Share

Pernikahan dadakan

Author: IntanFa
last update Huling Na-update: 2026-01-01 13:22:58

Dengan langkah kaki yang berat, Mahira berjalan menuju meja akad lalu duduk di samping pria asing itu. Pria yang sama sekali belum pernah ia temui. Jantungnya semakin bergetar hebat, keringat dingin sudah bercucuran dan tangannya begitu gemetar.

Ini adalah pernikahan resmi secara agama dan negara. Ternyata Khairi sudah menyiapkan itu semua dari jauh-jauh hari. Membuat rasa benci pada ayahnya semakin besar.

Saat kata sah terucap dari para saksi, kehidupan baru Mahira akan di mulai.

“Silakan kedua pengantin menandatangani berkasnya,” titah penghulu yang duduk di hadapan mereka.

“Kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga hidup kalian di liputi kebahagiaan ...” ujar penghulu kemudian berlalu pergi. Pernikahan yang begitu singkat tanpa tamu undangan.

Hanya keluarga inti Mahira dan beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang menyaksikan pernikahan itu. Bahkan keluarga Ken sendiri tidak tampak hadir.

Ken berbalik badan menatap Mahira yang tertunduk lesu. Meraih dagunya mengangkat wajah Mahira. Senyuman tipis tersungging di bibir Ken, wajah cantik Mahira sepertinya telah menggugah hasrat yang telah lama terpendam.

“Kau milikku sekarang!” cetus Ken.

Mahira hanya bergeming menatap Ken. Wajah tampan yang tegas itu begitu mengintimidasi apalagi mata tajamnya menatap Mahira begitu lekat.

“Apa kau senang?”

Mahira menelan salivanya, kemarahan yang ingin ia ucapkan seakan tersenggal di tenggorokannya.

“Harusnya kau lebih dari senang! Setelah ini kau akan berada di sampingku sampai melahirkan seorang anak laki-laki!” ungkapnya.

“Anak?” lirih Mahira.

“Ya, kau masih perawan dan wanita baik-baik. Sangat cocok menjadi ibu dari anakku! apa ayahmu tidak memberitahumu?” tuturnya.

Tangan di dagu Mahira berubah mencengkeramnya dengan kuat. “Jangan berpikiran untuk kabur dariku!” bisiknya.

Mahira memukul-mukul tangan Ken agar cengkeraman itu terlepas. “A–aku tidak bosa bernafas. Lepaskan!” lirih Mahira.

Tanpa ragu, Ken melepaskan cengkeramannya dengan sekuat tenaga sampai membuat Mahira tersungkur ke lantai. Karena keadaan Mahira yang lemah belum makan dari kemarin, membuatnya tidak sadarkan diri.

Semua orang yang ada disana tidak berani melakukan apapun. Hanya menunduk terdiam melihat Mahira di perlakukan seperti itu.

“Kak Ruby, kasihan kak Mahira ...” lirih Rebecca pada kakaknya itu.

“Kita tidak bisa melakukan apa-apa,” sahut Ruby.

Kemudian Khairi mendekat pada Ken. “Bagaimana Tuan, cantik bukan putri saya? Saya jamin Mahira tidak akan mengecewakan Tuan. Berarti hutang saya sudah lunas, ya?”

Ken memberi kode pada asistennya untuk mendekat. Tanpa banyak bicara, Fattan–asisten pribadi Ken–memberikan sebuah berkas yang harus khairi tandatangani lalu setelah itu memberikan setumpuk uang pengganti resepsi yang tidak akan di lakukan.

“Serakah sekali tidak mau rugi!” gumam Ken. Lalu ia membawa Mahira yang tergeletak tidak sadarkan diri itu dengan menggendongnya ala bridal style.

“Setelah ini kau tidak perlu menemui putrimu lagi!” ujar Fattan. Kemudian berlalu pergi.

Khairi berbinar melihat uang setumpuk itu. Apalagi Cecilia, dengan cepat mengambil alih uang dari tangan Khairi.

“Wahhhh kita untung banyak. Hutang lunas dan sekarang mendapatkan uang banyak juga,” Cecilia sumringah.

Ruby meradang melihat tingkah ayah dan ibu tirinya itu. Dengan keberanian yang tipis, ia menghampiri mereka.

“Ayah, kenapa ayah tega pada kak Mahira? Ayah kejam!” cetusnya.

“Hehhh kamu jangan ikut campur urusan orangtua. Apa kamu mau ayah mencabut semua biaya sekolah penerbanganmu? Harusnya kamu juga ikut senang!” ujar Khairi.

Ruby tidak bisa melakukan apa-apa. Apalagi dengan usianya yang masih terbilang muda–delapan belas tahun–hanya bisa menuruti ayahnya itu.

