Se connecterKetika orangtua Elsha memilih berpisah dan meninggalkannya dengan sang adik tercinta, Elsha tidak lagi bisa menikmati kehidupan seperti kebanyakan wanita seusianya. Yang Elsha tahu hanya lah bekerja dan bekerja. Biaya kuliah adiknya serta biaya hidup yang semakin mahal, membuat Elsha terpaksa memilih pekerjaan dengan bayaran besar. Salah satunya menjadi jalang kelas elit di sebuah kelab malam ternama. Lalu, takdir membawa Elsha pada cinta pertamanya sewaktu remaja. Apalagi pria itu juga yang pernah mengambil mahkota berharga miliknya. Bisakah Elsha bertahan dari godaan pria tersebut ketika Elsha tahu kalau pria itu lah pelanggan pertamanya sebagai jalang? Elsha juga tidak mau terjebak cinta masalalu ketika pria itu mengatakan hubungan mereka belum usai. Karena yang Elsha tahu, pria yang dia puaskan pada malam panas tersebut bukan lah pria lajang lagi, tapi pria yang sudah beristri. "Will you marry me, El?" "Kamu gila, Mas."
Voir plusRain sounded on the broken pavement, cold and pitiless, as I sat on the curb in front of the gas station, my heart sinking a little more with each buzz of my phone. One cruel message from Jace lit up the screen:
“We’re done. I can’t be with you when you’re like this anymore.”
His words cut deeper than the cold. My fingers shook as I gazed at the illuminated text. The girl I’d been — the one who laughed, who believed — felt buried under layers of shame and doubt. The rain blurred the surroundings, but I could feel the needles that stung my flesh with each sharp raindrop.
“Why?” I said to the empty street, my voice cracking. “Is it really because of me? Because of this…” I wrapped my oversized coat even more tightly around my body, the weight of his rejection too heavy for even my leather jacket to shield. Chubby. Ugly. Not enough.
“Nova, you there?” a voice interrupted my downward spiral. I barely noticed at first, but then I saw a shape move next to me—tall, silent, standing near enough to feel the warmth emanating from him, though rain didn’t tamp down the cold air.
I looked up, waiting for condemnation, mockery, but instead I saw silent surveillance.His eyes glinted faintly under the dim streetlight—something calm, maybe even kind. I thought he’d speak for a moment, but he didn’t. Instead, he merely stood there, allowing me to drown in my pain without words.
I bit my tongue, the words savage despite my tears. “I’ll make him regret this. I swear I will.” The vow was like a spark in the dark — fragile but alive.
The figure didn’t move as I pushed myself to my feet. He disappeared into the night before I could ask him a question. I didn’t even have a chance to thank him for merely being there.
****
The next morning, sunlight streamed weakly through Talia’s bedroom window, cutting in pale ribbons across the floral wallpaper. I sat curled on her lumpy old couch, knees pulled to my chest, clutching a chipped mug of lukewarm coffee like it was a life preserver in an emotional shipwreck.
The silence between us wasn’t awkward — it never was. But it felt heavy, like we were both waiting for me to say the thing I hadn’t figured out how to say yet.
Talia — my best friend since second grade, partner in chaos, keeper of secrets — was sprawled across her bed in a tangle of sheets, scrolling through her phone like nothing had changed. Except everything had.
Her sandy hair fell in lazy waves across her shoulder, and her green eyes flicked up, scanning me like she was reading every thought I wasn’t speaking out loud.
“So,” she said, her tone light but sharp, “Mr. Perfect dumps you because you don’t fit his ‘ideal’? Classic.”
I sighed into my coffee. “Can we not call him Mr. Perfect? It’s starting to feel ironic.”
She tossed her phone onto the nightstand with a soft thud. “Fine. Mr. Shallow. Mr. Emotionally Unavailable. Mr. Needs Therapy. Better?”
I let out a snort, the smallest flicker of amusement breaking through my exhaustion. “Accurate.”
Talia rolled onto her stomach, propping her chin on her hands. “Seriously, Nova, screw him. You are smart, hilarious, beautiful — and okay, maybe you’ve been in your slouchy era lately, but that’s called being a human being. Not a crime.”
“I just…” My throat tightened. “I look in the mirror and I don’t know who I see. I feel like I’ve been disappearing, and he just… confirmed it.”
She sat up at that, all the teasing gone from her face. “Hey. Stop right there.”
I met her eyes, hating how watery mine were. “What if I try to change, and it still doesn’t matter? What if I’m just not enough?”
“You are enough,” she said, fierce now. “But if you want to change — for you — then we’ll do it smart. No starving yourself. No crying in dressing rooms. Just small steps. Healthy ones. Starting today.”
She grabbed her phone again, fingers flying like she was solving a national emergency. “Okay. Phase one: sweat and salads. Phase two: confidence boot camp. Phase three: jaw-dropping revenge body.”
I blinked at her. “You had a transformation plan ready?”
Talia smirked. “Please. I’ve been dying for an excuse to drag you to hot yoga. This just makes it official.”
Despite myself, I laughed — the sound rusty but real. “God, you’re insane.”
“And you love me,” she replied, tossing me a wink. “Now, finish that sad excuse for coffee. I’m dragging your ass out for a walk in fifteen. I don’t care if you cry the whole way, but you’re moving.”
I shook my head, a smile pulling at my lips. “This is why you’re the only person I trust to witness my lowest point.”
She stood, stretching like a cat. “Babe, this isn’t your lowest point. This is the montage setup. Rock bottom is step one in every badass comeback story.”
I raised my mug. “To sweat and salads?”
She clinked an invisible glass. “To becoming unrecognizable — and making sure Jace chokes on the glow-up.”
A shaky smile tugged at my lips.
But when I looked down at my reflection in the cold coffee, a darker thought slipped in, soft and terrifying.
