Share

Pembuktian

Author: IntanFa
last update Last Updated: 2026-01-03 22:41:54

Rasa penasaran itu harus terkubur sementara sampai Tuan Ken kembali. Bertanya pada pelayan dan pengawal percuma saja karena mereka punya aturan ketat tentang tidak memberi informasi apapun.

Dua hari berlalu dan Ken kembali ke rumah di tengah malam dengan keadaan luka-luka. Dokter pribadi khusus datang untuk merawat Ken.

“Kau ini, senang sekali turun tangan sendiri padahal anak buahmu banyak. Alhasil luka-luka lagi, kan? Bosen banget aku mengobatimu!” tutur dokter Arga. Terdengar akrab memang mereka adalah teman sekolah dulu.

“Aku ingin semua selesai lebih cepat!” jawab Ken datar.

“Untung besar dong?”

“Yasudah pasti.”

“Eh, bukannya beberapa waktu lalu kau menikah? Dimana istrimu, aku tidak melihatnya?” tanya Arga.

“Untuk apa kau melihatnya? Tidak boleh!” jawab Ken.

“Diihhh luluh juga ternyata sama cewek.”

“Hehh kau bicara terus dari tadi. Sudah selesai belum? Kalau sudah sana cepatlah pergi. Kau tetap disini aku tidak akan membayarmu!” ancamnya.

“Iya ... Iya ... Sudah, gitu banget ancamannya. Aku pergi nih, tuh jangan lupa minum obatnya,” tutur Arga kemudian berlalu pergi.

Fattan memanggil pelayan untuk menyiapkan makanan Ken agar meminum obatnya.

“Apa Mahira aman? Dia tidak bertingkah, kan?” tanya Ken.

“Aman. Nona tidak melakukan apapun, hanya berdiam di kamar,” jawab Fattan.

“Bagus!” seru Ken. Istri penurut akan membuat semuanya berjalan dengan mudah.

Setelah menghabiskan makanannya, Ken meminum obat yang Arga berikan. Luka-lukanya cukup dalam dan butuh waktu untuk pulih kembali.

“Apa Mahira sudah tidur?” tanya Ken lagi.

“Sepertinya sudah, pengawal melaporkan, selesai makan malam Nona langsung masuk ke kamarnya,” kata Fattan.

Muncul sedikit pertanyaan di kepalanya Ken, kenapa Mahira begitu tenang tidak ada perlawanan atau tidak mencoba kabur? Kemudian Ken bangkit dari duduknya dan berlalu pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk beristirahat. Ia juga sudah menyuruh Fattan untuk beristirahat.

Ken hendak masuk ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar Mahira, tapi ia penasaran ingin menemui Mahira terlebih dahulu.

“Semuanya aman?” tanya Ken pada kedua penjaga itu.

“Aman Tuan!” jawab mereka serentak.

Kemudian Ken masuk ke dalam kamar Mahira. Ia mendapati Mahira meringkuk di tempat tidur.

“Penurut juga ternyata kau!” gumam Ken.

Mahira yang belum sepenuhnya lelap, menyadari kedatangan Ken dan membuka matanya perlahan.

“Apa kau malaikat maut?” cetusnya pelan.

“Ckkk ... Kau ingin mati menunggu malaikat maut?” sahut Ken.

Mendengar suara tidak asing itu Mahira membuka matanya lebar-lebar dan kemudian terduduk.

“Tuan sudah kembali? A–ada apa kemari?” tanya Mahira gagap.

“Kau istriku. Apa salahnya aku melihat keadaanmu?”

“Ya enggak sih!” Mahira melihat kemeja Ken itu terdapat bercakan darah dan ada perban yang membalut tangannya.

“Anda terluka?”

“Hanya luka kecil! Aku akan kembali ke kamarku. Untuk malam ini aku lelah, kau aman malam ini!” Ken melengos pergi.

Mahira menatap kepergian Ken. “Katanya menikahiku karena ingin memiliki anak, tapi saat ini dia tidak apa-apakan aku. Malah berhari-hari tidak pulang. Apa punya simpanan diluar sana? Biasanya orang berkuasa akan punya banyak wanita. Aghh kenapa aku jadi mikirin hal aneh kayak gini sih?” Mahira kembali berbaring dan menarik selimutnya kembali.

Baru saja matanya ingin terpejam, tiba-tiba ia di kejutkan dengan suara tembakan dan Mahira terperanjat dari tempat tidur membuka pintu mengintip apa yang terjadi karena begitu penasaran. Penjaga di depan pintu juga sepertinya mendekati sumber suara.

Mahira melihat seorang pengawal tergeletak di lantai dan menjadi pijakan satu kaki Ken. “Saya tidak suka pengkhianat yang tidak patuh pada aturan!” Sentak Ken.

Entah apa kesalahan yang telah di perbuat oleh orang itu. Pengawal lainnya menarik tubuh pria yang tergeletak itu dengan berlumuran darah. Membuat Mahira merasa mual melihatnya.

