey masih tercium samar di ujung hidungnya, membuatnya tersenyum tipis. Ia menariknya lebih dekat ke dalam pelukannya.Mereka duduk diam di sana, saling mendekap tanpa sepatah kata pun.Zoey terus membaca, mengulang-ulang kalimat yang sama hingga rasa kantuk mulai merayap ke tubuhnya sendiri. Hari itu terlalu berat, dan setelah tegang sepanjang waktu, kini ketika tubuhnya mulai rileks, kelopak matanya pun mulai terasa berat.Suaranya makin lama makin pelan… hingga akhirnya benar-benar menghilang.Fitch bangkit perlahan, dengan lembut mengambil buku dari tangannya dan membaringkannya di atas tempat tidur.Dia telah tertidur lelap, meski kelop
Fitch menatap saat air mata mengalir di wajah Zoey, duka yang terlukis dalam jejak basah di pipinya—pemandangan yang terasa asing namun memikat. Pernahkah dia menangis seperti ini di hadapannya sebelumnya? Sebagian besar waktu, rasa sakitnya adalah pertempuran sunyi, hanya disampaikan melalui sorot mata yang tajam dan penuh beban. Cinta dan keluh kesah tersembunyi dalam sorot matanya, namun jarang sekali air mata yang mengiringinya.Kini, saat ia terbaring sambil terisak di atas ranjang, Fitch merasakan campuran empati dan kegembiraan yang ia tahu tidak seharusnya ada—rasa puas yang memalukan karena hanya dirinya yang mampu membuatnya sampai di titik ini. Begitulah selalu sejak dulu, dan tampaknya, tak ada yang benar-benar berubah.Aura gelap yang mengelilinginya perlahan memudar. Ia menarik diri, menahan diri dari niat yang lebih jauh.Tepat saat Zoey mulai merasa sedikit lega, ia merasakan tangan Fitch menekan melalui lapisan kain—sentuhan itu seperti gelombang kejutan yang menj
Fitch tak memberinya satu pun tatapan, hanya langsung mengangkatnya dan melangkah naik ke lantai atas.Setibanya di kamar paling ujung, Zoey melihat bahwa ruangan itu telah didekorasi ulang sepenuhnya. Semuanya tampak baru.Udara dipenuhi aroma samar, mungkin dari disinfektan mewah kelas atas.Tampaknya obsesinya terhadap kebersihan benar-benar berlebihan.Terjerat dalam jaringnya yang tak kasatmata, dia mendapati dirinya lumpuh oleh ketakutan, tak mampu mengumpulkan kehendak untuk melawan.Saat dia dibaringkan di atas ranjang, pikirannya berdengung, dan secara naluriah dia mencoba bangkit.Namun Fitch menahannya dan menciumnya dengan kasar.Pikiran Zoey dilanda kekacauan, seolah-olah gelombang pasang menghantamnya, mengancam untuk menenggelamkannya.Dia mencoba meronta, tetapi dengan mudah tangannya ditangkap hanya dengan satu tangan Fitch.Dia merasa seperti ikan di atas talenan—tak berdaya sepenuhnya.Saat dia memaksa membuka mulutnya, Zoey menggigit lidahnya dengan marah, namun pr
Udara di ruang tamu terasa berat, seolah membeku. Tak ada satu pun kata terucap dari bibir Zoey maupun pria yang duduk di hadapannya.Dari sudut pandang Zoey, tidak ada sedikit pun rasa hangat yang bisa ia arahkan pada pria itu. Kehadiran Fitch yang mendadak di Zion City telah mengacaukan seluruh kehidupannya. Ia hanya ingin membicarakan pertunangannya dengan Henry secara tenang dan rasional—sebuah langkah menuju hidup yang sederhana dan damai.Tapi semua itu berubah sejak Fitch muncul. Sejak saat itu, dunia terasa seperti diputarbalikkan.Fitch mematikan rokoknya dengan gerakan perlahan namun dingin. Di kepalanya, bayangan Zoey yang berdiri di depan Henry, melindunginya tanpa ragu, berulang kali terputar. Matanya menegang, dan sorotnya mengeras—berbahaya.“Zoey,” suaranya terdengar tajam. “Kau dan Henry… kalian sudah tidur bersama?”Zoey sempat mengira ia salah dengar. “Maaf?”“Sudah?” desaknya lagi.Jari-jarinya mulai bergetar, bukan karena takut, tapi karena marah. “Itu buka
Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari saat wajah Fitch berubah kelam—bukan sekadar marah, melainkan menyeramkan, bagaikan bayangan pekat yang mengancam akan melahap segalanya di sekitarnya. Ia berdiri diam, dikelilingi aura gelap yang membuat udara terasa tegang dan menyesakkan.Zoey, yang masih terombang-ambing oleh emosi, tak tahu harus berkata apa. Perkataan Henry memang menyentuh hatinya, membuatnya bimbang… tapi di balik itu semua, ada rasa tidak nyaman yang makin menggerogoti hatinya. Jauh di lubuk hati, ia sadar—hubungannya dengan Henry belum cukup dalam. Ia belum yakin."Henry..." ucapnya lirih.Namun ia tak sempat menyelesaikannya.Fitch tiba-tiba berpaling ke arah para bodyguard dan membentak, suaranya tajam dan menusuk, "Apa kalian sudah mati!"Dalam hitungan detik, para pengawal bergerak cepat dan menggiring Henry pergi."Fitch!" Zoey menjerit, panik. "Apa yang akan kau lakukan padanya?! Ini negara hukum—jangan bertindak sembrono!"Fitch tak menjawab. Ia hanya me







