LOGINMenatap istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin, keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun. Kemudian Ken mengisyaratkan pada Fattan untuk membelikan pakaian dan barang-barang baru untuk Mahira.
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Fattan mengerti dan berlalu pergi. “Kau sudah menjadi istriku sekarang? Apa kau tahu tugas-tugas apa yang harus kau lakukan?” tanya Ken bicara tanpa melihat Mahira. “Aku tidak tahu apa-apa,” jawab Mahira datar. “Cukup menjadi istri yang penurut dan melayaniku setiap malam!” ungkap Ken. Di bawah meja tangan Mahira mengepal, lalu wajahnya ia angkat menatap suaminya yang sama sekali belum ia kenali. Merasa semurahan itu, di nikahi hanya untuk pemuas nafsunya saja. “Kau tidak perlu menatapku seperti itu, tidak ada gunanya marah kepadaku!” cetus Ken. Tanpa melihatnya ia tahu kalau Mahira menahan amarah padanya. “A–aku masih tidak habis pikir dengan ayahku sendiri yang tega menjualku untuk melunasi hutang yang bahkan aku sendiri tidak tau hutang apa itu?” tutur Mahira bicara sedikit lebih berani. Ken melepaskan sendok dan garpu yang di pegangnya, kemudian berbalik badan menghadap Mahira dan menatapnya dengan tajam. “Ckkk ... Kau tidak tau kalau hutang ini di sebabkan oleh ibu tirimu yang tertipu bisnis investasi puluhan miliar? Ayahmu sejekam itu, ya, merelakan hidup anak gadisnya demi istri mudanya!” tutur Ken dengan tawa jahatnya. Amarah Mahira semakin menggebu saat mengetahui kebenarannya itu. Merebut posisi ibunya, sekarang menggunakan Mahira untuk menyelamatkan diri. “Ibu ...” lirih Mahira pelan. “Tuan, aku janji akan melakukan apapun untukmu, tapi apakah boleh kau bebaskan ibuku dari wanita licik itu?” mohon Mahira. “Atas dasar apa kau berani menyuruhku? Sudah seharusnya kau melakukan apapun yang aku inginkan karena aku sudah membayar mahal!” ujar Ken. Saat ini ia tidak tahu bagaimana kondisi ibunya dan berada dimana. Hanya kekuasaan Ken yang bisa mengetahui akan hal itu. Mahira kemudian berlutut di hadapan Ken. “Tolong ... Aku mau tau keadaan ibuku ...” lirihnya pasrah. Ken menyeringai sembari meneguk wine di tangannya. Ia sangat suka dengan perempuan seperti Mahira ini. Kemudian tanpa banyak bicara lagi, Ken mengangkat tubuh Mahira ke atas bahunya dan membawanya menaiki anak tangga untuk di bawa ke kamar. “Hey, aku mau di bawa kemana? Aku bisa jalan sendiri. Tolong turunkan aku!” Mahira berontak seraya memukul-mukul punggung Ken yang kekar itu. Sampai di kamar, Ken menjatuhkan tubuh Mahira ke atas tempat tidur. “Katanya kau akan melakukan apapun? Kenapa protes?” Ken melucuti pakaiannya sendiri. Mahira sudah bisa menebak apa yang akan Ken lakukan padanya. Itu membuat semakin takut dan jantungnya berdegup semakin kencang. Apalagi melihat senjata api yang menempel di tubuh kekar dengan ukiran beberapa tato di dada dan lengannya. Terlihat gagah dan menawan, tapi itu membuat Mahira semakin kesulitan bernafas. “J–jangan lakukan apapun padaku. Tolong ... A–aku belum siap,” gagap Mahira. Dua senjata api itu terlepas dari tubuhnya dan di susun rapi di atas meja samping tempat tidur. Kemudian Ken naik ke atas tempat tidur dan mengukung tubuh Mahira seraya memegangi kedua tangan Mahira di angkat dengan satu tangannya. Sementara tangan lainnya lancar menggerayangi tubuh Mahira. “Aku hanya mengecek apakah kau benar