“Kalau aku berusaha kabur darisini, maka nasibku tidak akan ada bedanya dengan orang itu. Oh jangan sampe ya Tuhan, aku masih ingin bertemu ibuku ...” gumam Mahira kemudian ia kembali ke kamarnya dengan mengendap-endap.

Dengan ujung matanya Ken dapat melihat kepergian Mahira dan senyuman menyeringai terukir di bibirnya.

Keesokan harinya, Mahira kembali bangun terlambat karena setelah kejadian semalam, ia kesulitan untuk tidur.

Pintu kamar ada yang mengetuk dan dengan cepat Mahira membukanya. Ternyata Ken yang datang, berjalan mendekat pada Mahira dan ia semakin mundur sampai terjatuh pada tempat tidur.

Itu memudahkan Ken untuk mengukungnya. Lalu ia mengusap lembut pipi yang memerah itu. “Kau tahu, kalau pagi hari itu waktu terbaik kualitas cairanku?”

Bisiknya seraya mengendus tengkuk dan menjalar ke leher Mahira.

“A–ku belum mandi!” sahut Mahira asal.

Tanpa bicara lagi, Ken melumat bibir Mahira untuk menghentikannya bicara dengan tangan yang menggerayangi tubuhnya.

Mahira teringat Ken beberapa malam berada diluar. Takut jika membawa penyakit dari luar sana. Dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Ken agar ciuman ganasnya itu terlepas.

“Kau berani padaku?” sentak Ken.

“Bu–bukan begitu. Tuan beberapa hari menghabiskan malam diluar, aku mau bertanya, menghabiskan malam dengan berapa wanita? Apa terjamin kalau Tuan sehat tidak membawa penyakit?” tutur Mahira sedikit takut.

“Ckkk ... Kau berpikiran seperti itu?”

“Ya, aku suka membaca cerita novel kalau orang sepertimu selalu menghabiskan malam dengan berganti-ganti wanita,” ungkap Mahira asal.

Tanpa basa basi, Ken melucuti pakaiannya dengan menatap Mahira tajam. Rudal yang sudah berdiri menegang itu terpangpang jelas di depan mata Mahira sehingga membuatnya ketakutan.

“Aisshhh aku salah bicara, aku terlalu banyak bicara!” Mahira merutuki dirinya dalam hati.

Dengan sekali tarikan, piyama yang Mahira kenakan itu koyak. Sehingga tubuh polos itu terlihat jelas begitu menggoda.

Kedua tangan Mahira sudah Ken cengekeram dan ia mulai menciuminya tanpa ampun dan memainkan jarinya di area sensitif Mahira. Tentu itu membuat hasrat keduanya semakin menggebu, tanpa menunggu lama Ken melakukan pembuktiannya bahwa dirinya bersih dan masih perjaka.

Mahira pasrah apalagi tubuhnya tidak ada penolakan menikmati setiap gerakan yang Ken ciptakan dengan hati-hati.

“Aku tidak seperti yang kau pikirkan, aku bersih, aku masih perjaka. Kau menuduhku sembarangan. Rasakan akibatnya!” semakin mempercepat gerakannya sehingga membuat Mahira meraung merasakan kenikmatan yang baru ia rasakan.

Pagi panas itu berlangsung cukup lama, stamina Ken yang bagus membuatnya cukup lihai dalam permainan panjang. Sampai akhirnya lahar itu menyembur menciptakan kehangatan. Ken terbaring lemas di samping Mahira dan tersenyum menyeringai menatap Mahira.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Berserah

    Mahira mengernyitkan dahinya, sedikit pergerakan membuatnya merasakan sakit ngilu di area sensitifnya itu. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur ia begitu kesulitan, tapi ia paksakan karena ingin membersihkan diri yang sudah kotor itu.“Mau kemana?” cetus Ken dengan suara paraunya.“A–aku mau ke kamar mandi,” jawab Mahira tersendat.Ken tidak bicara lagi dan Mahira melanjutkan langkahnya yang sempat tersendat itu. Masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower-nya, berdiri di bawahnya dan sekarang tubuh itu telah basah. Air mata telah bercampur membasahi tubuh mungil itu, menyesal tidak ada artinya lagi.“Bu, ini semua demi ibu. A–aku rela melakukan apapun agar ibu tetap hidup dan tunggu aku, aku akan segera membawamu pergi dari pria jahat itu!” lirihnya.Merasa sudah mendapatkan kekuatan lagi, Mahira menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia tidak ingin membuat Ken marah.Sementara Ken masih berbaring di tempat tidur, kemudian ponselnya berdering dan ia ban

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Pembuktian

    Rasa penasaran itu harus terkubur sementara sampai Tuan Ken kembali. Bertanya pada pelayan dan pengawal percuma saja karena mereka punya aturan ketat tentang tidak memberi informasi apapun.Dua hari berlalu dan Ken kembali ke rumah di tengah malam dengan keadaan luka-luka. Dokter pribadi khusus datang untuk merawat Ken.“Kau ini, senang sekali turun tangan sendiri padahal anak buahmu banyak. Alhasil luka-luka lagi, kan? Bosen banget aku mengobatimu!” tutur dokter Arga. Terdengar akrab memang mereka adalah teman sekolah dulu.“Aku ingin semua selesai lebih cepat!” jawab Ken datar.“Untung besar dong?”“Yasudah pasti.”“Eh, bukannya beberapa waktu lalu kau menikah? Dimana istrimu, aku tidak melihatnya?” tanya Arga.“Untuk apa kau melihatnya? Tidak boleh!” jawab Ken.“Diihhh luluh juga ternyata sama cewek.”“Hehh kau bicara terus dari tadi. Sudah selesai belum? Kalau sudah sana cepatlah pergi. Kau tetap disini aku tidak akan membayarmu!” anc

