Share

Bab 6

Author: Makaira
last update publish date: 2026-11-03 18:43:33

"Mah," sapa Rain dengan wajah kusut. Kontras sekali dengan setelan kemeja necis yang melekat di tubuhnya.

"Liora mana?" tanyanya langsung saat mendapati sisi ranjangnya kosong pagi ini.

Esther yang sedang menikmati teh di meja makan menengadah. Alisnya bertaut heran. "Dia istrimu, kenapa tanya Mamah?" selorohnya. "Kamu apakan dia semalam sampai istrimu kabur, hm?"

Rain menghela napas berat, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi di seberang sang mamah. "Ini semua gara-gara ide gila Mamah."

"Oh, sekarang Mamah yang disalahkan?"

"Memang salah Mamah! Coba kalau Mamah enggak bisik-bisik ide mengenai kehadiran anak."

"Anak? Cucu menantuku hamil?!" sebuah suara serak memotong perdebatan.

Raver berjalan mendekat, bertumpu pada tongkat kayunya. Langkah sang kakek tampak tergesa. "Kenapa kalian merahasiakan kabar bahagia ini?"

"Tahu, ah! Tanya saja sama Mamah," gerutu Rain. Ia bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja.

Esther menahan lengan pria tua itu saat melihat tongkatnya sudah mengacung ke udara, bersiap memukul pantat Rain. "Sudah, Kek, jangan ditanggapi. Dia cuma kesal karena ditinggal Liora."

"Salahnya sendiri! Sok gengsi!" sindir sang kakek sengaja mengeraskan suara, berharap sindirannya menembus telinga cucunya yang mulai menjauh.

Rain berulang kali menekan tombol panggil pada layar ponsel di dasbor, namun sang istri tak kunjung menjawab. Jari-jarinya mencengkeram kemudi dengan erat saat mobil membelah jalanan.

"Jadi semalam dia bangun? Dia dengar omonganku?" gumam Rain frustrasi. "Sial!" gerutunya sambil memukul mulutnya sendiri.

Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba menepis rasa panik. "Gak mungkin. Dia gak mungkin dengar. Pasti karena ada urusan makanya dia pergi buru-buru."

Rain menyangkal pikirannya sendiri. Tangannya kembali mengotak-atik ponsel, mencari nomor lain, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga.

Begitu panggilan tersambung, suaranya langsung berubah tegas.

"Agenda rapat pagi ini dan proyek pembelian lahan harus siap siang ini. Cari Liora, suruh dia menunggu di kantorku!" perintah Rain pada si penerima telepon.

Setelah memutus panggilan, sebuah senyum jahil mendadak tersungging di wajahnya. "Kira-kira apa reaksinya nanti, ya?" bisik Rain. Kepalanya mulai dipenuhi beberapa ide untuk menjahili istrinya itu.

******

Liora duduk termenung di kursi kantornya. Di luar dinding kaca ruangannya, hiruk-pikuk kesibukan karyawan berlalu-lalang, namun fokusnya terputus. Ia memijat kening yang mendadak pening, sementara pikirannya terus berputar pada kata-kata Rain semalam yang berupa bisikan.

"Menyerahlah, My-Lio... karena aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk pria mana pun."

Suara berat itu terus menggema di kepalanya. Bisikan itu pula yang membuatnya terjaga sepanjang malam, hingga memutuskan kabur dengan taksi pertama yang ia dapatkan pagi-pagi buta.

"Gak mungkin manusia sedingin kutub itu mengatakannya," gumam Liora tak percaya. "Dan lagi... anak? Dia menginginkan seorang anak!"

Liora menggelengkan kepalanya dengan keras, mencoba menyingkirkan semua ucapan suaminya. Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah senyuman tipis tanpa sadar tersungging.

Tok, tok!

"Bu Liora," Wajah mungil Sarah, sekretaris Rain, muncul dari balik pintu yang terbuka sedikit. "Anda ditunggu di ruangan Pak Frost. Beliau ingin membicarakan mengenai proyek lahan yang Anda kerjakan."

"Kan sudah kubilang dalam tiga hari ini akan selesai!" bentak Liora spontan. Napasnya agak memburu, tahu betul kalau suaminya itu pasti sedang balas dendam karena ia tinggal pergi pagi ini.

"A-aku hanya menyampaikan saja, Bu Liora," cicit Sarah dengan wajah ketakutan.

