แชร์

Merintis Karier setelah Bercerai
Merintis Karier setelah Bercerai
ผู้แต่ง: Makjos

Bab 1

ผู้เขียน: Makjos
Seorang teman mengirim pesan kepadaku untuk menanyakan kenapa aku tidak menghadiri pesta ulang tahun keenam putraku. Aku mengklik gambar tersebut, lalu melihat putraku digendong oleh asisten suamiku ketika memotong kue. Mereka terlihat seperti ibu dan anak sungguhan.

Hari ini adalah ulang tahun putraku yang keenam, aku pun sibuk menyiapkan segala sesuatu di rumah seharian.

Dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam, aku menelepon dan mengirim pesan, tetapi tidak ada yang menjawab. Ternyata mereka sudah merayakan ulang tahun itu bersama orang lain, tetapi tidak mengundangku. Melihat meja yang penuh dengan makanan lezat dan kue pesanan khusus, aku memotong sepotong kue dan memasukkannya ke mulutku.

Ayah dan anak itu kembali pukul sepuluh malam, suara mereka mengejutkanku hingga terbangun. Mereka menjinjing banyak hadiah. Ketika melihatku, senyum mereka perlahan memudar.

Anakku, Mason, mendengus keras. Dia menunjuk kue pesanan khususku di atas meja dan berkata, "Norak banget. Aku suka kue yang dibelikan Bibi Erika untukku. Ada gambar Ultraman di atasnya."

Christian mengadang di depan Mason dan berujar, "Mason yang nggak mau undang kamu. Yang kamu lakukan sebelumnya memang keterlaluan."

Aku menyipitkan mata dan mulai mengingat-ingat. Yang dimaksud Christian dengan "keterlaluan" adalah insiden beberapa hari yang lalu. Mason merebut hadiah seorang gadis kecil. Ketika gadis itu tidak setuju memberikannya, Mason malah mendorongnya. Oleh karena itu, aku baru menyuruh Mason untuk meminta maaf. Ternyata, itu termasuk keterlaluan.

Aku mengangguk dan tidak berniat untuk berdebat. Aku bangkit dan membersihkan meja.

Christian membawa Mason pergi mencuci tangan. Dengan tangan yang masih basah, dia memelukku dari belakang. Tangannya memegang sebuah tas kecil.

"Erika minta aku untuk berikan ini padamu. Dia bilang, hari ulang tahun anak juga termasuk hari penderitaan bagi ibu. Gadis itu sangat perhatian."

Aku melirik logo di tas itu dan langsung mengenalinya sebagai hadiah gratis. Christian mungkin tidak tahu bahwa aku pernah melihat merek ini di lemari. Aku terus menunggu hingga ulang tahun pernikahan kami yang jatuh pada dua minggu lalu. Namun, aku masih belum menerima hadiah apa pun. Sekarang, aku baru menyadari bahwa dia ternyata berencana memberikan hadiah itu kepada orang lain.

Melihatku tidak berbicara, Christian lanjut berbicara dengan suara yang lebih dingin, "Jangan salahkan dia. Sebelumnya, dia bukan sengaja mau buat rumah berantakan. Dia cuma seorang gadis yang bahkan belum lulus kuliah dan nggak ngerti tentang etiket sosial. Tapi, dia tetap ingat untuk suruh aku minta maaf kepadamu. Itu sudah lebih dari cukup."

Aku teringat lagi kapan aku menyadari ada yang janggal tentang Christian.

Itu adalah ketika dia membawa asistennya, Erika, yang sedang mengalami kram menstruasi pulang ke rumah. Dia bukan hanya sibuk membuatkan air gula merah untuk Erika, tetapi juga membelikannya banyak pembalut. Dia yang biasanya sangat mementingkan kebersihan malah membiarkan Erika mengotori sofa. Ini adalah perlakuan khusus yang tidak pernah kuterima sebelumnya.

Dari saat itu, aku langsung tahu bahwa sikap Christian terhadap gadis itu berbeda.

Setelah tersadar dari lamunanku, aku mendapati diriku bahkan tak lagi mampu merasa marah. "Taruh saja di situ, aku mau bereskan meja. Hati-hati jangan sampai kotor."

"Brak ...."

Mason membuat suara di luar. Christian segera melepaskanku dan pergi keluar.

Aku melihat kue yang jatuh dan hancur di samping kaki Mason, lalu membersihkannya dan membuangnya ke tong sampah.

Pada detik berikutnya, terdengar jeritan Mason yang melengking. "Dasar perempuan jahat! Jangan sentuh kueku!"