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Rangga mencari Mahira

    Sinar matahari yang menyilaukan membuat Mahira terbangun. Ia terduduk seraya mengucek matanya untuk menjernihkan pandangan. Melihat di sampingnya tempat tidur masih rapi.“Apa Tuan Ken semalam tidak pulang? Atau tidur di kamar lain?” gumam Mahira.Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, ia bangun terlambat. Bergegas beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri lalu menggunakan pakaian yang sudah tersedia.Menyadari dalam ruang wardrobe hanya ada pakaiannya saja, ia menyimpulkan kalau kamarnya terpisah dengan kamar Tuan Ken dan itu membuat hatinya sedikit lega.“Apa yang aku lakukan sekarang? Aghhh perutku lapar, lebih baik aku sarapan terlebih dahulu!”Keluar dari kamar dan mendapati dua penjaga masih ada disana. “Gak tidur mereka?” batin Mahira.“Selamat pagi Nona ...” sapa penjaga itu.“Selamat pagi. Saya mau ke meja makan untuk sarapan!” ujarnya melapor agar tidak ada pertanyaan aneh-aneh.“Silakan Nona ....”Mahira berjalan dan dua

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Penjara

    Menatap istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin, keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun. Kemudian Ken mengisyaratkan pada Fattan untuk membelikan pakaian dan barang-barang baru untuk Mahira.Tanpa penjelasan lebih lanjut, Fattan mengerti dan berlalu pergi.“Kau sudah menjadi istriku sekarang? Apa kau tahu tugas-tugas apa yang harus kau lakukan?” tanya Ken bicara tanpa melihat Mahira.“Aku tidak tahu apa-apa,” jawab Mahira datar.“Cukup menjadi istri yang penurut dan melayaniku setiap malam!” ungkap Ken.Di bawah meja tangan Mahira mengepal, lalu wajahnya ia angkat menatap suaminya yang sama sekali belum ia kenali. Merasa semurahan itu, di nikahi hanya untuk pemuas nafsunya saja.“Kau tidak perlu menatapku seperti itu, tidak ada gunanya marah kepadaku!” cetus Ken. Tanpa melihatnya ia tahu kalau Mahira menahan amarah padanya.“A–aku masih tidak habis pikir dengan ayahku sendiri yang tega menjualku untuk melunasi hutang yang bahkan aku sendi

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Pernikahan dadakan

    Dengan langkah kaki yang berat, Mahira berjalan menuju meja akad lalu duduk di samping pria asing itu. Pria yang sama sekali belum pernah ia temui. Jantungnya semakin bergetar hebat, keringat dingin sudah bercucuran dan tangannya begitu gemetar.Ini adalah pernikahan resmi secara agama dan negara. Ternyata Khairi sudah menyiapkan itu semua dari jauh-jauh hari. Membuat rasa benci pada ayahnya semakin besar.Saat kata sah terucap dari para saksi, kehidupan baru Mahira akan di mulai.“Silakan kedua pengantin menandatangani berkasnya,” titah penghulu yang duduk di hadapan mereka.“Kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga hidup kalian di liputi kebahagiaan ...” ujar penghulu kemudian berlalu pergi. Pernikahan yang begitu singkat tanpa tamu undangan.Hanya keluarga inti Mahira dan beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang menyaksikan pernikahan itu. Bahkan keluarga Ken sendiri tidak tampak hadir.Ken berbalik badan menatap Mahira yang tertunduk lesu. Mer

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Pasrah demi sang ibu

    Dengan nafas terengah-engah, Mahira akhirnya sampai di kediaman Khairi–sang ayah. Menatap bangunan megah tiga lantai di hadapannya, rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya selama lima belas tahun terakhir. Tidak terasa sudah delapan tahun Mahira dan Paramita–ibunya–meninggalkan rumah ini. Ia mengusap air matanya yang membasahi pipi kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. “Aku kembali kemari untuk mencari ibu. Entah apa mau ayah membawa ibu pergi diam-diam saat aku sedang tidak di rumah?” gumamnya. Pelayan membukakan pintu rumah dan mempersilakan Mahira masuk. Ternyata semua orang sudah menunggu kedatangan Mahira. Khairi, Cecilia–ibu tirinya dan kedua adik kandungnya Ruby dan Rebecca. Akan tetapi, di sana tidak terlihat keberadaan Paramita sehingga membuat Mahira meradang. “Di mana ibuku? Cepat katakan!” Ruby dan Rebecca mendekat pada Mahira dan memeluknya. Di antara mereka tidak ada yang berani bicara kar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status