LOGINMahira mengernyitkan dahinya, sedikit pergerakan membuatnya merasakan sakit ngilu di area sensitifnya itu. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur ia begitu kesulitan, tapi ia paksakan karena ingin membersihkan diri yang sudah kotor itu.
“Mau kemana?” cetus Ken dengan suara paraunya. “A–aku mau ke kamar mandi,” jawab Mahira tersendat. Ken tidak bicara lagi dan Mahira melanjutkan langkahnya yang sempat tersendat itu. Masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower-nya, berdiri di bawahnya dan sekarang tubuh itu telah basah. Air mata telah bercampur membasahi tubuh mungil itu, menyesal tidak ada artinya lagi. “Bu, ini semua demi ibu. A–aku rela melakukan apapun agar ibu tetap hidup dan tunggu aku, aku akan segera membawamu pergi dari pria jahat itu!” lirihnya. Merasa sudah mendapatkan kekuatan lagi, Mahira menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia tidak ingin membuat Ken marah. Sementara Ken masih berbaring di tempat tidur, kemudian ponselnya berdering dan ia bangkit. Panggilan penting dari Fattan membuatnya hendak pergi, tapi langkahnya terhenti saat melirik bercak darah di seprai putih itu. “Pantas saja ...” senyuman tipis tersungging di bibirnya kemudian ia berlalu pergi. Mahira keluar dari kamar mandi, terlebih dahulu ia mengeluarkan kepalanya dan tidak mendapati Ken ada di kamar itu. Bergegas keluar dengan nafas sedikit lega. “Untung dia sudah pergi. Jika tidak, aku sudah bisa membayangkan dia akan menyiksaku lagi!” gerutunya. Kemudian ia duduk di kursi rias dan mengeringkan rambutnya. Menatap bayangannya sendiri di cermin, gadis ceria itu telah kehilangan senyumannya. Lekuk senyum itu tidak lagi tampak, menggambarkan hati dan perasaannya saat ini. “Bagaimana aku bicara soal ibu pada Tuan Ken? Apa dengan dia mengambil kesucianku, keinginanku akan di kabulkan?” batin Mahira. Berjalan keluar dari kamar, ia pergi ke meja makan untuk sarapan dengan dua orang penjaga mengekor padanya. Mahira harus benar-benar terbiasa akan hal itu. Banyak pelayan yang menyambut Mahira dan melayaninya dengan baik, tapi tetap saja tidak ada kehangatan disana, sepi. Mata bulat itu menyapu setiap sudut ruangan dan tidak mendapati keberadaan Ken. “Bagaimana aku bisa bicara dengannya? Apa dia sudah pergi?” batin Mahira. Mengesampingkan akan hal itu, Mahira memilih untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. “Ayo, makan sama-sama ...” ajak Mahira pada empat orang pelayan yang berdiri di sampingnya. “Silakan, Nona ... Selamat menikmati ...” tolak salah satu pelayan itu. Lagi lagi jawaban dingin yang Mahira dapatkan, tentu itu membuatnya semakin penasaran. “Kalian jangan terlalu kaku padaku, santai saja. Tuan Ken tidak ada disini kok,” cetus Mahira. Akan tetapi, tidak ada jawaban apapun dari para pelayan itu. “Ekhemmm ... Selamat pagi, Nona. Sudah menjadi aturan disini kalau pelayan bekerja hanya untuk melayani, bukan untuk mengobrol atau bergosip!” tiba-tiba Fattan muncul. “Hmmm ... Iya, kan, aku butuh teman bicara. Ya, sekedar basa basi doang gitu. Gak boleh banget!” sahut Mahira. Ia sedikit lebih berani pada asisten suaminya itu. “Rumah ini punya aturannya sendiri. Apa Nona belum membaca aturan-aturan yang saya berikan?” tanya Fattan. Jangankan membacanya, ia saja lupa menaruh berkas tebal itu dimana. “Ya, tapi cuman ngobrol biasa aja!” “Silakan protes pada yang membuat aturan!” tegas Fattan. Mahira teringat pada pengawal yang di tembak sampai mati semalam. Ia bergidik ngeri jika itu juga terjadi padanya. “Lebih