Matahari pagi menyelinap pelan melalui jendela apartemen Nara, menembus celah tirai putih yang melambai lembut tertiup angin dari pendingin ruangan. Di atas sofa ruang tamu, Nara masih duduk dengan tubuh memeluk lututnya. Rambutnya berantakan, matanya sembab. Ia belum tidur.
Bara telah pulang satu jam lalu. Bukan karena diminta, bukan karena pertengkaran—tetapi karena mereka sama-sama takut. Setelah ciuman itu, setelah tubuh mereka terlalu dekat, dan napas saling bertukar dalam keheningan malam … mereka berhenti. Nara menyuruh Bara pergi. Dengan suara pelan dan mata yang tak berani menatap. Ia hanya berkata, "Kalau kamu tinggal, semuanya akan rusak." Dan Bara, meski enggan, memilih diam-diam meraih jaketnya dan meninggalkan apartemen dengan tatapan terluka. Sekarang, Nara terdiam dalam apartemennya yang dingin. Di luar, New York mulai hidup kembali. Tapi jiwanya … belum. Di seberang kota, Bara duduk di kursi tinggi dapur kecil di unit serviced apartment tempatnya menginap. Kopi yang ia buat tak disentuh. Ia hanya menatap ponselnya—layar yang kosong, tanpa pesan baru dari Nara. "Argh!" Ia menyentakkan ponsel ke meja marmer, memejamkan mata sambil mengusap wajah dengan kasar. Apa yang barusan terjadi? Mereka telah melewati batas yang selama ini mereka tolak dengan keras. Ciuman itu bukan sekadar rindu. Itu adalah luka yang terbuka. Keduanya masih menyimpan semua yang belum selesai. Bara tahu. Begitu pula Nara. Masalahnya bukan pada rasa—tapi pada kenyataan. Pukul sepuluh pagi, Nara masuk ke kantor dengan langkah cepat dan kacamata hitam besar menutupi matanya. Ia menyapa beberapa rekan kerja dengan anggukan singkat. Tak ada senyum. Tak ada basa-basi. Di dalam ruang kerjanya, ia langsung membuka laptop dan menghindari bayangan dirinya di layar yang sedang loading. Ia tahu ia tampak kacau. Belum sempat ia fokus pada email, pintu ruangannya diketuk pelan. "Miss Nara," suara resepsionis dari interkom terdengar, "Mr. Dane is here to see you." Nara menutup mata, napasnya tercekat. "Katakan aku sedang rapat," jawabnya pelan. Hening sebentar, lalu, "Sudah saya sampaikan, tapi beliau bilang ini penting." Nara terdiam. Detik kemudian, pintu diketuk dan terbuka. Bara masuk, dengan jas abu-abu yang terlihat berantakan dan rambutnya tak terlalu rapi seperti biasanya. Sorot matanya langsung menatap Nara, tak memberi ruang untuk menghindar. Nara berdiri. "Aku bilang aku sibuk, Bara." Bara menutup pintu dan menguncinya pelan. "Tapi kita belum selesai." Nara menghela napas, bersandar pada meja. "Apa yang kamu mau?" "Penjelasan," jawab Bara cepat. "Kita tidak bisa pura-pura lagi. Kita berciuman. Kita hampir—" ia menahan kata-katanya. "Kamu merasakannya, Nara. Sama seperti aku. Jangan bohong." Nara menatapnya tajam. "Lalu kamu mau apa? Kita lanjutkan? Seakan-akan tak ada yang salah?" "Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi aku tahu satu hal. Aku tidak bisa jauh darimu lagi." Nara melangkah menjauh, mencoba menghindari keintiman dalam ruangan itu. "Lima tahun lalu, kamu pergi tanpa kata. Tanpa pamit. Meninggalkan aku sendirian dengan segala kebingungan yang sampai sekarang masih aku peluk tiap malam. Dan sekarang kamu kembali, bilang kamu tidak bisa jauh?" Bara mengejar langkahnya. "Aku bodoh. Tapi aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu, Nara. Setiap hari, aku menyebut namamu dalam diam. Aku membaca semua kabar tentang karirmu. Aku ingat setiap tanggal pentingmu. Aku—" "Cukup!" Nara menoleh, air matanya mengambang. "Aku tidak butuh penyesalan. Aku butuh kejelasan." Keheningan merayap. Bara menunduk. Kemudian, dengan nada pelan, ia berkata, "Kau benar. Kita tidak bisa melanjutkan ini tanpa luka." Nara menarik napas panjang. "Jadi kenapa kamu datang lagi?" "Karena meskipun sakit … aku lebih takut kehilanganmu untuk kedua kalinya." Nara memejamkan mata. Hatinya runtuh, pelan-pelan, namun pasti. Ia tahu mereka berada di ambang sesuatu yang besar. Sesuatu yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan. Sore itu, proyek besar perusahaan dimulai di lantai 25—presentasi dengan tim global. Semua karyawan sibuk, suasana kantor riuh. Tapi Nara dan Bara tak berkata apa pun. Mereka berdiri di sisi berlawanan dari ruangan konferensi, seakan dua orang asing. Padahal hanya tadi pagi, mereka berbagi napas dalam satu ciuman. Nara bicara dengan gaya formalnya yang khas. "Tim dari San Francisco akan bergabung lima menit lagi. Kita akan bahas fase rollout untuk bulan depan. Bara, kamu mulai dengan strategi user engagement." "Siap," jawab Bara singkat. Tiap kata mereka profesional. Tiap gerakan terkendali. Tapi setiap tatapan mata yang bersinggungan—ada sisa semalam yang menggantung di udara. Usai rapat, semua orang bubar. Nara membereskan catatannya, dan Bara mendekat. "Boleh bicara sebentar?" tanyanya. Nara diam, lalu mengangguk. Mereka keluar ke balkon kecil di sisi ruangan konferensi. Angin kota menyapu wajah mereka. "Semua ini rumit, Nara," kata Bara. "Tapi aku ingin kita jujur. Aku ingin tahu, kamu masih mencintaiku atau tidak?" Nara menatap langit yang mulai temaram. "Aku mencintaimu. Tapi mencintai kamu tidak cukup untuk menghapus rasa sakit yang pernah kamu tinggalkan." Bara menelan ludah. "Aku akan memperbaiki semuanya. Sedikit demi sedikit." Nara menoleh, menatapnya dalam. "Aku tidak tahu apakah aku kuat untuk melalui semuanya lagi." Bara menggenggam tangannya. "Kalau kamu jatuh, biar aku yang menangkapmu." Dan Nara … tak lagi menarik tangannya. Malamnya, Nara berada di kamarnya, menulis pesan tapi tak kunjung dikirim. Pikirannya dipenuhi oleh segalanya tentang Bara. Tentang malam yang hampir membawa mereka pada kesalahan yang indah. Tentang pagi yang membawa mereka pada kenyataan. Lalu ponselnya bergetar. Pesan dari Bara. 'Aku tahu ini sulit. Tapi malam itu … adalah malam pertama aku merasa hidup kembali.' Nara menutup mata. Dan untuk pertama kalinya, sejak Bara pergi lima tahun lalu, ia membalas. 'Aku juga.' Setelah membalas pesan itu, Nara meletakkan ponselnya di samping bantal. Jantungnya berdebar, bukan karena takut—melainkan karena harapan yang perlahan menyusup lagi, diam-diam. Ia menatap langit-langit kamarnya yang redup, mengingat semua yang pernah ia tahan sendirian selama lima tahun terakhir. Jika cinta ini salah, mengapa rasanya begitu menyelamatkan? Ia memejamkan mata, mencoba mengatur napas. Tapi kemudian, ponselnya kembali bergetar. Satu pesan lagi dari Bara. 