Share

Bab 7

Author: Makaira
last update publish date: 2026-11-04 19:02:28

"Kamu aneh! Biasanya paling malas repot-repot ke butik cuma buat beli baju. Apa yang kamu pikirkan sekarang, hah? Apa yang kamu rencanakan?" cecar Liora begitu mobil sedan mewah Rain terparkir sempurna di depan butik kelas atas itu.

"Bukan aku. Ini Mamah yang nyuruh," sanggah Rain santai. "Nih, telepon sendiri kalau gak percaya."

Rain menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah sang istri. Tatapan Liora masih menyelidik tajam, mencoba membaca situasi. Namun, benteng ekspresi di wajah suaminya terlalu kokoh untuk ditembus.

"Selesaikan dengan cepat," ketus Liora. Ia menarik tuas pintu mobil, lalu keluar dengan helaan napas kesal yang kentara.

Rain hanya tersenyum tipis, bersyukur Liora tidak memperpanjang kecurigaannya. Di kantor tadi ia sempat cemas rencana ini akan berantakan karena tidak didukung sang Mamah. Untunglah, sebuah pesan masuk mendadak mengirimkan alamat butik ini.

"Bersiaplah dengan serangan romantisku, My-Lio," gumam Rain seraya melangkah menyusul istrinya.

Begitu melintasi pintu, pelayan butik langsung mengenali mereka sebagai bagian dari keluarga Frost, pelanggan tetap kelas kakap. Tanpa menunggu lama, mereka langsung diantar dengan penuh hormat menuju ruang VVIP di lantai dua.

Suasana eksklusif langsung terasa. Di ruangan privat yang wangi dan tenang itu, deretan gaun malam serta setelan desainer terbaru sudah terpajang rapi, lengkap dengan kurasi tas, perhiasan, dan sepatu mewah yang berkilau di bawah pendar lampu interior.

"Cobalah beberapa gaun," saran Rain sambil menunjuk deretan busana yang menurutnya akan pas melekat di tubuh sang istri.

"Gak usah repot. Ambil aja yang terbaru dan edisi terbatas," jawab Liora santai, malas membuang waktu.

"Buat apa datang jauh-jauh kalau caramu belanja cuma kayak begitu?" ketus Rain, menyembunyikan perhatiannya. "Ini juga permintaan Mamah. Aku harus ambil foto sama video buat laporan ke beliau."

Liora tertawa mengejek. "Sejak kapan kamu patuh banget sama keinginan Mamah?"

"Biarkan kali ini aku jadi anak yang berbakti," kilah Rain. Pria itu sengaja menjeda kalimatnya, lalu menatap Liora lekat.

"Kamu tahu, Liora?" Nada suara Rain yang mendadak berubah membuat Liora mendongak waspada.

"Tahun ini, acara perayaan pernikahan kita akan menjadi momen untuk mengumumkan status kita secara resmi. Jadi, berpakaianlah yang manis, sayangku," bisik Rain genit sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Apa?!" bentak Liora. Suaranya yang meninggi seketika membuat pramuniaga di sudut ruangan tersentak kaget. "Aku gak tahu apa-apa soal ini!"

"Kenapa? Kamu mau tetap menyimpan rapat pernikahan kita?"

"Bukankah itu keinginanmu dari awal?" skak Liora telak.

"Itu dulu," jawab Rain, ada kilat penyesalan yang melintas cepat di matanya.

"Kurasa masalah ini harus kita bicarakan lagi di rumah."

Liora melangkah hendak pergi, tetapi Rain langsung bergeser menghadang jalannya. Sepasang matanya menatap Liora tajam.

"Apa menikah denganku membuatmu begitu menyesal, sampai-sampai kamu gak sudi orang lain tahu?"

Liora terdiam. Ketegangan mendadak merayap di antara mereka, membuat ruangan VVIP yang luas itu terasa menyempit. Ia menatap lekat manik mata suaminya.

"Apa yang memengaruhimu, Rain?" tanya Liora lirih. "Dari semalam kamu bertindak aneh."

Pria di dekatmu itu! Si Jade! teriak batin Rain berang. Sontak, raut wajahnya mengeras menahan cemburu.

