Share

Chapter 07

Author: Aamz Kyure
last update Last Updated: 2026-01-12 11:41:43

Biar saja Juwita lihat sendiri kelakuan putri yang selalu dibangga-banggakan, kalau bisa mereka berdua harus ribut agar suasana semakin memanas.

“Jangan ngada-ngada kamu, sekarang ini Nilam sedang sibuk mencari kerja.” Suara Juwita terdengar agak sewot.

“Beneran loh Ma, mirip banget sama Nilam. Dia lagi cium pipi aki-aki, benar-benar gila,” ujar Ajeng.

“Mana ada–” Juwita mengikuti arah pandang Ajeng. ‘Itu Nilam?’

“Meskipun agak mirip–”

“Bukan mirip lagi, tapi itu memang Nilam.” Ajeng dengan cepat memotong ucapan Juwita. “Ayo kita samperin dia.”

“Kita cuma salah lihat, itu bukan Nilam.” Juwita masih saja denial.

Juwita tidak bisa menerima fakta bahwa putrinya yang sarjana itu berkencan dengan aki-aki yang bahkan usianya lebih tua dibanding Juwita.

‘Keburu si Nilam kabur kalau seperti ini caranya.’ Ajeng langsung menghampiri Nilam, masabodo dengan Juwita.

“Ajeng mau kemana kamu?” Juwita dengan cepat langsung menyusul Ajeng.

“Nilam? Katanya lagi cari kerja, tapi malah pacaran di sini,” celetuk Ajeng.

Ekskresi Nilam langsung pucat kala matanya bertemu dengan mata milik Juwita. “Mama … aku–”

“Tuh kan, memang Nilam. Kita sempat ngira kalau kita salah lihat,” potong Ajeng.

“Nilam, kamu ….” Dalam sekejap Juwita kehilangan kata-kata, bisa-bisanya Nilam melakukan hal seperti itu di belakangnya.

‘Kamu-kamu apa? Langsung gampar, nggak usah pakai basa-basi.’ Ajeng gregetan sendiri.

Selama ini Nilam bisa menyembunyikan semuanya dengan rapat, tapi siapa sangka Nilam akan berakhir bertemu dengan Juwita di situasi seperti ini.

Sementara pria tua yang bersama dengan Nilam tampak bingung, pria tua itu masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

“Mbak Ajeng jebak aku.” Nilam tiba-tiba menunjuk Ajeng membuat Ajeng sampai tercengang.

“Jadi ini alasan kamu ajak saya ke mall? Kamu mau adu domba saya sama Nilam?” Juwita langsung menuduh Ajeng yang tidak-tidak.

Kening Ajeng sedikit berkerut. “Hah?”

“Aku nggak kenal sama dia.” Nilam mendorong pria tua itu. “Dia pasti orang yang disewa Mbak Ajeng buat merusak nama baikku.”

Ajeng bertepuk tangan pelan. “Kamu yang jual diri, aku yang kamu tumbalkan.”

“Dian kamu!” tandas Juwita. “Bisa ya kamu melakukan hal seperti itu ke adik ipar kamu.”

Jantung Nilam berdebar, takut semuanya akan terbongkar begitu saja. Nilam sendiri reflek menuduh Ajeng, Nilam tidak menyangka kalau Juwita akan langsung percaya.

Karena sudah seperti ini Nilam lebih baik ikut alur saja, perempuan itu juga sempat memberikan kode pada pria tua yang ada di dekatnya.

“Haekal harus tahu kelakuan kamu.” Juwita menunjuk Ajeng dengan ekspresi yang masih marah.

“Udah Ma, nggak perlu diperpanjang. Aku udah memaafkan Mbak Ajeng.” Nilam berlagak sok baik. “Kalian lebih baik pulang.”

“Nggak enak ribut disini, dilihat banyak orang,” lanjut Nilam.

“Wah.” Ajeng tidak percaya ini. “Apa yang perlu dimaafkan? Kalian berdua jelas berkencan.”

“Kamu yang memberi saya uang agar saya menggoda perempuan yang namanya Nilam itu.” Pria tua itu tiba-tiba mengeluarkan suara.

***

•Di kantor•

Perempuan yang baru bekerja menjadi sekretaris CEO itu namanya Indah, Haekal pun mengirim pesan pada asistennya.