'Besok pagi. Sarapan bareng. Tempat biasa. Kalau kamu datang … aku akan tahu aku punya harapan.' Nara tersenyum kecil, pahit dan manis bercampur jadi satu. Tempat biasa. Kafe mungil di sudut Lower East Side yang dulu mereka datangi setiap Minggu pagi—sebelum semuanya runtuh. Tanpa membalas, ia hanya menatap langit-langit lagi. Tapi kali ini, matanya mulai terasa berat. Lelah, namun ada sesuatu yang lebih dalam—seperti pelukan dari masa lalu yang akhirnya berhenti menyesakkan. Esok pagi, ia akan memutuskan. Apakah luka lama layak dibuka kembali … demi rasa yang belum pernah benar-benar mati.'Kamu di sini, Bara. Tapi kenapa aku merasa separuh hatimu berada di tempat lain?' pikirnya sendiri.Perlahan, Nara menggeser tubuhnya lebih dekat. Tangannya melingkar di pinggang Bara, memeluk erat. Ia menarik napas dalam, berharap hangat tubuh Bara bisa meredam kegelisahan yang mengguncangnya sejak tadi.Bara bergerak sedikit, kelopak matanya setengah terbuka. Ia berbalik, menatap Nara dengan mata yang masih berat karena kantuk."Kenapa belum tidur?" suaranya serak.Nara menggigit bibirnya, menatap mata Bara yang gelap namun sulit dibaca. "Aku … ada yang mau aku tanyain.""Harus sekarang?" Bara menarik Nara ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya. "Besok aja, ya? Aku capek banget hari ini.""Enggak mau, Bara. Aku harus tanya sekarang." Nada suara Nara terdengar lembut, tapi ada ketegasan di dalamnya.Bara terdiam, matanya terbuka penuh sekarang. "Tanya apa?"Nara menarik napas. "Pagi tadi … ada telepon masuk di ponselmu. Dari seseorang inisialnya ‘B,' Siapa dia?"Jantung Bara
Aroma kopi yang mengepul di udara bercampur dengan wangi roti panggang yang baru keluar dari toaster, di pagi hari yang terasa lebih hangat. Nara berdiri di dapur, mengenakan piyama tipis dengan rambut yang masih sedikit kusut. Ia tersenyum kecil melihat Bara duduk di meja makan, membaca email di ponselnya sambil menyeruput kopi."Kayak adegan keluarga kecil ya," ujar Nara pelan, mencoba bercanda.Bara menoleh, lalu tertawa kecil. "Keluarga kecil yang belum ada anaknya gitu," balasnya sambil mengedipkan sebelah mata.Nara ikut tertawa, tapi di balik tawanya ada sesuatu yang menggantung di dada. Ia memperhatikan Bara lebih seksama pagi ini. Ada saat-saat ketika Bara tampak kosong. Tatapan matanya kadang menjauh, seperti pria itu sedang berada di tempat lain yang jauh dari ruangan hangat ini.Nara menyeduh kopinya sendiri, duduk di kursi seberang Bara. Pikirannya kembali ke momen di kafe beberapa hari lalu, saat Bara menatapnya dengan sorot mata yang begitu dalam—penuh rindu, penuh lu
Senja di Manhattan terasa lebih dingin dari biasanya. Di dalam sebuah restoran mewah dengan kaca besar menghadap gedung-gedung pencakar langit.Bara duduk diam menatap segelas wine merah di depannya. Tangannya meremas gagang gelas itu erat-erat, seolah mencoba menahan emosi yang sudah bergejolak sejak pagi.Di hadapannya, Bianca duduk dengan anggun. Wanita itu mengenakan gaun hitam sederhana namun elegan, rambut panjangnya tergerai rapi, bibir merahnya melengkungkan senyum lembut yang seolah tak pernah pudar. Mata Bianca menatap Bara dengan sorot yang sulit Bara lawan—mata yang penuh kehangatan, penuh rasa."Terima kasih sudah mau datang. Jadi kita nggak membuat papa dan mama cemas," ucap Bianca pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.Bara menghela napas panjang. "Aku datang karena papa memaksa."Bianca tersenyum kecil, meski ada semburat luka di matanya. "Aku tahu. Dan aku juga tahu kalau kamu tidak pernah menginginkan ini.""Kalau kamu sudah tahu, kenapa masih mau meneruskan semuan
