Share

Bab 94

Author: Zhar
last update publish date: 2026-06-17 08:00:20

Tiga pesawat pembom raksasa terus meluncurkan serangan tanpa henti, menjatuhkan bom bahan bakar-udara tepat di tengah lautan api yang membumbung tinggi. Semburan api menyebar ke segala arah, sementara gelombang ledakan yang dahsyat terus bergulir tanpa henti, seolah ingin menembus hingga ke lapisan awan di langit.

Hanya dalam waktu satu menit, ketiga pesawat itu sudah menjatuhkan hampir seratus butir bom. Dalam radius beberapa kilometer, semuanya berubah menjadi lautan api yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mutasi Alam Liar   Bab 115

    “Tenang dulu.” Nada suara Budi sedikit melunak. “Coba pikir baik-baik. Sebelum kamu berada di sini, apa yang kamu lakukan?” “A-aku... kayaknya tadi membuang sampah.” Nining berusaha mengingat. “Aku membuangnya ke luar pintu. Tapi aku merasa... rasanya nggak enak kalau sampahnya ditaruh terlalu dekat pintu. Jadi aku pikir nggak masalah kalau maju beberapa langkah.” Dia menelan ludah. “Setelah itu... aku nggak ingat apa-apa lagi.” Budi merasa penjelasan itu terdengar konyol. Namun ketika melihat tubuh Nining yang masih gemetar hebat, dia memutuskan masalah itu tidak bisa diselesaikan sekarang. “Sudah mulai gelap,” katanya. “Kita pulang dulu.” Budi berjalan beberapa langkah sebelum menambahkan, “Nanti coba ingat-ingat lagi apa yang terjadi. Tapi untuk sementara jangan cerita kepada siapa pun.” “I-iya.” Nining mengangguk. Dia melihat sekeliling dengan gugup sebelum buru-buru mengikuti Budi. Setelah berjalan beberapa langkah, dia akhirnya memberanikan diri m

  • Mutasi Alam Liar   Bab 114

    Budi kembali beberapa menit kemudian dengan wajah yang terlihat terganggu. Dia sudah menyisir seluruh kawasan perumahan di sekitar mereka, tetapi tidak menemukan apa pun. “Memangnya tadi kalian semua nggak lihat ada seseorang berdiri di sana?” tanyanya kepada yang lain. “Nggak, Bos. Mata saya cuma fokus ke Bos tadi,” jawab Candra sambil nyengir canggung. Yang lain juga menggelengkan kepala. “Bos, jangan-jangan Bos salah lihat?” Doni bertanya hati-hati. Nada suaranya mulai terdengar gugup. Apa dia benar-benar salah lihat? Budi sendiri tidak yakin. Bayangan itu menghilang hanya dalam sekejap mata. Dengan kelincahan 13 poin, kecepatannya sudah lebih dari tiga kali lipat manusia normal. Kecuali orang itu bisa bergerak dengan kecepatan supersonik, mustahil matanya tidak sempat menangkap keberadaannya. Tapi kenyataannya, dia benar-benar tidak melihat apa-apa. Budi kembali teringat jantungnya yang sempat berdebar kencang tadi malam. Ekspresinya perlahan berubah serius. Ka

  • Mutasi Alam Liar   Bab 113

    Di tengah malam, jantung Budi tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan jelas.Matanya terbuka perlahan, namun tubuhnya tetap diam. Ia bingung degupan itu datang dan pergi sekejap, seolah hanya ilusi semata. Ia memusatkan pendengarannya ke luar. Hanya terdengar geraman samar binatang buas dari kejauhan, bukan hal yang bisa memicu peringatan mendadak seperti ini. Tak ada suara lain, tak ada gerakan mencurigakan.“Apakah hanya perasaanku saja?”Ia menatap Jeni dan Shinta yang tidur pulas damai di sampingnya. Perlahan rasa kantuk kembali menyergap, tapi genggamannya pada gagang parang justru makin erat.Sisa malam itu berlalu tenang tanpa gangguan.Keesokan paginya, mereka bangun satu per satu. Langit tampak kelabu pekat, seolah sebentar lagi akan turun hujan lebat.Setelah makan siang, Budi memutuskan memeriksa sekeliling kawasan. Lagipula mereka berniat menetap di sini cukup lama, jadi harus tahu bahaya apa yang mengintai.Tanaman tumbuh liar dengan luar biasa cepat hanya dalam lima hari