perawan atau tidak. Karena kalau terbukti kalian membohongiku, maka kalian semua akan aku habisi malam ini juga!” bisiknya. "Le–lepaskan!" lirih Mahira. Meraba dua gundukan itu yang terasa masih kenyal dan kencang pertanda tangan kekar Ken lah yang pertama menyentuhnya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya, sampai disana ia sudah cukup puas. Tidak berhenti disana, Ken menggerayangi tubuh Mahira lebih turun lagi sampai pada area inti dengan gundukan mungil dengan rambut tipisnya, tanpa melihatnya ia tahu kalau area itu pasti di rawatnya. “Aghhhh ...” Mahira melenguh tak tertahankan. Tubuhnya merespon apa yang Ken lakukan dan itu membuat Ken senang. “Akan aku buktikan keperawananmu ini!” bisik Ken sembari memainkan jari jemarinya lebih dalam dan semakin membuat Mahira menggeliat. Merasa cukup puas, Ken melepaskan kedua tangannya dan berlalu pergi ke kamar mandi. Itu membuat Mahira bisa bernafas dengan lega. “Astaga ... Aku masih selamat! Dia tidak melakukan lebih jauh lagi,” gumamnya pelan. Keluar dari kamar mandi sudah dengan bathrobe-nya, sepertinya Ken baru saja selesai mandi. “Untuk pengecekan malam ini cukup. Aku lelah dan sibuk, kau bisa istirahat malam ini!” ujar Ken seraya berlalu pergi dari kamar Mahira. “Ya Tuhan ... Jantungku hampir copot!” Mahira mengusap-usap dadanya naik turun merasa lega. “Orang seperti Ken tidak bisa di paksa. Aku akan pelan-pelan meminta bantuannya untuk membebaskan ibuku, semoga saja ayah dan ibu tiriku tidak melakukan apapun pada ibu dan semoga Tuhan selalu melindungi ibu dimana pun berada.” Harap Mahira. Saat akan beranjak dari tempat tidur, pintu kamar ada yang mengetuk dan Mahira bergegas membukanya. Lima orang pelayan tiba-tiba masuk dengan barang-barang yang di bawanya. Dari mulai pakaian, tas, sepatu, lengkap semua kebutuhan untuk Mahira dan langsung merapikannya di ruang wardrobe. “Nona, semuanya sudah selesai. Kalau ada butuh apa-apa, tinggal hubungi kami saja,” ujar pelayan seraya menunjuk telepon di atas meja. “Agh oke, terima kasih.” Kemudian lima pelayan itu keluar dari kamar. Saat akan menutup pintu kamarnya lagi, tangan seseorang menahannya. “Tunggu Nona ...” ternyata itu Fattan. “Ada apa lagi?” Fattan memberikan sebuah berkas pada Mahira. “Itu adalah aturan yang telah Tuan Ken buat dan harus anda pelajari, jika ada yang tidak di mengerti, bisa menanyakannya pada saya. Permisi ...” Jelasnya lalu melengos pergi. Mahira menatap kepergian Fattan lalu pandangannya beralih pada berkas di tangannya yang cukup tebal. “Sebelum aku membaca aturan ini, sebaiknya aku mandi dulu. Badanku sudah tidak enak apalagi gaun ini membuat pergerakanku sulit!” gerutunya. Masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya yang begitu lelah. Kehidupan barunya ini entah harus di syukuri atau malah menjadi awal kesedihan yang lebih buruk dari sebelumnya. Masuk keruang wardrobe yang telah penuh dengan berbagai jenis pakaian lengkap. Sudah seperti masuk ke dalam sebuah toko khusus perempuan. “Astaga ... Sebanyak ini bagaimana aku memakainya?” kemudian mengambil piyama untuk di pakainya malam ini. Ia duduk bersandar di tempat tidur. “Aku belum mengabari Rangga, tapi bagaimana aku mengabarinya? Ponselku tertinggal di rumah ayah. Aku berjanji akan mengabarinya, pasti dia sangat khawatir!” gumamnya bermonolog. Rangga adalah sahabat Mahira yang selalu