로그인Tubuh Esther tiba-tiba jatuh terduduk, lemah tanpa daya. Namun, aura hitam masih menyelimuti sekitar. Perlahan Esther bangkit dan mulai melangkah meskipun tertatih dia tetap berusaha berdiri. Suara langkah kaki mendekat, lalu Esther merasakan lengannya dipeluk. Wanita itu menoleh mendapati sosok Abigail berdiri di samping kanan. "Abigail?" Dengan susah Esther mengeluarkan suara menyapa Abigail. "Jangan bersuara. Ayo aku bawa kau ke sudut sana!"Esther pun tidak menolak, dia berjalan mengikuti langkah sahabatnya hingga mereka menemukan sofa. "Duduk dulu, aku ambil minum untukmu!" Abigail bangkit dan berjalan menuju ke meja panjang dimana terdapat semua hidangan pesta pernikahan dua penguasa Lycan. Abigail berjalan dengan santai meskipun kewaspadaannya terus meningkat seiring aura hitam itu mulai menghilang. Setelah mendapat apa yang diinginkan Abigail pun kembali ke tempat semula. Bibirnya mengulum senyum penuh arti begitu langkahnya melewati sosok tetua Kastil Hitam. Pria denga
"Apakah kamu sudah siap, Sayang?" tanya raja lycan Edward sambil mendorong pintu kamar alpha female Sniders.Wanita anggun dengan balutan gaun pengantin putih berhias berlian pun menoleh ke belakang, bibirnya melengkung saat netranya bertemu dengan manik mata hijau teduh milik Raja Lycan Slovasky. "Edward, datanglah!"Sebuah perintah yang telah menawan hati raja Lycan membuat pria itu langsung melakukan semua. Dia berjalan mengikis jarak dengan kekasih hati hingga sampai di depannya senyum raja Lycan tidak hilang. Tangannya terulur terbuka, Alpha Female Sniders pun menyambut ukuran itu. "Kau cantik sekali, Alpha-ku. Aku mencintaimu." Raja Lycan Slovasky mendekatkan kepalanya bersiap akan memberi ciuman singkat. Namun, pasangannya menolak dengan halus. "Tidak sekarang, Edward. Tunggu semua usai!"Mendengar penolakan pasangannya tidak membuat pria itu sakit hati. Dia justru mengulum senyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Baiklah, mari aku bawa keluar menjump
Waktu terus berjalan, Raja Lycan Edward Slovasky terlihat makin sibuk dan penuh senyum di setiap langkahnya. Ini membuat beberapa anggota pack menjadi bingung atas perubahan sikap Raja mereka. Bahkan setiap hasil panen anggur selalu di pilih yang terbaik dan dikirim segera ke kastil perak. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan kastil perak hingga Raja kita begitu bergairah?""Jangan banyak tanya, kita hanya omega biasa yang mungkin tidak berhak tahu semua urusan pimpinan.""Setidaknya bagi kabar bahagia pada kita agar kinerja kita akan lebih baik.""Sudahlah, jangan berbicara lebih. Kudengar kabar dari beberapa warior di luar tembok bahwa Raja kita sedang menemukan cinta keduanya dan calon Luna itu telah hamil," jelas seorang omega wanita. Mendengar berita yang dijamin keasliannya maka para pekerja kebun anggur itu seketika berwajah ceria dan penuh senyum. Tanpa mereka sadari dari atas atap sebuah bangunan kuno ada sepasang mata merah mengamati dan mendengar semua perbincangan para
Dokter Abigail masih bungkam tetapi tangannya sibuk bergerak menyalin setiap informasi yang berhasil dia simpan dalam layar. Setelah semua selesai, dua lembar file telah berada di tangannya. Tanpa suara, dokter itu menyerahkan file tersebut pada Esther. "Apa ini, Abigail?""Baca saja, nanti juga akan tahu." Abigail menjawab dengan nada datar. Dua wanita kepercayaan Rebecca itu memang dikenal sebagai wanita tanpa suara. Namun, sejak hadirnya Sisilia Esther cenderung lebih banyak bicara daripada Abigail. Kedua mata Esther membaca setiap kata yang tersusun di atas kertas dengan teliti. Saat pandangannya mendapati kata positif, dia langsung mendongak melihat ke arah Abigail yang juga sedang menatapnya. "Apa ini maksudnya, Abigail. Kau seorang dokter, jelaskan!"Abigail menghempas napas kasar dan berat, dia menggelengkan kepala dengan suara tertahan, "kau seorang Beta, Esther. Apa tidak menghidu aroma yang lain dalam tubuh alpha?"Esther menatap tajam pada Abigail, dengan kasar dia men
