Share

Rangga mencari Mahira

Author: IntanFa
last update Last Updated: 2026-01-03 22:19:11

Sinar matahari yang menyilaukan membuat Mahira terbangun. Ia terduduk seraya mengucek matanya untuk menjernihkan pandangan. Melihat di sampingnya tempat tidur masih rapi.

“Apa Tuan Ken semalam tidak pulang? Atau tidur di kamar lain?” gumam Mahira.

Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, ia bangun terlambat. Bergegas beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri lalu menggunakan pakaian yang sudah tersedia.

Menyadari dalam ruang wardrobe hanya ada pakaiannya saja, ia menyimpulkan kalau kamarnya terpisah dengan kamar Tuan Ken dan itu membuat hatinya sedikit lega.

“Apa yang aku lakukan sekarang? Aghhh perutku lapar, lebih baik aku sarapan terlebih dahulu!”

Keluar dari kamar dan mendapati dua penjaga masih ada disana. “Gak tidur mereka?” batin Mahira.

“Selamat pagi Nona ...” sapa penjaga itu.

“Selamat pagi. Saya mau ke meja makan untuk sarapan!” ujarnya melapor agar tidak ada pertanyaan aneh-aneh.

“Silakan Nona ....”

Mahira berjalan dan dua orang itu mengikutinya. Ia hanya mengabaikannya dan harus membiasakan diri akan itu. Melihat setiap sudut yang di lewatinya hanya ada para pelayan yang sedang bersih-bersih.

Di meja makan, sarapan sudah tersedia. Seperti biasa, selalu banyak padahal hanya untuk makan dirinya dan Ken. Selain harus membiasakan diri di ikuti oleh penjaga, Mahira juga harus membiasakan diri segala hal di layani.

“Terima kasih, mbak ...” ujar Mahira.

“Selamat menikmati, Nona ....”

Keempat pelayan itu hanya berdiri mematung, tanpa bicara sudah seperti mayat hidup. Ingin tahu dimana Ken, tapi Mahira urungkan untuk bertanya itu.

“Aku akan berusaha untuk tahu keadaan ibu hari ini, tapi bagaimana? Kabur tidak memungkinkan!” batin Mahira seraya melihat pelayan dan penjaga yang begitu ketat menjaganya.

Sementara itu di sisi lain ... Rangga tiba dengan mobilnya di kediaman Khairi. Rumah mewah itu tampak sepi, ia datang untung mencari keberadaan Mahira yang dari kemarin tidak bisa di hubungi.

Tok ... Tok ....

Pelayan di rumah itu membuka pintu dengan cepat. “Mau cari siapa, mas?”

“Maaf, saya mau mencari Mahira. Apa dia ada disini?” tanya Rangga.

Pelayan itu terlihat berpikir, apalagi tuan dan nyonya rumah itu melarang para pelayan untuk bicara soal Mahira.

“Bisa tolong panggilkan, mbak?”

“Ada siapa sih, mbak?” tiba-tiba Cecilia muncul dan menatap Rangga dengan tatapan menggoda.

Bagaimana pun juga Rangga begitu tampan, badannya yang kekar dengan wajah yang manis pasti membuat para wanita akan jatuh hati. Termasuk Cecilia, setiap melihat Rangga hasratnya begitu menggebu apalagi usianya hanya satu tahun di bawah Cecilia.

“Maaf, mbak Cecil, saya datang kemari untuk mencari Mahira. Apa bisa saya bertemu dengannya?” tanya Rangga.

Cecilia mendelikkan matanya kesal. Tangannya mengepal marah. Kenapa dirinya harus bersaing dengan Mahira yang menyebalkan itu. Perhatian selalu tertuju padanya!

“Sepertinya mulai hari ini kamu tidak bisa bertemu Mahira lagi!” ungkap Cecilia seraya mengusap lembut dada bidang Rangga itu.

Sontak Rangga menarik tubuhnya menjauh untuk menghindari Cecilia.

“Apa yang terjadi? Cepat katakan?” pinta Rangga.

Cecilia tersenyum licik. Lalu masuk ke dalam rumah memancing Rangga untuk masuk juga karena kebetulan tidak ada siapa-siapa di rumah itu dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sebagus itu.

“Ada apa dengan Mahira?” Ya, Rangga terpancing dan masuk mengekor pada Cecilia.

“Rangga ...” ucap Cecilia dengan manja sembari merangkul lengannya. “Kamu tidak akan pernah bertemu dengan Mahira lagi. Kemarin, dia sudah menikah,” ungkapnya.

