LOGINAlarm menunjukkan pukul 04.00.Aku langsung melompat dari tempat tidur. Jantungku berdegup kencang. Hari ini adalah hari pertama ospek di Universitas Tujuh Belas Agustus.Tanganku segera meraih tas ransel yang sudah kusiapkan sejak malam.Isinya serba aneh.Sebuah botol bekas berisi air minum diberi label bertuliskan, “Hewan yang bersaudara dan tidak pernah akur.”Aku memicingkan mata.Di dalam tas juga ada kotak makan berisi mi goreng, telur mata sapi, dan nasi putih. Pada penutupnya tertempel label lain.“Kenapa burung harus terbang?”Aku mengembuskan napas panjang.Entah apa maksud teka-teki dari para kakak tingkat itu. Semalaman aku bahkan hampir tidak bisa tidur hanya untuk menebak jawabannya.“Jangan sampai ada yang tertinggal.”Aku kembali memeriksa isi tas satu per satu.Pukul 06.00, gerbang kampus sudah dijaga ketat.Para kakak tingkat berwajah galak mengenakan jas almamater dengan papan bertuliskan PANITIA di dada. Mereka berdiri berbaris rapi di sepanjang pintu masuk.“Cepa
“Bonjour, Madame. Bagaimana dengan secangkir kopi?”Aku tersentak.Seorang pria berjaket hitam sudah berdiri di depan pintu. Sebelum sempat kupersilakan masuk, ia melangkah santai melewati ambang pintu.“Kapan tiba di Jakarta?”“Kemarin sore.” Ia menatapku sejenak. “Aku ingin meneleponmu, tapi kupikir lebih baik menemuimu langsung.”“Kopi?” Ia kembali mengangkat alis, menunggu jawabanku.Aku mengembuskan napas pelan.“Aku rasa aku perlu itu sekarang.”Aku berdiri dari kursi, lalu mengambil blazer yang tersampir di sandaran kursi.Lima belas menit kemudian, kami sudah duduk di sebuah kafe yang cukup ramai.Dindingnya dihiasi perpaduan warna kuning mustard dan jingga kemerahan. Lampu-lampu berbahan logam antik menggantung di langit-langit.Aku memilih sofa kulit berwarna cokelat tua di dekat jendela besar. Dari tempatku duduk, kendaraan yang melintas di jalan raya terlihat bergerak tanpa henti. “Tempat ini mengingatkanku pada lima tahun lalu. Sebuah rumah dengan gaya Retro di Br
Tiga jam sebelumnya.Aku duduk sendirian di dalam mobil.Mesin mobil telah lama mati. Aku membuka sebuah kontak tanpa nama yang hanya berisi deretan angka.Tanpa ragu, jemariku mulai mengetik.Aku butuh bantuan untuk membuat seseorang takut.Kukirim pesan itu.Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar.Layar kembali menyala.Siapa orangnya?Aku mengangkat kepala.Dari balik kaca depan, gedung terminal masih bermandikan cahaya lampu proyek. Siluet para pekerja sesekali melintas.Tatapanku berhenti pada bangunan itu.***Siang itu, aku memasuki kantor polisi.Suasana di dalam terasa sibuk. Beberapa petugas berjalan cepat melewati lorong, sementara suara percakapan dan dering telepon terdengar bersahutan dari beberapa ruangan.Aku sempat melihat seorang petugas membawa setumpuk berkas di tangannya. Di sisi lain, dua orang duduk menunggu dengan wajah tegang. Aku mengikuti sipir yang mengantarku menuju ruang kunjungan.Sudah setengah jam aku menunggu.Akhirnya, suara langkah kaki terdenga
Di antara pandangan yang mulai kabur, kulihat sorot lampu sepeda motor berhenti beberapa meter dariku. Seorang pria berjaket kulit melompat turun. Aku mengenali sosok itu."Naomi!"Suara itu terdengar begitu jelas di telingaku. Belum sempat aku menjawab, ia sudah menerjang pria yang berjalan ke arahku.Bruk!Suara benturan terdengar disusul umpatan dan langkah kaki yang saling berkejaran."Brengsek!"Brak!Bayangan mereka saling beradu di hadapanku.Tak lama kemudian, suara derap kaki lain berdatangan dari arah bangunan."Ada apa ini?""Telepon polisi!""Panggil ambulans! Cepat!"Suara-suara itu terdengar semakin samar. Kelopak mataku semakin berat.***Malam itu, aku berdiri di depan ruang observasi. Melalui celah kaca di pintu, kulihat seorang perawat sedang memeriksa tekanan darahnya.Mama Naomi duduk beberapa kursi dariku. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Bibirnya terus bergerak pelan, melantunkan doa yang nyaris tak terdengar.Aku mengembuskan napas panjang.B
Aku mengetuk pintu kamar.“Masuk,” terdengar sahutan lirih dari dalam.Aku memutar kenop pintu perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.Lampu kamar hanya menyala redup. Ines bersandar di kepala ranjang dengan piyama bermotif polkadot merah muda.“Kamu sakit, Nes?”Aku melangkah mendekat, lalu menarik kursi di samping ranjang.Belum sempat kudengar jawabannya, Ines tiba-tiba bergeser mendekat.“Erul...”Kedua lengannya langsung melingkari pinggangku.“Aku sakit, Rul.”Aku terdiam di tempat, membiarkan kedua tanganku menggantung canggung di udara tanpa membalas pelukannya.Aku menempelkan punggung tangan ke dahinya.“Keningmu dingin,” kataku datar.Aku menarik tangan kembali.“Kamu tidak demam, kok.”Ines hanya menunduk.Pandanganku beralih ke semangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis di atas meja rias.Aku mengambil mangkuk itu, lalu kembali duduk di samping ranjang.Aku menyendok sedikit bubur hangat, lalu menyodorkannya ke depan bibirnya.“Buka mulut,” ujarku pelan.Ines men
Aku berjalan menyusuri koridor ruang airline yang belum selesai direnovasi. Langkah sepatuku memantul pelan di lantai beton yang masih dipenuhi debu halus.Layar ponselku menyala.Erul"Naomi, aku lambat ke lokasi proyek. Ada urusan mendadak.""It's okay.""Kalau urusan di sini kelar, aku pasti langsung ke sana.""Jangan dipikirkan."Aku memasukkan ponsel ke saku rompi.Malam ini terasa jauh lebih sunyi dibanding jadwal lembur biasanya. Suara gerinda yang sejak sore memenuhi bangunan kini tinggal terdengar sesekali.Di sisi timur, beberapa teknisi elektrikal masih berdiri di atas scaffolding, memasang fitting lampu. Di sisi lain, beberapa pekerja membongkar pelat lantai dari lantai dua. Selebihnya, area proyek mulai kosong."Tidak ada pekerjaan arsitektur malam ini," gumamku pelan.Aku menghampiri seorang mandor yang sedang mengawasi para pekerja membereskan peralatan."Pak, rencananya lembur sampai jam berapa?""Tidak lama, Bu. Jam delapan sudah selesai. Tim lain juga sudah mulai ber