  • Mutasi Alam Liar   Bab 112

    Jeni yang biasanya tampak kaku dan serius kini wajahnya mulai rileks, tersenyum bahagia. Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah besar itu dan memandangi sekeliling. Keadaannya jauh dari yang mereka bayangkan seolah pernah dihajar amukan binatang buas. Pilar di tengah ruangan runtuh, besi tulang beton terlihat menjulur kasar. panjang menghiasi dinding, dan bangunan ini tampak nyaris tak sanggup berdiri lagi. Budi memeriksa lantai dengan teliti, lalu mengerutkan kening. Ada banyak jejak kaki asing yang masih segar. sepertinya baru satu atau dua hari lalu. “Ada orang yang masuk ke sini,” batinnya. Jeni pun menyadarinya. Mereka saling bertatapan sejenak, lalu bergegas menuju ruang rahasia di lantai bawah. Setelah membuka pintu tersembunyi, Budi masuk duluan, diikuti Jeni yang membawa senter. “Sialan!” geram Budi. Rak-rak yang dulu penuh kini sebagian besar kosong. Beras berserakan di lantai. Hanya tersisa sedikit persediaan penting: satu setengah kotak air mineral, dua kotak minu

  • Mutasi Alam Liar   Bab 111

    “Teman di sana! Tunggu dulu! Bisa bawa kami ikut?” Sebuah suara memecah kesunyian. Semua orang menoleh ke arah gedung di samping jendela terbuka dan sesosok orang menampakkan wajahnya. Mereka semua menatap Budi, menunggu keputusannya. “Ada berapa orang di sana?” tanyanya singkat. Kalau cuma sedikit, tak masalah. Kalau terlalu banyak, ia terpaksa menolak tempat dan persediaan di vila terbatas. “Dua orang! Cuma kami berdua! Di sini makin berbahaya, kami ingin ikut kalian. Lebih banyak orang lebih aman, kan?” jawab pria itu cepat. “Kalau begitu turunlah sekarang. Kita berangkat sebentar lagi.” “Baik, siap! Sekarang juga!” Pria itu tampak sangat lega dan segera menghilang dari jendela. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di bawah. Seorang pria dan istrinya, sekitar tiga puluh tahunan, membawa tas berisi barang-barang. Pakaian mereka berlapis-lapis agar terlindung, masing-masing menggantungkan panci di dada. Pria yang tadi berbicara bahkan memegang sebatang besi panjang si

  • Mutasi Alam Liar   Bab 110

    Sebuah bangunan runtuh tepat di seberang jalan hingga menutup sepenuhnya jalur yang dilewati. Budi mengamati sekeliling dari persimpangan jalan, lalu menggertakkan gigi dan memutuskan mengambil rute lain.Hanya dalam beberapa hari, kota ini sudah berubah tak dikenali lagi. Reruntuhan bangunan berserakan di mana‑mana, debu tebal menutupi aspal, dan tumpukan tulang belulang manusia berjejer di pinggir jalan. Potongan kain pakaian yang ternoda darah kering berkibar pelan tertiup angin.Saat rombongannya berjalan melewati tumpukan tulang, ribuan kumbang hitam seukuran kuku jari merayap keluar dan lenyap seketika ke dalam sela‑sela puing.Beberapa hewan mutan tingkat rendah melintas di kejauhan, lalu berhenti serentak. Mata merah mereka menatap tajam ke arah rombongan manusia naluri berburu sudah terbangun.Bau busuk daging membusuk memenuhi udara, tak terlukiskan mengerikannya.Ini adalah gambaran kehancuran yang mutlak!Seandainya tidak ada lolongan binatang buas yang terdengar dari keja

  • Mutasi Alam Liar   Bab 2

    Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebi

  • Mutasi Alam Liar   Bab 1

    Kalimantan 2040“Tscht!”Pintu bus terbuka dengan suara berderit, Budi Santoso turun mengikuti arus penumpang yang berdesak-desakan. Kemeja putih kantornya sudah basah kuyup oleh keringat, ditambah noda debu membentuk pola acak di kainnya. Naik bus setiap hari dari kantor ke rumah kontrakan adalah

  • Mutasi Alam Liar   Bab 5

    Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang

  • Mutasi Alam Liar   Bab 4

    Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status