“Me–menikah? Dengan siapa?” tanya Rangga.

“Kemarin Mahira hanya mengatakan datang kemari untuk mencari ibunya? Kenapa jadi menikah? Menikah dengan siapa?” batin Rangga bermonolog.

Ketampanan Rangga membuat Cecilia tidak tahan. Hasratnya begitu menggebu, apalagi melihat bagian sensitif Rangga yang begitu menonjol dan ia sudah bisa membayangkan kenikmatannya.

“Rangga ... Mahira sudah menikah dengan pria yang kaya raya dan kehidupannya pasti akan sangat bahagia. Tega sekali dia meninggalkanmu tanpa kabar ...” ujar Cecilia.

“Memang pria itu pilihan ayahnya, tapi Mahira menerimanya dengan senang hati,” sambungnya.

Rangga mengibaskan tangan Cecilia dari lengannya. “kau bohong! Mahira datang kemari bukan untuk menikah, tapi untuk mencari ibunya. Pasti terjadi sesuatu, kan? Katakan!” sentaknya.

“Hahaa ... Kau yang di bohongi. Ibu Mahira baik-baik saja, dalam perawatan dokter handal. Kasihan sekali, percaya begitu saja pada Mahira yang jelas-jelas membohongimu!” tutur Cecilia memutar balikkan fakta yang ada.

Rangga tidak ingin percaya dengan apa yang Cecilia katakan, tapi hatinya terasa sakit mendengar kebenaran kalau Mahira telah menikah.

“Mahira ... Itu tidak benar, kan? Selama ini aku mencintaimu, Mahira. Kenapa kau tega?” batinnya. Kedua tangan Rangga seketika mengepal dan Cecilia menyadari itu dan senyuman licik tergambar jelas di bibirnya.

Kemudian Cecilia menempel pada Rangga lalu menurunkan lengan bajunya sampai dua gundukan itu menyembul dan mengesek-gesekannya pada lengan Rangga.

“Rangga ... Sudahlah, Mahira tidak di takdirkan untukmu!” bisiknya dengan semakin menekan dadanya itu.

Rangga tentu dapat merasakan itu dan dua gundukan itu terlihat begitu jelas. Akan tetapi, Rangga masih bisa berpikir jernih dan menyadari godaan Cecilia. Lalu mendorong tubuh Cecilia sampai terjatuh ke sofa dan menyingkapkan roknya yang ternyata tidak memakai pakaian dalam sama sekali sehingga area sensitifnya itu terlihat jelas merah muda terawat.

“Apa-apaan kau? Jangan kurang ajar!” cetus Rangga seraya memalingkan pandangannya.

“Ranggaaaa ... Apa kurangnya aku di banding Mahira? Aku cantik, seksi, aku janji akan memuaskanmu. Jika kamu mau bersamaku menjadi simpananku, aku akan memberikan apa pun yang kamu mau. Rumah, mobil, apapun itu!” ujar Cecilia menggebu.

“Ckkk ... Jangan harap!” cetus Rangga.

“Hahhh ... Memangnya aku tidak tahu, kau memang di asuh keluarga kaya, tapi tetap saja kau anak angkat dan tidak akan mewarisi kekayaan orangtua angkatmu!” ungkap Cecilia.

“Itukan yang selama ini membuatmu tidak berani mengatakan cinta pada Mahira?” sambung Cecilia dengan tawa ejekan.

Apa yang Cecilia katakan tidaklah salah, itu kebenarannya dan membuat Rangga semakin marah. Meraih dagu Cecilia dan mencengkeramnya dengan kasar.

“Jangan sok tau dengan kehidupanku! Apa kau tidak takut aku laporkan kelakuan bejatmu ini pada paman Khairi?” ancam Rangga.

Cecilia tersenyum menyeringai seraya berkata, “memangnya dia akan percaya padamu? Sepertinya dia hanya akan percaya padaku! Dia anjing perliharaanku, tentu hanya akan tunduk pada tuannya!” ucapnya dengan tawa ejekan.

“Sayang, ayo puaskan aku. Aku sudah tidak tahan lagi ... Ayolah ...” godanya lagi.

Merasa jijik, Rangga melepaskan cengkeramannya dan berlalu pergi meninggalkan Cecilia yang gila itu.

“Hahaaa ... Hari ini kau menolakku, lihat saja nanti. Aku jamin kau akan berlutut di hadapanku!”

Dengan hasratnya yang sudah menggebu, Cecilia bergegas pergi dari rumah untuk menemui berondongnya diluar sana untuk memuaskannya.