Liora mundur perlahan, lalu menarik kasar beberapa gaun dari gantungan sebelum menghilang di balik tirai bilik ganti.

Di dalam ruangan sempit itu, wajahnya terasa memanas akibat tatapan tajam suaminya. Ia refleks berjongkok, mencoba mengatur napasnya yang mendadak memburu.

"Ini gak bagus buat jantung sama mukaku," gumam Liora, memegangi dadanya. "Rain berubah. Kenapa? Apa dia mulai menganggapku istrinya?"

Sebuah senyuman sempat mengembang di bibirnya, namun ia segera menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengenyahkan pikiran itu. "Gak mungkin!"

Liora bangkit berdiri lalu mulai mencoba sebuah gaun hitam ketat dengan potongan dada yang cukup rendah.

"Terus soal anak... Semalam dia bilang mau punya anak, kan?" Liora memperhatikan pantulan dirinya di cermin besar. "Apa aku tanya aja langsung seberapa serius dia?"

Begitu Liora menyingkap tirai, ia melihat Rain sedang duduk tenang dengan cangkir kopi di tangannya. Pandangan pria itu seketika menelisik tajam dari atas ke bawah, terpaku pada gaun ketat dengan belahan dada rendah yang mengekspos kulit mulus Liora.

"Ganti," geram Rain pendek, matanya menggelap.

"Cih!" sungut Liora, lalu menyentak tirai hingga tertutup kembali.

"Pakaian macam apa itu," gerutu Rain. Ia mendadak merasa gerah dan buru-buru menyeruput kopinya. Dengan jentikan jari yang tegas, ia memanggil pramuniaga. "Berikan dia pakaian yang sopan dan elegan."

"Baik, Tuan."

Pramuniaga itu segera bergerak cepat sesuai titah Rain. Tak lama kemudian, puluhan pasang baju dikirimkan ke dalam bilik. Dengan wajah yang mulai muak, Liora terpaksa keluar masuk kamar ganti berulang kali. Namun, setiap kali ia keluar, tanggapan Rain selalu sama: wajah datar dan gelengan kepala.

"Baju macam apa yang bisa memuaskan seleramu, Tuan Frost?!" bentak Liora yang sudah habis kesabaran.

Rain hanya menanggapi omelan itu dengan santai, menyembunyikan senyum puasnya di balik cangkir kopi.

Lebih dari satu jam Liora mendadak jadi model dadakan, menjajakan pakaian di depan suaminya yang hanya terus menggeleng. Namun pada akhirnya, Rain justru membeli semua pakaian yang telah dicoba dan memesan satu gaun khusus sesuai arahannya sendiri.

Liora yang keheranan spontan menempelkan telapak tangannya di dahi Rain, sementara tangan satunya memegang dahinya sendiri.

"Nggak demam," gumamnya bingung.

"Suamimu sehat walafiat, Sayang," ucap Rain santai sambil menyodorkan black card-nya kepada pramuniaga untuk melunasi tagihan fantastis itu.

"Rain," Liora menarik lengan suaminya menjauh. "Mamah ngomong sesuatu sama kamu, kan?"

Rain hanya menggeleng. Liora jelas tidak percaya. Ia menatap lekat manik mata suaminya, mencoba mencari celah. "Apa semua ini cuma rayuan biar aku mau hamil? Kamu butuh seorang pewaris, kan?"

"Bukan ide yang buruk, kan?" jawab Rain enteng, tanpa menyadari perubahan ekspresi di wajah sang istri.

"A-aku..."

"Liora, kita sudah menikah lima tahun. Wajar kalau orang tuaku mulai mempertanyakan kehadiran seorang anak, ya kan?"

"Rain, tapi—"

"Liora, yakinlah hal ini sama sekali nggak akan merugikanmu," tegas Rain memotong ucapan istrinya. Ia meremas pelan pundak Liora, mengirimkan sinyal hangat agar wanita itu memercayainya.

"Tuan, silakan tanda tangan di sini," interupsi pramuniaga, memutus obrolan pribadi sepasang suami istri tersebut.