membantunya selama berada di desa. Mahira tidak bisa memejamkan matanya. Banyak hal yang ia pikirkan, waktu menunjukkan pukul satu dini hari lalu ia mendengar suara mobil seperti keluar dari rumah itu. Karena penasaran, ia melihatnya dari jendela. Benar saja, tiga mobil keluar dari rumah itu. “Pada mau kemana malam-malam seperti ini?” gumamnya. Mahira menyadari jendela dengan di lapisi tralis itu tidak bisa di buka. “Astaga, ini beneran penjara!” gerutunya. Di kamar tidak ada apapun, Mahira berniat untuk pergi ke dapur mencari makanan. Baru membuka pintu, Mahira sudah di kejutkan dengan dua orang berpakaian hitam-hitam berjaga di depan pintu kamar. “Ada yang perlu kami bantu, Nona? Katakan saja!” ucapnya tegas. “Ti–tidak!” Mahira kembali menutup pintu kamarnya. “Benar-benar di jaga dua puluh empat jam! Ya ... Ini penjara!”Mahira mengernyitkan dahinya, sedikit pergerakan membuatnya merasakan sakit ngilu di area sensitifnya itu. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur ia begitu kesulitan, tapi ia paksakan karena ingin membersihkan diri yang sudah kotor itu.“Mau kemana?” cetus Ken dengan suara paraunya.“A–aku mau ke kamar mandi,” jawab Mahira tersendat.Ken tidak bicara lagi dan Mahira melanjutkan langkahnya yang sempat tersendat itu. Masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower-nya, berdiri di bawahnya dan sekarang tubuh itu telah basah. Air mata telah bercampur membasahi tubuh mungil itu, menyesal tidak ada artinya lagi.“Bu, ini semua demi ibu. A–aku rela melakukan apapun agar ibu tetap hidup dan tunggu aku, aku akan segera membawamu pergi dari pria jahat itu!” lirihnya.Merasa sudah mendapatkan kekuatan lagi, Mahira menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia tidak ingin membuat Ken marah.Sementara Ken masih berbaring di tempat tidur, kemudian ponselnya berdering dan ia ban
Rasa penasaran itu harus terkubur sementara sampai Tuan Ken kembali. Bertanya pada pelayan dan pengawal percuma saja karena mereka punya aturan ketat tentang tidak memberi informasi apapun.Dua hari berlalu dan Ken kembali ke rumah di tengah malam dengan keadaan luka-luka. Dokter pribadi khusus datang untuk merawat Ken.“Kau ini, senang sekali turun tangan sendiri padahal anak buahmu banyak. Alhasil luka-luka lagi, kan? Bosen banget aku mengobatimu!” tutur dokter Arga. Terdengar akrab memang mereka adalah teman sekolah dulu.“Aku ingin semua selesai lebih cepat!” jawab Ken datar.“Untung besar dong?”“Yasudah pasti.”“Eh, bukannya beberapa waktu lalu kau menikah? Dimana istrimu, aku tidak melihatnya?” tanya Arga.“Untuk apa kau melihatnya? Tidak boleh!” jawab Ken.“Diihhh luluh juga ternyata sama cewek.”“Hehh kau bicara terus dari tadi. Sudah selesai belum? Kalau sudah sana cepatlah pergi. Kau tetap disini aku tidak akan membayarmu!” anc
Sinar matahari yang menyilaukan membuat Mahira terbangun. Ia terduduk seraya mengucek matanya untuk menjernihkan pandangan. Melihat di sampingnya tempat tidur masih rapi.“Apa Tuan Ken semalam tidak pulang? Atau tidur di kamar lain?” gumam Mahira.Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, ia bangun terlambat. Bergegas beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri lalu menggunakan pakaian yang sudah tersedia.Menyadari dalam ruang wardrobe hanya ada pakaiannya saja, ia menyimpulkan kalau kamarnya terpisah dengan kamar Tuan Ken dan itu membuat hatinya sedikit lega.“Apa yang aku lakukan sekarang? Aghhh perutku lapar, lebih baik aku sarapan terlebih dahulu!”Keluar dari kamar dan mendapati dua penjaga masih ada disana. “Gak tidur mereka?” batin Mahira.“Selamat pagi Nona ...” sapa penjaga itu.“Selamat pagi. Saya mau ke meja makan untuk sarapan!” ujarnya melapor agar tidak ada pertanyaan aneh-aneh.“Silakan Nona ....”Mahira berjalan dan dua