Rangga yang masih berada di depan rumah Khairi melihat kepergian Cecilia. “Perempuan menjijikkan! Ciiihhh ....”

Menunggu hampir tiga jam dan akhirnya Rangga melihat Rebecca keluar dari mobil dengan seragam sekolahnya. Rangga bergegas menemui Rebecca.

“Kak Rangga ....”

“Becca ... Apa kau tahu dimana Kak Mahira? Dimana aku bisa menemuinya?” tanya Rangga.

Rebecca sudah di ancam untuk tidak bicara kebenaran soal Mahira dan ia bingung mau menjawab apa.

“Apa benar Mahira sudah menikah?” tanya Rangga.

“I–iya, kemarin kak Mahira menikah,” jawab Becca Ragu.

Hati Rangga merasa terpukul, Becca tidak mungkin bicara bohong.

“Kak Mahira sudah pindah ikut ke rumah suaminya,” ungkap Becca memberi sedikit informasi.

“Siapa yang Mahira nikahi? Dimana rumahnya? Lalu keadaan tante Paramita bagaimana?” tanya Rangga.

“Aku tidak bisa mengatakan apapun, kak. Yang pasti semuanya baik-baik saja,” jawab Becca berbohong sesuai arahan sang ibu tiri. “Kalau tidak ada yang mau di tanyakan lagi, aku masuk dulu ya, kak.”

“Baiklah Becca, terima kasih. Kau istirahatlah ...” ujar Rangga.

Rangga yakin kalau ada hal besar yang mereka sembunyikan, tapi ia berpikir kalau Mahira tega padanya. Tidak memberitahukan hal sebesar itu. Tanpa informasi apapun, Rangga harus pergi.

Sementara itu, Mahira hanya diam berdiri mematung menatap keluar kamar dari jendela yang terlapisi teralis besi itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan, apalagi mendengar kalau Tuan Ken tidak akan kembali dalam dua hari ke depan.

“Sebenarnya ini dimana? Rumah ini ada dimana? Sekelilingnya hanya pohon-pohon besar. Di depan sana pun tidak melihat ada rumah lain, hanya hamparan bukit hijau!” gumam Mahira.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Berserah

    Mahira mengernyitkan dahinya, sedikit pergerakan membuatnya merasakan sakit ngilu di area sensitifnya itu. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur ia begitu kesulitan, tapi ia paksakan karena ingin membersihkan diri yang sudah kotor itu.“Mau kemana?” cetus Ken dengan suara paraunya.“A–aku mau ke kamar mandi,” jawab Mahira tersendat.Ken tidak bicara lagi dan Mahira melanjutkan langkahnya yang sempat tersendat itu. Masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower-nya, berdiri di bawahnya dan sekarang tubuh itu telah basah. Air mata telah bercampur membasahi tubuh mungil itu, menyesal tidak ada artinya lagi.“Bu, ini semua demi ibu. A–aku rela melakukan apapun agar ibu tetap hidup dan tunggu aku, aku akan segera membawamu pergi dari pria jahat itu!” lirihnya.Merasa sudah mendapatkan kekuatan lagi, Mahira menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia tidak ingin membuat Ken marah.Sementara Ken masih berbaring di tempat tidur, kemudian ponselnya berdering dan ia ban

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Pembuktian

    Rasa penasaran itu harus terkubur sementara sampai Tuan Ken kembali. Bertanya pada pelayan dan pengawal percuma saja karena mereka punya aturan ketat tentang tidak memberi informasi apapun.Dua hari berlalu dan Ken kembali ke rumah di tengah malam dengan keadaan luka-luka. Dokter pribadi khusus datang untuk merawat Ken.“Kau ini, senang sekali turun tangan sendiri padahal anak buahmu banyak. Alhasil luka-luka lagi, kan? Bosen banget aku mengobatimu!” tutur dokter Arga. Terdengar akrab memang mereka adalah teman sekolah dulu.“Aku ingin semua selesai lebih cepat!” jawab Ken datar.“Untung besar dong?”“Yasudah pasti.”“Eh, bukannya beberapa waktu lalu kau menikah? Dimana istrimu, aku tidak melihatnya?” tanya Arga.“Untuk apa kau melihatnya? Tidak boleh!” jawab Ken.“Diihhh luluh juga ternyata sama cewek.”“Hehh kau bicara terus dari tadi. Sudah selesai belum? Kalau sudah sana cepatlah pergi. Kau tetap disini aku tidak akan membayarmu!” anc

