Share

Bab 2

Author: Dewgirl
last update publish date: 2026-10-13 10:43:45

DUARRR!

Ledakan energi biru mengguncang lorong sempit di belakang bangunan tua. Debu beterbangan, peti-peti kayu berhamburan, dan tubuh makhluk pucat itu terlempar hingga menghantam dinding.

Panji terjatuh dengan keras. Untuk beberapa detik, dia hanya bisa terbaring sambil berusaha mengatur napas. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya sakit, dan seluruh tubuhnya seperti baru saja dihantam benda berat.

“Apa... yang barusan terjadi?”

Dia mengangkat kedua tangannya. Cahaya biru yang tadi menyala di sela-sela jemarinya telah menghilang. Tidak ada perubahan apa pun pada kulitnya, seolah ledakan tadi hanyalah sesuatu yang dibayangkan.

Namun, dinding yang retak dan peti-peti yang hancur membuktikan bahwa kejadian itu nyata. Panji perlahan bangkit. Matanya mencari keberadaan makhluk yang tadi mencekiknya.

Sosok itu terlihat terkapar beberapa meter darinya. Salah satu lengannya tertekuk dengan posisi tidak wajar. Tubuhnya mengeluarkan asap tipis, sementara kulit pucatnya tampak menghitam di beberapa bagian. Panji menelan ludah.

“Makhluk sialan itu benar-benar bukan manusia.”

Dia mundur sambil meraih batang kayu yang tergeletak di dekat kakinya. Meski makhluk itu terlihat terluka, Panji tidak berani menganggapnya sudah mati. Benar saja. Jari-jari panjangnya mulai bergerak.

Krek!

Makhluk tersebut bangkit dengan gerakan patah-patah. Kepalanya miring, sementara mulutnya terbuka lebar hingga terdengar bunyi retakan dari rahangnya. Panji mengangkat batang kayu di depan dada.

“Jangan mendekat!”

Makhluk itu menatapnya. Kemudian, ia tertawa. Suara tawanya terdengar semakin keras, memantul di antara dinding bangunan.

“Menarik... sangat menarik.”

“Kalau mau bicara, bicara saja. Tidak perlu tertawa seperti orang kesurupan!”

Makhluk itu mendadak berhenti. Dalam sekejap, tubuhnya melesat ke depan. Panji nyaris tidak sempat melihat gerakannya. Dia mengangkat batang kayu untuk menangkis, tetapi cengkeraman makhluk itu lebih dahulu menghantam lengannya. Batang kayu tersebut patah menjadi dua. Pukulan berikutnya menghantam perut Panji.

“UGH!”

Tubuhnya terlempar dan berguling di atas tanah. Rasa sakit menusuk perutnya. Panji berusaha bangkit, tetapi lututnya terasa lemas. Makhluk itu berjalan mendekat dengan tenang.

“Energi itu masih mentah,” gumamnya. “Kau bahkan tidak tahu cara menggunakannya.”

Panji mengerutkan kening.

“Energi apa?”

Sebagai jawaban, makhluk itu menerjang lagi. Kali ini Panji menjatuhkan tubuhnya ke samping. Cakar makhluk tersebut menghantam dinding, meninggalkan empat goresan panjang pada permukaan semen.

Panji menatap bekas cakaran itu dengan wajah pucat. Kalau serangan tadi mengenai tubuhnya, dia tidak yakin masih bisa berdiri. Dia memanfaatkan kesempatan untuk memukul bagian belakang kepala makhluk itu. Namun, serangannya hanya membuat lawan tersebut menoleh. Makhluk itu kemudian mencengkeram kerah bajunya dan mengangkatnya.

“Lemah.”

Panji berusaha melepaskan tangan yang mencengkeramnya. Dia menghantam pergelangan makhluk itu, menendang perutnya, bahkan mencoba menusuk matanya dengan jari. Tidak ada yang berhasil. Cengkeraman itu justru semakin kuat.

“Darah seorang penguasa seharusnya menghasilkan sesuatu yang lebih baik.”

Panji terdiam sesaat. Penguasa? Apa maksud makhluk ini?

Belum sempat dia bertanya, tubuhnya kembali dibanting ke tanah.

Kepalanya membentur permukaan keras. Pandangannya berkunang-kunang, sedangkan telinganya berdenging.

Makhluk itu mengangkat kaki, bersiap menginjak dadanya. Panji menggulingkan tubuhnya pada detik terakhir. Kaki makhluk tersebut menghantam tanah hingga permukaannya retak. Panji segera bangkit dan berlari menuju mulut lorong.

