แชร์

Miliarder Dingin Jatuh Cinta
Miliarder Dingin Jatuh Cinta
ผู้แต่ง: Ipak Munthe

Bab 1

ผู้เขียน: Ipak Munthe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-27 18:15:16

"Kau ajarkan aku cinta, kau ajarkan aku apa itu ketulusan, kebahagiaan dan kenyamanan. Tapi, hari ini kau putuskan untuk meninggalkan aku, dimana hatimu? Dimana arti semua kata yang kau ucapkan? Dimana?" tanyaku.

"Ingat Citra dia tidak pernah mencintaimu, dia menikahimu hanya karena dia ingin melupakan aku!" ucap Naya.

"Aku tidak percaya!" kataku tegas.

"Papamu juga menjualmu pada Yusuf demi proyek 2 T!" kata Naya lagi.

Dia janjikan bahagia, dia ucapkan cinta dan aku pun terlena. Dia katakan bahwa kami akan selalu bersama. Tapi ternyata apa?

Dia pergi meninggalkan aku, meninggalkan cinta dan luka yang teramat dalam ini.

Aku sekarang berdiri sendiri dengan putus asa, dia mengajarkan aku tentang kuat, tapi dia lupa mengajarkan aku hidup tanpanya.

Sekarang aku harus apa? Dunia yang dia berikan runtuh saat ini, saat-saat dia telah menorehkan luka yang teramat sangat dalam.

Taukah kamu betapa sulitnya aku mencintaimu?!

Sekarang kamu bahkan tidak bertanggungjawab atas perasaan itu.

Kamu B A J I N G A N, aku membencimu!

***

Byurrr!!!

Air membasahi wajah Citra.

Ia pun terbangun dari tidurnya dengan terkejut dan langsung duduk.

“Pa?!” serunya geram.

“Anak bodoh, apa yang kau lakukan kemarin? Sekarang polisi mencarimu!” geram Handoko.

“Apa?” Citra langsung meloncat dari ranjang mendengar kata polisi kemudian ia pun berjalan ke arah jendela dan memang ada mobil polisi di sana.

“Sekarang selesaikan masalahmu sendiri! Papa sudah lelah!” ucap Handoko penuh amarah.

Citra pun panik ia langsung memeluk kaki sang Papa demi mendapatkan pertolongan.

“Pa, Ampun…” katanya memohon.

“Tidak ada ampun, apa yang sudah kau lakukan harus kau pertanggung jawabkan!” tegas Papanya.

Kemarin…

Citra seharusnya menghadiri acara ulang tahun Kakeknya, tapi ia malah pergi dengan teman-temanya balapan motor…

Bremmm…

Suara motor yang menggebu-gebu, balapan itu terus berlanjut. Perselisihan antara dirinya dan temannya terus terjadi di jalanan dan tampak ia terkejut saat sebuah mobil melintas dari arah berlawanan.

Citra syok dan kehilangan kendali, lalu…

Brak!!!

Ia menabrak mobil tersebut.

Citra pun terjatuh, kakinya terasa sakit lalu seorang pemuda pun keluar dari mobilnya. Mobil dengan edisi terbatas dan hanya ada dua di dunia.

“Astaga, Papa bisa ngamuk lagi,” gumam Citra.

Lalu Citra pun berusaha untuk bangkit dan kemudian naik ke sepeda motornya, tapi pria itu sudah terlanjur berjalan lebih dekat lalu mengambil kunci motor Citra.

Citra gemeteran, ia mengangkat tangannya menatap pria di hadapannya itu. Tanpa bisa melarikan diri.

Pria itu bertubuh tinggi dengan balutan jas hitam. Tatapannya tajam, sementara jam tangan Rolex di pergelangan tangannya semakin menegaskan aura berwibawa dan berkelas yang dimilikinya.

Citra menegang sempurna, mungkinkah kali ini ia tak bisa meloloskan diri? Ia perlahan turun dari motornya.

“Buka helmmu!” Perintah pria itu dingin.

Citra pun mempertahankan helmnya, bagaimanapun ia tidak bisa menunjukkan wajahnya.

Karena belum ada tanda-tanda Citra akan membuka helmnya maka pria itu pun melangkah pelan mendekatinya.

Citra panik saat langkah pria itu semakin mendekat, ia pun reflek melangkah mundur.

Tinn…

Terdengar suara klakson, sepeda motor berhenti tak jauh dari Citra.

Breemmm… Bremmm

Suara mesin yang menggebu-gebu.

“Citra!!!”

Citra mengerti lalu segera naik ke motor itu, lalu ia melambaikan tangannya sambil bersorak gembira pada pria asing itu.

“Daaaahh, Om!!!” serunya.