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Rangga mencari Mahira

    Sinar matahari yang menyilaukan membuat Mahira terbangun. Ia terduduk seraya mengucek matanya untuk menjernihkan pandangan. Melihat di sampingnya tempat tidur masih rapi.“Apa Tuan Ken semalam tidak pulang? Atau tidur di kamar lain?” gumam Mahira.Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, ia bangun terlambat. Bergegas beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri lalu menggunakan pakaian yang sudah tersedia.Menyadari dalam ruang wardrobe hanya ada pakaiannya saja, ia menyimpulkan kalau kamarnya terpisah dengan kamar Tuan Ken dan itu membuat hatinya sedikit lega.“Apa yang aku lakukan sekarang? Aghhh perutku lapar, lebih baik aku sarapan terlebih dahulu!”Keluar dari kamar dan mendapati dua penjaga masih ada disana. “Gak tidur mereka?” batin Mahira.“Selamat pagi Nona ...” sapa penjaga itu.“Selamat pagi. Saya mau ke meja makan untuk sarapan!” ujarnya melapor agar tidak ada pertanyaan aneh-aneh.“Silakan Nona ....”Mahira berjalan dan dua

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Penjara

    Menatap istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin, keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun. Kemudian Ken mengisyaratkan pada Fattan untuk membelikan pakaian dan barang-barang baru untuk Mahira.Tanpa penjelasan lebih lanjut, Fattan mengerti dan berlalu pergi.“Kau sudah menjadi istriku sekarang? Apa kau tahu tugas-tugas apa yang harus kau lakukan?” tanya Ken bicara tanpa melihat Mahira.“Aku tidak tahu apa-apa,” jawab Mahira datar.“Cukup menjadi istri yang penurut dan melayaniku setiap malam!” ungkap Ken.Di bawah meja tangan Mahira mengepal, lalu wajahnya ia angkat menatap suaminya yang sama sekali belum ia kenali. Merasa semurahan itu, di nikahi hanya untuk pemuas nafsunya saja.“Kau tidak perlu menatapku seperti itu, tidak ada gunanya marah kepadaku!” cetus Ken. Tanpa melihatnya ia tahu kalau Mahira menahan amarah padanya.“A–aku masih tidak habis pikir dengan ayahku sendiri yang tega menjualku untuk melunasi hutang yang bahkan aku sendi

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Pernikahan dadakan

    Dengan langkah kaki yang berat, Mahira berjalan menuju meja akad lalu duduk di samping pria asing itu. Pria yang sama sekali belum pernah ia temui. Jantungnya semakin bergetar hebat, keringat dingin sudah bercucuran dan tangannya begitu gemetar.Ini adalah pernikahan resmi secara agama dan negara. Ternyata Khairi sudah menyiapkan itu semua dari jauh-jauh hari. Membuat rasa benci pada ayahnya semakin besar.Saat kata sah terucap dari para saksi, kehidupan baru Mahira akan di mulai.“Silakan kedua pengantin menandatangani berkasnya,” titah penghulu yang duduk di hadapan mereka.“Kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga hidup kalian di liputi kebahagiaan ...” ujar penghulu kemudian berlalu pergi. Pernikahan yang begitu singkat tanpa tamu undangan.Hanya keluarga inti Mahira dan beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang menyaksikan pernikahan itu. Bahkan keluarga Ken sendiri tidak tampak hadir.Ken berbalik badan menatap Mahira yang tertunduk lesu. Mer

  • Menyerahkan Diri Menjadi Kesayangan Tuan Mafia   Pasrah demi sang ibu

    Dengan nafas terengah-engah, Mahira akhirnya sampai di kediaman Khairi–sang ayah. Menatap bangunan megah tiga lantai di hadapannya, rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya selama lima belas tahun terakhir. Tidak terasa sudah delapan tahun Mahira dan Paramita–ibunya–meninggalkan rumah ini. Ia mengusap air matanya yang membasahi pipi kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. “Aku kembali kemari untuk mencari ibu. Entah apa mau ayah membawa ibu pergi diam-diam saat aku sedang tidak di rumah?” gumamnya. Pelayan membukakan pintu rumah dan mempersilakan Mahira masuk. Ternyata semua orang sudah menunggu kedatangan Mahira. Khairi, Cecilia–ibu tirinya dan kedua adik kandungnya Ruby dan Rebecca. Akan tetapi, di sana tidak terlihat keberadaan Paramita sehingga membuat Mahira meradang. “Di mana ibuku? Cepat katakan!” Ruby dan Rebecca mendekat pada Mahira dan memeluknya. Di antara mereka tidak ada yang berani bicara kar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status