"Kita bicara lagi di rumah," kata Rain sebelum melangkah pergi meninggalkan Liora yang masih tertegun.

Liora memandangi punggung suaminya yang berjalan menjauh mengekor pramuniaga.

Jangankan satu, kalau memang ada cinta untukku, aku bakal kasih apa pun, Rain. Bahkan selusin anak sekalipun, batin Liora lirih dengan mata yang mendadak berkaca-kaca.

Namun, langkah kaki Liora seketika terkunci.

Di kejauhan, ia melihat Rain melempar senyum lebar saat menyapa seseorang. Senyuman hangat yang tidak pernah Liora dapatkan selama lima tahun pernikahan mereka. Pemandangan itu bagai hantaman telak yang membuat jantung Liora seolah berhenti berdetak.

Tepat di hadapan Rain, seorang wanita muda berjalan mendekat, lalu memeluk pria itu dengan santai. Wanita itu bahkan mencium kedua pipi Rain seolah hal tersebut adalah kebiasaan yang sangat lumrah. Dan suaminya... sama sekali tidak menolak.

"Siapa dia?" gumam Liora pelan. Tubuhnya membatu di tempat, menatap nanar interaksi intim di depannya.

​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 7

    "Kamu aneh! Biasanya paling malas repot-repot ke butik cuma buat beli baju. Apa yang kamu pikirkan sekarang, hah? Apa yang kamu rencanakan?" cecar Liora begitu mobil sedan mewah Rain terparkir sempurna di depan butik kelas atas itu."Bukan aku. Ini Mamah yang nyuruh," sanggah Rain santai. "Nih, telepon sendiri kalau gak percaya."Rain menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah sang istri. Tatapan Liora masih menyelidik tajam, mencoba membaca situasi. Namun, benteng ekspresi di wajah suaminya terlalu kokoh untuk ditembus."Selesaikan dengan cepat," ketus Liora. Ia menarik tuas pintu mobil, lalu keluar dengan helaan napas kesal yang kentara.Rain hanya tersenyum tipis, bersyukur Liora tidak memperpanjang kecurigaannya. Di kantor tadi ia sempat cemas rencana ini akan berantakan karena tidak didukung sang Mamah. Untunglah, sebuah pesan masuk mendadak mengirimkan alamat butik ini."Bersiaplah dengan serangan romantisku, My-Lio," gumam Rain seraya melangkah menyusul istrinya.Begitu m

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 6

    "Mah," sapa Rain dengan wajah kusut. Kontras sekali dengan setelan kemeja necis yang melekat di tubuhnya."Liora mana?" tanyanya langsung saat mendapati sisi ranjangnya kosong pagi ini.Esther yang sedang menikmati teh di meja makan menengadah. Alisnya bertaut heran. "Dia istrimu, kenapa tanya Mamah?" selorohnya. "Kamu apakan dia semalam sampai istrimu kabur, hm?"Rain menghela napas berat, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi di seberang sang mamah. "Ini semua gara-gara ide gila Mamah.""Oh, sekarang Mamah yang disalahkan?""Memang salah Mamah! Coba kalau Mamah enggak bisik-bisik ide mengenai kehadiran anak.""Anak? Cucu menantuku hamil?!" sebuah suara serak memotong perdebatan.Raver berjalan mendekat, bertumpu pada tongkat kayunya. Langkah sang kakek tampak tergesa. "Kenapa kalian merahasiakan kabar bahagia ini?""Tahu, ah! Tanya saja sama Mamah," gerutu Rain. Ia bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja.Esther menahan lengan pria tua itu saat melihat tongkatnya sudah mengacu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 5