“Ruby, Rebecca, kalian tidak perlu khawatir. Kak Mahira akan baik-baik saja, Tuan Ken orang yang sangat kaya raya, kak Mahira pasti akan bahagia disana. Kalian fokus saja belajar, ya, biar jadi orang sukses ...” tutur Cecilia bersikap begitu manis membujuk dua anak sambungnya itu.

Otak Ruby dan Rebecca seakan tercuci oleh Cecilia sehingga mereka juga menurut dengan apa yang selalu Cecilia katakan.

“Kalian istirahatlah, besok sekolah, kan?” titah Cecilia.

“Baik, Ma ...” Ruby dan Rebecca begitu nurut. Bahkan mereka tidak pernah merindukan ibu kandungnya sendiri.

“Tidak salah kamu menuruti kemauan Tuan Ken, kita jadi untung banyak ...” ujar Cecilia.

“Tentu sayang ....”

Rasa bahagia yang mereka rasakan tentu berbanding terbalik dengan apa yang Mahira rasakan di kediaman barunya.

Mahira perlahan membuka matanya menatap langit-langit kamar yang begitu asing. Lalu menyapu setiap sudut kamar itu dengan ujung matanya. Lengang tanpa ornamen tidak ada apapun, hanya ruangan putih dengan tempat tidur yang terasa begitu dingin.

“Apa aku sudah di surga?” gumam Mahira pelan.

Ia terduduk dan mencubit pipinya sendiri. Itu terasa sakit berarti Bukan mimpi atau bukan di surga.

Mahira teringat kejadian sebelum tidak sadarkan diri dan ia bisa menebak kalau ini adalah kediaman Tuan Ken. Ia tidak mendapati ponselnya dan baru ingat kalau ponsel itu ia tinggalkan di kamar.

"Bagaimana kabar ibu sekarang? harusnya mereka tidak melakukan apapun pada ibu."

Mahira memegangi perutnya yang terasa lapar. “Aghh lapar sekali. Dari kemarin aku belum makan.”

Bangkit dari tempat tidur dengan sisa tenaga yang tersisa, gaun pengantin masih menempel di tubuhnya itu. Saat akan membuka pintu, ternyata pintu besar itu terkunci dari luar.

“Woy, buka pintunya. Tolong buka ...” Mahira menggedor-gedor pintu itu.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan asisten pribadi Ken yang membukanya.

“siapa kau?” tanya Mahira.

“Perkenalkan, nama saya Fattan, saya asisten pribadi Tuan Ken. Jika ada sesuatu, Nona bisa katakan pada saya!”

“Ciiihh ... nona ...” Mahira merasa geli dengan panggilan itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Fattan datar.

Perut Mahira semakin keroncongan dan sesekali menimbulkan suara. “Agh ... Aku lapar. Bisakah kau memberiku makanan? Kalau tidak segera makan, aku bisa mati!” cetusnya.

“Makanan sudah siap, Nona. Silakan keruang makan ...” ucap Fattan mempersilakan.

“Sebelum aku kabur dari sini, aku harus mengisi perutku dulu. Perut kosong membuatku tidak bisa berpikir!” batin Mahira.

Berjalan mengekor pada Fattan dan di belakangnya di ikuti oleh dua pengawal berpakaian hitam-hitam juga.

“Eh, tuan Fattan, mereka siapa? Kenapa mengikutiku?” tanya Mahira serayaa menunjuk dua orang di belakangnya.

“Mereka pengawal pribadi Nona yang akan di tugaskan untuk menjaga Nona dua puluh empat jam!” jawab Fattan.

Mahira mengernyitkan dahinya, baru saja berpikir untuk kabur, tapi ternyata tidak akan mungkin.

Dari kamarnya menuju ruang makan terasa sangat jauh, di setiap langkahnya Mahira memperhatikan setiap sudut rumah itu. Rumah yang terlihat tidak seperti rumah, kosong, tidak ada ornamen atau hiasan. Semuanya hanya putih dan setiap jendela di lapisi dengan tralis besi.

“Apa ini penjara?” batin Mahira.

Langkahnya terhenti pada ujung anak tangga. Di hadapannya meja makan panjang dengan puluhan kursi terlihat begitu megah apalagi di atas meja sudah terhidang berbagai macam makanan yang menggugah selera.

“Silakan Nona ... Makanan sudah siap ...” ujar Fattan.

“Tunggu, berapa orang di rumah ini? Lalu Tuan Ken dimana?” tanya Mahira.

“Ada sepuluh orang pelayan, ada sepuluh orang pengawal dan dua orang sopir. Di tambah Nona dan saya,” jawab Fattan. “Kalau Tuan Ken sedang ada urusan diluar dan akan pulang larut malam.”