Kemudian, sebuah gelas kaca menghantam kepalaku. Setelah rasa sakit yang tajam, aku mencium bau darah.

Christian segera membantuku berdiri dan berujar, "Kue ini hadiah dari Erika, bahkan ada gambar Ultraman di atasnya. Kamu nggak seharusnya membuangnya."

Aku hanya merasa ini semua sangat konyol dan tidak berhenti menyeka darah.

Christian menarikku sambil berkata akan membawaku ke rumah sakit. Aku tidak menolak. Dahiku mungkin perlu dijahit.

Begitu kami melangkah keluar, ponsel Christian berdering. Dia menjawab dengan nada khawatir dan cemas. Aku bisa langsung menebak siapa yang menelepon.

"Rania, Erika bilang ada orang yang berkeliaran di luar apartemen sewaannya. Aku akan pergi periksa dan segera kembali ...."

Sebelum dia selesai bicara, aku menyela, "Rumah sakit nggak jauh. Aku bisa pergi sendiri. Kamu bawa saja Mason pergi."

Aku menarik mantel untuk membungkus tubuhku dengan lebih rapat dan berbalik untuk pergi. Begitu sampai di pintu masuk rumah sakit, semuanya menjadi gelap. Aku berusaha berjalan sampai ke depan meja resepsionis sebelum akhirnya jatuh.

Dokter mengatakan aku hamil.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Merintis Karier setelah Bercerai   Bab 8

    Di meja makan, Mason terus memohon agar aku menerimanya tinggal bersamaku. Aku menolak dengan alasan seadanya, tetapi sikapku sangat tegas.Aku tidak akan pernah bisa bersikap seperti dulu, juga tidak bisa sepenuhnya mengesampingkan dendam terhadap anak ini. Aku mengabaikan ekspresi kecewanya dan melahap makananku dengan santai.Di tengah makan, Erika yang sedang hamil besar datang dengan membawa segelas air lemon dan bersiap-siap untuk menyiramku. Christian melindungiku dan basah kuyup karenanya.Erika berseru sambil menangis, "Aku sudah mengandung anakmu dengan susah payah, tapi kamu malah berbuat begini terhadapku? Bisa-bisanya kamu datang temui wanita ini tanpa sepengetahuanku!"Aku samar-samar menangkap kata "perselingkuhan" dari mulut orang di sekitar. Aku pun menyeka mulutku, lalu mendorong Christian menjauh."Erika, ngomong yang jelas dikit. Aku mantan istri Christian dan Mason itu anakku. Meski sudah cerai, aku masih bisa bertemu anakku. Buat apa kamu menyudutkanku? Apa kamu

  • Merintis Karier setelah Bercerai   Bab 7

    Aku sibuk mempersiapkan karyaku untuk mengikuti sebuah kompetisi. Jika bisa memenangkan kompetisi tersebut, reputasi merek kami akan meningkat. Jadi, aku pun begadang beberapa malam di studio.Ketika pulang keesokan paginya, sepasang ayah dan anak berdiri kaku di pintu masuk kompleks apartemenku. Aku pun merasa terkejut.Kemudian, Mason dengan gembira berlari ke arahku dan memelukku. "Mama, aku sangat merindukanmu!"Aku termenung sejenak, lalu segera mendorongnya menjauh. "Aku bukan mamamu. Kamu salah orang!"Mata Mason langsung memerah dan berlinang air mata. "Mama, kamu mamaku."Menghadapi Mason lebih melelahkan daripada bekerja. Aku tidak lagi memiliki kasih sayang ibu yang tulus untuk anak ini. Setiap kali melihatnya, aku akan teringat bagaimana dia ingin membunuhku demi orang luar.Aku menoleh ke arah Christian dan menuntut, "Kamu sudah janji nggak akan datang menggangguku."Christian tersenyum kecut dan menyahut, "Dia kangen sama ibunya, aku juga nggak berdaya."Aku membalas, "Bu

  • Merintis Karier setelah Bercerai   Bab 6

    Malam itu juga, aku meninggalkan rumah Christian. Christian menawarkan untuk mengantarku, tetapi aku menolak dan menyuruhnya untuk mempertimbangkannya dengan baik dalam tiga hari.Jika dia menolak, aku bisa menuntut, pisah rumah, atau memaksanya dengan opini publik. Aku akan memilih pilihan yang membuatku merasa puas.Wajah Christian perlahan-lahan berubah muram.Keesokan harinya, Christian meneleponku. Suaranya penuh kelelahan. "Sudah terjadi sesuatu pada Erika. Dia mencoba bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya, tapi berhasil diselamatkan. Rania, aku yang bersalah padamu. Aku nggak bisa membiarkannya terluka. Kita cerai saja."Aku tidak berkomentar. Tindakan Erika justru sudah menyelamatkanku dari kerepotan.Dua bulan kemudian, aku berhasil mendapatkan akta cerai. Aku hampir tidak dapat menyembunyikan kegembiraanku saat menuruni tangga.Christian yang menggandeng tangan Mason memanggilku, lalu mengatakan dia ingin mentraktirku makan.Aku berbalik dan tersenyum. "Aku nggak

  • Merintis Karier setelah Bercerai   Bab 5

    Christian mengerutkan kening dan bertanya, "Rania, apa lagi maumu sekarang?"Erika berjalan mendekat dengan air mata mengalir di wajahnya."Kak Rania, aku dan Kak Christian benar-benar nggak punya hubungan apa-apa. Mantan pacarku duduk di belakang kami di konser itu. Dia terus menggangguku, jadi aku nggak punya pilihan selain bersandiwara bersama Kak Christian untuk mengusirnya. Aku benar-benar nggak bermaksud merusak rumah tangga kalian."Aku bertepuk tangan sambil tertawa. "Pasangan murahan seperti kalian memang serasi. Di video itu, kalian berciuman hingga lidah kalian juga kelihatan. Tapi, kalian masih mau cuci otak sendiri dengan bilang kalian nggak punya hubungan apa-apa? Kalau kamu dikuntit, memangnya nggak bisa lapor polisi? Cuma bisa selamatkan diri dengan mencium pria yang sudah menikah? Tolong deh, memangnya ini sinetron?"Wajah Christian berubah menjadi sangat suram.Seorang teman Christian menasihatiku, "Kakak Ipar, kalian sudah menikah begitu lama. Memangnya kamu masih n

  • Merintis Karier setelah Bercerai   Bab 4 

    Dokter Ariel adalah dokter yang mendiagnosis kehamilanku sebelumnya. Setelah aborsi, aku beristirahat di rumah sakit selama tiga hari.Ketika aku pulang ke rumah, Christian langsung marah dan menuntut penjelasan. "Kamu dari mana saja? Nomormu nggak bisa dihubungi, kamu juga nggak balas pesan WhatsApp-ku! Kamu bahkan nggak peduli sama anak. Kalau bukan karena Erika, entah betapa sibuknya aku sekarang! Jangan harap aku lepaskan kamu kalau kamu nggak kasih aku penjelasan yang masuk akal!"Aku duduk di sofa dan merasa sangat lelah. "Bukannya ibumu senggang? Bukannya dia paling suka anak-anak?"Christian membalas, "Ibuku sudah tua, mana bisa dia jaga anak selama itu? Sebagai seorang ibu, kamu malah nggak peduli?"Aku pun tersenyum. Dulu, wanita tua itu berebut untuk merawat anak itu di sisinya. Setelah salah mendidik anak, dia pun mengirim anak itu kembali. Sekarang, dia merasa itu terlalu merepotkan?Aku bertopang dagu dan menyahut sambil tersenyum tipis, "Kalau begitu, bukannya masih ada

  • Merintis Karier setelah Bercerai   Bab 3

    Setelah hening sejenak, Christian berujar, "Kamu bahkan nggak bisa urus satu anak dengan baik, kamu akan kewalahan kalau melahirkan lagi. Yang kuinginkan sekarang cuma Mason tumbuh dengan baik."Aku menatapnya sangat lama. Mataku terasa perih karena menahan air mata. "Aku cuma bercanda."Aku tidak ingin mengatakan apa pun lagi. Jadi, aku menutup mulutku dan pergi ke kamar mandi untuk muntah. Ketika aku keluar, Christian sedang menelepon. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, dia pun bergegas keluar. Aku mencoba menghentikannya, tetapi dia mendorongku ke samping.Christian sangat marah dan menunjukku sambil berseru, "Ini masalah hidup dan mati, tapi kamu masih saja cemburuan! Dia masih muda, tapi harus minum-minum sampai lambungnya sakit demi bisnis. Dia nggak seperti kamu yang bisa dapatkan uang meski cuma di rumah setiap hari!"Aku mengambil kartu nama dari laci di pintu masuk dan menyahut, "Kamu sudah minum alkohol dan nggak boleh mengemudi. Ini nomor sopir pengganti. Telepon saja

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status