Liora mengembuskan napas panjang. Penyesalan menyengat hatinya, merasa sedikit bersalah pada Sarah yang jelas-jelas tidak tahu apa-apa. Tangannya bergerak cepat mencari berkas, lalu menekan nomor telepon Jade, rekan kerjanya yang ikut menangani proyek tersebut.

"Jade, Pak Bos minta perjanjian jual belinya dipercepat. Siang ini harus siap, bisa?"

Liora refleks menjauhkan ponsel dari telinga begitu mendengar pekikan protes dari seberang saluran. "Ya, aku tahu! Kita ketemu siang ini, oke?" Panggilan langsung diputus sepihak.

"Manusia diktator satu ini benar-benar gila," gerutu Liora mengutuk suaminya. Ia melangkah keluar dari ruangannya yang mendadak terasa sepi, berjalan mantap menuju lift untuk naik ke lantai teratas gedung.

Sebenarnya, sejak hari kelulusannya, Liora sudah diberi hak spesial oleh ayah Rain, Wind Frost, untuk menduduki kursi asisten Rain.

Namun, ia menolak mentah-mentah dan memilih bagian purchasing. Liora tidak ingin terlibat terlalu dekat dengan suaminya, baik di rumah maupun di kantor.

Terlebih sejak ia mengetahui rahasia pahit: Rain menyetujui pernikahan mereka hanya karena sebuah tanggung jawab.

Pernikahan itu pun dirahasiakan rapat-rapat dari publik. Hanya segelintir orang dan beberapa eksekutif kantor saja yang mengetahui hubungan sah mereka.

Ting!

Lift berdenting saat tiba di lantai 35. Dominasi interior berwarna emas dan hitam langsung memancarkan suasana elegan sekaligus mengintimidasi.

Di ujung lorong, pintu kantor hitam besar berdiri kokoh, seolah siap menelan tubuh Liora bulat-bulat.

Sabar, Liora. Jangan gugup. Hadapi dia seperti biasa, bisik batinnya menenangkan diri.

"Bu Liora, Pak Rain sudah menunggu Anda," sapa sekretaris yang duduk tak jauh dari pintu masuk kantor utama.

"Aku sudah bilang proyek ini akan selesai dalam tiga hari. Kenapa terburu-buru?!" serbu Liora begitu melangkah masuk.

Rain tidak langsung menjawab. Pria itu bersandar di tepian meja kerjanya. Siluet tubuh tegapnya menerobos cahaya matahari yang masuk dari jendela besar. Pemandangan itu sempat membuat Liora menahan napas sedetik.

"Sarapan," tunjuk Rain dengan dagunya ke arah meja tamu. "Mamah mengkhawatirkanmu."

"Oh," jawab Liora santai, melirik tumbler dan kotak makan di sana.

Rain melipat tangan di dada. Tatapannya menuntut. "Kenapa pergi tanpa membangunkanku? Risih dengan permintaanku semalam?"

"A-apa?" Liora gelagapan. Gugupnya tidak bisa disembunyikan.

Rain sedikit mengikis jarak. Pergerakan kecil itu sukses membuat tubuh Liora seketika membeku di tempat.

"Kamu gugup," kekeh Rain. "Jadi, mana dulu yang mau kita bahas? Soal pribadi... atau kantor?"

Rain beranjak dari posisinya, lalu duduk di sofa tepat di depan Liora.

Liora mendengus kesal. Ia benci dominasi suaminya yang terlampau dekat. Dengan gerakan savage, ia melempar map di tangannya ke atas meja.

Plak!

Map itu mendarat tepat di depan Rain. "Aku tidak punya waktu untuk urusan pribadi."

"Duduk," perintah Rain dingin. Ia bahkan tidak melirik map tersebut. "Makan sarapanmu, atau aku adukan ke Mamah."

Liora mendelik jengkel. Namun, ancaman itu berhasil. Dengan terpaksa ia duduk dan mulai menyantap hidangan yang dibawa Rain. Dari suapan pertama, Liora tahu pasti, ini jelas bukan masakan koki keluarga Frost.

"Hm, laporanmu detail. Sepertinya tidak akan ada masalah," ucap Rain sambil membolak-balik berkas di tangannya.

Namun, sudut matanya diam-diam mencuri pandang ke arah Liora, memperhatikan sang istri yang sibuk menjejalkan makanan hingga mulut mungilnya tampak penuh.

"Siang ini perjanjian kontrak dan notaris akan selesai," sahut Liora dengan suara agak bergumam akibat kunyahan.