“Jadi, maksudmu semua makanan ini untuk aku makan sendirian?”

Fattan mengangguk datar.

“Wihhh makanan enak-enak nih ...” Mahira kemudian duduk di kursi paling ujung. Tanpa repot mengambil-ambil makanan, pelayan sudah siap melayaninya.

“Terima kasih ..." sapa Mahira ramah walaupun mendapat respon datar dari para pelayan.

Mahira melahap makanan yang ada di piringnya itu dan menikmatinya. Setelah sekian lama hidup susah di desa, akhirnya bisa merasakan kenikmatan ini lagi. Kemudian ia menatap para pelayan yang berdiri seraya menunduk.

“Kalian jangan hanya melihatku saja, ayo makan, ayo ...” ajak Mahira.

“Tidak Nona. Silakan nona nikmati saja ...” jawab salah satu pelayan.

“Makanannya banyak loh, aku tidak bisa menghabiskannya sendirian,” paksa Mahira.

“Kami sudah makan di belakang, Nona.”

“Hmmm yasudah kalau tidak mau!” gumam Mahira kembali melanjutkan makannya.

Makanan yang banyak membuatnya kalap dan sehingga perutnya terasa begah. Ia bersandar pada kursi makan itu seraya memejamkan matanya.

“Oke, setelah perutku terisi sekarang aku bisa berpikir.” Membuka matanya sembari menegakkan tubuhnya. Melihat sekitar yang ternyata begitu di jaga ketat.

“Bagaimana mungkin aku bisa keluar dari sini? Lagi pula aku tidak tahu ini dimana?” batin Mahira.

Tidak lama kemudian, terdengar pintu berderit. Pertanda pintu itu terbuka dan Mahira menatap ke arahnya.

Pria gagah dengan tatapan tegas berjalan mendekat pada Mahira. Ya, itu adalah Kendrick Alonzo suami Mahira.

“Kau sudah bangun, sayang ...” kata Ken berbisik dengan menggigit kecil daun telinga Mahira.

Merasa geli, Mahira menarik mundur tubuhnya itu agar menjauh dari Ken.

“Ckkk ... Jual mahal sekali kau!” cetus Ken. kemudian duduk di kursi di samping Mahira.

Berhadapan dengannya, Mahira merasa tidak punya tenaga. Tatapan tajamnya itu begitu mengintimidasi membuat nyalinya menciut.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Berserah

    Mahira mengernyitkan dahinya, sedikit pergerakan membuatnya merasakan sakit ngilu di area sensitifnya itu. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur ia begitu kesulitan, tapi ia paksakan karena ingin membersihkan diri yang sudah kotor itu.“Mau kemana?” cetus Ken dengan suara paraunya.“A–aku mau ke kamar mandi,” jawab Mahira tersendat.Ken tidak bicara lagi dan Mahira melanjutkan langkahnya yang sempat tersendat itu. Masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower-nya, berdiri di bawahnya dan sekarang tubuh itu telah basah. Air mata telah bercampur membasahi tubuh mungil itu, menyesal tidak ada artinya lagi.“Bu, ini semua demi ibu. A–aku rela melakukan apapun agar ibu tetap hidup dan tunggu aku, aku akan segera membawamu pergi dari pria jahat itu!” lirihnya.Merasa sudah mendapatkan kekuatan lagi, Mahira menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia tidak ingin membuat Ken marah.Sementara Ken masih berbaring di tempat tidur, kemudian ponselnya berdering dan ia ban

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Pembuktian

    Rasa penasaran itu harus terkubur sementara sampai Tuan Ken kembali. Bertanya pada pelayan dan pengawal percuma saja karena mereka punya aturan ketat tentang tidak memberi informasi apapun.Dua hari berlalu dan Ken kembali ke rumah di tengah malam dengan keadaan luka-luka. Dokter pribadi khusus datang untuk merawat Ken.“Kau ini, senang sekali turun tangan sendiri padahal anak buahmu banyak. Alhasil luka-luka lagi, kan? Bosen banget aku mengobatimu!” tutur dokter Arga. Terdengar akrab memang mereka adalah teman sekolah dulu.“Aku ingin semua selesai lebih cepat!” jawab Ken datar.“Untung besar dong?”“Yasudah pasti.”“Eh, bukannya beberapa waktu lalu kau menikah? Dimana istrimu, aku tidak melihatnya?” tanya Arga.“Untuk apa kau melihatnya? Tidak boleh!” jawab Ken.“Diihhh luluh juga ternyata sama cewek.”“Hehh kau bicara terus dari tadi. Sudah selesai belum? Kalau sudah sana cepatlah pergi. Kau tetap disini aku tidak akan membayarmu!” anc

