Share

Bab 3

Author: Dewgirl
last update publish date: 2026-10-13 10:44:29

Panji baru tiba di kontrakannya ketika langit mulai menunjukkan tanda-tanda pagi. Langkahnya tertatih. Bahu kirinya nyeri, rusuknya sakit setiap kali menarik napas, dan tenggorokannya masih perih akibat cekikan makhluk pucat itu. Dia menjatuhkan tubuh ke tepi tempat tidur.

“Gila. Malam paling buruk dalam hidupku.”

Panji menatap telapak tangannya, mengingat cahaya biru yang meledak dari tubuhnya. Kekuatan itu telah menyelamatkannya, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Dia mengepalkan tangan dan mencoba memusatkan pikiran. Tidak terjadi apa-apa.

“Hebat. Kekuatan muncul sekali, lalu menghilang saat dibutuhkan.”

Ketika hendak berdiri, dadanya mendadak terasa panas. Rasa nyeri menjalar hingga ke bahunya, membuat lututnya kehilangan tenaga. Panji terpaksa berpegangan pada tempat tidur. Keringat dingin membasahi dahinya. Dia mulai menyadari bahwa kekuatan tersebut bukan sesuatu yang bisa digunakan sesuka hati. Tubuhnya sendiri bahkan belum sanggup menanggungnya.

---

Pagi harinya, Panji tetap pergi bekerja. Dia tidak memiliki cukup uang untuk beristirahat hanya karena mengalami kejadian aneh. Lagi pula, siapa yang akan percaya jika dia bercerita bahwa dirinya hampir dibunuh makhluk gaib? Begitu tiba di gudang, dia kembali berhadapan dengan Riko.

“Hei, Panji! Kemarin kita belum selesai,” tegur Riko.

Panji meliriknya malas.

“Aku kira kamu sudah puas mengeroyok orang.”

Kedua teman Riko saling pandang. Wajah Riko memerah karena tersinggung.

“Kali ini kamu tidak akan seberuntung kemarin.”

“Kalau mau berkelahi, cari tempat lain. Aku sedang bekerja.”

Riko tidak terima diabaikan. Dia mencengkeram bahu Panji, lalu mendorongnya dengan kasar.

“Berani sekali kamu melawanku!”

Kedua temannya langsung mengepung Panji. Salah satu dari mereka melayangkan pukulan. Panji menghindar, tetapi serangan berikutnya mengenai bahunya yang masih sakit. Dia meringis dan mundur beberapa langkah.

“Mana keberanianmu sekarang?” ejek Riko.

Riko kembali menerjang. Panji berusaha menangkis, tetapi tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Ketika pukulan berikutnya hampir mengenai wajahnya, rasa panas mendadak menjalar dari dadanya ke kedua tangan.

Cahaya biru muncul di sekitar kepalan tangannya. Panji tertegun. Namun, salah satu teman Riko sudah berada tepat di hadapannya. Secara refleks, Panji mengayunkan tangan untuk menangkis serangan itu.

DOR!

Ledakan energi biru menghantam lawannya hingga terlempar ke belakang. Pria itu jatuh di dekat tumpukan karung, sementara Riko dan temannya yang lain membeku karena terkejut.

“Apa-apaan itu?” seru Riko.

Temannya yang masih berdiri mencoba menyerang Panji dari samping. Panji mengangkat tangan secara refleks. Semburat biru meledak dari telapak tangannya dan menghantam tubuh pria itu hingga tersungkur.

Kini hanya Riko yang tersisa. Meski wajahnya mulai pucat, Riko tetap nekat maju. Dia melayangkan pukulan dengan seluruh tenaga yang dimilikinya. Panji menangkisnya. Cahaya biru kembali menyala, kali ini lebih terang. Energi itu meledak dari tangannya dan membuat Riko terlempar hingga jatuh beberapa langkah darinya. Ketiganya tidak lagi sanggup melanjutkan perlawanan.