baik aku tidak banyak tingkah, agar aku selamat disini. Masih ada ibu yang masih harus aku perjuangkan!” gumam Mahira. “Tuan, ada urusan dan sudah pergi.” “Iya,” jawabnya datar tanpa mencari tahu kepergian suaminya itu. Akan tetapi, Mahira harus secepatnya bicara pada Ken. “Kapan dia kembali?” akhirnya ia bertanya. “Tidak tentu! Ada apa? Kalau butuh sesuatu katakan saja pada saya,” jawab Fattan. “Mmmhhh tolong katakan aku ingin membicarakan satu hal penting, temui aku saat kembali nanti,” jelas Mahira. “Baik. Ada lagi?” tanya Fattan singkat. Mahira hanya menggelengkan kepalanya pelan, kemudian Fattan berlalu pergi. Helaan nafas begitu berat, pikirannya masih belum tenang karena belum tahu bagaimana kabar sang ibu. Apalagi ia tidak bisa terhubung dengan dunia luar tanpa ponselnya, jika ada ponsel mungkin ia sedikit tenang dan bisa meminta bantuan Rangga untuk melihat keadaan ibunya. Tidak ada yang Mahira lakukan, ia hanya berdiam di kamar. Berbaring di tempat tidur atau berdiri menatap keluar jendela. Waktu yang terasa begitu sangat panjang. Sudah dua hari Mahira tidak bertemu dengan Ken, entah dia pulang ke rumah itu atau tidak ia sama sekali tidak mengetahuinya. “Ya Tuhan ... Aku bisa mati karena bosan disini! Gak bisa keluar, gak ada yang bisa di ajak ngobrol juga ... keadaan ibu juga sekarang gimana, ya? apa obatnya tidak telat di berikan? Aaarghhh ...” keluh Mahira. Pintu kamar terbuka dan ternyata Ken yang datang. Sedikit terkejut, tapi Mahira tidak mungkin memarahinya karena telah masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. “Ada apa kau mencariku? Fattan mengatakan kau ingin bicarakan hal yang penting?” tanyanya dengan nada penuh intimidasi seraya duduk di ujung tempat tidur. Mahira menghela nafas panjang dan harus menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin. “Soal ibuku,” ungkap Mahira singkat tanpa berani menatapnya. “Ckkk ...” Ken menyeringai kemudian mematikan rokok yang di pegangnya itu pada asbak di atas meja samping tempat tidur. Kemudian menarik lembut pinggang Mahira sampai terduduk di pangkuannya. “Sepenting itu?” bisiknya. Mahira harus membuang rasa takutnya, jika Ken akan melakukannya lagi ia harus pasrah demi sang ibu. “A–aku sudah memberikan kesucianku yang selama ini selalu aku jaga. Kau sudah mendapatkannya, kan? apa boleh aku meminta bantuanmu?” ujar Mahira memberanikan diri. "Maksudnya kau menukar kesucianmu itu?" "A–aku benar-benar butuh bantuanmu, tapi jika tidak bisa tolong izinkan aku untuk keluar dan mencari tahu keadaan ibuku sendiri," ujar Mahira. “Perjanjiannya tidak seperti itu! Kau harus memberikanku seorang anak maka aku akan memberikan apapun untukmu!” ungkap Ken. “Anak?” batin Mahira. Butuh waktu sembilan bulan untuk mengandung dan belum tentu sekali melakukan hubungan langsung hamil. Harus menunggu berapa lama untuk menemui ibunya? Tanpa pikir panjang, Mahira berlutut di hadapan Ken. Bersimpuh memohon untuk membantunya satu kali ini saja, ia tidak bisa tenang jika belum tahu kabar sang ibu. “Aku mohon, tolong ... Ibuku tidak baik-baik saja, dia sakit, aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Sampai aku memberi anak, itu butuh waktu yang lama. Tolong ...” rintihnya. Ken menyeringai penuh kemenangan, hal yang selalu ia suka. Melihat orang lain memohon untuk kekuasaannya. “Aku janji akan melakukan apapun yang kau mau. Aku akan menuruti semua perintahmu. Tolong ... Izinkan aku untuk melihat keadaan ibuku.” Mahira semakin memohon. Ken meraih dagu Mahira lalu ia mendekatkan wajahnya dengan bicara begitu perlahan. “cukup berani juga kau!” “A–aku akan melakukan apapun ... Janji ...” lirih Mahira. Walaupun penuh rasa ketakutan, tapi itu harus ia lakukan. Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Ken melepaskan tangannya dari dagu Mahira dengan santai. “Baiklah ... Itu bukan hal yang sulit, lagi pula kau telah memuaskanku kemarin. Ya, bolehlah aku beri sedikit hadiah!” cetus Ken. Ada sedikit harapan yang tersirat sehingga membuat wajah Mahira berbinar. Ini hal yang sudah benar ia lakukan untuk melindungi ibunya. “Kau serius? Aghh terima kasih ...” ucap Mahira. “Tentu itu tidaklah gratis, kau datang kemari sebagai pelunas hutang untuk memberiku seorang anak dan untuk hal-hal yang aku berikan padamu, itu imbalannya beda lagi!” “Aku janji ... Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan!” sahut Mahira. “Bagus! Kau cukup menurutiku dan jangan pernah sekalipun membantah! Kau paham?” tegas Ken. Mahira mengangguk yakin. Pesona kecantikan Mahira tentu tidak bisa menahan hasrat yang Ken rasakan. Menariknya dengan cepat dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur. Ya, Mahira tidak boleh menolak akan hal itu.Mahira mengernyitkan dahinya, sedikit pergerakan membuatnya merasakan sakit ngilu di area sensitifnya itu. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur ia begitu kesulitan, tapi ia paksakan karena ingin membersihkan diri yang sudah kotor itu.“Mau kemana?” cetus Ken dengan suara paraunya.“A–aku mau ke kamar mandi,” jawab Mahira tersendat.Ken tidak bicara lagi dan Mahira melanjutkan langkahnya yang sempat tersendat itu. Masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower-nya, berdiri di bawahnya dan sekarang tubuh itu telah basah. Air mata telah bercampur membasahi tubuh mungil itu, menyesal tidak ada artinya lagi.“Bu, ini semua demi ibu. A–aku rela melakukan apapun agar ibu tetap hidup dan tunggu aku, aku akan segera membawamu pergi dari pria jahat itu!” lirihnya.Merasa sudah mendapatkan kekuatan lagi, Mahira menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia tidak ingin membuat Ken marah.Sementara Ken masih berbaring di tempat tidur, kemudian ponselnya berdering dan ia ban
Rasa penasaran itu harus terkubur sementara sampai Tuan Ken kembali. Bertanya pada pelayan dan pengawal percuma saja karena mereka punya aturan ketat tentang tidak memberi informasi apapun.Dua hari berlalu dan Ken kembali ke rumah di tengah malam dengan keadaan luka-luka. Dokter pribadi khusus datang untuk merawat Ken.“Kau ini, senang sekali turun tangan sendiri padahal anak buahmu banyak. Alhasil luka-luka lagi, kan? Bosen banget aku mengobatimu!” tutur dokter Arga. Terdengar akrab memang mereka adalah teman sekolah dulu.“Aku ingin semua selesai lebih cepat!” jawab Ken datar.“Untung besar dong?”“Yasudah pasti.”“Eh, bukannya beberapa waktu lalu kau menikah? Dimana istrimu, aku tidak melihatnya?” tanya Arga.“Untuk apa kau melihatnya? Tidak boleh!” jawab Ken.“Diihhh luluh juga ternyata sama cewek.”“Hehh kau bicara terus dari tadi. Sudah selesai belum? Kalau sudah sana cepatlah pergi. Kau tetap disini aku tidak akan membayarmu!” anc
