ログイン"Lihat, aku tidak apa-apa. Lalu insting yang mana?"Esther tersenyum hambar, lalu dia turun dari atas pohon. Kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut. Namun, baru saja beberapa langkah sebuah anak panah meluncur menuju ke arahnya. Tubuh Esther bergerak ke samping kanan lebih cepat dari laju anak panah tersebut. Melihat apa yang terjadi dengan Esther membuat Alpha merasa bersalah. Dia segera turun untuk memastikan kondisinya. "Bagaimana?""Masih jauh dari nyawa, Nona. Jangan khawatir!""Jaga keselamatanmu, Esther. Kau sangat berarti bagi hidupku untuk selamanya. Ingat itu!"Esther hanya tersenyum tipis, dengan santai dia melangkah meninggalkan Alpha Sisilia Sniders sendiri. Hal ini membuat alpha mendengus kasar. "Dasar seenaknya sendiri saja. Datang dan pergi sesuka hatinya!" Dengus Alpha Sniders. Alpha Sniders pun melanjutkan perjalanannya menuju ke packhouse milik Alpha Sinclair's. Langkahnya terus menerobos pertahanan para warior milik Orion Pack. Mereka hanya berdiri terd
Melihat kilatan peristiwa yang telah dilakukan oleh serigalanya membuat Alpha Ortega menghela napas panjang. Dia terharu akan usaha serigalanya memperjuangkan perasaannya pada wanita penolongnya itu. Luka yang diderita oleh serigalanya secara otomatis menyatu dengan kulitnya. Alpha itu tersenyum masam, dia yang inginkan itu tetapi bukan dia yang memulai. Meskipun begitu luka yang diakibatkan Dia melangkah masuk ke dalam packhouse dan terus melangkah tanpa memedulikan panggilan Beta Ajay. Alpha terus melangkah menuju ke ruang pribadinya, lalu dia duduk di belakang meja kerja yang tersedia di sana. Pikirannya masih terbayang akan perjuangan serigalanya menemui ratu Lycan pujaan hatinya. Perlahan bulir bening keluar dari sudut matanya, dia bersedih. "Terima kasih, Jay. Kau telah berjuang untukku, kini biarkan aku berjuang untukmu!" Setelah berkata kedua mata Alpha terpejam, dia mencoba menyembuhkan luka yang diderita serigalanya hingga tidak menyadari pintu ruangan dibuka oleh omega
Alpha Sisilia Sniders berdiri di atas menara. Tubuhnya yang telah bertransformasi menjadi serigala melolong kuat. Suaranya seakan mengabarkan pada dunia werewolf dialah penguasa alam saat ini. Lolongan yang kuat dan panjang mendapat balasan dari berbagai ruang dan waktu. Suara itu terdengar hingga seantero hutan Jungkla yang telah kuasai oleh beberapa pack. Di sisi hutan utara ada Orion Pack, pimpinan pack yang mampu mendengar suara Queen Lycan tersenyum. Dia mengenali suara itu adalah milik serigala wanita buta yang dulu telah menolong pack nya dari serangan pack lainnya. "My Queen, rupanya kamu sudah bangkit. Aku akan berusaha semampuku untuk dapatkan hatimu." Alpha Sinclair Ortega berkata sesaat setelah dia membalas lolongan Queen Lycan. "Jangan mimpi, dia bukan pasanganmu. Aku tidak merasakan auranya!" kata Jay serigala alpha. "Aku inginkan dia jadi mateku, bukanlah aku punya hak untuk itu?""Iya, tapi ingat derajatmu dalam kawanan pusat. Dia terlahir untuk menjadi seorang ra
Sekelompok serigala berlari, mereka tampak dari golongan Delta dan hunter. Gemuruh suara derap membuat pikiran Alpha menjadi bimbang. Dia memiliki insting yang kuat. Jarak masih cukup jauh, tetapi penciumannya sebagai lycan terkuat tidak diragukan lagi. Edward melangkah panjang ke gerbang utama untuk menyatakan apa yang didengar dan diciumnya. Derap hewan berkaki empat makin dekat jaraknya. Kedua mata alpha menyipit memastikan penglihatannya bersama Beta Ramon. "Seperti mereka lebih cepat dari kabar yang tersiar, Beta.""Sepertinya, Alpha. Apakah yang akan Anda lakukan?""Kita tunggu kabar sesungguhnya!"Asap makin tebal akibat derap langkah kaki para binatang berkaki empat. Hingga jarak makin tipis perlahan kawanan itu melakukan perubahan secara spontan dan bersamaan. Setelah semua sudah dalam wajib manusia, langkahnya pun berbeda. Meraka tidak berani menatap langsung pada wajah alpha. Kepalanya menunduk. "Bagaimana kabar kalian?"Hening, hanya suara deru angin yang bertiup sedi
