Share

Bab 3

Author: Makaira
last update publish date: 2026-10-28 09:32:25

"Jade," sapa Liora, melangkah mendekat. "Maaf aku terlambat."

"It's okay," sahut Jade hangat.

Tangannya bergerak sigap menarik kursi di hadapannya, mempersilakan Liora duduk. "Mau pesan apa?"

Liora menggeleng pelan. "Aku sudah makan."

Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Bayangan perlakuan suaminya tadi pagi mendadak melintas.

Setumpuk sarapan yang disiapkan khusus untuknya. Potongan buah yang dikupas rapi, secangkir air putih hangat, segelas jus jeruk, dan telur rebus.

Entah apa yang sedang merasuki Rain, karena ini pertama kalinya pria itu bertingkah demikian setelah hampir tiga tahun selalu mengacuhkannya.

"Apa yang dilakukan suamimu, hm?" tanya Jade, menangkap gelagat aneh itu.

"Hanya menyiapkan sarapan," kilah Liora cepat.

Jade melipat kedua tangan di dada, melemparkan tatapan penuh selidik. "Hanya sarapan, tapi wajahmu berseri-seri bagai ABG yang sedang kasmaran."

Liora memberengut, matanya menyipit ketus. "Apa salahnya?"

"Tidak ada. Lalu..." Jade mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan volume suaranya dengan nada menggoda. "Kalian semalam...?"

"Diamlah, Jade!" potong Liora, wajahnya mendadak merona.

Demi mengalihkan perhatian, Liora melemparkan pandangannya ke luar jendela restoran. Detik itu juga, matanya terpaku.

Mobil hitam mentereng milik Rain ternyata masih terparkir persis di tempat ia turun tadi.

Apa dia menungguku? batin Liora bertanya-tanya.

"Siapa?" Jade mengikuti arah tatapan Liora. Tepat di detik berikutnya, mobil mewah itu bergerak dan melaju cepat meninggalkan pelataran. "Dia mengantarmu?"

Liora hanya mengangguk samar.

"Harusnya kamu batalkan saja janjian kita ini. Kita kan bisa berdiskusi lewat telepon," ujar Jade.

"Dia tidak peduli aku jalan dengan siapa, Jade. Dia tidak akan cemburu," sahut Liora, nadanya mendadak mendatar, menyembunyikan kekecewaan lama. "Egonya jauh lebih berharga ketimbang perasaan istrinya sendiri."

"Oh, ya? Tapi..." Jade melirik nakal. "Membuatkan sarapan dan mengantarmu langsung, bukankah itu terdengar romantis?"

"Itu hanya kewajiban formalitas agar tidak ada gosip miring, Jade."

"Mengantar sih mungkin saja oke. Tapi apa membuatkan sarapan juga termasuk formalitas? Media kan tidak meliput sampai ke dalam dapur rumahmu."

"Jade." Liora memberikan tatapan peringatan.

Kedua lengan Jade langsung terangkat ke udara, tanda menyerah. "Oke, oke. Kita bahas bisnis sekarang."

Atmosfer santai itu berganti profesional. Mereka mulai fokus membahas proyek pengambilalihan lahan. Tidak ada agenda pribadi yang terselip.

Selama satu jam penuh, lembar demi lembar berkas dikupas tuntas, hingga perhatian mereka terpecah oleh getaran nyaring dari ponsel Liora.

Satu notifikasi pesan masuk. Nama Rain tertera di layar, lengkap dengan sebuah emoticon hati berwarna merah di sampingnya.

Liora melirik sekilas, jemarinya mendadak ragu untuk membuka isi pesan tersebut.

Jade yang duduk di seberangnya ikut mengintip si pengganggu obrolan mereka.

"Lebih baik kita istirahat dulu," saran Jade mengerti situasi.

Liora hanya mengangguk, buru-buru merapikan kertas perencanaan yang sudah dipenuhi goresan perbaikan di sana-sini. Tepat saat itu, pesan kedua kembali masuk.

"Tidak berniat membalasnya?" tanya Jade lagi.

"Biarkan saja. Paling-paling dia hanya menyuruhku melakukan ini dan itu," ketus Liora.

"Kamu tahu?" Jade tersenyum geli. "Kalian berdua sebenarnya sangat mirip."

"Jade."