Dan hari ini polisi datang mencarinya, ia pikir masalah sudah selesai saat melarikan diri. Tentang motor ia bisa dengan mudah membelikan yang baru.

“Pa, Citra ini anak Papa satu-satunya, Papa nggak mungkin nggak nolong Citra…” katanya setengah memohon dan penuh keyakinan.

Handoko pun tersenyum sinis melihat wajah putrinya.

“Mulai sekarang kamu Papa coret dari kartu keluarga!” tegas sang Papa.

“Apa?!” tanya Citra tak percaya, “Pa, Citra anak Papa, lho…siapa yang jadi penerus, Papa kalau bukan Citra?” tanya Citra penuh percaya diri.

“Ada Zia, kamu dicoret jadi ahli waris. Gimana mau jadi pemimpin perusahaan? Kuliah sudah hampir di DO dari kampus karena nggak selesai-selesai, balapan motor, pacaran sama preman, main kamu ke club malam. Setiap hari kamu menciptakan masalah, apakah kamu bisa menjadi pemimpin perusaan? Tidak!” ucap Handoko penuh amarah.

“Pa, Pa, Pa…nggak gitu juga…Citra masih muda, Pa…main kan biasa,” katanya berharap Papanya tidak serius.

“Semua fasilitas kamu Papa cabut, kamu dicoret dari keluarga!” Papar Handoko.

“Pa, ampun…Pa,” Citra berlutut, memohon Papanya akan memaafkannya lagi untuk kali ini.

Tapi tidak, Handoko sudah sangat marah pada putrinya itu.

“Bik, bereskan pakaiannya dan usir anak ini pergi dari rumah ini!” perintah sang Papa.

“Pa, ampunn, Pa…” Citra memeluk kaki Papanya dengan erat, ia sungguh sangat takut sekarang, “kasih Citra satu kesempatan, Citra janji bakalan jadi anak baik, Pa,” mohon Citra tak ada hentinya.

“Baiklah…tapi kau harus menikah dengan lelaki yang kau tabrak mobilnya itu!” tegas Handoko.

Ini bom atau apa?

Kenapa meledak di waktu yang begitu tepat, Citra begitu syok dan nyaris pingsan.

“Pa?!” tanyanya tak percaya.

“Keluar dari rumah ini!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 152

    "Selamat," Yusuf mengulurkan tangannya. Citra pun membalasnya, "Terimakasih," kata Citra, kemudian ia menerima seikat bunga mawar berwarna merah. "Hay," sapa seseorang. Citra pun menoleh, "Pak Darren?" kata Citra tak menyangka jika Darren akan datang. "Selamat, ya. Ini bunga kesukaan kamu, bunga aster," kata Darren. "Terimakasih," Citra pun memberikan bunga ditangannya pada Ara, kemudian menerima bunga dari Darren, "Pak Darren, dapat dimana? Kemarin saya udah cari dibeberapa toko bunga tapi lagi kosong semua," ujar Citra. "Adalah, yang pastinya buat kamu," balas Darren. "Terimakasih..." kata Citra lagi. *** Citra sampai di rumah bersama dengan yang lainnya, karena hari ini untuk merayakan kelulusannya akan ada makan bersama di rumah. Tapi saat Citra turun dari mobil ia melihat ada banyak bunga di ruang tamu, bahkan ruang tamu hampir penuh. "Banyak sekali?" tanya Miya yang juga bingung. "Bik, siapa yang berikan bunga sebanyak ini?" tanya Citra sambil melihat bun

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 151

    Satu minggu kemudian... Citra tersenyum bahagia. Hari ini, ia berdiri mengenakan toga dengan ijazah yang tergenggam erat di tangannya. Setelah melewati begitu banyak perjuangan, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan resmi menyandang gelar sarjana. Ia menatap ijazah itu beberapa saat, seolah masih tidak percaya bahwa semua perjuangannya benar-benar telah sampai di titik ini. Dulu, ia sering merasa dirinya adalah orang paling bodoh sedunia. Ia bahkan sempat meragukan kemampuan dirinya sendiri. Namun hari ini, Citra akhirnya membuktikan bahwa ia tidak seburuk yang selama ini ia pikirkan. Ia tersenyum lebih lebar. Setidaknya, hari ini ia boleh bangga pada dirinya sendiri. Begitu keluar dari barisan wisudawan, mata Citra langsung mencari sosok yang sejak tadi menunggunya. Begitu melihat ayah dan ibunya berdiri di antara kerumunan, wajah Citra seketika berbinar. “Papa!” Citra langsung berlari menghampiri. Tanpa peduli toga yang sedikit berantakan, ia seger

