Share

Bab 134

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-03-30 19:22:34

Langkah Liya terasa seberat gunung saat menaiki anak tangga kayu menuju lantai teratas Paviliun Yunjin. Wangi gaharu yang manis namun menyesakkan kian tajam menusuk indra penciumannya, seolah meracuni setiap helai napas yang ia hirup. Di sampingnya, Na Ying tetap memasang wajah datar yang dingin, meski genggaman tangannya pada lengan Liya mengencang—sebuah peringatan bisu agar wanita itu tidak kehilangan kendali diri di tengah sarang musuh.

​"Tenangkan jantungmu, Miao Er," bisik Lan Tian tanpa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 167

    Langit Desa Qing Lu yang biasanya biru jernih kini tertutup jelaga kelabu yang menyesakkan dada. Aroma kayu terbakar dan jerit histeris penduduk desa memecah keheningan siang. Long Xuan, dengan wajah yang tercoreng abu dan pakaian yang sudah basah kuyup, berdiri di tengah kekacauan, memerintah pasukannya dengan suara yang menggelegar namun tetap tenang. ​"Wan Yi, bawa beberapa orang! Bantu padamkan api di sebelah sana sebelum merembet ke lumbung!" teriak Xuan sambil menunjuk sebuah rumah di ujung jalan yang sudah dilalap si jago merah. ​"Siap, Ketua!" Wan Yi menyahut lantang, segera memimpin sekelompok pria berbaju gelap menuju rumah tersebut. Penduduk desa bahu-membahu dengan para bandit Gunung Yu, mengalirkan air dari sumur-sumur terdekat menggunakan ember kayu. ​Telinga Xuan yang tajam tiba-tiba menangkap suara lirih di tengah deru api. Sebuah teriakan melengking dari dalam rumah yang atap ilalangnya sudah hampir runtuh sepenuhnya. ​"Ketua, sangat berbahaya jika kita masuk se

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 166

    Liya terus mundur hingga punggungnya membentur batang bambu yang dingin dan licin. Parang di tangannya terlepas, jatuh ke atas tumpukan daun kering dengan suara dentang yang hambar. Ia menatap Long Xuan—pria yang semalam membanting cangkir di depannya—kini berdiri hanya beberapa jengkal darinya dengan pedang yang masih meneteskan darah babi hutan.​"Kenapa kau mundur?" tanya Long Xuan, suaranya kini tidak lagi menggelegar, namun justru terdengar berat.​Liya memalingkan wajah, matanya memanas. "Bukankah kau bilang tidak ingin berbicara denganku? Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan agar tidak perlu memintamu melakukan apa pun."​Long Xuan menghela napas kasar. Ia menyarungkan pedangnya dengan sentakan keras, lalu menatap tajam pada lima prajurit yang berdiri kikuk beberapa meter dari mereka. "Kalian berlima, potong bambu-bambu ini sesuai tanda yang dibuat Nyonya. Bawa semuanya ke dekat saluran air sungai sebelum matahari tepat di atas kepala!"​"Siap, Ketua!" Para prajurit itu

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 165

    Sinar matahari pagi menyusup melalui celah jendela kayu, menyentuh wajah Liya yang sembap. Ia mengerjapkan mata, mendapati sisi tempat tidur di sampingnya masih rapi dan dingin. Long Xuan benar-benar tidak kembali semalaman. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara denting logam yang beradu dan teriakan komando yang tegas.​Liya menghela napas panjang. Ia tahu suaminya sedang menumpahkan seluruh kemarahannya pada latihan pedang di lapangan. "Setidaknya dia masih punya energi untuk berlatih," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menghibur hati yang lara.​Sebagai seorang istri yang terbiasa hidup mandiri dan praktis, Liya tak ingin berlarut dalam kesedihan. Ia sadar telah memicu prahara, namun ia juga tahu bahwa kebutuhan pangan di markas Gunung Yu tidak bisa menunggu kemarahan Xuan mereda. Dengan persediaan yang makin menipis, Liya telah merancang sistem hidroponik sederhana untuk membuat kebun sayur-mayur.​"Aku butuh saluran air untuk mengairi tanamannya. Bambu adalah kuncinya,"