"Liora, dengar," potong Jade, kali ini suaranya berubah serius. "Cobalah mengalah sedikit dan ungkapkan masalahmu padanya. Jadikan dia sandaranmu. Aku rasa dia akan—"

"Jade, aku tahu posisiku," sela Liora, tatapannya meredup menatap jemarinya sendiri. "Keluarganya sangat baik kepadaku, dan aku sangat menghargai itu. Dulu, Rain punya kebebasan untuk menikahi wanita lain pilihan hatinya sebelum kecelakaan tragis itu terjadi. Saat ini... dia hanya sedang menjagaku karena kewajiban."

"Kamu yakin? Aku rasa dia justru..."

"Awalnya pernikahan kami luar biasa, Jade," potong Liora lagi, menahan sesak di dadanya. "Tapi ini sudah tahun kelima, dan semuanya semakin mendingin. Kami berdua hanya bertahan bersama karena status pernikahan dan tuntutan keluarga. Mungkin suatu saat, jika Rain menemukan seseorang yang benar-benar dicintainya, dia akan men..."

"Simpan kata-kata buruk itu," potong Jade tegas.

Tepat di saat yang sama, ponsel Liora kembali berdering nyaring. Layarnya menampilkan panggilan masuk.

"Lihat, dia cemas," tunjuk Jade.

Liora membiarkan panggilan pertama itu terputus begitu saja. Namun, tidak sampai sedetik setelah layarnya mati, ponsel itu kembali menjerit keras.

"Angkatlah, sebelum bosmu yang merangkap suami itu nekat membeli dan menutup restoran ini," perintah Jade setengah berkelakar.

Liora menarik napas panjang demi menenangkan dadanya. Ia mendekatkan ponsel itu ke telinga. Belum sempat sepatah kata 'halo' lolos dari bibirnya, suara bariton di seberang sana sudah menyemburkan kalimat perintah yang membuat Liora mendengus pasrah.

"Ya," sahut Liora singkat sebelum langsung membanting ponselnya ke atas meja.

"Lihat, kan? Dia hanya menyuruhku ke kantor sekarang. Dalam tiga puluh menit," keluh Liora kesal.

Jade malah terkekeh geli. "Suamimu itu memang sedang cemburu."

"Suamiku itu diktator yang kaku."

"Tapi kamu suka, kan, Lio?" goda Jade, menaikkan sebelah alisnya.

"Dulu."

"Wajahmu tidak bisa berbohong. Apa perlu kubelikan cermin agar kamu bisa melihat sudut bibirmu?" seloroh Jade.

"Jade!"

"Ayo, aku antar." Jade bangkit dari kursinya.

Pria itu adalah sahabat terbaik Liora sejak masa kuliah. Jade tidak pernah selangkah pun meninggalkannya ketika kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tua Liora terjadi.

Dengan sifat cerianya yang menular, Jade jugalah yang berhasil menyeret Liora bangkit kembali dari keterpurukan masa lalu.

******

Mobil sport dengan deru mesin halus terhenti tepat di depan lobi utama gedung Frost Corporation.

Sebuah gedung pencakar langit megah yang mencerminkan kesibukan kontras di tengah terik siang yang menyengat.

"Terima kasih," ucap Liora lembut pada pria di balik kemudi.

"Aku akan meneleponmu nanti untuk kelanjutan perjanjian lahannya," sahut Jade.

"Oke."

Liora melambaikan tangan seiring perginya mobil sport tersebut. Begitu berbalik menuju pintu kaca lobi, senyum hangat di wajahnya langsung luntur tanpa sisa, berganti dengan topeng datarnya yang biasa.

"Bersenang-senang, Nyonya Frost?"

Sebuah suara bariton yang sarat akan sindiran dingin mendadak menginterupsi langkahnya. Liora tersentak. Ia memutar tubuh dan mendapati Rain tengah duduk angkuh di atas sofa lobi.

Di samping pria itu, sang sekretaris berdiri tegak dengan senyuman formal yang dipaksakan.

Liora berdeham, berusaha menetralkan keterkejutannya. Ia melangkah mendekat dan menyodorkan sebuah map.

"Lahan yang Anda inginkan akan segera terwujud. Hanya butuh beberapa hari ke depan untuk menyusun surat perjanjian dan mengurus notarisnya," jawab Liora profesional, merujuk pada dokumen yang baru saja ia bahas bersama Jade.

Ekspresi wajah Rain seketika mengeras bagai batu lava yang membeku. Ia bangkit berdiri. Tanpa memedulikan dokumen di tangan Liora, sedetik kemudian jemari kokohnya langsung mencengkeram lengan sang istri, menyeretnya kasar keluar dari area lobi.