    Langkah kaki Rain berhenti tepat di depan daun pintu jati kamar mereka. Jemarinya sudah mencengkeram kenop pintu yang dingin, namun ia tak segera menekannya.Di dalam keheningan lorong rumah orang tuanya, kata-kata ibunya kembali berdengung, menghantam dadanya tanpa ampun. Buatlah seorang anak.Rain memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengeras saat bayangan Liora yang tersenyum manis pada Jade siang tadi mendadak melintas tanpa izin di benaknya. Rasa cemburu yang sedari tadi ia kekang di balik sikap diktatornya kini mendadak bergolak menjadi letupan posesif yang membakar kewarasan.Lima tahun ini, Rain tahu ia telah gagal. Ia mengira dengan memberikan perlindungan hukum, harta yang melimpah, dan menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng sedingin es, ia bisa menjaga Liora dengan aman setelah tragedi kecelakaan yang merenggut orang tua wanita itu. Namun, ia salah. Jarak di antara mereka justru semakin membentang lebar bagai jurang yang tak berdasar.Apakah di hatimu benar-benar su

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 4

    "Senyum," desak Rain setengah berbisik saat langkah kaki mereka mulai memasuki area ruang tengah rumah orang tuanya yang megah bak istana.Liora mendengus tipis, melirik suaminya dari sudut mata. "Kenapa? Kamu takut aktingku akan membongkar kenyataan bahwa pernikahan kita..."Rain enggan meladeni rentetan kalimat kemarahan istrinya. Sebagai jawaban, jemari kokohnya justru bergerak kilat, menyergap pinggang ramping Liora lalu menyentaknya kuat hingga tubuh wanita itu merapat tanpa jarak ke dadanya.Langkah kaki Liora yang limbung akibat hentakan mendadak itu terpaksa membuatnya melemparkan kedua lengan untuk merangkul pundak tegap sang suami. Di jarak sekat ini, sepasang mata mereka saling mengunci pergerakan masing-masing. Deru napas yang saling beradu, debar jantung yang mendadak bertalu kencang seperti ketukan gendang, serta kepungan aroma maskulin parfum dari balik dekapan otot dada yang kekar seketika menguapkan setengah kewarasan Liora."Kemarahan juga merupakan bumbu dalam sebu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 3

    "Jade," sapa Liora, melangkah mendekat. "Maaf aku terlambat.""It's okay," sahut Jade hangat. Tangannya bergerak sigap menarik kursi di hadapannya, mempersilakan Liora duduk. "Mau pesan apa?"Liora menggeleng pelan. "Aku sudah makan."Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Bayangan perlakuan suaminya tadi pagi mendadak melintas. Setumpuk sarapan yang disiapkan khusus untuknya. Potongan buah yang dikupas rapi, secangkir air putih hangat, segelas jus jeruk, dan telur rebus. Entah apa yang sedang merasuki Rain, karena ini pertama kalinya pria itu bertingkah demikian setelah hampir tiga tahun selalu mengacuhkannya."Apa yang dilakukan suamimu, hm?" tanya Jade, menangkap gelagat aneh itu."Hanya menyiapkan sarapan," kilah Liora cepat.Jade melipat kedua tangan di dada, melemparkan tatapan penuh selidik. "Hanya sarapan, tapi wajahmu berseri-seri bagai ABG yang sedang kasmaran."Liora memberengut, matanya menyipit ketus. "Apa salahnya?""Tidak ada. Lalu..." Jade mencondongkan tubuhn

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 2

    Bau antiseptik yang pekat langsung menyengat indra penciuman Liora, disusul bunyi bip yang stabil dan monoton dari mesin medis, perlahan mengusik kesadaran yang sempat padam.Siapa yang sedang memanggilku?Bibir Liora bergerak hendak bersuara, namun tenggorokannya terasa sekering gurun, tak ada satu pun kata yang berhasil lolos. Kelopak mata Liora terasa teramat berat, seolah sengaja dikunci dari dalam. Dalam kepasrahan itu, jemari tangannya merasakan sebuah remasan kecil dan hangat, namun bergetar. Tak lama, punggung tangan Liora mendadak dibasahi oleh titik-titik air yang jatuh satu demi satu."Liora bangun... kumohon."Suara siapa ini? Rain? Bukankah dia sedang berada di luar negeri? Dan... apa dia sedang menangis?Guncangan kecil yang menyusul di tubuh Liora mendadak memicu rasa sakit yang luar biasa, menjalar hebat ke sekujur tubuh. Rasa nyeri itu memaksa kedua kelopak mata Liora terbuka perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh kornea mata Liora adalah hamparan plafon putih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status