Panji berdiri terengah-engah. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana kekuatan itu muncul, tetapi untuk pertama kalinya dia berhasil mengalahkan orang-orang yang selama ini meremehkannya. Cahaya biru perlahan menghilang. Rasa panas menjalar di dadanya, disusul nyeri yang membuat tubuhnya melemah. Dia harus mengepalkan tangan agar tetap berdiri. Riko menatapnya dengan ketakutan.

“Kamu sebenarnya siapa?”

Panji melihat kedua telapak tangannya.

“Aku juga tidak tahu.”

Riko segera bangkit dan menarik kedua temannya menjauh. Kali ini, tidak ada ejekan atau ancaman dari mulut mereka. Panji mengembuskan napas panjang. Dia memang menang, tetapi kekuatan yang baru saja digunakannya masih menjadi misteri. Dia bahkan tidak tahu apakah mampu memanggilnya kembali saat dibutuhkan. Panji meninggalkan Riko dan kedua temannya tanpa menunggu jawaban.

Saat jam istirahat, Panji duduk di belakang gudang. Baru beberapa suap memakan bekalnya, dia mendengar bisikan di dekat telinga.

'Panji Adiwangsa...'

Dia langsung berdiri.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban. Panji memeriksa sekeliling, lalu mengambil sebatang besi pendek di dekat tumpukan palet. Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di ujung lorong. Tubuhnya kurus, dengan mata merah yang menyala samar. Panji menegang. Sosok itu menunjuk ke arahnya, kemudian menghilang.

Panji bergegas memeriksa tempat tersebut. Di dinding, dia menemukan simbol melingkar dengan garis-garis bersilangan. Ketika ujung besi menyentuhnya, terdengar suara mendesis. Simbol itu menghitam sebelum menghilang begitu saja.

“Apa lagi ini?”

“Jangan sentuh tanda itu!”

Panji berbalik. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di mulut lorong. Kemejanya sederhana, tetapi tatapannya tajam dan penuh kewaspadaan.

“Siapa Anda?” tanya Panji.

Pria itu mengabaikan pertanyaannya.

“Apakah semalam kau diserang makhluk gaib?”

Panji mengencangkan genggaman pada besi.

“Dari mana Anda tahu?”

“Jawab pertanyaanku.”

“Kalau Anda tahu sesuatu, jelaskan saja. Jangan menyuruhku menjawab tanpa memberi penjelasan.”

Pria itu mengamatinya sejenak.

“Setidaknya kau masih punya keberanian untuk membantah.”

“Aku tidak mengenal Anda.”

“Benar. Dan sebaiknya kau tidak mencampuri urusan yang belum kau pahami.”

Pria itu berbalik. Panji segera melangkah maju.

“Tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”

Pria itu berhenti tanpa menoleh.

“Kalau ingin tetap hidup, jangan berjalan sendirian setelah matahari terbenam.”

“Kenapa?”

“Karena sesuatu sudah mencium keberadaanmu.”

Setelah mengatakan itu, pria tersebut pergi. Panji hanya bisa menatap punggungnya dengan berbagai pertanyaan di kepala. Ternyata, bukan hanya makhluk semalam yang mengetahui keberadaannya. Ada pihak lain yang sedang mengawasinya.

---

Malam harinya, Panji pulang melewati jalan utama yang ramai. Dia sengaja menghindari lorong-lorong sempit seperti yang disarankan pria asing tadi. Namun, sebuah jeritan terdengar dari gang di sebelah kanan.

“Tolong!”

Panji berhenti. Dia tahu tubuhnya belum pulih. Energi birunya pun belum bisa dikendalikan. Akan tetapi, jeritan itu terdengar lagi. Panji mengumpat pelan.

“Kenapa harus sekarang?”

Dia mengambil sebatang besi dari dekat tempat sampah, lalu memasuki gang. Seorang pria tergeletak di dekat dinding. Wajahnya pucat, tangannya gemetar menunjuk ke ujung gang.

“Jangan... mendekat...”