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 150

    Sidang perceraian. Setelah mediasi gagal akhirnya keputusan cerai pun dikabulkan Yusuf terlihat lesu karena keputusan ini terlalu menyakitinya, bahkan tak menyangka pada akhirnya cerailah yang dipilih oleh Citra. "Citra," panggil Yusuf saat melihat wanita itu keluar dari kantor pengadilan. Citra terpaksa menghentikan langkah kakinya dan menoleh. Yusuf pun mendekati dan hendak meraih tangannya tapi Citra mundur selangkah. Jelas itu adalah sebuah penolakan. Yusuf merasa begitu sakit, "Citra, sejujurnya aku nggak bisa hidup tanpamu," kata Yusuf. Citra menarik nafas panjang mendegarnya, jika dulu Yusuf seperti ini mungkin ia akan sangat hahaha. Tapi sekarang? Ia malah merasa muak. Ia memilih melihat kesekitarnya seakan tak menanggapi sama sekali. "Citra, bukankah Naya pun mau kita tetap bersama?" tanya Yusuf penuh harap. Lalu kali ini Citra pun menatapnya. "Iya, kan?" tanya Yusuf setengah memohon. "Aku nggak suka suami sumbangan orang, cari aja perempuan lain.

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 149

    Polisi datang ke kediaman Adithama, berdasarkan laporan pengacara. Aldo Adithama, ayah kandung Yusuf. Santi dan Zia terbukti telah merencanakan kecelakaan beberapa tahun yang lalu terhadap Naya saat pernikahan mereka akan dilangsungkan. "Yusuf, kamu mau mencoreng nama baik Adithama? Kamu mau bikin saham anjlok, hah?! Bagaimana dengan Kakek dan Nenekmu?!" tanya Aldo. Mungkin pria paruh baya itu tak pernah membayangkan hari ini akan tiba juga, karena ia pikir Yusuf tak akan melaporkan dirinya sebab yang menjadi pertimbangan adalah Kakek dan Nenek, serta Maya. Ditambah lagi kehancuran keluarga yang dipandang sebagai keluarga harmonis. "Kau yang mencoreng nama baik keluarga! Bahkan aku tidak mengerti mengapa ada orang sepertimu! Kau ikut menghancurkan kebahagiaan anakmu sendiri!" balas Yusuf. Saat itu Maya pun kembali, kini semua mata tertuju padanya. "Maya, tolong Mama...Yusuf melaporkan kami ke penjara. Dia tidak memandangmu sebagai adik, padahal kamu selalu menganggap dia sebagai

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 148

    Rumah Citra. Sudah hampir dua jam Yusuf duduk di ruang tamu, ia datang memang untuk melihat anaknya. Tetapi yang paling ia tuju adalah Citra, istrinya. Yusuf masih ingin berbicara dan memperbaiki hubungan mereka, ia tak ingin semuanya berakhir begitu saja. Meski begitu sulit untuk bertemu dengan wanita itu ia akan tetap berusaha. Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki. Tap tap tap... Yusuf menatap ke arah pintu dan ternyata yang ditunggu akhirnya kembali. Ia segera bangkit dari duduknya. Dan Citra juga melihatnya, tatapi ia terlihat tidak peduli sama sekali. Justru ia terus melangkah hingga Yusuf menghentikan langkah kakinya. "Citra," panggil Yusuf tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. "Ya? Mau ketemu Reyhan dan Reyna? Kamar mereka disebelah sana," kata Citra menujuk arah kamar anak-anak mereka. Karena Citra tidak pernah ingkar pada janjinya, ia mempersilahkan Yusuf untuk bertemu kedua anaknya. Kapanpun. Begitu juga dengan kali ini yang diyakini Citra

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 147

    Dreettt... Suara ponsel Citra berdering. "Halo," jawabnya. "Benar ini dengan Ibu Citra?" tanya seseorang dari seberang sana. "Benar, ada apa?" tanya Citra. "Ibu Citra bisa tolong ke rumah sakit sekarang." "Rumah sakit?" tanya Citra terkejut. "Bu Naya ingin bertemu anda, keadaannya sangat mengkhawatirkan," kata perawat itu. "Tapi aku tidak ada urusan dengan dia," tolak Citra. "Bu Citra, anggap saja ini untuk yang terakhir kalinya," kata perawat lagi. Lalu panggilan pun berakhir. Citra menatap ponselnya, ia bingung harus pergi atau tidak. "Nggak usah pergi deh, lebay banget...pasti dia mau bilang dia salah dan minta kamu balikan sama Pak Yusuf. Basi," cibir Ara. Citra pun mempertimbangkan ucapan Ara, dan apapun yang terjadi ia tak mau dikasihani sekaligus tidak mau memaksakan siapapun dalam hidupnya. Lagi pula sudah tidak ada tempat untuk Yusuf lagi dihatinya, menurutnya bertemu dengan Yusuf bukan kesalahan, tapi hanya sekedar bertemu karena sebuah takdir yan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status