Angin malam bertiup menerpa wajah cantik Alpha Female Kastil Perak, Sisilia berdiri di tepi balkon kamarnya memandang cahaya bulan yang redup. Terdengar langkah kaki mendekat, aroma tubuh familiar menyapa indera penciuman tetapi dia tidak berbalik. Kedua tangan melingkar di pinggangnya barulah suara Sisilia keluar. "Sedang apa kamu di sini, Edward?" Suara sinis keluar dari bibir tipis Sisilia. Pria itu adalah Edward, dia masih diam tetapi pelukannya makin erat dengan kepalanya bersandar pada bahu kanan alpha female. "Mengapa diam saja di sana?""Biarkan sejenak aku menghirup aroma tubuhmu yang sedang hamil, Sayang!"Mendengar kata hamil yang keluar dari Edward seketika tubuh Sisilia berbalik dan menatap penuh tanya pada lelaki itu. Ada sinar tidak percaya di mata bening madu milik Sisilia. Mata yang memancarkan keteduhan dan keindahan telah membuat Edward tersenyum simpul. "Ada apa, apakah tidak kau rasakan pergerakannya di dalam sini?" tanya Edward dengan telapak tangan membela
Semua mata memandang pada Rhena, lalu mereka berganti saling pandang. Tetua masih bungkam menunggu jawaban anggota yang ada. "Baik, mungkin dengan begini kita bisa menentukan kelayakan seorang alpha.""Baik. Tentukan waktunya sekalian, karena aku juga harus kembali ke Alpha Stuward," kata Rhena dengan nada datar. Semua anggota menatap pada sang Tetua dengan gerakan yang sama. Mereka mengangguk. "Kita tunggu purnama depan, saat itu kekuatan kalian akan berada di puncak. Bagaimana?"Warior saling pandang, lalu mereka secara serempak menatap pada omega. "Apakah kalian akan ikut penentuan ini?" "Apakah kami bisa?""Semua bisa asal kalian miliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin seperti syarat dalam pack kita sebelumnya," jawab Tetua. "Tunggu, apa kalian lupa?"Seketika mereka yang ada di sana menjadi terdiam dengan pandangan terfokus pada tetua. "Jadi saat kita berburu itu awal dari penentuan alpha baru, apakah seperti itu, Tetua?" tanya seorang omega. Tetua seketika tertawa
Tubuh Sisilia bersinar keemasan. Tubuhnya menyatu dengan serigala kesayangan. Sinar mata yang biasanya kosong kini mulai mengeluarkan sinar. "Berhati-hatilah, Alpha Sisilia. Kami masih butuh Anda!" Ester berkata sambil menepuk punggung kokoh serigala perak tersebut. Sang serigala melolong panjang
Sisilia melayangkan telapak tangannya pada pipi Edward. Bunyi yang keras saat kedua kulit saling bertemu membuat pria itu ternganga tidak percaya dengan sikap wanita buta itu. "Kau berani bertingkah, Buta?""Bukankah sejak awal Tuan tahu bahwa saya Buta. Mengapa masih saja mengejar?"Edward segera
Sang Elder menatap langit yang semakin gelap. Jika semalam di wilayah timur hutan Jungkla terdapat ritual angkat alpha baru, kini di wilayah seberang sungai wilayah Pack Harlan mengadakan ritual resmi marking. Sang Elder tersenyum kemudian dia mulai membaca mantra khusus menyambut datangnya anggot
Semua anggota pack telah kembali ke huniannya masing-masing menyisakan Rebecca dan sepasang lycan. Sisilia masih nyaman duduk di samping Edward dengan tatapan kosong, bahkan binar kehidupan saat itu hilang tanpa bekas. Hal ini bisa dirasakan oleh Edward, ada kegelisahan menguar dari tubuh Sisilia.







