Share

Cicilan menumpuk

Penulis: Rianievy
last update Tanggal publikasi: 2025-01-24 08:55:33

💐

Jangan dikira semenjak Aisyah pulang ke apartemen, semua berjalan lancar. Aisyah memandangi dirinya di depan cermin kamar mandi. Tangannya gemetar pelan saat memegang alat tes kehamilan.

"Ya ampun." Ia membekap mulutnya dengan tangan. Benda pipih panjang diletakkan di atas wastafel, ia menyugar rambutnya dengan kelima jari tangan, buru-buru keluar menuju kalender yang terpasang di dekat dapur.

Telunjuknya menghitung tanggal ia pulang, lalu menyerahkan diri seutuhnya sebagai kewajiban seora
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
iinfadilah415
si dava knpa pula g ada kapoknya.. nganter bumil kedokter aja g isa...lupa apa ya dia yg bikin aisyah hamil... haddeedhhh
goodnovel comment avatar
iinfadilah415
ujian bu gendiss emang ada pda anaknya....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mertua Masa Gini?   Berproses

    Semua mata tertuju ke Gendis. Ruang aula itu tiba-tiba hening beberapa saat. Gendis tau, tidak mungkin ia teruskan untuk menegur si penggosip karena bisa saja menjadi ribut besar. Ia berdiri, tidak ada senyuman sama sekali. Ketegangan terasa intens bahkan sampai membuat salah satu anggota PKK memegang dadanya. "Saya tidak bangkrut apalagi miskin." Senyum Gendis mengembang. Dengan gaya berjalan yang anggun juga langkah tegas. Ia ambil spidol lalu berdiri di depan papan tulis putih. "Ok. Kita mau bahas piknik anggota PKK RW lima belas komplek kita. Siapa yang mau kasih ide tempat? Budgetnya nanti kita cari sponsor juga uang pribadi yang saya akan hitung dengan seksama supaya tidak mahal. Ok?!" Gendis menatap kesemua orang yang hadir. Ia kembali ke mood yang tenang dan pengatur. Tawa dan luncuran ide dari komentar sesama anggota PKK terdengar. Suasana mencair tak lama setelahnya. Gendis tau siapa orang yang bergosip tentangnya, ia akan kasih pelajaran suatu hari nanti. *** "Gini ama

  • Mertua Masa Gini?   Nasehat

    Selamat kembali membaca. __________Total kerugian tidak bisa dianggap sepele. Pihak asuransi bahkan menginformasikan jika tidak semua kerugian bisa diklaim. Bukan tebak-tebakkan asal bunyi, tapi semua sudah dianalisa Daffa. "Kita jual cepat, aja. Biar semua selesai." Ketok palu keputusan sudah ia ambil. Gendis diminta fokus merawat Agung atas rembukan bersama anak-anak. Marah? Kesal? BT? Jelas pasti. Merengut sudah menjadi sarapan sampai makan malam keseharian di rumah itu mulai saat ini. Ah, bagi Raffa dan Kirana ini kejutan seru. Melihat ibunya tak bisa berkutik soal resiko musibah kebakaran yang terjadi dan melahap semua kerugian juga. "Pemilik ruko juga punya asuransi kebakaran ternyata. Ya walaupun sedikit tapi seenggaknya mereka juga gak mau lepas tangan. Lumayan, lah," tukas Daffa. Ia bersiap ke kantor, Aisyah duduk di tepi ranjang memandangi suaminya dengan wajah sendu. "Terus, soal aset yang Ibu punya?" sambung Aisyah. "Harus dijual semua sesuai daftar yang udah dica

  • Mertua Masa Gini?   Ego dan masa lalu

    Selamat membaca kembali. ------Keajaiban datangnya bisa lewat apa saja atas izinNYA. Hal ini juga yang terjadi pada keluarga Gendis. Setelah menunggu satu malam lagi di ICU barulah Agung dipindahkan ke kamar rawat. Tetap saja Gendis ambil yang paling mahal. Super VVIP dengan fasilitas ternyaman. Keempat anak kandungnya tak bisa berkata-kata, apalagi Gendis tidak mau repot dengan klaim asuransi. "Ayah, orang kantor mau datang. Kamu yakin sama keputusan kemarin?" kata Gendis sembari membantu suaminya meminum teh hangat dengan sedotan. "Mau nggak mau. Anak-anak kamu udah kasih tau?" Gendis menggeleng. "Nggak perlu. Ini urusan kita."Kursi di seret Gendis mendekat ke ranjang. Ia tatap suaminya yang mulai keriput, wajar namanya juga sudah kepala enam. "Jangan begini terus," jeda Agung. "Anak-anak punya cara sendiri buat selesaikan masalah. Kamu cukup lihatin aja. Mereka dewasa, mereka harus mandiri dengan jalannya." Pelan tapi mampu membuat Gendis menatap lekat ke suaminya. "Kita u