Haekal : [Cari tahu soal perempuan yang namanya Indah Kirana]

Perempuan bernama Indah itu tiba-tiba menghampiri Haekal. “Hai, namaku Indah.”

“Haekal.” Haekal hanya menatap uluran tangan Indah.

‘Sangat sombong, tapi dia tampan.’ Indah pun akhirnya perlahan menurunkan tangannya. “Kamu apa? Manager di perusahaan ini?”

“Kamu lebih baik mulai bekerja.” Haekal tidak mau melakukan basa-basi yang tidak bermutu.

Haekal memang selalu bersikap dingin dengan perempuan lain, terlebih Haekal tidak punya alasan untuk bersikap baik pada Indah.

Beberapa karyawati menghampiri Indah, mereka tentu ingin dekat dengan Indah karena karena Indah adalah kerabat Mr. Aj.

“Pak Haekal memang seperti itu orangnya, cuek.”

“Katanya sih Pak Haekal udah punya istri, nggak tahu itu benar atau cuma gosip.”

“Lagipula siapa sih yang nggak mau menikah dengan pria setampan Pak Haekal?”

“Tapi kalau memang punya istri, keren ya istrinya. Bisa buat Pak Haekal yang cuek begitu luluh sama dia.”

‘Aku sepertinya suka sama dia.’ Indah menatap Haekal cukup lama.

“Kalian mau terus mengobrol? Nggak kerja?” Haekal menatap beberapa orang yang berkumpul.

•Jam makan siang•

“Mau makan siang bareng?” Indah menghampiri Haekal.

“Saya bawa bekal,” sahut Haekal.

“Aah.” Indah mengangguk pelan, perempuan itu menatap CEO perusahaan yang ada di sampingnya agar membantunya.

“Indah baru disini, nggak enak kalau nolak dia. Apalagi dia kerabatnya Mr. Aj, kamu pergi makan siang sama dia,” ujar pria bernama Randy yang menjadi CEO di perusahaan itu.

“Menyalahgunakan relasi?” sarkas Haekal.

“Kamu mau dipecat?” sahut Randy.

Randy seperti CEO seharusnya lebih tegas dan tahu mana yang lebih benar, bukan ikut-ikutan cari muka seperti karyawan yang lain.

“Pak Randy sendiri nggak takut dipecat? Bagaimana kalau Mr. Aj tahu Pak Randy menyalahkan gunakan kekuasaan?”

“Kamu–” Randy tiba-tiba kehilangan kata-kata.

“Pak Haekal seharusnya nggak berbicara seperti itu pada Pak Randy, nggak masalah kalau Pak Haekal nggak mau makan siang sama saya,” ujar Indah.

“Kalian berdua bisa makan bersama.” Haekal pun akhirnya pergi.

‘Dia pasti berlagak cuek biar aku tertarik.’ Indah menatap kepergian Haekal.

“Apa aku pecat aja dia?” Randy tampak kesal.

“Katanya kerja Pak Haekal selalu bagus, sepertinya Pak Randy nggak punya alasan yang bagus untuk memecat Pak Haekal,” terang Indah.

***

Malam harinya Nilam masih berusaha membujuk Juwita agar Juwita tidak mengatakan apapun pada Haekal, Nilam sangat gelisah.

“Udah lah Ma, Mas Haekal pasti capek. Mama jangan menambah beban pikiran Mas Haekal,” ucap Nilam.

“Haekal harus tahu kelakuan istrinya,” tekan Juwita.

Juwita tidak akan melepaskan Ajeng begitu saja. “Perempuan itu bahkan nggak mau minta maaf sama kamu setelah berulah.”

“Untung kamu baik-baik, bagaimana kalau pria tua itu melakukan hal yang lebih pada kamu?” Juwita tidak sanggup membayangkannya.

Ajeng berdiri di tangga dengan ekspresi nyinyir, telinga Ajeng rasanya sakit karena Juwita terus saja mengoceh sejak siang tadi.

Rencana Ajeng tidak sepenuhnya berhasil, Nilam sangat ahli dalam mengeles dan menjadikan Ajeng sebagai pihak yang tertuduh.

“Adik ipar, kamu lebih baik jujur.” Ajeng menuruni tangga.

“Diam kamu!” sergah Juwita. “Kamu meminta maaf atau mau berlutut sekalipun, saya nggak akan mau maafin kamu.”

“Terserah.” Ajeng tampak acuh.

“Apa kita bisa berhenti membahas yang tadi?” Nilam tidak akan membiarkan mereka bilang apapun pada Haekal.