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Rangga mencari Mahira

    Sinar matahari yang menyilaukan membuat Mahira terbangun. Ia terduduk seraya mengucek matanya untuk menjernihkan pandangan. Melihat di sampingnya tempat tidur masih rapi.“Apa Tuan Ken semalam tidak pulang? Atau tidur di kamar lain?” gumam Mahira.Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, ia bangun terlambat. Bergegas beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri lalu menggunakan pakaian yang sudah tersedia.Menyadari dalam ruang wardrobe hanya ada pakaiannya saja, ia menyimpulkan kalau kamarnya terpisah dengan kamar Tuan Ken dan itu membuat hatinya sedikit lega.“Apa yang aku lakukan sekarang? Aghhh perutku lapar, lebih baik aku sarapan terlebih dahulu!”Keluar dari kamar dan mendapati dua penjaga masih ada disana. “Gak tidur mereka?” batin Mahira.“Selamat pagi Nona ...” sapa penjaga itu.“Selamat pagi. Saya mau ke meja makan untuk sarapan!” ujarnya melapor agar tidak ada pertanyaan aneh-aneh.“Silakan Nona ....”Mahira berjalan dan dua

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Penjara

    Menatap istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin, keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun. Kemudian Ken mengisyaratkan pada Fattan untuk membelikan pakaian dan barang-barang baru untuk Mahira.Tanpa penjelasan lebih lanjut, Fattan mengerti dan berlalu pergi.“Kau sudah menjadi istriku sekarang? Apa kau tahu tugas-tugas apa yang harus kau lakukan?” tanya Ken bicara tanpa melihat Mahira.“Aku tidak tahu apa-apa,” jawab Mahira datar.“Cukup menjadi istri yang penurut dan melayaniku setiap malam!” ungkap Ken.Di bawah meja tangan Mahira mengepal, lalu wajahnya ia angkat menatap suaminya yang sama sekali belum ia kenali. Merasa semurahan itu, di nikahi hanya untuk pemuas nafsunya saja.“Kau tidak perlu menatapku seperti itu, tidak ada gunanya marah kepadaku!” cetus Ken. Tanpa melihatnya ia tahu kalau Mahira menahan amarah padanya.“A–aku masih tidak habis pikir dengan ayahku sendiri yang tega menjualku untuk melunasi hutang yang bahkan aku sendi

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Pernikahan dadakan

    Dengan langkah kaki yang berat, Mahira berjalan menuju meja akad lalu duduk di samping pria asing itu. Pria yang sama sekali belum pernah ia temui. Jantungnya semakin bergetar hebat, keringat dingin sudah bercucuran dan tangannya begitu gemetar.Ini adalah pernikahan resmi secara agama dan negara. Ternyata Khairi sudah menyiapkan itu semua dari jauh-jauh hari. Membuat rasa benci pada ayahnya semakin besar.Saat kata sah terucap dari para saksi, kehidupan baru Mahira akan di mulai.“Silakan kedua pengantin menandatangani berkasnya,” titah penghulu yang duduk di hadapan mereka.“Kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga hidup kalian di liputi kebahagiaan ...” ujar penghulu kemudian berlalu pergi. Pernikahan yang begitu singkat tanpa tamu undangan.Hanya keluarga inti Mahira dan beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang menyaksikan pernikahan itu. Bahkan keluarga Ken sendiri tidak tampak hadir.Ken berbalik badan menatap Mahira yang tertunduk lesu. Mer

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Pasrah demi sang ibu

    Dengan nafas terengah-engah, Mahira akhirnya sampai di kediaman Khairi–sang ayah. Menatap bangunan megah tiga lantai di hadapannya, rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya selama lima belas tahun terakhir. Tidak terasa sudah delapan tahun Mahira dan Paramita–ibunya–meninggalkan rumah ini. Ia mengusap air matanya yang membasahi pipi kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. “Aku kembali kemari untuk mencari ibu. Entah apa mau ayah membawa ibu pergi diam-diam saat aku sedang tidak di rumah?” gumamnya. Pelayan membukakan pintu rumah dan mempersilakan Mahira masuk. Ternyata semua orang sudah menunggu kedatangan Mahira. Khairi, Cecilia–ibu tirinya dan kedua adik kandungnya Ruby dan Rebecca. Akan tetapi, di sana tidak terlihat keberadaan Paramita sehingga membuat Mahira meradang. “Di mana ibuku? Cepat katakan!” Ruby dan Rebecca mendekat pada Mahira dan memeluknya. Di antara mereka tidak ada yang berani bicara kar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status