"Siapkan mobilku," perintah Rain mutlak pada sekretarisnya yang tertinggal di belakang. "Batalkan semua janji temu hari ini."

"Tapi, Tuan..."

Rain menoleh sedikit, melemparkan lirikan setajam silet ke arah sekretarisnya. "Paham?" tegasnya tanpa berniat mengulang kalimat yang sama.

Sang sekretaris hanya bisa mengangguk dalam getaran ngeri, buru-buru menempelkan ponsel ke telinga untuk menghubungi bagian valet agar menyiapkan mobil sang bos besar secepat mungkin.

"Kamu apa-apaan, sih? Semua orang di lobi sedang memerhatikan kita!" protes Liora setengah berbisik, mencoba menyentak tangannya namun cengkeraman Rain terlalu solid.

"Bagus, bukan? Jadi mereka semua tahu siapa Nyonya Bos yang sebenarnya di gedung ini," balas Rain sarkas, sama sekali tak mengendurkan langkahnya.

"Rain!" pinta Liora, suaranya sarat akan peringatan.

Namun, Rain menutup telinga. Begitu mobilnya tiba di lobi luar, ia membuka pintu kursi penumpang dengan kasar, lalu menarik Liora untuk masuk dan mendudukkannya di sana.

"Kesabaranku sudah berada di ambang batas, Liora," desis Rain parau tepat di depan wajah Liora, sesaat sebelum ia menarik sabuk pengaman dan menguncinya dengan sentakan tegas.

Klik.

"Kita mau ke mana?" tanya Liora ketat saat melihat Rain memutari kap mobil dan langsung menduduki kursi pengemudi di sampingnya.

Rain mencengkeram kemudi erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu menancap gas hingga ban mobil berdecit keras membelah jalanan kota.

"Menemui keluargaku."

​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 7

    "Kamu aneh! Biasanya paling malas repot-repot ke butik cuma buat beli baju. Apa yang kamu pikirkan sekarang, hah? Apa yang kamu rencanakan?" cecar Liora begitu mobil sedan mewah Rain terparkir sempurna di depan butik kelas atas itu."Bukan aku. Ini Mamah yang nyuruh," sanggah Rain santai. "Nih, telepon sendiri kalau gak percaya."Rain menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah sang istri. Tatapan Liora masih menyelidik tajam, mencoba membaca situasi. Namun, benteng ekspresi di wajah suaminya terlalu kokoh untuk ditembus."Selesaikan dengan cepat," ketus Liora. Ia menarik tuas pintu mobil, lalu keluar dengan helaan napas kesal yang kentara.Rain hanya tersenyum tipis, bersyukur Liora tidak memperpanjang kecurigaannya. Di kantor tadi ia sempat cemas rencana ini akan berantakan karena tidak didukung sang Mamah. Untunglah, sebuah pesan masuk mendadak mengirimkan alamat butik ini."Bersiaplah dengan serangan romantisku, My-Lio," gumam Rain seraya melangkah menyusul istrinya.Begitu m

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 6

    "Mah," sapa Rain dengan wajah kusut. Kontras sekali dengan setelan kemeja necis yang melekat di tubuhnya."Liora mana?" tanyanya langsung saat mendapati sisi ranjangnya kosong pagi ini.Esther yang sedang menikmati teh di meja makan menengadah. Alisnya bertaut heran. "Dia istrimu, kenapa tanya Mamah?" selorohnya. "Kamu apakan dia semalam sampai istrimu kabur, hm?"Rain menghela napas berat, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi di seberang sang mamah. "Ini semua gara-gara ide gila Mamah.""Oh, sekarang Mamah yang disalahkan?""Memang salah Mamah! Coba kalau Mamah enggak bisik-bisik ide mengenai kehadiran anak.""Anak? Cucu menantuku hamil?!" sebuah suara serak memotong perdebatan.Raver berjalan mendekat, bertumpu pada tongkat kayunya. Langkah sang kakek tampak tergesa. "Kenapa kalian merahasiakan kabar bahagia ini?""Tahu, ah! Tanya saja sama Mamah," gerutu Rain. Ia bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja.Esther menahan lengan pria tua itu saat melihat tongkatnya sudah mengacu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 5