Sinar matahari yang menyilaukan membuat Mahira terbangun. Ia terduduk seraya mengucek matanya untuk menjernihkan pandangan. Melihat di sampingnya tempat tidur masih rapi.“Apa Tuan Ken semalam tidak pulang? Atau tidur di kamar lain?” gumam Mahira.Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, ia bangun terlambat. Bergegas beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri lalu menggunakan pakaian yang sudah tersedia.Menyadari dalam ruang wardrobe hanya ada pakaiannya saja, ia menyimpulkan kalau kamarnya terpisah dengan kamar Tuan Ken dan itu membuat hatinya sedikit lega.“Apa yang aku lakukan sekarang? Aghhh perutku lapar, lebih baik aku sarapan terlebih dahulu!”Keluar dari kamar dan mendapati dua penjaga masih ada disana. “Gak tidur mereka?” batin Mahira.“Selamat pagi Nona ...” sapa penjaga itu.“Selamat pagi. Saya mau ke meja makan untuk sarapan!” ujarnya melapor agar tidak ada pertanyaan aneh-aneh.“Silakan Nona ....”Mahira berjalan dan dua
Menatap istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin, keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun. Kemudian Ken mengisyaratkan pada Fattan untuk membelikan pakaian dan barang-barang baru untuk Mahira.Tanpa penjelasan lebih lanjut, Fattan mengerti dan berlalu pergi.“Kau sudah menjadi istriku sekarang? Apa kau tahu tugas-tugas apa yang harus kau lakukan?” tanya Ken bicara tanpa melihat Mahira.“Aku tidak tahu apa-apa,” jawab Mahira datar.“Cukup menjadi istri yang penurut dan melayaniku setiap malam!” ungkap Ken.Di bawah meja tangan Mahira mengepal, lalu wajahnya ia angkat menatap suaminya yang sama sekali belum ia kenali. Merasa semurahan itu, di nikahi hanya untuk pemuas nafsunya saja.“Kau tidak perlu menatapku seperti itu, tidak ada gunanya marah kepadaku!” cetus Ken. Tanpa melihatnya ia tahu kalau Mahira menahan amarah padanya.“A–aku masih tidak habis pikir dengan ayahku sendiri yang tega menjualku untuk melunasi hutang yang bahkan aku sendi
Dengan langkah kaki yang berat, Mahira berjalan menuju meja akad lalu duduk di samping pria asing itu. Pria yang sama sekali belum pernah ia temui. Jantungnya semakin bergetar hebat, keringat dingin sudah bercucuran dan tangannya begitu gemetar.Ini adalah pernikahan resmi secara agama dan negara. Ternyata Khairi sudah menyiapkan itu semua dari jauh-jauh hari. Membuat rasa benci pada ayahnya semakin besar.Saat kata sah terucap dari para saksi, kehidupan baru Mahira akan di mulai.“Silakan kedua pengantin menandatangani berkasnya,” titah penghulu yang duduk di hadapan mereka.“Kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga hidup kalian di liputi kebahagiaan ...” ujar penghulu kemudian berlalu pergi. Pernikahan yang begitu singkat tanpa tamu undangan.Hanya keluarga inti Mahira dan beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang menyaksikan pernikahan itu. Bahkan keluarga Ken sendiri tidak tampak hadir.Ken berbalik badan menatap Mahira yang tertunduk lesu. Mer
Dengan nafas terengah-engah, Mahira akhirnya sampai di kediaman Khairi–sang ayah. Menatap bangunan megah tiga lantai di hadapannya, rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya selama lima belas tahun terakhir. Tidak terasa sudah delapan tahun Mahira dan Paramita–ibunya–meninggalkan rumah ini. Ia mengusap air matanya yang membasahi pipi kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. “Aku kembali kemari untuk mencari ibu. Entah apa mau ayah membawa ibu pergi diam-diam saat aku sedang tidak di rumah?” gumamnya. Pelayan membukakan pintu rumah dan mempersilakan Mahira masuk. Ternyata semua orang sudah menunggu kedatangan Mahira. Khairi, Cecilia–ibu tirinya dan kedua adik kandungnya Ruby dan Rebecca. Akan tetapi, di sana tidak terlihat keberadaan Paramita sehingga membuat Mahira meradang. “Di mana ibuku? Cepat katakan!” Ruby dan Rebecca mendekat pada Mahira dan memeluknya. Di antara mereka tidak ada yang berani bicara kar