"Bara ... kamu tampan sekali," lirih Nara pelan sambil tersenyum.Pagi itu seharusnya menjadi pagi paling damai dalam hidup Nara. Sinar mentari masuk melalui celah tirai, menyinari kulitnya yang masih hangat oleh sentuhan semalam. Di sampingnya, Bara masih terlelap dengan napas teratur, rambutnya sedikit berantakan. Tangannya yang kokoh masih melingkari pinggang Nara, seolah menegaskan bahwa ia tidak ingin melepaskannya lagi.Nara menatapnya lama, jemarinya menggambar garis rahang Bara dengan pelan. Hatinya terasa penuh—antara bahagia, takut, dan rindu yang baru saja terobati. "Apakah ini hanya mimpi? Atau dia benar-benar kembali untukku?"Bara bergeming, lalu perlahan membuka mata. Begitu mata mereka bertemu, senyum kecil muncul di bibirnya. "Pagi," bisiknya serak.Nara tersenyum, pura-pura menyembunyikan debar di dadanya. "Kamu tidur kayak bayi, Bara.""Kalau ada kamu, ya begini jadinya," jawab Bara ringan. Ia menarik Nara lebih dekat, mencium ubun-ubunnya lama. "Kalau aku bisa, ak
Pagi datang perlahan, memecah malam yang berat seperti napas yang baru dihela setelah sekian lama tertahan. Nara berdiri di depan lemari pakaian. Ia tidak memikirkan apa yang akan dikatakannya jika bertemu Bara, tidak juga tentang jawaban yang harus ia berikan atas luka lama mereka. Yang ia tahu, pagi ini ia akan pergi ke tempat itu—tempat yang pernah menjadi rumah kecil untuk dua hati yang saling mencari.Lower East Side, belum terlalu ramai. Jalanan masih basah sisa hujan malam. Nara masuk ke dalam kafe kecil itu, yang dindingnya masih sama seperti dulu. Bata merah, aroma kopi yang menyambut dari kejauhan.Dan di sana, di sudut jendela, Bara duduk. Mengenakan jaket hitam sederhana, wajahnya seperti memuat ribuan kata yang tak pernah ditulis.Nara menghampiri. Mereka hanya saling pandang. Tidak ada pelukan. Tidak ada sapaan basa-basi. Hanya keheningan yang terasa ... akrab."Aku nggak tahu kenapa aku datang," kata Nara pelan."Tapi kamu akhirnya datang." Suara Bara nyaris seperti bi
Matahari pagi menyelinap pelan melalui jendela apartemen Nara, menembus celah tirai putih yang melambai lembut tertiup angin dari pendingin ruangan. Di atas sofa ruang tamu, Nara masih duduk dengan tubuh memeluk lututnya. Rambutnya berantakan, matanya sembab. Ia belum tidur.Bara telah pulang satu jam lalu. Bukan karena diminta, bukan karena pertengkaran—tetapi karena mereka sama-sama takut.Setelah ciuman itu, setelah tubuh mereka terlalu dekat, dan napas saling bertukar dalam keheningan malam … mereka berhenti. Nara menyuruh Bara pergi. Dengan suara pelan dan mata yang tak berani menatap. Ia hanya berkata, "Kalau kamu tinggal, semuanya akan rusak."Dan Bara, meski enggan, memilih diam-diam meraih jaketnya dan meninggalkan apartemen dengan tatapan terluka.Sekarang, Nara terdiam dalam apartemennya yang dingin. Di luar, New York mulai hidup kembali. Tapi jiwanya … belum.Di seberang kota, Bara duduk di kursi tinggi dapur kecil di unit serviced apartment tempatnya menginap. Kopi yang