Dia tidak peduli harga dirinya terluka. Dia tidak peduli makhluk itu menganggapnya pengecut. Bertahan hidup jauh lebih penting daripada membuktikan keberanian kepada sesuatu yang bahkan tidak bisa dia pahami.

Namun, baru beberapa langkah, sebuah bayangan melintas di depannya. Makhluk itu sudah menunggunya. Panji mengerem langkah mendadak.

“Bagaimana bisa...?”

Makhluk itu mengayunkan lengannya. Panji mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah. Benturan keras menghantam lengannya. Rasa nyeri menjalar sampai ke bahu, membuatnya terlempar ke tumpukan peti kayu.

Kali ini, dia tidak langsung mampu bangkit. Napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi dahinya. Sementara itu, makhluk tersebut berjalan mendekat.

“Sekarang aku mengerti,” katanya. “Kau belum pernah dilatih.”

Panji menatapnya dengan mata menyipit.

“Kalau sudah tahu, kenapa tidak sekalian pergi?”

Makhluk itu berhenti.

“Karena aku diperintahkan membawa pemilik energi biru hidup-hidup.”

“Siapa yang memerintahkanmu?”

Makhluk itu tidak menjawab. Ia justru mengulurkan tangan, hendak meraih kepala Panji. Refleks, Panji menepisnya.

“Jangan sentuh aku!”

Cahaya biru muncul lagi di sekitar tangannya. Kali ini, Panji menyadarinya. Cahaya tersebut berdenyut mengikuti detak jantungnya. Ada sensasi hangat yang mengalir dari dada menuju lengan, tetapi semakin dia mencoba memahaminya, semakin tidak teratur aliran itu terasa. Makhluk itu menyipitkan mata. Panji mengepalkan tangan.

“Kalau ini yang kau cari, ambil saja!”

Dia mengayunkan pukulan. Cahaya biru menyelimuti tinjunya, tetapi serangan itu meleset karena makhluk tersebut bergerak lebih cepat. Panji kehilangan keseimbangan. Sebelum sempat memperbaiki posisi, sebuah pukulan menghantam bahunya. Dia kembali terjatuh. Cahaya biru di tangannya berkedip, lalu menghilang.

“Apa-apaan ini?” Panji menggeram frustrasi.

Makhluk itu mencengkeram rambutnya dan memaksanya mendongak.

“Kau tidak mengendalikan energi itu. Kau hanya melepaskannya ketika ketakutan.”

Panji mencengkeram pergelangan tangannya.

“Lalu bagaimana caranya?”

Untuk pertama kalinya, makhluk itu terlihat terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Sesaat kemudian, ia menyeringai.

“Cari seseorang yang bisa mengajarimu. Kalau kau masih hidup sampai saat itu.”

Makhluk itu mengangkat tangannya, bersiap mengakhiri pertarungan. Panji tidak sempat berpikir panjang. Dia mengerahkan seluruh tenaga untuk menghantam dada lawannya dengan kedua telapak tangan.

Tidak ada cahaya. Tidak ada ledakan. Hanya dorongan putus asa yang membuat tubuhnya sendiri terasa semakin lemah. Makhluk itu tertawa, kemudian mengangkat lengannya.

Namun, sebelum serangan berikutnya mendarat, suara dentuman terdengar dari ujung lorong.

Sebuah benda kecil melesat melewati kepala Panji dan menghantam bahu makhluk tersebut. Cahaya putih menyala. Makhluk itu menjerit dan melepaskan cengkeramannya. Panji terjatuh sambil terbatuk-batuk.

Di ujung lorong, seseorang berdiri di bawah lampu yang berkedip. Sosok itu mengenakan pakaian gelap dan menutupi sebagian wajahnya dengan tudung. Di antara jemarinya terdapat selembar kertas bertuliskan simbol yang belum pernah dilihat Panji. Makhluk pucat itu mundur beberapa langkah.

“Kau lagi?”

Sosok bertudung tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan, memperlihatkan jimat kedua. Makhluk itu menggeram. Tatapannya berpindah dari sosok tersebut kepada Panji.

“Ini belum selesai,” desisnya.

Tubuhnya mendadak berubah menjadi gumpalan asap hitam yang merayap di sepanjang dinding, lalu menghilang ke dalam kegelapan. Lorong kembali sunyi. Panji masih duduk di tanah, memegangi dadanya yang sakit. Dia menatap sosok asing di hadapannya.

“Siapa kau?”