Esther masih setia menemani majikannya berdiri di tepi danau. Dia hanya diam tanpa bersuara lagi, kedua matanya menatap pada gelapnya malam tanpa bintang. "Malam ini bulan masih tampak sedih, Esther. Mungkin nanti hingga bulan separo aku menemui pria brensek itu.""Untuk apa, Nona. Rasanya akan buang waktu percuma.""Tidak, justru dengan begini kau akan melangkah tenang meninggalkan masa silam."Esther mengembuskan napas kasar, dia menoleh melihat wajah Alpha. Tamoak gurat sedih yang terpancar di wajah cantik itu. "Kali ini Anda sudah murni dapat melihat, Nona. Akankah semua ini menjadi dilema begitu wajah Alpha Stuward terlihat nyata?""Ada apa dengan wajahnya, bagiku dia adalah pria brengsek. Selalu ingin diperhatikan dan dipuaskan tetapi tidak mau berbalas.""Baiklah, hati-hati saja saat berjumpa dengan pria licik itu!"Alpha Sniders mengangguk, lalu dia berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam kastil. Pikirannya mulai berselancar mencari sesuatu sebagai bukti. Esther mengiku
Berulang kali suara Sisilia menyerukan nama Edward, tetapi tidak ada bukti keberadaan lelaki itu. Tubuh wanita itu bergetar, meskipun dia tahu danau itu adalah buatan tetapi kedalamannya telah berubah seiring waktu. Hati Sisilia menjadi resah, ketakutan mendera jiwanya yang mulai berwarna. Dia tidak ingin terjadi sesutu pada lelakinya. Ini adalah kesempatan kedua yang diberikan oleh dewi bulan padanya. Sudah lama sakitnya terlupakan akibat sentuhan dan perhatian dari lelaki itu. "Edward, maafkan aku. Kuharap muncullah!"Suara penuh kasih terucap lirih, Sisilia kembali teringat kisah sedihnya. Kedua tangannya mencengkeram pasir dan melemparnya sekuat tenaga. "Kau harus kembali dengan cintamu, aku ... aku mencin--." Kalimatnya terhenti kala telinganya mendengar pergolakan air di permukaan danau. Saat itu juga kepala Sisilia terangkat untuk melihat apa yang terjadi. Sosok Edward muncul ke permukaan, lalu lambat laun tubuhnya terlihat menyeluruh. Tidak lupa salah satu lengannya terang
Sisilia melayangkan telapak tangannya pada pipi Edward. Bunyi yang keras saat kedua kulit saling bertemu membuat pria itu ternganga tidak percaya dengan sikap wanita buta itu. "Kau berani bertingkah, Buta?""Bukankah sejak awal Tuan tahu bahwa saya Buta. Mengapa masih saja mengejar?"Edward segera
Terdengar lolongan lirih begitu anak panah tersebut berhasil menancap pada perut serigala. Edward pun mengulum senyum dan seketika berlari menuju ke arah jatuhnya panah miliknya. "Jangan pernah masuki wilayah ku tanpa permisi, Serigala lemah!"Pria itu menendang mayat serigala hingga melayang jauh
Sisilia merasa jika pekerjaan yang dilimpahkan pada Harlan memang disengaja diperlambat agar dia emosi. Namun, usaha Harlan sia-sia saja. Sisilia sama sekali tidak marah atas pekerjaan tersebut. Wanita muda itu merasa kecewa dengan kinerja Harlan, tetapi dia tidak ingin ungkap semua di depan sang
Harlan mengagumi keindahan dan kemolekan tubuh Sisilia hingga dia tidak menyadari bahwa ada beberapa serigala lapar sedang mengelilinginya. Indera penciuman Harian mulai menghirup bau lupi lapar, maka dia pun berbalik badan. "Hai, ada apa dengan kalian? Aku hanya melihat sekilas."Beberapa serigal