What if I can't become that girl? What if this broken version of me is all there is?
"Pa?"Sultan mendongak menatap Aris yang kini sedang memijit pelan kaki Elsha. Wanita itu mengeluh sakit pada kakinya karena tadi tersandung di undakan tangga saat mau ke lantai dua."Kaki Mami sakit," jawab Aris."Kit? Pa?"Aris terkekeh. "Bantu Papi pijit dong, Bang, itu sebelahnya," suruh Aris.Bocah itu lantas beranjak dengan semangat meski awalnya terduduk lagi karena gerakannya tergesa. Elsha yang tengah duduk bersandar di kaki sofa memperhatikan saja bagaimana Sultan memijit kakinya."AW," ringis wanita itu saat Aris memijitnya sedikit kuat."No!" Sultan melotot pada Aris karena membuat Elsha kesakitan.“Parah, sih, ini si embul bakal posesif banget sama kamu, Yang,” decak Aris.Elsha tertawa dan mencubit gemas pipi Sultan yang tampak memerah. “Botol susunya tadi ketinggalan di rumah Mama Sashi, ya, Bang,” katanya.Sultan mengangguk lucu, “ndak pa,” balasnya.&ldqu
Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang sangat disyukuri. Elsha merasakan itu. Pertama, bersyukur karena sebelumnya ia masih diberi kesehatan oleh sang pencipta sehingga bisa mencari nafkah untuknya dan Sashi.Kedua, bersyukur karena ia dipertemukan kembali dengan Aris dan menjalin hubungan serius hingga memiliki bayi mungil seperti saat ini.Ketiga, bersyukur karena ia memiliki keluarga baru yang begitu perhatian dan penuh limpahan kasih sayang. Nikmat mana lagi yang harus Elsha abaikan?Semua yang ia terima di kehidupan ini, ada baik dan buruknya. Tidak ada kehidupan yang selalu buruk dari awal hingga akhir. Pun, sama, tidak ada kehidupan yang selalu baik dari awal hingga akhir. Pasti ada titik masalah.Untuk Elsha sendiri, buruknya kehidupan yang ia rasakan adalah saat ditinggalkan kedua orangtuanya. Lalu, baiknya bertemu orang-orang baru.Membahas orangtua, Elsha tiba-tiba saja meneteskan air mata. Ia sudah tahu seberat apa perjuangan seorang
Minggu ke-40 yang ditunggu-tunggu Aris dan Elsha akhirnya tiba juga. Sangat mendebarkan dan menegangkan. Anak pertama mereka akan lahir ke dunia.Seperti halnya kedua suami istri itu, Donita dan yang lainnya juga merasakan hal yang sama. Ini adalah cucu pertama bagi Donita dan keponakan pertama juga bagi Arjun dan Andreas serta para istri dan kedua putri Donita.Elsha menarik napas berulang kali. Matanya terpejam dengan dahi yang dipenuhi oleh keringat. Aris yang berada di atasnya membisikkan kata-kata sayang dan semangat untuk sang istri tercinta."Ayo, Bu, sedikit lagi," Dokter menyuruh Elsha untuk terus mengejan mengikuti arahannya."Ayo, Sayang, kamu bisa," bisik Aris. Pria itu duduk di kursi tepat di atas kepala Elsha yang terbaring. Sehingga Aris mudah untuk mengelus kepala wanita tersebut.Suara tangis bayi yang memekakkan telinga membuat Aris berseru syukur dan mengecup kening Elsha. Elsha bernapas lega seketika saat merasa plong begitu saj
Elsha tidak pernah sekali pun meragukan perkataan dan rencana Aris. Jika pria itu sudah berkata A, maka yang akan terwujud jelas A. Seperti saat ini, Aris benar-benar menyuruh orang untuk membereskan barang-barang penting yang harus mereka bawa.“Itu gak usah, Mbak, tinggalin aja,” larang Elsha saat seorang wanita ingin memasuki sebuah kotak yang Elsha tahu isinya apa.“Ini taruh di dalam box itu aja, biar nanti saya gak pusing nyarinya,” kata Elsha lagi saat salah satu barang yang biasa dia pakai hendak dimasukkan ke dalam box barang kerjaan suaminya.“Yang,” Aris datang dengan segelas susu untuk Elsha. Pria itu duduk di sebelah Elsha memperhatikan tiga orang yang sedang berbenah.“Banyakan barang-barang bayi. Tahu gini, mending aku suruh kemarin orang store anter ke rumah baru aja,” decak Aris.“Ya, kan, gak tahu. Gak bakal nyangka juga ini bakal pindah cepet begini,” balas Elsh
Elsha keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Aris yang masuk ke dalam kamar. Pria itu baru saja pulang kerja. Wajahnya terlihat lelah dan pakaiannya tidak serapi tadi pagi. Elsha berjalan mendekat saat Aris sudah mengunci pintu. Telapak tangannya mengusap dada bidang Aris, lalu ia tersenyum sa
Seperti yang Aris katakan sebelum berangkat kerja, siang ini mereka akan makan di luar. Kebetulan juga Sas
Aris sedang bersiap ingin berangkat ke kantor saat ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Donita adalah yang Aris tunggu sejak satu bulan menikah. Senyum geli Aris seketika langsung terbit membayangkan betapa kesalnya Donita saat ini.“Halo, Mi?” sapa Aris kalem.&l
Malam pertama Elsha dan Aris menjadi suami istri jangan diharapkan romantis. Elsha jelas sangat Lelah setelah melayani para tamu undangan yang ia yakin pasti lebih dari perkiraan undangan. Apalagi kondisi Elsha juga membuat Aris sedikit was-was. Sejak kemarin, Elsha mengeluh sakit kepala. Lalu, A






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus