Compartilhar

Bab 5

Autor: Makaira
last update Data de publicação: 2026-10-28 09:51:54

Langkah kaki Rain berhenti tepat di depan daun pintu jati kamar mereka. Jemarinya sudah mencengkeram kenop pintu yang dingin, namun ia tak segera menekannya.

Di dalam keheningan lorong rumah orang tuanya, kata-kata ibunya kembali berdengung, menghantam dadanya tanpa ampun.

Buatlah seorang anak.

Rain memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengeras saat bayangan Liora yang tersenyum manis pada Jade siang tadi mendadak melintas tanpa izin di benaknya.

Rasa cemburu yang sedari tadi ia kekang di balik sikap diktatornya kini mendadak bergolak menjadi letupan posesif yang membakar kewarasan.

Lima tahun ini, Rain tahu ia telah gagal. Ia mengira dengan memberikan perlindungan hukum, harta yang melimpah, dan menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng sedingin es, ia bisa menjaga Liora dengan aman setelah tragedi kecelakaan yang merenggut orang tua wanita itu.

Namun, ia salah. Jarak di antara mereka justru semakin membentang lebar bagai jurang yang tak berdasar.

Apakah di hatimu benar-benar sudah ada pria lain, My-Lio? batin Rain parau, merasakan denyut nyeri yang teramat sangat di dadanya.

Tidak. Rain tidak akan melepaskannya. Ego dan rasa cintanya yang terdistorsi tidak akan pernah membiarkan Liora pergi, apa pun taruhannya.

Jika sebuah ikatan darah adalah satu-satunya cara untuk mengunci Liora di sisinya selamanya, maka Rain akan melakukannya malam ini.

Klik.

Rain menekan kenop pintu, melangkah masuk ke dalam kamar yang hanya diterangi oleh lampu temaram di sudut ruangan.

Begitu pintu tertutup rapat di belakang punggungnya, sepasang matanya langsung tertuju pada ranjang besar di tengah kamar.

Liora ada di sana. Wanita itu tidak sedang tertidur. Ia tengah bersandar pada kepala ranjang dengan sebuah tablet kerja di pangkuannya.

Begitu menyadari kehadiran Rain, Liora langsung mendongak, menyambut suaminya dengan tatapan savage yang dingin seperti biasanya.

"Lama sekali. Kupikir kamu akan tidur di dalam ruang kerjamu yang berharga itu," sindir Liora ketus, meletakkan tabletnya ke meja nakas.

Rain tidak menyahut.

Pria itu berjalan lambat, sengaja melepas kacamata peraknya dan meletakkannya begitu saja.

Sorot matanya yang kini telanjang, menatap Liora dengan intensitas yang begitu pekat, sebuah tatapan berbahaya yang seketika membuat bulu kuduk Liora meremang.

"Ada masalah?" Suara Liora terdengar sedikit gugup, memecah keheningan kamar yang mendadak terasa mencekam.

Respons Rain di luar dugaan. Pria itu hanya memberikan gelengan pelan, namun sorot matanya menampilkan sebuah ekspresi yang belum pernah Liora lihat selama lima tahun pernikahan mereka.

Sebuah tatapan yang sarat akan kerapuhan sekaligus kepemilikan yang absolut.

"Atau... kamu tidak setuju dengan rencana pesta anniversary dari Mama?" cecar Liora lagi, mencoba mencari pengalihan.

Lagi-lagi Rain menggeleng. Namun, Liora tahu betul gerak-gerik suaminya.

Di balik kediaman itu, ada sesuatu yang teramat rumit dan berat yang sedang berkecamuk di dalam kepala sang CEO Frost.

"Ya sudah kalau tidak mau cerita," sahut Liora ketus, menyembunyikan getar aneh di dadanya.

Ia menarik selimut tebalnya agak kasar, menutupi sebagian tubuhnya yang terbuka dari terpaan pendingin ruangan.

Sebelum Liora sempat membaringkan tubuh, Rain bergerak maju. Pria itu meredam jarak, lalu duduk di tepi ranjang.

Detik berikutnya, tubuh tegap Rain membungkuk ke depan, mendaratkan kedua telapak tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Liora.

Secara mutlak mengunci ruang gerak sang istri di bawah kungkungannya. Wajah mereka kini begitu dekat, hingga Liora bisa merasakan embusan napas Rain yang hangat.

"Mau... apa?" Kegugupan Liora kini tak lagi bisa disembunyikan. Ia menahan napas, menatap langsung pada manik mata Rain yang telanjang tanpa bingkai kacamata.

Rain menatap lekat bibir bawah Liora yang masih sedikit ranum akibat sisa malam sebelumnya, sebelum akhirnya beralih mengunci sepasang mata kecokelatan milik istrinya.

"Liora... apa pendapatmu tentang kehadiran seorang anak?" Panggilan itu terdengar begitu parau, sarat akan tuntutan tersembunyi yang sangat intens.

Liora tertegun, kelopak matanya melebar sempurna. "Anak?"

Rain memberikan anggukan tunggal yang tegas, membenarkan pendengaran istrinya tanpa ada keraguan sepeser pun di matanya.

Udara di antara mereka seketika terasa membeku, dipenuhi oleh debar jantung yang mendadak bertalu gila.

"Rain..." Liora berbisik lirih, lidahnya mendadak kelu untuk menyusun kalimat bantahan yang biasanya keluar begitu savage.

Melihat keraguan yang mendalam di sepasang mata Liora, kilatan kecewa mendadak melintas cepat di wajah Rain.

Bayangan ketakutan bahwa hati istrinya telah terisi oleh pria lain kembali menghantam egonya yang setinggi langit.

"Sudah... lupakan," potong Rain tiba-tiba.

Sebelum Liora sempat mencerna situasi, Rain mendadak menarik kembali tubuhnya dan bangkit berdiri tegak dengan sikap kakunya yang semula.

Topeng sedingin es itu kembali terpasang sempurna di wajahnya. Ia berbalik memunggungi ranjang, merapikan kemejanya yang sedikit kusut.

"Tidurlah. Jangan menungguku," titah Rain dengan nada datar yang teramat dingin, seolah pembicaraan intens beberapa detik lalu hanyalah ilusi semata, sebelum ia melangkah lebar keluar kamar.

Rain kembali melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya yang begitu dingin dan gelap. Satu-satunya suara yang tersisa di sana hanyalah detak jam dinding yang berbunyi monoton, seolah sedang menghitung sisa kewarasannya yang kian menipis.

Ia berdiri mematung di depan jendela besar, memandangi hamparan halaman rumah orang tuanya yang temaram di bawah kepungan malam.

Pria itu mati-matian berusaha mengalihkan ingatan dari ekspresi Liora beberapa saat lalu. Sebuah raut wajah yang dipenuhi keraguan mendalam saat ia melontarkan pertanyaan tentang kehadiran seorang anak.

"Sudah kubilang, Ma... ini ide gila. Dan bagaimana besok aku harus menghadapinya?"

Rasa frustrasi yang membakar dadanya membuat Rain nekat mengacak rambutnya sendiri hingga berantakan.

"Rain, kamu benar-benar bodoh!" desisnya parau pada keheningan.

Pikirannya mendadak berkhianat, melesat kembali pada memori malam badai kemarin. Malam di mana ia merasa tak bisa lagi menahan hasrat tersembunyinya saat mendekap posesif tubuh sang istri.

Ciuman yang tadinya diniatkan hanya mendarat lembut di kening Liora sebagai penenang rasa takut, lantas porak-poranda begitu saja.

Semua pertahanan dirinya runtuh saat ia mendapati sepasang bibir Liora yang begitu menggoda di tengah lelap tidurnya.

"Otakmu benar-benar kotor, Rain," gerutunya kasar pada diri sendiri.

Bayangan tentang bagaimana ia dengan rakus hingga hampir tanpa kendali bermain dan menyesap bibir lembut istrinya malam itu kini kembali menuntut ruang di benaknya.

Efeknya nyata; bibir Liora yang sedikit membengkak pagi ini adalah bukti dari jejak kelakuannya yang tak tahu malu.

"Pengecut!" umpat Rain lagi, menghujat dirinya yang hanya berani menyentuh wanita itu di kala lengah.

Ia buru-buru menepis semua bayangan pekat itu. Rain mencengkeram pinggiran meja kerja erat-erat, memaksa napasnya yang memburu untuk kembali teratur sebelum ia benar-benar kehilangan kontrol atas nafsunya sendiri.

Ia tahu, kembali ke kamar tidur saat ini sama saja dengan mengantarkan dirinya pada kehancuran. Dan yang paling ia takuti di dunia ini adalah satu hal: melihat Liora terbangun lalu menatapnya dengan pandangan penuh rasa benci.

Butuh waktu beberapa jam sampai akhirnya Rain menyerah dan memutuskan kembali ke kamar. Meski enggan, ia tahu sang mama akan mengamuk jika ia nekat tidur di tempat lain. Hatinya dipenuhi kepasrahan saat jemarinya membuka pintu, namun kelegaan seketika menyelimuti begitu melihat tubuh sang istri sudah menggulung tenang di balik selimut tebal.

Klik.

Kamar sudah gelap gulita. Rain melangkah seringan mungkin mendekati ranjang, mendapati Liora yang berbaring diam membelakanginya dengan napas yang teratur.

Pria itu perlahan merebahkan tubuh bidangnya di sisi kasur yang kosong. Namun, rasa posesif yang membakar dadanya sejak siang menolak berkompromi.

Lengan kokoh Rain bergerak maju, melingkari pinggang ramping Liora dari belakang, lalu menariknya tanpa jarak ke dalam dekapan hangat dadanya.

Rain membenamkan wajah di antara helai rambut tebal istrinya, membisikkan satu kalimat mutlak yang teramat lirih.

"Menyerahlah, My-Lio... karena aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk pria mana pun."

Rain mempererat dekapannya, bersiap memejamkan mata. Namun tepat di detik itu, ia merasakan tubuh Liora mendadak menegang dalam pelukannya.

Di bawah kepungan gulita, sepasang kelopak mata kecokelatan Liora perlahan terbuka lebar.

Wanita itu ternyata belum tidur. Dan dia mendengar setiap kata dari suaminya.

​

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 8

    "Liora, kenalkan ini Violet. Temanku sewaktu di luar negeri," ucap Rain saat Liora sudah berdiri di sampingnya.Benarkah hanya teman? bisik batin Liora, menepis rasa tak nyaman yang mendadak muncul."Liora," ucap Liora. Suaranya terdengar datar saat ia mengulurkan tangan."Violet," sambut wanita itu dengan gestur yang sangat berkelas. "Aku pemilik butik ini. Belanjaanmu cukup banyak, Rain. Biar kuberi diskon spesial," lanjutnya seraya melirik total tagihan yang sedang ditandatangani Rain."Menyenangkan sekali," lirik Rain pada Liora penuh makna sebelum kembali menghadap Violet. "Aku pikir kamu masih di luar negeri?" basa-basi Rain dengan senyum ramah.Liora hanya memperhatikan dalam diam. Namun, hatinya seketika terenyuh. Ada rasa pedih yang mendadak berdesir di dadanya."Hm, tapi rasanya gak menyenangkan kalau gak ada kamu, Rain," gumam Violet dengan senyum cerah, lalu beralih topik. "Katanya kamu memesan gaun untuk minggu ini?""Ya.""Biar aku bantu rancang, ya? Tentu sesuai dengan

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 7

    "Kamu aneh! Biasanya paling malas repot-repot ke butik cuma buat beli baju. Apa yang kamu pikirkan sekarang, hah? Apa yang kamu rencanakan?" cecar Liora begitu mobil sedan mewah Rain terparkir sempurna di depan butik kelas atas itu."Bukan aku. Ini Mamah yang nyuruh," sanggah Rain santai. "Nih, telepon sendiri kalau gak percaya."Rain menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah sang istri. Tatapan Liora masih menyelidik tajam, mencoba membaca situasi. Namun, benteng ekspresi di wajah suaminya terlalu kokoh untuk ditembus."Selesaikan dengan cepat," ketus Liora. Ia menarik tuas pintu mobil, lalu keluar dengan helaan napas kesal yang kentara.Rain hanya tersenyum tipis, bersyukur Liora tidak memperpanjang kecurigaannya. Di kantor tadi ia sempat cemas rencana ini akan berantakan karena tidak didukung sang Mamah. Untunglah, sebuah pesan masuk mendadak mengirimkan alamat butik ini."Bersiaplah dengan serangan romantisku, My-Lio," gumam Rain seraya melangkah menyusul istrinya.Begitu m

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 6

    "Mah," sapa Rain dengan wajah kusut. Kontras sekali dengan setelan kemeja necis yang melekat di tubuhnya."Liora mana?" tanyanya langsung saat mendapati sisi ranjangnya kosong pagi ini.Esther yang sedang menikmati teh di meja makan menengadah. Alisnya bertaut heran. "Dia istrimu, kenapa tanya Mamah?" selorohnya. "Kamu apakan dia semalam sampai istrimu kabur, hm?"Rain menghela napas berat, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi di seberang sang mamah. "Ini semua gara-gara ide gila Mamah.""Oh, sekarang Mamah yang disalahkan?""Memang salah Mamah! Coba kalau Mamah enggak bisik-bisik ide mengenai kehadiran anak.""Anak? Cucu menantuku hamil?!" sebuah suara serak memotong perdebatan.Raver berjalan mendekat, bertumpu pada tongkat kayunya. Langkah sang kakek tampak tergesa. "Kenapa kalian merahasiakan kabar bahagia ini?""Tahu, ah! Tanya saja sama Mamah," gerutu Rain. Ia bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja.Esther menahan lengan pria tua itu saat melihat tongkatnya sudah mengacu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 5

    Langkah kaki Rain berhenti tepat di depan daun pintu jati kamar mereka. Jemarinya sudah mencengkeram kenop pintu yang dingin, namun ia tak segera menekannya.Di dalam keheningan lorong rumah orang tuanya, kata-kata ibunya kembali berdengung, menghantam dadanya tanpa ampun. Buatlah seorang anak.Rain memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengeras saat bayangan Liora yang tersenyum manis pada Jade siang tadi mendadak melintas tanpa izin di benaknya. Rasa cemburu yang sedari tadi ia kekang di balik sikap diktatornya kini mendadak bergolak menjadi letupan posesif yang membakar kewarasan.Lima tahun ini, Rain tahu ia telah gagal. Ia mengira dengan memberikan perlindungan hukum, harta yang melimpah, dan menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng sedingin es, ia bisa menjaga Liora dengan aman setelah tragedi kecelakaan yang merenggut orang tua wanita itu. Namun, ia salah. Jarak di antara mereka justru semakin membentang lebar bagai jurang yang tak berdasar.Apakah di hatimu benar-benar su

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 4

    "Senyum," desak Rain setengah berbisik saat langkah kaki mereka mulai memasuki area ruang tengah rumah orang tuanya yang megah bak istana.Liora mendengus tipis, melirik suaminya dari sudut mata. "Kenapa? Kamu takut aktingku akan membongkar kenyataan bahwa pernikahan kita..."Rain enggan meladeni rentetan kalimat kemarahan istrinya. Sebagai jawaban, jemari kokohnya justru bergerak kilat, menyergap pinggang ramping Liora lalu menyentaknya kuat hingga tubuh wanita itu merapat tanpa jarak ke dadanya.Langkah kaki Liora yang limbung akibat hentakan mendadak itu terpaksa membuatnya melemparkan kedua lengan untuk merangkul pundak tegap sang suami. Di jarak sekat ini, sepasang mata mereka saling mengunci pergerakan masing-masing. Deru napas yang saling beradu, debar jantung yang mendadak bertalu kencang seperti ketukan gendang, serta kepungan aroma maskulin parfum dari balik dekapan otot dada yang kekar seketika menguapkan setengah kewarasan Liora."Kemarahan juga merupakan bumbu dalam sebu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 3

    "Jade," sapa Liora, melangkah mendekat. "Maaf aku terlambat.""It's okay," sahut Jade hangat. Tangannya bergerak sigap menarik kursi di hadapannya, mempersilakan Liora duduk. "Mau pesan apa?"Liora menggeleng pelan. "Aku sudah makan."Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Bayangan perlakuan suaminya tadi pagi mendadak melintas. Setumpuk sarapan yang disiapkan khusus untuknya. Potongan buah yang dikupas rapi, secangkir air putih hangat, segelas jus jeruk, dan telur rebus. Entah apa yang sedang merasuki Rain, karena ini pertama kalinya pria itu bertingkah demikian setelah hampir tiga tahun selalu mengacuhkannya."Apa yang dilakukan suamimu, hm?" tanya Jade, menangkap gelagat aneh itu."Hanya menyiapkan sarapan," kilah Liora cepat.Jade melipat kedua tangan di dada, melemparkan tatapan penuh selidik. "Hanya sarapan, tapi wajahmu berseri-seri bagai ABG yang sedang kasmaran."Liora memberengut, matanya menyipit ketus. "Apa salahnya?""Tidak ada. Lalu..." Jade mencondongkan tubuhn

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status