“Bangkai pasti akan cepat kecium busuknya,” ucap Ajeng dengan suara yang kelewat tenang.

“Kamu ini nggak tahu diri ya?” Juwita akhirnya berdiri karena sudah tidak bisa lagi menahan emosi.

Juwita beralih menatap ke arah pintu. “Haekal akhirnya kamu pulang.”

Juwita tidak sabar membuat Haekal tahu kelakuan Ajeng, selama ini Haekal terus saja membela Ajeng. Tapi kali ini Ajeng telah melakukan hal jahat pada Nilam.

“Maaaa ….” Nilam meraih lengan Juwita sambil menggeleng pelan.

Bersambung….

ini ada yg baca sih? siapapun yg baca cerita ini tolong tinggalkan komentar

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 09

    Ajeng mendengus lucu, perempuan yang tiba-tiba datang itu terlihat sok ramah. Dan yang jelas dia kelihatannya sedang mengincar Haekal.“Aku bekerja sebagai sekretaris CEO, senang bisa mengenal kakak kamu.” Ajeng masih mempertahankan senyumnya.“Tapi dia bukan kakakku, dia suamiku,” tekan Ajeng, biarkan saja Indah merasa malu.Indah tertawa pelan. “Banyak adik yang melakukan hal seperti itu, biar nggak ada perempuan yang mendekati kakaknya.”“Sepertinya kamu tipe adik yang takut kakaknya punya pacar karena perhatiannya pasti akan terbagi,” lanjut Indah.Ekspresi Ajeng terlihat nyinyir, tidakkah mata Indah melihat cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Ajeng? Indah punya muka yang sangat tebal.“Dia benar-benar istri saya.” Haekal menatap dingin Indah.“Kamu sangat memanjakan adik kamu.” Indah masih tidak mempercayainya.“Apa kita berdua harus bercium*n dulu di depan kamu biar kamu percaya?” sarkas Ajeng.“Hah? Kalian–”“Kamu bisa pergi? Saya ingin makan malam bersama dengan istr

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 08

    Ajeng berdecih pelan, beginilah nasib punya ibu mertua dan adik ipar yang jauh dari kata idaman. Kalau tidak kuat mental, jelas tertekan.“Kamu nggak usah belain orang yang udah jahat sama kamu.” Juwita menyingkirkan pelan tangan Nilam.“Hm.” Ajeng mengangguk santai. “Nggak usah lah kamu bela-bela aku.”“Lihat sendiri kan kelakuan dia.” Juwita menatap Ajeng dengan ekspresi yang kelewat geram.“Maaa udahlah, nggak usah dilanjut–”“Udahlah apa? Nggak usah udah-udah, cepat cerita. Atau perlu aku wakilin? Lama deh.” Ajeng memotong ucapan Nilam.Haekal hanya bisa menatap mereka dengan ekspresi bingung, pria itu mencoba memahami apa yang sedang mereka bicarakan.“Cerita soal apa?” Haekal akhirnya mengeluarkan suara.“Itu istri kamu, dia sewa pria tua buat melakukan hal yang nggak-nggak ke Nilam,” celetuk Juwita.“Nggak perlu terlalu dipikirin ucapan Mama, aku udah maafin Mbak Ajeng,” sahut Nilam.“Aku nggak perlu maaf darimu, orang kamu yang obral sana-sini kok malah aku yang disalahkan.” A

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 07

    Biar saja Juwita lihat sendiri kelakuan putri yang selalu dibangga-banggakan, kalau bisa mereka berdua harus ribut agar suasana semakin memanas. “Jangan ngada-ngada kamu, sekarang ini Nilam sedang sibuk mencari kerja.” Suara Juwita terdengar agak sewot. “Beneran loh Ma, mirip banget sama Nilam. Dia lagi cium pipi aki-aki, benar-benar gila,” ujar Ajeng. “Mana ada–” Juwita mengikuti arah pandang Ajeng. ‘Itu Nilam?’ “Meskipun agak mirip–” “Bukan mirip lagi, tapi itu memang Nilam.” Ajeng dengan cepat memotong ucapan Juwita. “Ayo kita samperin dia.” “Kita cuma salah lihat, itu bukan Nilam.” Juwita masih saja denial. Juwita tidak bisa menerima fakta bahwa putrinya yang sarjana itu berkencan dengan aki-aki yang bahkan usianya lebih tua dibanding Juwita. ‘Keburu si Nilam kabur kalau seperti ini caranya.’ Ajeng langsung menghampiri Nilam, masabodo dengan Juwita. “Ajeng mau kemana kamu?” Juwita dengan cepat langsung menyusul Ajeng. “Nilam? Katanya lagi cari kerja, tapi malah pacaran d