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 164

    Cahaya lilin di sudut kamar pengobatan menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah jendela. Suasana begitu hening, hanya interupsi napas Fan Yi yang berat dan tersengal yang sesekali memecah kesunyian. Xiao Cui masih duduk di sana, bahunya turun karena kelelahan, namun tangannya tak berhenti bergerak. ​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia memeras kain putih ke dalam baskom kayu. Air di dalamnya kini tak lagi jernih; warnanya telah berubah menjadi merah pekat, sewarna dengan darah yang mencemari kesucian air tersebut. Ia menyeka sisa-sisa darah dan kotoran yang mengering di pundak serta dada Fan Yi, tubuh kaku yang biasanya selalu berdiri tegap melindunginya, kini terbaring tak berdaya. ​"Cepat sembuh, Tuan Kaku," bisik Xiao Cui, suaranya lembut dan nyaris hilang ditelan malam. ​Ia berhenti sejenak, memandangi wajah Fan Yi yang pucat pasi dalam tidurnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, menetes tepat di atas telapak tangan Fan Yi yang kasar. ​"Kalau k

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 163

    Wusss! Jleb!​Desingan tajam membelah keheningan malam yang pekat. Hutan di perbatasan Gunung Yu yang tadinya sunyi mendadak bertransformasi menjadi neraka kecil yang mencekam.​"Awas anak panah! Menunduk semua!" teriak Fan Yi menggelegar, suaranya nyaris tenggelam oleh deru derap kaki kuda pasukan Murong Guan yang semakin merangsek mendekat.​Jleb!​Fan Yi tersentak hebat. Tubuhnya terlempar ke depan, hampir saja ia terjungkal dari kursi kusir yang berguncang keras. Sebatang anak panah menancap telak di punggung kirinya. Rasa panas yang membakar menjalar seketika, namun jemarinya justru semakin erat mencengkeram tali kekang, menolak untuk menyerah pada rasa sakit.​"Fan Yi! Kau terkena?!" teriak Liya dari dalam kereta, suaranya sarat akan vibrasi kepanikan yang tak terbendung.​"Jangan keluar, Nyonya! Tetap menunduk!" balas Fan Yi dengan gigi bergeletuk menahan perih. Ia memacu kuda lebih gila lagi, mengabaikan denyut menyiksa di punggungnya. "Sedikit lagi ... sedikit lagi kita menca

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 162

    Seorang bocah laki-laki dengan pakaian kumal, wajah yang kusam terkena debu, dan rambut yang berantakan menatapnya dengan tatapan kosong. Telapak tangan kecilnya yang kotor terbuka, seolah-olah ia sedang meminta sedekah di pinggir jalan.​"Tuan Muda Yuan!" Xiao Cui menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan yang nyaris lolos.​Pemandangan di depannya menghancurkan hatinya. Tidak ada lagi jubah hanfu sutra yang mewah atau seragam sekolah Shin Yue yang gagah. Tuan mudanya kini tak berbeda dengan pengemis kecil di pasar.​"Tuan Muda ... apa yang mereka lakukan padamu?" Xiao Cui langsung berlutut dan memeluk erat tubuh kecil itu.​Long Yuan tidak bergerak. Tubuhnya kaku, namun suaranya terdengar lirih dan parau. "Xiao Cui, bawa aku ke Paman Xuan dan Bibi Shishi ... bawa aku bersama nenek."​Fan Yi segera mendekat, matanya yang tajam menyapu sekeliling. "Tuan Muda, di mana Nenekmu? Tunjukkan jalannya sekarang," bisik Fan Yi dengan nada lembut namun tetap matanya mengawasi sekita

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 18

    Pagi harinya, semburat fajar yang menembus celah jendela kamar Long Yuan terasa jauh lebih hangat. Liya perlahan membuka netranya, merasakan pegal yang menjalar di sekujur punggung akibat terjaga dalam posisi bersandar pada tepian ranjang, demi membuai Long Yuan dalam dekapannya semalaman. Bocah i

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 8

    Di dalam kamarnya yang remang-remang, Liya berdiri di depan cermin perunggu, menatap pantulan dirinya yang mengenaskan.​"Kau pikir kau siapa, Long Xuan?" bisiknya pada cermin dengan suara yang bergetar namun sarat akan kebencian. "Hanya karena kau punya gelar Adipati Agung, kau pikir kau bisa memp

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 10

    Pagi menyingsing di kediaman Adipati Long dengan keheningan yang tidak biasa. Di paviliun utama, meja makan telah ditata rapi dengan berbagai hidangan mewah, namun kursi di samping Long Xuan tetap kosong. Ketidakhadiran Murong Shi pagi itu sungguh mengusik batin sang Adipati. Padahal, biasanya ia

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 11

    Kereta kuda itu melaju kencang menembus jalanan ibu kota yang basah oleh sisa hujan. Di dalam ruang sempit yang bergoyang itu, suasana terasa begitu menyesakkan. Long Xuan duduk kaku di hadapan istrinya, matanya berkilat tajam seperti mata elang yang siap menerkam mangsanya. ​Liya, yang masih di b

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status