Orang itu berjalan mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah sebelum Panji. Matanya tertuju pada tangan Panji yang masih bergetar.

“Kau benar-benar tidak tahu apa yang ada di dalam tubuhmu?”

Panji menggeleng pelan.

“Aku bahkan tidak tahu makhluk tadi apa.”

Sosok itu terdiam cukup lama. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya. Sebuah jimat berbentuk persegi dengan garis-garis merah yang rumit. Ketika jimat itu didekatkan kepada Panji, garis-garisnya mendadak berubah menjadi biru. Sosok asing itu menegang.

“Mustahil...”

Panji menatap jimat tersebut, lalu kembali menatap orang di hadapannya.

“Apa lagi sekarang?”

Orang itu segera memasukkan jimatnya kembali ke saku.

“Dengarkan aku baik-baik. Jangan pulang melewati jalan ini lagi. Dan kalau ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhmu, jangan mencoba mengeluarkan kekuatan itu sendirian.”

Panji mengerutkan kening.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa aku harus mendengarkanmu?”

Sosok itu menatapnya tajam.

“Karena makhluk tadi bukan satu-satunya yang mencarimu.”

Sebelum Panji sempat bertanya lebih jauh, orang tersebut berbalik dan berjalan meninggalkan lorong.

“Hei! Tunggu!”

Panji berusaha berdiri untuk mengejarnya, tetapi rasa sakit di kakinya memaksanya kembali bersandar pada dinding. Ketika akhirnya dia berhasil bangkit, sosok itu sudah menghilang. Panji berdiri sendirian di tengah lorong yang berantakan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa kehidupannya tidak akan kembali normal semudah yang dia harapkan. Dan jauh di atas atap bangunan tua, sepasang mata merah mengawasi tempat tersebut. Sebuah suara terdengar dari balik kegelapan.

“Energi biru itu sudah muncul.”

Bayangan tersebut mengangkat ponsel dan mengirimkan satu pesan singkat.

'Target ditemukan. Pemilik energi biru telah bangkit.'

Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk.

'Jangan bunuh dia. Bawa hidup-hidup.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 10

    Panji masih menggenggam kertas kusut itu ketika Bramantara mengambilnya kembali. “Jangan sampai pesan ini membuatmu bertindak gegabah,” ujar Bram. Panji menatapnya tajam. “Mereka menyebut namaku. Mereka tahu aku sedang berlatih, bahkan tahu soal kekuatanku. Bagaimana aku bisa diam saja?” “Dengan menggunakan kepala, bukan hanya emosi.” Panji mengembuskan napas. Ia tidak menyukai jawaban itu, tetapi ia tahu Bramantara tidak sepenuhnya salah. Sekar berdiri di samping bangku, mengamati gambar rumah kosong pada kertas tersebut. “Simbolnya sama dengan yang pernah kita temukan sebelumnya,” katanya. “Kalau dua orang sudah hilang di sana, kemungkinan tempat itu bukan sekadar rumah kosong.” “Karena itulah kita akan memeriksanya,” jawab Bramantara. “Tapi kita berangkat dengan persiapan yang cukup. Tidak ada yang bertindak sendiri.” Panji mengangguk. “Aku mengerti.” Bramantara menatapnya beberapa saat, seolah memastikan Panji benar-benar memahami peringatannya. “Dan satu hal lag

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 9

    Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 8

    Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 7

    Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 6

    Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 5

    Panji menatap rantai hitam di tangan pria yang berdiri paling depan. Ukiran pada permukaan logam itu berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat tengkuknya meremang. Sekar berdiri di sampingnya sambil menggenggam dua jimat. “Dengarkan aku. Jangan melawan rantai itu dengan energi birumu. Kalau terkena, aliran energimu bisa terganggu.” “Lalu aku harus melakukan apa?” “Jangan sampai tertangkap.” Panji mendengus. “Nasihat yang sangat membantu.” Belum sempat Sekar menjawab, pria pembawa rantai mengayunkan tangannya. Rantai itu melesat seperti ular. “Menunduk!” Sekar menarik bahu Panji. Rantai tersebut melintas di atas kepala mereka, lalu menghantam dinding hingga batu bata berhamburan. Tiga orang lain bergerak mengepung mereka. Salah satunya membawa tongkat pendek, sementara yang lain mengenakan sarung tangan hitam. “Serahkan pemuda itu,” ujar pemimpin mereka. “Kami tidak punya urusan denganmu, Sekar Ayuningtyas.” Sekar menyipitkan mata. “Kalau kalian tahu namaku, seharusnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status