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 06

    Ajeng sedang merasa senang karena diam-diam perempuan itu punya rencana untuk membuat Juwita tahu kelakuan putrinya. “Tiap hari aku merasa senang.” Ajeng sedikit merapikan dasi Haekal yang telah terpasang. “Hari ini agak beda, kamu kelihatan jauh lebih senang.” Haekal tentu ikut merasa senang jika istrinya senang. “Ayo makan.” Ajeng menarik pelan tangan Haekal agar pria itu segera duduk. Juwita berdecih pelan, wanita itu paling sensi setiap kali melihat momen manis Haekal dan Ajeng. Hati Juwita tidak bisa menerimanya. “Nilam … kamu masih belum dapat kerjaan juga?” Ajeng sengaja berbasa-basi. “Sok mengurusi Nilam, kamu aja pengangguran.” Ekskresi Juwita terlihat nyinyir. ‘Tahunya cuma menghabiskan uang putraku.’ “Pengangguran lebih baik daripada jadi jala*g,” sahut Ajeng asal. “Beraninya kamu menyebut kata kotor itu di depan orang tua?” Juwita langsung marah. Sementara Nilam diam-diam meneguk ludahnya dengan susah payah, bisa gawat jika Juwita sampai tahu tentang kelak

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 05

    Untuk sesaat tubuh Ajeng membeku kala melihat laki-laki yang ada di foto, itu adalah laki-laki yang sempat jalan dengan Nilam.‘Hah?’ Awalnya Ajeng pikir lelaki itu sedang berjalan dengan Nilam, tapi nyatanya tidak.Ajeng lihat lelaki itu jalan dengan perempuan lain bersama dengan seorang anak. “Maaf.”Setelah itu Ajeng kembali lanjut jalan. ‘Aku mana mungkin salah lihat, dia laki-laki yang ada di foto.’‘Jadi … Nilam ditipu? Atau mungkin Nilam yang menjadi selingkuhan dia?’ Menurut Ajeng itu terlalu mengejutkan.Lelaki yang ada di foto itu sudah punya anak, Ajeng belum bisa langsung menyimpulkan karena tidak punya bukti lebih banyak.Sampai akhirnya, Ajeng kembali mendapatkan foto dari orang suruhannya. Orang itu sudah menemukan lokasi Nilam saat ini.“Apa lagi ini?” Untuk kesekian kalinya Ajeng dibuat shock karena kelakuan Nilam.“Apa dia udah tidak waras?” Kali ini Ajeng mendapatkan foto dimana Nilam sedang berjalan mesra dengan pria tua.“Jadi Nilam setiap hari melakukan itu? Jala

  • Menolak Ditindas Keluarga Suami    Chapter 04

    Ajeng masih tenang meskipun dituduh yang tidak-tidak, masa depan Ajeng suram? Justru kehadiran Juwita lah yang membuat hidup Ajeng menjadi suram. “Kenapa Mama bilang seperti itu?” Suara Haekal terdengar dingin. “Kamu ini Haekal, bela aja terus istri kamu itu.” Suara Juwita terdengar sangat sewot. “Kalau adik ipar tidak mau ya udah, seharusnya aku udah terbiasa melakukan semuanya sendiri,” ujar Ajeng. ‘Apa dia sengaja sok sedih seperti itu?’ Juwita harus membela diri. “Apa maksud kamu mengerjakan semuanya sendirian?” “Kamu sengaja menjelek-jelekkan Mama di depan putra Mama sendiri? Kamu mengatai Mama malas? Iya?” “Kedengarannya seperti bukan pertanyaan, tapi pengakuan,” sarkas Ajeng. Juwita semakin geram, kemana Ajeng yang tidak pernah berani membalas ucapannya? Kalau seperti ini Juwita bisa mati cepet karena kesal. “Kamu ….” Juwita menunjuk Ajeng. “Ma cukup.” Haekal tidak ingin mendengar perdebatan apapun. “Nilam, kamu seharusnya lebih peka.” “Selama ini apa pernah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status