Rain menutup map tersebut dengan ketukan pelan. "Masalah kelanjutannya, biar asistenmu saja yang menangani. Kamu ikut denganku."

"Kemana?" Liora mendongak, gerakannya terhenti.

Rain sempat terdiam sejenak, memikirkan alasan cepat. "Pesta ulang tahun pernikahan kita," sambung Rain segera. "Fitting baju. Mamah sudah memesan butik."

Liora mendengus, kembali menyuap makanannya. "Kalau butik langganan Mamah, mereka sudah tahu ukuranku. Tinggal kirim saja fotonya, lebih praktis."

"Kenapa? Kamu takut berduaan denganku karena masalah semalam?" kekeh Rain sengaja memancing.

Sindiran itu sukses membuat pipi Liora mendadak bersemu merah.

"Kamu bangun, kan, saat aku mengatakan sesuatu seperti My-Lio...."

"Ayo! Sebelum aku berubah pikiran," potong Liora cepat. Ia buru-buru bangkit, benar-benar belum siap mendengar kejujuran yang keluar dari mulut suaminya.

"Habiskan dulu sarapanmu," titah Rain santai. Ia melangkah kembali ke meja kerjanya dan mengambil ponsel.

Rain menaikkan salah satu sudut bibirnya, tersenyum penuh kemenangan di depan Liora. Namun begitu berbalik membelakangi istrinya, senyum itu langsung lenyap.

Pening mendadak mendera kepalanya akibat kebohongan spontan yang baru saja ia rakit.

Jari-jarinya dengan cepat mengetik pesan darurat kepada sang mamah: 'Bantu aku booking butik untuk fitting baju sekarang, Mah. Urgent.'

Rain menatap layar ponselnya yang berkedip, menanti balasan dengan jantung yang tiba-tiba berdegup lebih kencang. Ia tahu, kebohongan kecil ini baru saja membuka gerbang singa yang harus ia hadapi bersama Liora siang ini.

​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 7

    "Kamu aneh! Biasanya paling malas repot-repot ke butik cuma buat beli baju. Apa yang kamu pikirkan sekarang, hah? Apa yang kamu rencanakan?" cecar Liora begitu mobil sedan mewah Rain terparkir sempurna di depan butik kelas atas itu."Bukan aku. Ini Mamah yang nyuruh," sanggah Rain santai. "Nih, telepon sendiri kalau gak percaya."Rain menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah sang istri. Tatapan Liora masih menyelidik tajam, mencoba membaca situasi. Namun, benteng ekspresi di wajah suaminya terlalu kokoh untuk ditembus."Selesaikan dengan cepat," ketus Liora. Ia menarik tuas pintu mobil, lalu keluar dengan helaan napas kesal yang kentara.Rain hanya tersenyum tipis, bersyukur Liora tidak memperpanjang kecurigaannya. Di kantor tadi ia sempat cemas rencana ini akan berantakan karena tidak didukung sang Mamah. Untunglah, sebuah pesan masuk mendadak mengirimkan alamat butik ini."Bersiaplah dengan serangan romantisku, My-Lio," gumam Rain seraya melangkah menyusul istrinya.Begitu m

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 6

    "Mah," sapa Rain dengan wajah kusut. Kontras sekali dengan setelan kemeja necis yang melekat di tubuhnya."Liora mana?" tanyanya langsung saat mendapati sisi ranjangnya kosong pagi ini.Esther yang sedang menikmati teh di meja makan menengadah. Alisnya bertaut heran. "Dia istrimu, kenapa tanya Mamah?" selorohnya. "Kamu apakan dia semalam sampai istrimu kabur, hm?"Rain menghela napas berat, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi di seberang sang mamah. "Ini semua gara-gara ide gila Mamah.""Oh, sekarang Mamah yang disalahkan?""Memang salah Mamah! Coba kalau Mamah enggak bisik-bisik ide mengenai kehadiran anak.""Anak? Cucu menantuku hamil?!" sebuah suara serak memotong perdebatan.Raver berjalan mendekat, bertumpu pada tongkat kayunya. Langkah sang kakek tampak tergesa. "Kenapa kalian merahasiakan kabar bahagia ini?""Tahu, ah! Tanya saja sama Mamah," gerutu Rain. Ia bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja.Esther menahan lengan pria tua itu saat melihat tongkatnya sudah mengacu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 5