  • Mertua Masa Gini?   Jangan atur-atur

    Selamat membaca. ______Gendis terlihat sembab. Tangannya terus menggenggam jemari Agung. Sudah hari ketiga di ruang ICU, tapi suaminya belum sadar pasca operasi. Bunyi monitor dari benda kecil yang dipasang pada tubuh suaminya, membuat Gendis risih. Rasanya ia ingin cabut semua kabel yang terpasang sebagai monitor perkembangan fungsi tubuh Agung, apa daya tak akan mungkin bisa. Kini ia hanya bisa menahan rasa itu tanpa bisa protes seperti biasanya jika ada yang tidak sesuai harapannya. "Ibu, maaf. Jam besuknya habis. Ibu bisa kembali lagi besok pagi, ya." Perawat berdiri di samping Gendis, ia langsung bangun dari duduknya perlahan. Enggan tapi mau tak mau. "Suster, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya, ya." Gendis menatap bergantian ke perawat lalu suaminya. Ia menghela napas panjang begitu pelan, tatapannya tak bisa dibohongi ia sedih dengan keadaan ini. Gendis pulang naik taksi. Dipandangi jalanan yang ramai kendaraan dengan perasaan kosong. Bukan karena Agung yang sakit, m

  • Mertua Masa Gini?   Serangan

    "Ibu nggak bisa terus-terusan begini! Kirana nggak enak sama Mas Henggar, Bu. Kirana tau Ibu mampu atasin semua hal. Apapun! Cuma tolong lah, Bu, berhenti dulu campurin urusan anak dan menantunya." Kirana memohon. Ia bukan tipe anak yang membantah, hanya saja memang Gendis kembali diluar batas. "Salah! Ibu salah!" Tunjuknya ke diri sendiri. Kedua matanya melotot tajam ke arah putri yang dari wajah pun, mirip dengannya. Sedangkan Nanda lebih mirip Agung. "Kamu bukannya bersyukur masih ada orang tua yang mau bantu kesusahannya malah marah-marah. Pantes nggak kamu begini, hah?!" Keributan justru terjadi di kamar itu. Agung menerobos masuk. Ia menarik tangan Gendis supaya keluar dari sana, menjauh sejenak menenangkan hati. Henggar duduk di tepi ranjang bersama Kirana yang terlibat menahan kekesalan. "Ibu tuh kebangetan tau nggak, Mas?!" toleh Kirana ke arah suaminya di sisi kanan. "Jengkel lama-lama aku sama Ibu," imbuhnya lagi. Henggar merangkul bahu Kirana. Menenangkan dengan bersi

  • Mertua Masa Gini?   Ketegasan

    Selamat membaca, _____Gendis, wanita keras kepala itu bahkan tak mendengarkan saran dan tiga teman dekatnya. Ia yakin dirinya tak salah karena tujuannya baik, mau kehidupan anak-anaknya selalu mulus. Siapa yang bisa menyangka jika pada akhirnya rencana yang sudah disusun tak bisa berjalan sesuai harapan. Pertama, Nanda ngambek karena Gendis membeli mobil untuknya dan meminta itu dikembalikan ke penjual tanpa Nanda peduli ribetnya seperti apa. Tak sampai disitu. Anak yang selama ini penurut, perlahan membangkang karena ulah Gendis sendiri. Sepulang dari Semarang, Nanda pindah kosan tanpa izin dengannya juga Agung. Satu minggu tidak membalas telpon atau whatssapp Gendis juga ketiga kakaknya. Semua panik. Apalagi saat tau sedang marak penipuan yang pelakunya mahasiswa. "Nanda kemana kamu?" Gendis tak bisa tidur nyenyak, ia butuh tau anak gadisnya kemana. Di kampus juga tak ada. Gendis sudah bertanya ke teman kuliah Nanda. Suara sepeda motor berhenti di depan pagar rumah. Gendis be

  • Mertua Masa Gini?   Bu Sukun cari perkara

    💐Gendis tak peduli jika ia dibenci Yasmin, bodo amat. Apalagi ia yang biayai persalinan sampai pulang ke rumah, bahkan aqiqah pun, Gendis yang biayai atas dasar sedekah ke cucu.Seharusnya jadi urusan Daffa, tetapi karena uang Daffa tak cukup, jadilah Gendis dan Agung lagi yang biayai.Kedua oran

  • Mertua Masa Gini?   Bahan gosip

    💐"Makanya, saya juga kaget. Kok mendadak banget tau-tau siraman si Daffa." Bu Sukun, warga di ujung jalan yang memang doyan ghibahin tetangga berbisik-bisik dengan temannya saat berjalan kaki hendak menuju ke rumah Gendis.Kurang dari satu bulan persiapan selesai. Tentu saja buru-buru sebelum per

  • Mertua Masa Gini?   Kacamata orang lain

    💐"Siapa yang belum masukin baju ke mesin cuciii!" teriak Gendis dari belakang rumah, tepatnya tempat jemuran dan cuci baju.Nanda lompat dari atas kasur, ia buka keranjang baju kotor. Sudah kosong. Aman .... Ia lantas membuka pintu kamar, masuk tanpa mengetuk ke kamar Raffa."Bang Raffa! Baju lo!

  • Mertua Masa Gini?   Syukuran = berbagi

    💐"BURUAAANNN!" teriak Gendis, wanita berusia lima puluh tahun berdiri berkacak pinggang di ruang tamu rumah dengan empat kamar."Ya ampun, Bu ... sabarrrr!" balas Nanda, anak keempatnya yang masih SMA kelas dua.Grabak grubuk heboh di dalam rumah pasti terdengar setiap harinya. Tanpa terkecuali!

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status