เข้าสู่ระบบ"Masih marah?" tanya Yusuf yang duduk disisi ranjang dan memperhatikan dada Citra yang setengahnya menyebul keluar. Citra yang menyadari hal itu segera menarik selimut dan menutupi dirinya dengan panik, "Kamu mesum banget sih? Mana nggak ada rasa bersalahnya lagi!" omel Citra. Yusuf hanya bisa tersenyum mendegar keluhan Citra, saat itu ponsel Citra pun berdering. Ia meraih ponselnya susah payah di atas meja nakas, tapi Yusuf tidak membiarkan begitu saja. Ia langsung meraihnya dan memberikan pada Citra. Tentunya Citra menerimanya dengan kesal, bahkan tatapan yang jelas ingin membunuh. Tapi berbeda dengan Yusuf yang hanya tersenyum gemes melihat wajah istrinya itu. "Halo," jawab Citra. "Citra, kok kamu membatalkan diri ikut balap sih?" tanya Ara dari seberang sana. "Siapa yang batalkan?" tanya Citra bingung, tapi kemudian ia menatap Yusuf penuh curiga, "nanti aku telpon lagi," katanya lalu mengakhiri penggilan telepon. Ia tau ada yang harus diurus dengan Yusuf, ia curi
Citra juga kembali berbaring terlungkup dan keduanya pun benar-benar menikmati pijatan bersama. "Mbak, udah menikah belom?" tanya Citra pada petugas spa yang memijatnya. "Sudah, Nyonya," jawabnya. "Panggil Citra aja, risih banget pangilan kamu. Biar aktab juga," kata Citra, "kenapa kamu mau menikah? Terus gimana malam pertamanya?" tanya Citra penasaran. "Malam pertama agak perih, tapi," petugas spa itupun tersenyum malu. Citra meliriknya sesaat, "Ck, tapi apa?" tanya Citra makin penasaran. "Nona, bukannya setelah menikah keromantisan itu wajar," katanya lagi sambil melihat banyak tanda merah di tubuh Citra. "Wajar apanya? Remuk badan aku!" keluh Citra. "Memangnya, kamu nggak menikmati?" tanyanya lagi. "Apa yang dinikmati? Penderitaan?!" kesal Citra. "Citra, kamu jangan nakutin aku dong...makin kecil keinginan aku untuk menikah kalau begini," sela Maya. "Nggak usah nikah, May. Nggak enak!" keluh Citra. "Tapi masa iya aku mau jadi perawan tua?" tanya Maya dengan
"Astaga, iblis sialan!" umpatnya penuh kekesalan. Pagi ini sekujur tubuh Citra terasa remuk, bahkan untuk bergerak saja rasanya sangat sulit. Tangannya bergerak meraih lampu tidur kemudian hendak memukulnya ke kepala Yusuf. Tapi ternyata ranjang di sampingnya kosong, tidak ada Yusuf disana. Dengan kecewa ia pun kembali meletakkan lampu tidur di atas meja nakas. Ia melirik pintu kamar mandi, ia yakin pria itu ada disana. Ia perlahan turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi. Tapi tidak lupa membawa teko, dan begitu melihat Yusuf ia akan melenyapkan pria itu. Pria yang ia anggap sebagai iblis karena sudah merampas kesuciannya. Tapi saat berdiri sesaat di depan pintu kamar mandi ia tak mendengar suara apapun, seperti tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam sana. Ia pun semakin penasaran, ia memberanikan diri membuka pintu dan dipastikan jika ada Yusuf ia akan langsung melenyapkan. Tapi? Citra lagi-lagi tidak melihat siapapun tidak ada Yusuf disana. Ia benar-be
"Nyonya, makan malam sudah siap," kata pelayanan yang datang langsung ke kamar Citra. Citra yang berbaring di ranjang tidak peduli sama sekali, ia masih belum bisa melupakan apa yang telah dilakukan Yusuf padanya. "Aku nggak lapar!" jawabnya ketus. Pelayanan pun mengangguk lalu keluar. Citra pun memeluk bantal guling dan kembali menangis, ingatan itu tetap saja berputar di kepalanya tidak bisa disingkirkan sama sekali. Saat itu pintu kamar kembali terbuka, Citra tau itu adalah pelayanan dan entah berapa kali sudah pelayan masuk memintanya untuk segera makan malam. Dan kali ini pun ia tidak mau, ia tidak berselera sama sekali untuk makan. "Pergi! Kamu dengar nggak? Aku bilang aku nggak mau makan!" katanya tanpa menoleh. Lalu terasa ranjang bergerak, dan ada tangan yang menyentuh wajahnya. Citra pun menoleh, ternyata itu Yusuf. Cepat ia menepis tangan pria itu. Baginya Yusuf bukan manusia tapi iblis. "Jangan sentuh aku!" katanya seorang menegaskan. "Kamu nggak lapar?" tanya Y
Hay pembaca, terimakasih sudah menunggu l love you, selamat membaca.**"Kemana dia?" tanya Yusuf. "Ibu Citra pergi bersama Nona Maya, mereka mereka latihan balap," jelas asisten Tama. Yusuf langsung bangkit dari duduknya, berbagai pikiran buruk langsung menggerogoti isi pikirannya. Bagaimana jika Citra jatuh. Bagaimana jika terluka, cidera ataupun hal lebih buruk dari itu terjadi? "Kenapa dia tidak peduli pada keselamatan dirinya sendiri?" gumam Yusuf lalu berjalan keluar dari ruangannya. Asistennya Tama pun cepat mengikutinya, tapi saat akan memasuki lift ia malah mendegar sesuatu. "Sayang, aku tidak mungkin melirik dia...dia cuma mantanku saja...dulu dia bahkan mengodaku habis-habisan makanya aku bisa pacaran dengan anak manja itu, pokoknya dia harus dipenjara, kamu bantu aku," kata Yuda. Yusuf pun kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam lift, ketika pintu lift tertutup ia pun berkata pada asistennya, "Pecat dia!" "Baik, Pak," jawab Tama cepat. "Segera
"Pulang!" perintah Yusuf. Citra pun menoleh pada yang lainnya, kemudian membaik tangan, "Aku pulang dulu ya," katanya dengan suara agak tinggi agar yang lain mendegar. "Citra, latihan belum selesai," kata Jo. "Hus," Ara langsung menutup mulut Jo karena mengerti situasi. "Apasih?!" kesal Jo. "Diem aja!" kata Ara lalu menendang kaki Jo, "Citra, tasmu!" Ara pun melemparkan pada Citra. Setelah menangkap tasnya ia pun masuk ke dalam mobil Yusuf. Dan pria itu sudah duduk dikursi kemudi menunggunya. *** Mobil pun memasuki basemen parkir. Sepanjang perjalanan pulang Yusuf tidak berbicara sama sekali, ia diam saja tak satu patahpun keluar dari mulutnya. Sedangkan Citra hanya memakan coklat yang diberikan oleh Gio barusan, apapun yang terjadi nantinya yang penting ia makan dulu. Tapi tiba-tiba coklat di tangannya di ambil Yusuf, lalu tanpa bicara Yusuf pun turun dari mobil. Dan, tanpa kata ia memasukkan ke dalam tempat sampah. "Mas?!" tanya Citra tak percaya. Lalu tanpa bicara ia ju