Panji mengikuti arah telunjuknya. Sebuah makhluk berdiri di bawah lampu jalan. Tubuhnya menyerupai manusia, tetapi lengannya terlalu panjang. Kulitnya kelabu, sedangkan mulutnya dipenuhi gigi kecil yang bergerak-gerak seperti kaki serangga. Makhluk itu menoleh dan menyeringai.

“Ketemu juga.”

Panji mempererat genggaman pada besi.

“Sial. Makhluk lain lagi.”

Sosok itu menerjang. Panji menghindar ke samping, lalu menarik pria yang tergeletak agar menjauh dari jalur serangan. Dia mendorong pria tersebut ke belakang sebuah gerobak.

“Lari kalau masih bisa berjalan!”

Pria itu segera menjauh. Makhluk tersebut berbalik dan mengayunkan lengannya. Panji menangkis menggunakan besi, tetapi benturan keras membuat senjata itu terlepas.

Tubuhnya terhuyung. Panji mencoba memanggil energi birunya. Tidak ada cahaya. Tidak ada kekuatan. Hanya rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Makhluk itu mendekat, kemudian mengangkat cakar tajamnya.

“Jadi, ini pemilik darah itu?”

Panji menatapnya tajam.

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”

“Tidak masalah. Kami akan membawamu kepada orang yang tahu.”

Cakar itu menyambar leher Panji. Panji berusaha menghindar, tetapi tubuhnya terlambat bergerak. Dan kali ini, dia tidak sempat menghindar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 10

    Panji masih menggenggam kertas kusut itu ketika Bramantara mengambilnya kembali. “Jangan sampai pesan ini membuatmu bertindak gegabah,” ujar Bram. Panji menatapnya tajam. “Mereka menyebut namaku. Mereka tahu aku sedang berlatih, bahkan tahu soal kekuatanku. Bagaimana aku bisa diam saja?” “Dengan menggunakan kepala, bukan hanya emosi.” Panji mengembuskan napas. Ia tidak menyukai jawaban itu, tetapi ia tahu Bramantara tidak sepenuhnya salah. Sekar berdiri di samping bangku, mengamati gambar rumah kosong pada kertas tersebut. “Simbolnya sama dengan yang pernah kita temukan sebelumnya,” katanya. “Kalau dua orang sudah hilang di sana, kemungkinan tempat itu bukan sekadar rumah kosong.” “Karena itulah kita akan memeriksanya,” jawab Bramantara. “Tapi kita berangkat dengan persiapan yang cukup. Tidak ada yang bertindak sendiri.” Panji mengangguk. “Aku mengerti.” Bramantara menatapnya beberapa saat, seolah memastikan Panji benar-benar memahami peringatannya. “Dan satu hal lag

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 9

    Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 8

    Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 7

    Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 6

    Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 5

    Panji menatap rantai hitam di tangan pria yang berdiri paling depan. Ukiran pada permukaan logam itu berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat tengkuknya meremang. Sekar berdiri di sampingnya sambil menggenggam dua jimat. “Dengarkan aku. Jangan melawan rantai itu dengan energi birumu. Kalau terkena, aliran energimu bisa terganggu.” “Lalu aku harus melakukan apa?” “Jangan sampai tertangkap.” Panji mendengus. “Nasihat yang sangat membantu.” Belum sempat Sekar menjawab, pria pembawa rantai mengayunkan tangannya. Rantai itu melesat seperti ular. “Menunduk!” Sekar menarik bahu Panji. Rantai tersebut melintas di atas kepala mereka, lalu menghantam dinding hingga batu bata berhamburan. Tiga orang lain bergerak mengepung mereka. Salah satunya membawa tongkat pendek, sementara yang lain mengenakan sarung tangan hitam. “Serahkan pemuda itu,” ujar pemimpin mereka. “Kami tidak punya urusan denganmu, Sekar Ayuningtyas.” Sekar menyipitkan mata. “Kalau kalian tahu namaku, seharusnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status