Menatap istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin, keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun. Kemudian Ken mengisyaratkan pada Fattan untuk membelikan pakaian dan barang-barang baru untuk Mahira.Tanpa penjelasan lebih lanjut, Fattan mengerti dan berlalu pergi.“Kau sudah menjadi istriku sekarang? Apa kau tahu tugas-tugas apa yang harus kau lakukan?” tanya Ken bicara tanpa melihat Mahira.“Aku tidak tahu apa-apa,” jawab Mahira datar.“Cukup menjadi istri yang penurut dan melayaniku setiap malam!” ungkap Ken.Di bawah meja tangan Mahira mengepal, lalu wajahnya ia angkat menatap suaminya yang sama sekali belum ia kenali. Merasa semurahan itu, di nikahi hanya untuk pemuas nafsunya saja.“Kau tidak perlu menatapku seperti itu, tidak ada gunanya marah kepadaku!” cetus Ken. Tanpa melihatnya ia tahu kalau Mahira menahan amarah padanya.“A–aku masih tidak habis pikir dengan ayahku sendiri yang tega menjualku untuk melunasi hutang yang bahkan aku sendi
Dengan langkah kaki yang berat, Mahira berjalan menuju meja akad lalu duduk di samping pria asing itu. Pria yang sama sekali belum pernah ia temui. Jantungnya semakin bergetar hebat, keringat dingin sudah bercucuran dan tangannya begitu gemetar.Ini adalah pernikahan resmi secara agama dan negara. Ternyata Khairi sudah menyiapkan itu semua dari jauh-jauh hari. Membuat rasa benci pada ayahnya semakin besar.Saat kata sah terucap dari para saksi, kehidupan baru Mahira akan di mulai.“Silakan kedua pengantin menandatangani berkasnya,” titah penghulu yang duduk di hadapan mereka.“Kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga hidup kalian di liputi kebahagiaan ...” ujar penghulu kemudian berlalu pergi. Pernikahan yang begitu singkat tanpa tamu undangan.Hanya keluarga inti Mahira dan beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang menyaksikan pernikahan itu. Bahkan keluarga Ken sendiri tidak tampak hadir.Ken berbalik badan menatap Mahira yang tertunduk lesu. Mer
Dengan nafas terengah-engah, Mahira akhirnya sampai di kediaman Khairi–sang ayah. Menatap bangunan megah tiga lantai di hadapannya, rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya selama lima belas tahun terakhir. Tidak terasa sudah delapan tahun Mahira dan Paramita–ibunya–meninggalkan rumah ini. Ia mengusap air matanya yang membasahi pipi kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. “Aku kembali kemari untuk mencari ibu. Entah apa mau ayah membawa ibu pergi diam-diam saat aku sedang tidak di rumah?” gumamnya. Pelayan membukakan pintu rumah dan mempersilakan Mahira masuk. Ternyata semua orang sudah menunggu kedatangan Mahira. Khairi, Cecilia–ibu tirinya dan kedua adik kandungnya Ruby dan Rebecca. Akan tetapi, di sana tidak terlihat keberadaan Paramita sehingga membuat Mahira meradang. “Di mana ibuku? Cepat katakan!” Ruby dan Rebecca mendekat pada Mahira dan memeluknya. Di antara mereka tidak ada yang berani bicara kar