    Langkah kaki Rain berhenti tepat di depan daun pintu jati kamar mereka. Jemarinya sudah mencengkeram kenop pintu yang dingin, namun ia tak segera menekannya.Di dalam keheningan lorong rumah orang tuanya, kata-kata ibunya kembali berdengung, menghantam dadanya tanpa ampun. Buatlah seorang anak.Rain memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengeras saat bayangan Liora yang tersenyum manis pada Jade siang tadi mendadak melintas tanpa izin di benaknya. Rasa cemburu yang sedari tadi ia kekang di balik sikap diktatornya kini mendadak bergolak menjadi letupan posesif yang membakar kewarasan.Lima tahun ini, Rain tahu ia telah gagal. Ia mengira dengan memberikan perlindungan hukum, harta yang melimpah, dan menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng sedingin es, ia bisa menjaga Liora dengan aman setelah tragedi kecelakaan yang merenggut orang tua wanita itu. Namun, ia salah. Jarak di antara mereka justru semakin membentang lebar bagai jurang yang tak berdasar.Apakah di hatimu benar-benar su

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 4

    "Senyum," desak Rain setengah berbisik saat langkah kaki mereka mulai memasuki area ruang tengah rumah orang tuanya yang megah bak istana.Liora mendengus tipis, melirik suaminya dari sudut mata. "Kenapa? Kamu takut aktingku akan membongkar kenyataan bahwa pernikahan kita..."Rain enggan meladeni rentetan kalimat kemarahan istrinya. Sebagai jawaban, jemari kokohnya justru bergerak kilat, menyergap pinggang ramping Liora lalu menyentaknya kuat hingga tubuh wanita itu merapat tanpa jarak ke dadanya.Langkah kaki Liora yang limbung akibat hentakan mendadak itu terpaksa membuatnya melemparkan kedua lengan untuk merangkul pundak tegap sang suami. Di jarak sekat ini, sepasang mata mereka saling mengunci pergerakan masing-masing. Deru napas yang saling beradu, debar jantung yang mendadak bertalu kencang seperti ketukan gendang, serta kepungan aroma maskulin parfum dari balik dekapan otot dada yang kekar seketika menguapkan setengah kewarasan Liora."Kemarahan juga merupakan bumbu dalam sebu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 3

    "Jade," sapa Liora, melangkah mendekat. "Maaf aku terlambat.""It's okay," sahut Jade hangat. Tangannya bergerak sigap menarik kursi di hadapannya, mempersilakan Liora duduk. "Mau pesan apa?"Liora menggeleng pelan. "Aku sudah makan."Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Bayangan perlakuan suaminya tadi pagi mendadak melintas. Setumpuk sarapan yang disiapkan khusus untuknya. Potongan buah yang dikupas rapi, secangkir air putih hangat, segelas jus jeruk, dan telur rebus. Entah apa yang sedang merasuki Rain, karena ini pertama kalinya pria itu bertingkah demikian setelah hampir tiga tahun selalu mengacuhkannya."Apa yang dilakukan suamimu, hm?" tanya Jade, menangkap gelagat aneh itu."Hanya menyiapkan sarapan," kilah Liora cepat.Jade melipat kedua tangan di dada, melemparkan tatapan penuh selidik. "Hanya sarapan, tapi wajahmu berseri-seri bagai ABG yang sedang kasmaran."Liora memberengut, matanya menyipit ketus. "Apa salahnya?""Tidak ada. Lalu..." Jade mencondongkan tubuhn

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 2

    Bau antiseptik yang pekat langsung menyengat indra penciuman Liora, disusul bunyi bip yang stabil dan monoton dari mesin medis, perlahan mengusik kesadaran yang sempat padam.Siapa yang sedang memanggilku?Bibir Liora bergerak hendak bersuara, namun tenggorokannya terasa sekering gurun, tak ada satu pun kata yang berhasil lolos. Kelopak mata Liora terasa teramat berat, seolah sengaja dikunci dari dalam. Dalam kepasrahan itu, jemari tangannya merasakan sebuah remasan kecil dan hangat, namun bergetar. Tak lama, punggung tangan Liora mendadak dibasahi oleh titik-titik air yang jatuh satu demi satu."Liora bangun... kumohon."Suara siapa ini? Rain? Bukankah dia sedang berada di luar negeri? Dan... apa dia sedang menangis?Guncangan kecil yang menyusul di tubuh Liora mendadak memicu rasa sakit yang luar biasa, menjalar hebat ke sekujur tubuh. Rasa nyeri itu memaksa kedua kelopak mata Liora terbuka perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh kornea mata Liora adalah hamparan plafon putih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status