    Langkah kaki Rain berhenti tepat di depan daun pintu jati kamar mereka. Jemarinya sudah mencengkeram kenop pintu yang dingin, namun ia tak segera menekannya.Di dalam keheningan lorong rumah orang tuanya, kata-kata ibunya kembali berdengung, menghantam dadanya tanpa ampun. Buatlah seorang anak.Rain memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengeras saat bayangan Liora yang tersenyum manis pada Jade siang tadi mendadak melintas tanpa izin di benaknya. Rasa cemburu yang sedari tadi ia kekang di balik sikap diktatornya kini mendadak bergolak menjadi letupan posesif yang membakar kewarasan.Lima tahun ini, Rain tahu ia telah gagal. Ia mengira dengan memberikan perlindungan hukum, harta yang melimpah, dan menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng sedingin es, ia bisa menjaga Liora dengan aman setelah tragedi kecelakaan yang merenggut orang tua wanita itu. Namun, ia salah. Jarak di antara mereka justru semakin membentang lebar bagai jurang yang tak berdasar.Apakah di hatimu benar-benar su

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 4

    "Senyum," desak Rain setengah berbisik saat langkah kaki mereka mulai memasuki area ruang tengah rumah orang tuanya yang megah bak istana.Liora mendengus tipis, melirik suaminya dari sudut mata. "Kenapa? Kamu takut aktingku akan membongkar kenyataan bahwa pernikahan kita..."Rain enggan meladeni rentetan kalimat kemarahan istrinya. Sebagai jawaban, jemari kokohnya justru bergerak kilat, menyergap pinggang ramping Liora lalu menyentaknya kuat hingga tubuh wanita itu merapat tanpa jarak ke dadanya.Langkah kaki Liora yang limbung akibat hentakan mendadak itu terpaksa membuatnya melemparkan kedua lengan untuk merangkul pundak tegap sang suami. Di jarak sekat ini, sepasang mata mereka saling mengunci pergerakan masing-masing. Deru napas yang saling beradu, debar jantung yang mendadak bertalu kencang seperti ketukan gendang, serta kepungan aroma maskulin parfum dari balik dekapan otot dada yang kekar seketika menguapkan setengah kewarasan Liora."Kemarahan juga merupakan bumbu dalam sebu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 3

    "Jade," sapa Liora, melangkah mendekat. "Maaf aku terlambat.""It's okay," sahut Jade hangat. Tangannya bergerak sigap menarik kursi di hadapannya, mempersilakan Liora duduk. "Mau pesan apa?"Liora menggeleng pelan. "Aku sudah makan."Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Bayangan perlakuan suaminya tadi pagi mendadak melintas. Setumpuk sarapan yang disiapkan khusus untuknya. Potongan buah yang dikupas rapi, secangkir air putih hangat, segelas jus jeruk, dan telur rebus. Entah apa yang sedang merasuki Rain, karena ini pertama kalinya pria itu bertingkah demikian setelah hampir tiga tahun selalu mengacuhkannya."Apa yang dilakukan suamimu, hm?" tanya Jade, menangkap gelagat aneh itu."Hanya menyiapkan sarapan," kilah Liora cepat.Jade melipat kedua tangan di dada, melemparkan tatapan penuh selidik. "Hanya sarapan, tapi wajahmu berseri-seri bagai ABG yang sedang kasmaran."Liora memberengut, matanya menyipit ketus. "Apa salahnya?""Tidak ada. Lalu..." Jade mencondongkan tubuhn

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 2

    Bau antiseptik yang pekat langsung menyengat indra penciuman Liora, disusul bunyi bip yang stabil dan monoton dari mesin medis, perlahan mengusik kesadaran yang sempat padam.Siapa yang sedang memanggilku?Bibir Liora bergerak hendak bersuara, namun tenggorokannya terasa sekering gurun, tak ada satu pun kata yang berhasil lolos. Kelopak mata Liora terasa teramat berat, seolah sengaja dikunci dari dalam. Dalam kepasrahan itu, jemari tangannya merasakan sebuah remasan kecil dan hangat, namun bergetar. Tak lama, punggung tangan Liora mendadak dibasahi oleh titik-titik air yang jatuh satu demi satu."Liora bangun... kumohon."Suara siapa ini? Rain? Bukankah dia sedang berada di luar negeri? Dan... apa dia sedang menangis?Guncangan kecil yang menyusul di tubuh Liora mendadak memicu rasa sakit yang luar biasa, menjalar hebat ke sekujur tubuh. Rasa nyeri itu memaksa kedua kelopak mata Liora terbuka perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh kornea mata Liora adalah hamparan plafon putih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status